
Sementara Sword of Sufferings bergerak maju tanpa ada yang berani menghadang, peristiwa berbeda harus dihadapi dua kelompok lain dari Aliansi Dark Triangle.
Di markas Black Panther.
"Apakah kamu pikir Julian bisa melewati ini, Siegfried?"
Joseph bertanya dengan suara rendah. Pria paruh baya tersebut duduk di kursinya. Dikarenakan kecelakaan yang terjadi saat pertempuran habis-habisan melawan Imperial Tiger dan Third Scars, sekarang dia tidak bisa lagi memimpin di barisan depan.
Sekarang, pria tersebut hanya bisa mengatur semuanya dari belakang meja.
Sementara itu, Siegfried tampak begitu tenang. Meski masih muda, penampilannya benar-benar berbeda dengan bocah naif sebelumnya. Mungkin dia belum sepenuhnya dewasa, tetapi jelas lebih membaik daripada saat dirinya belum 'melihat dunia'.
"Kalau begitu, dia tidak pantas menjadi pemimpin." Siegfried menjawab singkat singkat.
"Tetap saja ..." Joseph menghela napas panjang.
Menurut perjanjian, Julian menjadi pemimpin pemerintahan baru. Selain itu, Joseph sendiri ditunjuk sebagai pemimpin bagian militer. Pria paruh baya itu bertugas menerima dan melatih anggota baru. Anggota tersebut kemudian dibagi menjadi dua ke dalam kelompok Silver Cross dan Black Panther.
Meski pemerintahan baru terbentuk, tetapi dua kelompok tidak dibubarkan. Sebaliknya, kedua kelompok memiliki tugas masing-masing. Silver Cross mengurus hal yang terkait masalah sipil. Sementara Black Panther berurusan dengan masalah militer dan keamanan.
Walau terlihat cukup mendominasi, kedua kelompok sama sekali tidak terbebas dari masalah. Sebaliknya, mereka menghadapi banyak masalah.
Di dunia yang begitu kacau, orang-orang sangat sulit diatur. Hal itu sangat menggangu kinerja Black Panther. Sementara itu, Silver Cross menghadapi masalah yang lebih rumit, karena ...
Mereka harus berurusan dengan apa yang disebut sifat manusia!
"Jika terus seperti ini, aku takut Julian tidak bisa melewatinya."
Joseph menatap ke luar jendela untuk melihat ratusan orang yang sedang berlatih di halaman depan. Setelah beberapa saat, pria paruh baya tersebut sekali lagi menghela napas.
***
Sementara itu, di markas Silver Cross.
"Lapor, Pak. Di gedung A, banyak pengungsi yang melakukan protes karena tidak mendapatkan jatah makanan sama seperti sebelumnya."
"Lapor, Pak. Di gedung B, hal yang sama juga terjadi."
"..."
Dalam kantor, beberapa orang melapor dengan ekspresi lelah dan wajah pucat. Tampaknya mereka kekurangan istirahat sejak perang dengan Imperial Tiger dan Third Scars berakhir.
Bukan hanya mengatur orang-orang, mereka juga melawan gelombang zombie dan binatang buas saat tahun baru. Jumlah korban jelas tidak perlu dikatakan lagi. Jelas sangat banyak!
Jadi beban kerja anggota kelompok Silver Cross benar-benar melebihi ambang batas yang bisa mereka terima.
__ADS_1
"..."
Julian duduk di kursi ketua dalam diam. Dia memejamkan matanya. Setelah beberapa menit, dia membuka mata sambil menghela napas panjang.
"Tolong tenangkan mereka. Aku akan berusaha untuk mencari solusi."
"Tapi ..."
Salah satu orang tampak ragu. Namun akhirnya tidak lagi melanjutkan ucapannya. Mereka melihat kalau wajah Julian juga tampak lebih pucat. Bahkan pria itu juga kehilangan cukup banyak berat badan. Padahal, Julian adalah "awakener" yang mereka anggap sangat kuat.
"Baik, Pak!" jawab orang-orang itu serempak.
Julian menatap bawahannya dengan ekspresi rumit. Memaksakan senyum di wajahnya, dia berkata.
"Terima kasih banyak atas kerja keras kalian. Maafkan aku karena tidak bisa menyelesaikan masalah yang berlarut-larut ini. Kalian boleh pergi."
Setelah orang-orang itu pergi, Julian sekali lagi menghela napas panjang.
Selain pusat pemerintahan baru di mana markas Silver Cross berada, ada beberapa gedung di sekitar.
Hanya anggota Silver Cross yang bisa tinggal di markas. Para pengungsi diminta untuk tinggal dalam gedung di sekitar markas. Saat ini, empat gedung telah terpakai. Dibagi menurut kriteria pengungsi. Yaitu para lansia, keluarga, pemuda, dan pemudi. Sedangkan anak-anak biasanya masuk ke dalam kriteria keluarga karena memiliki orang tua atau kakak.
Jumlah anak-anak adalah yang paling sedikit di antara para survivor. Meski begitu, sebenarnya mereka adalah sosok penting untuk melanjutkan perjuangan umat manusia pada generasi berikutnya.
Setelah beberapa saat, Julian berkedip. Senyum pahit tampak di wajah tampannya.
"Seharusnya Hades saja yang menjadi pemimpin pemerintahan baru."
***
Sementara itu, di markas Sword of Sufferings.
Dua hari telah berlalu sejak Ark dan pasukannya kembali dari taman kota. Banyak anggota di markas yang merasa sedikit kasihan ketika melihat kondisi luka orang-orang yang baru saja kembali. Sebagian besar dari mereka terkena racun. Meski telah meminum ramuan dan disembuhkan, mereka jelas masih sangat kelelahan.
Akan tetapi, rasa kasihan orang-orang di markas langsung sirna ketika mendengar Ark mengumumkan kalau anggota kelompok yang mengikuti misi bisa beristirahat selama satu minggu. Anggota yang berada di markas merasa sangat iri. Menurut mereka, luka dan kelelahan pasukan yang baru saja kembali bisa sembuh dalam dua atau tiga hari. Jadi mereka sangat iri.
Walaupun para prajurit di markas tidak terluka, tetapi latihan harian yang mereka jalani jelas sangat berat. Namun, mereka sama sekali tidak memiliki waktu istirahat.
Melihat puluhan orang duduk di pinggir jalan dengan santai sambil melihat mereka berbaris dan melakukan aktivitas harian seperti lari pagi membuat para prajurit di markas kesal!
Belum lagi seringai menyebalkan di wajah orang-orang yang baru kembali. Benar-benar membuat mereka merasa tidak tertahankan!
Di area bengkel, Ark berjalan mengikuti Nathan dan Nala yang tampak bersemangat.
"Mesin itu telah selesai, Tuan Ark!" ucap Nathan penuh semangat.
__ADS_1
"Ya! Mesin itu besar!" tambah Nala dengan senyum konyol di wajahnya.
"Jangan berlarian. Nanti kalian bisa jatuh."
Ark menggelengkan kepalanya. Masuk ke lokasi, dia melihat beberapa pemuda yang berprofesi sebagai pengrajin menyambutnya.
"Senang melihat anda, Ketua!" ucap mereka serempak.
"En." Ark mengangguk. "Terima kasih atas kerja keras kalian."
Ark melihat ke arah mesin tenun tradisional yang akhirnya mereka selesaikan. Dikarenakan sebelumnya kurang bahan, dikerjakan secara manual, dan pertama kali mencoba ... mereka memang memerlukan cukup banyak waktu. Bukan hanya waktu, tetapi juga tenaga fisik dan pikiran.
"Ini sebuah kehormatan bagi kami, Pak!" ucap salah satu pengrajin.
"Dikarenakan tugas ini cukup rumit dan penting, aku berterima kasih kepada kalian. Mulai sekarang, setiap kali makan, kalian berenam akan mendapatkan jatah daging ekstra."
Mendengar ucapan Ark, mata keenam orang itu berbinar. Mereka langsung membungkuk sopan dan berseru.
"Terima kasih banyak, Ketua!"
"Sama-sama."
Melihat ke arah mesin tenun tradisional, Ark tersenyum. Jelas, dengan benda itu, dia selangkah lebih maju karena bisa membuat kain dari benang sutera yang telah dikumpulkan.
"Mesin besar ini untuk apa, Tuan Ark?" Nala menatap ke arah Ark dengan mata bulat besar. Tampak begitu penasaran.
"Ini digunakan untuk merubah benang menjadi kain."
"Kain?" Nala memiringkan kepalanya.
"Ya." Ark mengangguk. "Kain yang akan digunakan untuk membuat pakaian dan beberapa hal lainnya."
"Wah! Apakah Nala akan mendapatkan baju baru?" Mata Nala berbinar.
"Mungkin tidak lama lagi kalian bisa mendapatkannya." Ark tersenyum lembut.
Setelah itu, Ark menyuruh beberapa prajurit memindahkan mesin tenun tradisional ke tempat yang akan digunakan sebagai pabrik kain. Tidak lupa, dia memberi semangat kepada para pengrajin.
Usai menyelesaikan urusan di bengkel, Ark kembali sambil menggendong Nala yang kelelahan dan memegang tangan kecil Nathan.
Setelah semua tugas tersusun secara rapi ...
Ark sudah siap untuk menjalankan tugas berikutnya.
>> Bersambung.
__ADS_1