
"HAHAHAHA!!!"
Tawa jahat yang terdengar kekanak-kanakan terdengar dari rumah yang digunakan sebagai tempat penyimpanan sementara. Mendengar tawa itu, sama sekali tidak ada yang bergidik ngeri. Bahkan tidak ada yang peduli.
Di depan rumah, hampir dua puluh orang duduk dan berbaring di jalan dengan ekspresi lesu di wajah mereka. Mereka tampak kotor dengan noda darah dan bekas luka di sekujur tubuh. Sinar mentari pagi sama sekali tidak membuat hati mereka yang dingin menjadi lebih hangat.
Mereka benar-benar kelelahan secara mental karena pertarungan berkelanjutan.
Daripada takut kepada para zombie, mereka lebih takut kepada ketua mereka yang benar-benar mirip Hades. Sama sekali tidak mengizinkan mereka mati! Selain itu, mereka juga agak takut takut dengan ikat kepala merah.
Ya. Bukan kepada Lisa, tetapi kepada ikat kepala merahnya!
Pada saat mereka ditaruh dalam gerobak, mereka hanya melihat ikat kepala merah karena Lisa sendiri terlalu pendek dan hanya terlihat ujung kepalanya. Diangkut beberapa kali dengan gerobak, mereka bahkan memberi Lisa julukan baru ...
Pengemudi Mobil Jenazah!
Mengingat sensasi dilempar melewati tembok seperti sedang melakukan tarik-ulur antara hidup dan mati membuat mereka semua merinding. Orang-orang itu bahkan bersumpah dalam hati mereka. Menjadi lebih kuat, membunuh musuh dengan gila di baris depan sehingga tidak perlu dikirim ke belakang dengan 'mobil jenazah'!
"KETUA~"
Sosok mungil Lisa keluar dari rumah lalu berlarian di sekitar sambil mencari Ark. Namun setelah sekian lama, dia benar-benar gagal menemukannya.
"Ada yang tahu dimana Ketua berada?"
Mendengar ucapan Lisa, orang-orang yang duduk di jalanan dan berbaring langsung menunjuk ke arah tertentu serempak. Jika bukan karena penampilan mereka yang seperti zombie, pemandangan semacam itu pasti akan terlihat menarik.
Lisa langsung berlari ke arah yang mereka tunjuk. Ingin pamer kepada Ark karena dirinya telah menjadi lebih kuat setelah menyerap Miracle Root dari banteng hitam raksasa. Namun ekspresinya berubah ketika melihat sosok Ark yang duduk dengan wajah murung. Tampak sedih dan kecewa.
"Sudahlah, Ark. Tidak apa-apa."
Jay yang duduk di sampingnya menepuk pundak sahabatnya. Berusaha menghibur pemuda itu.
"Tapi ..."
"Pasti ada kesempatan lain, Kawan."
Melihat keengganan di wajah Ark, Jay tersenyum masam. Lisa yang melihat pemandangan itu tercengang. Dia menelan ludah dan memilih untuk segera bersembunyi. Merasa kalau dirinya mungkin akan mendengar suatu rahasia dalam dan gelap dari ketua kelompok yang misterius itu.
"Tapi ..."
Ark menunduk sambil menggaruk kepalanya. Merasa marah pada dirinya sebelum berteriak.
"TAPI ITU BEBERAPA TON DAGING YANG SETARA DENGAN SAPI PREMIUM!!!"
"..."
__ADS_1
Lisa yang sedang menguping pembicaraan dari balik pohon tiba-tiba terdiam. Ekspresi gugup di wajahnya langsung berubah menjadi ekspresi datar. Benar-benar tidak tahu bagaimana pemuda tersebut bisa memasang ekspresi semacam itu hanya karena daging!
"Aku juga bertanya-tanya. Jika kamu yakin daging banteng itu bisa dimakan, kenapa kamu malah membunuhnya dengan racun?"
Jay menutup wajahnya. Tampaknya tidak menyangka kalau sahabatnya juga bisa bertindak ceroboh.
"Bagaimana aku bisa ingat? Aku fokus pada pertarungan dan penempaan tubuh.
Aku hanya berpikir, 'teruslah bersenang-senang lalu tersedak racun sampai mati, sapi bodoh!' sambil terus bertarung. Aku baru sadar setelah sapi bodoh itu mati!
Ugh! Daging ... aku benar-benar merindukan rasa daging."
Mendengar penjelasan Ark, sudut bibir Jay dan Lisa berkedut. Mereka diam-diam membuat catatan dalam hati agar tidak main-main dengannya. Lagipula, meski tenang, ternyata pemuda itu suka membuat lawannya tersedak racun sampai mati!
Tentu saja, tersedak hanyalah perumpamaan. Jika itu Ark, mereka berdua yakin kalau pemuda tersebut akan meracuni dengan cara tersembunyi. Memasak makanan lezat yang dicampur racun, memberi air dicampur racun setelah latihan harian, dan beberapa aktivitas lainnya. Membayangkannya saja membuat Jay dan Lisa menjadi was-was!
'Terkadang sosok yang bersikap lembut adalah sosok yang melakukan sesuatu dengan cara lebih kejam.'
Entah dimana kedua orang itu pernah mendengar kalimat tersebut, mereka berdua cukup yakin kalau itu memang benar.
Melirik ke arah Ark, mereka berdua berpikir.
'Lebih baik kurangi main-main dengan orang ini.'
Sementara Jay serta Lisa sedang berjaga-jaga dan Ark sedang sedih karena kehilangan beberapa ton daging, berbagai kejadian buruk terjadi di tempat lain.
***
"Huft! Huft! Huft! Siapa sangka, setelah fajar ternyata masih banyak zombie yang tertinggal."
Berto menyeka keringat di wajahnya, berkata dengan ekspresi tak berdaya. Dia kemudian melirik ke arah Julian yang juga tampak kelelahan. Setelah beberapa saat, dia bertanya.
"Apakah anda baik-baik saja, Ketua?"
Mendengar pertanyaan Berto, Julian menoleh lalu tersenyum.
"Ya! Aku tidak merasa sebaik ini! Memang cukup disayangkan karena kita harus kehilangan belasan orang. Namun dibandingkan dengan gelombang sebelumnya, ini jauh lebih baik!"
Melihat senyum di wajah Julian, Berto juga tersenyum sembari berkata.
"Syukurlah~"
Dalam gelombang zombie dan binatang buas kali ini, mereka kehilangan orang di ruang bawah tanah karena kehabisan oksigen.
Selain itu, saat fajar tiba, mereka keluar dari ruang bawah tanah dengan rasa lega. Hanya saja, mereka tidak menyangka kalau ternyata ada puluhan zombie yang terjebak di gedung markas. Meski kelelahan dan kehabisan napas, mereka memaksakan diri untuk terus bertarung. Pada akhirnya, mereka bisa membereskan semua musuh tanpa banyak korban. Padahal, ada satu zombie tingkat dua di antara mereka.
__ADS_1
Akan tetapi Julian berhasil memimpin rekan-rekannya untuk mengepung dan menghabisi makhluk tersebut. Menjadi lebih kuat daripada sebelumnya!
Menyarungkan kembali pedangnya, Julian menunduk sambil melihat telapak tangannya. Menyadari betapa bergunanya kekuatan yang dia dapatkan, pria itu memikirkan sosok Ark.
'Tampaknya aku harus membicarakan perihal pembelian ramuan evolusi dengannya.'
***
Sementara itu, di pusat kota sekaligus markas Imperial Tiger.
BRUAK!
Di ruang rapat, sosok lelaki tua yang merupakan salah satu petinggi menggebrak meja dengan ekspresi marah di wajahnya.
"Apa-apaan dengan semua ini?!"
Mendengar pria tua itu marah, beberapa orang tua (yang sama-sama petinggi) hanya menutup mata. Sebagian dari mereka, khususnya yang lebih muda dan dianggap junior merasa ketakutan. Sama sekali tidak berani berbicara.
"Bahkan jika mereka hanya pengungsi, jumlah korban saat ini terlalu banyak! Belum lagi, cukup banyak korban yang merupakan personel kita. ZANDER!!!"
"Ya, Pak!"
Sosok Zander memberi hormat. Menatap pria tua itu tanpa perubahan ekspresi di wajahnya.
"Kegagalan operasi penaklukan taman kota! Kegagalan operasi menjaga gudang persediaan jagung! Sekarang blokade hancur karena zombie dan banyak orang mati? Bagaimana kamu menjelaskan semua ini?!"
"Lapor, Pak! Makhluk di taman kota memiliki kekuatan jauh di luar imajinasi kita. Masalah perampokan, para pengkhianat itu (Black Panther) ... mereka menggunakan massa untuk memancing kerusuhan dan mengambil keuntungan.
Sedangkan kali ini, gelombang zombie dan binatang buas yang terjadi dalam waktu tertentu meletus. Pasukan kita tidak bisa menahannya!"
"LALU KENAPA KAMU TIDAK MEMBUAT PERSIAPAN YANG MEMADAI?!"
"Saya-"
Sebelum Zander menyelesaikan ucapannya, pria tua itu mengambil cangkir di atas meja lalu langsung menyiramnya.
"BERHENTI MEMBERIKU ALASAN YANG TIDAK PERLU! KUMPULKAN SEMUA PERSONEL PENTING, AKU INGIN MEMULAI RAPAT!
ENYAH SEKARANG JUGA!!!"
"Dimengerti, Pak!"
Zander memberi hormat tanpa memedulikan wajah dan pakaiannya yang disiram dengan teh. Dia kemudian berbalik, pergi keluar ruangan.
Setelah keluar ruangan, pria paruh baya itu menutup pintu. Saat itu juga, ekspresinya berangsur-angsur menjadi lebih dingin. Bahkan ...
__ADS_1
Tampak kilatan niat membunuh yang terpancar di matanya.
>> Bersambung.