
Keesokan harinya, di markas Crux of Shadow.
Silvia berjalan menuju ke bangunan utama. Banyak orang menatap ke arahnya dengan ekspresi takut sekaligus kagum. Mereka semua mengetahui betapa kuatnya wanita yang bahkan bisa bersaing dengan sang ketua. Jika Simon dianggap sebagai ‘Chosen One’, Ark dijuluki ‘Raja Dunia Bawah/White Demon’, maka Silvia juga memiliki julukan sendiri ...
Fallen Angel.
Begitulah sebagian orang di Crux of Shadow memanggilnya. Cantik, kuat, dan tidak ternoda dengan beberapa emosi yang tidak diperlukan.
Silvia masuk ke dalam markas dan sampai di tempat banyak orang menunggunya. Sebelas orang lain telah duduk di kursi mereka. Wanita itu sama sekali tidak peduli dan duduk di tempatnya.
Saat itu, sosok pria tampan dengan rambut pirang panjang dan mata merah bertepuk tangan ringan untuk menarik perhatian. Penampilannya tampak seperti bangsawan, bahkan terlihat cukup berbeda dengan orang-orang di ruangan. Pesonanya tidak kalah dengan kecantikan Silvia.
Dia adalah ketua dari Crux of Shadow, Simon.
“Tolong jangan berisik. Kita perlu mendengarkan apa yang disampaikan oleh Silvia karena ini sangat penting dan menyangkut keselamatan rekan-rekan kita.”
Mendengar ucapan Simon, banyak orang diam dan melihat ke arah Silvia. Sebagai tanggapan, wanita itu langsung berbicara tanpa basa-basi.
“Sword of Sufferings memang kuat. Ketua mereka, setidaknya memiliki kekuatan yang sama sepertimu, Simon.”
“Beraninya kamu memanggil ketua dengan namanya! Apakah kamu-“
“Diam, Anak Baru. Jangan kira setelah kamu naik tingkat dan menggantikan yang gugur, kamu bisa berbicara seperti itu di depanku.
Seperti yang aku bilang, Sword of Sufferings memang kuat. Selain itu, mereka semua sangat terlatih. Membunuh ratusan prajurit elit Crux of Shadow sama sekali bukan masalah untuk mereka. Dibandingkan dengan mereka, bawahanmu tidak begitu berguna, Simon. Kecuali beberapa orang yang layak, sisanya hanyalah sampah yang bahkan masih tidak berguna setelah mendapatkan kekuatan.”
“Oh?! Tampaknya kamu memiliki penilaian tinggi tentang mereka, Silvia.”
Simon mengangkat alisnya. Dia tidak menyangka wanita sombong yang tidak pernah menganggap lawannya itu menjadi begitu serius. Meski hubungan mereka lebih mirip kerjasama sementara dibandingkan atasan dan bawahan, tetapi pria itu masih mempercayai berita dari Silvia.
“Memang. Jika bertarung habis-habisan, aku memiliki kemungkinan untuk kalah.” Silvia melirik ke arah Simon lalu melanjutkan. “Kamu tahu alasanku mau bergabung denganmu kan, Simon?”
Mendengar keseriusan masalah, Simon bertanya dengan nada dalam.
“Jika bertarung habis-habisan, siapa yang akan menang? Crux of Shadow ... atau Sword of Sufferings?”
“Bukan sesuatu yang mudah untuk menentukannya. Akan tetapi, jika anggota mereka kurang dari 30 orang yang muncul, Crux of Shadow memiliki kemungkinan besar untuk menang.
Meski kamu kehilangan banyak bawahan, tetapi jumlahnya masih tersisa banyak. Gunakan prajurit kelas rendah untuk mengepung 20 prajurit elit mereka dengan senjata jarak jauh. Para jenderal bisa melawan jenderal musuh 2 lawan 1. Sementara kamu sendiri bisa melawan Hades itu.
Bahkan jika mereka memiliki bala bantuan, jika kamu membawanya kemari, orang-orang itu masih tidak berdaya jika apa makhluk itu dikeluarkan.”
Mendengar analisis menyeluruh dari Silvia, Simon tersenyum lembut. Dia terus mengangguk. Meski kesannya kurang adil, tetapi selama dirinya menang, dia tidak peduli.
“Kalau begitu aku bisa tenang,” ucap Simon dengan senyum di wajahnya.
“Karena tugasku sudah selesai, maka aku ingin melaporkan sesuatu yang lain.”
__ADS_1
“Ada apa, Silvia?”
“Aku akan mengundurkan diri, keluar dari Crux of Shadow.”
Mendengar itu, suasana yang awalnya begitu santai menjadi dingin. Banyak orang berdiri lalu mengeluarkan senjata mereka. Saat itu juga, Simon berkata dengan tegas.
“Semua orang, kembali ke tempat duduk kalian!”
“Tapi Ketua-“
“Wanita ini-“
“Diam dan duduk kembali ke kursi kalian!”
Semua orang menggertakkan gigi. Setelah itu, orang-orang itu akhirnya kembali ke tempat duduk mereka. Simon sendiri masih menatap ke arah Silvia dengan wajah serius.
“Katakan alasannya, Silvia.”
“Aku bukan bawahanmu. Selain itu, alasanku untuk bergabung adalah mencari tempat untuk hidup tenang. Jelas, dua syarat paling dasar itu tidak lagi bisa dipenuhi. Jadi aku memutuskan untuk meninggalkan kota.”
“Maksudmu ...” Ekspresi Simon menjadi lebih serius.
“Sword of Sufferings pasti akan mempersiapkan semuanya dengan baik. Kalian juga akan mengerahkan seluruh kekuatan. Saat itu terjadi ...
Kota ini tidak akan jauh dari titik kehancuran. Aku sama sekali tidak peduli siapa yang menang, tetapi aku harus membawanya pergi dari kota yang sudah tidak layak huni ini.”
“Tidak perlu membujukku, Simon. Aku tidak lagi berniat tinggal di tempat ini.”
Setelah mengatakan itu, Silvia berdiri. Dia kemudian berjalan keluar, tetapi ucapan Simon membuatnya terhenti.
“Satu hal yang ingin aku pastikan.”
“Katakan.”
“Kamu tidak akan membantu pihak lain, kan?”
“Aku tidak akan melakukan hal-hal tidak berguna seperti itu.”
“Kalau begitu aku harap kamu menjalani kehidupan baik, Silvia. Mungkin saja kita bisa bertemu di lain waktu dan menjalin kerjasama lain.”
“Selamat tinggal,” ucap Silvia dingin,
Wanita itu kemudian keluar dari ruang rapat. Setelah beberapa saat, salah satu dari anggota baru berdiri dengan kesal.
“Tuan, haruskah kita menculik dan membuatnya sebagai sandera agar wanita gila itu-“
BRUAK! BANG!
__ADS_1
Sebuah lubang muncul di pintu. Sebuah benda langsung menabrak dan meledakkan kepala pria itu. Setelah itu, sebuah kalung dengan lambang Crux of Shadow yang penuh darah jatuh ke atas meja dengan tenang.
Semua jenderal berdiri dan bersiap untuk bertarung, tetapi Simon berkata dengan santai.
“Kembali duduk dan abaikan pemandangan ini. Aku sudah bilang berkali-kali jangan mencoba menyentuh sisik terbalik wanita itu jika tidak ingin mendapatkan masalah. Kita telah mendapatkan banyak bantuan darinya, jadi ini sudah cukup.
Selain itu, selama kita menyelesaikan masalah ini dan berkembang ke kota lain, bukan berarti kita tidak bisa menemukannya. Ini hanya masalah waktu.”
“Baik, Tuan!” jawab mereka serempak.
Melihat ke arah Silvia pergi, Simon hanya bisa menggeleng ringan.
***
Sementara itu, Silvia kembali ke rumahnya.
“Apakah semua barang yang diperlukan sudah siap, Irene?”
“Semuanya sudah disiapkan, Master.”
Irene datang membawa dua ransel besar berisi berbagai perlengkapan. Selain itu, ada juga beberapa tas kecil dan senjata. Dia kemudian meletakkannya dan memberi hormat seperti maid profesional.
“Dimana dia?” tanya Silvia.
“Sedang bermain di kamar, Master.”
Mendengar itu, Silvia mengangguk. Dia kemudian pergi menuju ke kamar. Saat membuka kamar, dia berkata dengan lembut.
“Apakah kamu merindukan Mama, Eira?”
Mendengar itu, seorang gadis kecil berusia sekitar tiga tahun meletakkan bonekanya. Dia kemudian bangkit dan berlari dengan canggung ke arah Silvia sambil berkata.
“Mama!”
Wanita itu menangkap gadis kecil tersebut lalu menggendongnya. Memiliki senyum tulus di wajahnya, Silvia mengecup kening gadis itu.
Gadis itu memiliki wajah yang teramat cantik. Meski agak kurus, tetapi kulitnya putih mirip Silvia. Meski begitu, gadis kecil itu memiliki rambut dan mata hitam. Bahkan, bentuk wajahnya sedikit mirip dengan seseorang.
“Apakah Eira mau jalan-jalan dengan Mama? Kita bisa pergi dari tempat ini dan melihat tempat yang lebih indah.”
“Jalan-jalan sama Mama?” Gadis kecil itu menatap Silvia dengan mata berbinar. “Mau!”
“Kalau begitu kita akan segera berangkat.”
“Ya!” balas gadis kecil yang memeluk ibunya dengan erat.
Setelah memastikan segalanya, wanita itu telah membulatkan tekad dan menentukan jalannya sendiri. Sambil menggendong gadis kecil bernama Eira, Silvia, sang Fallen Angel pergi meninggalkan kota bersama pengikut setianya. Benar-benar menghilang seolah tidak pernah ada.
__ADS_1
>> Bersambung.