
Di atap gedung tinggi, Ark duduk di tepi bangunan sambil melihat kota yang luas.
Dunia yang diselimuti oleh kegelapan menyajikan pemandangan suram. Rembulan dan jutaan menjadi penghias malam. Menerangi para makhluk yang menyusuri jalan. Mereka yang terus melangkah meski harus melewati gelapnya malam.
“Ingin bertahan di dunia yang begitu gila dan kejam ini dengan mengandalkan orang lain lain. Raja? Kaisar? Atau mereka yang mengaku sebagai Dewa?”
Ark menuangkan anggur ke gelas lalu mengangkatnya. Melihat cahaya rembulan yang terpantul pada permukaan anggur, ekspresi pemuda itu menjadi lebih dingin.
“Mereka yang tidak ingin memperbaiki diri dan terus berlindung sambil memegang ilusi yang mereka sebut dengan keamanan dan kebahagiaan. Orang-orang seperti itu lebih baik mati saja. Jika dunia memang membutuhkan seseorang untuk menyadarkan mereka ...”
Ark menuangkan anggur, membuat butiran-butiran air berterbangan bersama embusan angin malam. Masih dengan ekspresi datar di wajahnya, dia berkata.
“Maka aku tidak keberatan untuk menjadi iblis yang menyadarkan mereka semua.”
Saito yang berdiri di belakang Ark hanya diam. Sama sekali tidak membalas atau bereaksi pada ucapan Ark. Benar-benar berdiri dengan tenang seperti bayangan pemuda itu sendiri.
***
Di kota ini, selain markas utama, banyak juga cabang Crux of Shadow.
Mereka membuat banyak pos untuk memonopoli sumber daya kota. Tidak mengizinkan kelompok lain yang bertentangan dengan mereka memiliki sumber daya. Menekan kelompok lain agar tidak berkembang dan menyaingi mereka.
Di salah satu pos Crux of Shadow yang berlokasi di toko sayuran terbesar di kota.
“Apa yang kalian lakukan? Apakah kalian tidak tahu kalau kami adalah cabang Crux of Shadow?! Apakah kalian tidak takut Dewi Kegelapan murka kepada kalian dan-“
BANG!
Kepala orang itu langsung diledakkan dengan pukulan. Sosok Leon kemudian menggaruk belakang kepalanya sambil berkata dengan nada kesal.
“Kalian begitu berisik!”
Melihat kemunculan Leon yang memimpin sepuluh prajurit yang begitu tiba-tiba lalu mulai membantai tanpa mengatakan apa-apa membuat banyak orang tercengang. Saat itu, pria dengan tubuh seperti beruang itu langsung menggaruk belakang kepalanya dan tampak semakin jengkel.
“Aku benar-benar melupakan tugas Bos! Karena mereka orang biasa, seharusnya membunuh mereka sama sekali bukan masalah, kan?”
Saat itu, puluhan orang dengan pakaian lebih baik daripada anggota normal muncul dan mengepung Leon dan sepuluh orang lainnya. Mereka memiliki jumlah total lima puluh tiga orang. Juga, mereka sama sekali bukan orang biasa.
Melihat ke arah orang-orang yang mengepungnya, Leon sama sekali tidak tampak takut. Dia malah membuka kedua tangannya lebar-lebar. Pria itu langsung mendongak ke langit sambil berteriak.
__ADS_1
“HAHAHA! BAGUS! BAGUS! APA YANG BOS KATAKAN MEMANG BENAR!”
“KAMU! KAMU! KAMU!”
Leon menunjuk ke arah orang-orang di sekitar dengan acak kemudian tertawa semakin gila. Napasnya semakin tidak stabil, aura berbahaya seperti binatang buas yang kejam langsung keluar dari tubuh pria itu. Tubuhnya sedikit membengkak dan uap mengelilingi tubuhnya.
“KALIAN SAMA SEKALI BUKAN ORANG BIASA!”
“PULUHAN ORANG LEVEL 1 DAN TIGA ORANG LEVEL 2!”
“AKU RASA INI TIDAK AKAN BEGITU MEMBOSANKAN!”
Memiliki ekspresi ganas dan mata seperti binatang buas, Leon berteriak lantang.
“HANCURKAN! HANCURKAN MEREKA SEMUA!!!”
Setelah mengatakan itu, Leon langsung bergegas menuju ke kerumunan orang. Melihat ke orang-orang yang mengarahkan senjata meraka kepadanya, pria itu malah tertawa semakin gila.
BLARRR!
Pukul lalu ledakkan kepala, cekik lalu banting ke lantai dengan keras, cakar perut mereka dan pukul rusuk sampai hancur.
Sepuluh orang lainnya juga tidak hanya diam. Mereka semua langsung mengeluarkan pedang dan mulai membantai lawan-lawannya. Hal tersebut langsung membuat ratusan orang biasa yang tergabung dalam Crux of Shadow ketakutan. Mereka melarikan diri sekuat tenang. Ada juga yang menangis, berlutut sambil memohon. Namun ...
Semua orang yang berada di level 1 atau orang-orang di sekitar mereka benar-benar langsung dihabisi!
Melihat kalau sebelas orang berjubah menargetkan para prajurit dari Crux of Shadow yang sebelumnya mereka hormati, orang-orang itu langsung menjauhkan diri dari mereka. Menghindari para prajurit seolah-olah mereka adalah wabah.
BANG! BANG! BANG!
Leon duduk di atas orang yang bertanggung jawab atas cabang lalu menghajarnya dengan keras. Pria itu memiliki tubuh besar, menutup kepala dengan kedua tangannya untuk menahan serangan Leon. Melihat pria yang menghajarnya seperti samsak tinju, dia berteriak.
“TOLONG! CUKUP! AKU MENYERAH! AKU MENYERAH! AKU-“
CRASH! BANG!
Leon bangkit lalu melihat ke arah sosok pria yang mati di bawahnya tanpa ekspresi kasihan. Memiliki tangan berlumur darah, pria itu mendongak untuk melihat bulan. Mata seperti binatang buas langsung berkilat dingin.
“PERBURUAN BARU SAJA DIMULAI!”
__ADS_1
Dengan diselesaikannya sang penanggung jawab cabang, sepuluh orang lainnya juga telah menyelesaikan bagian mereka. Usai membunuh lebih dari tujuh puluh orang termasuk orang biasa di sekitar, Leon langsung memimpin orang-orang pergi dari sana.
***
Sementara itu, di pos Crux of Shadow lainnya.
Sosok Draco duduk di tepi balkon sambil memikul tombaknya. Jubahnya telah basah dengan darah. Di belakangnya, mayat penuh darah menumpuk seperti bukit mini.
Di lantai bawah, sepuluh orang yang mengikutinya baru saja menyelesaikan tugas mereka. Mereka kemudian membungkuk sopan kepada Draco sambil berkata.
“Misi telah diselesaikan, Mr Draco.”
Melihat sosok Draco yang tampak seperti utusan kematian yang memakai tombak alih-alih sabit, orang-orang yang selamat merasa ketakutan. Mereka sama sekali tidak berani melarikan diri. Orang-orang itu merasa takut Draco akan menargetkan mereka. Lagipula, banyak pengurus cabang ini yang mencoba melarikan diri tetapi dipotong kakinya oleh pria itu lalu diseret kembali.
“IBLIS! KALIAN SEMUA PASTI IBLIS!”
Tampak sosok wanita yang memiliki penampilan berantakan dan tampak gila menunjuk ke arah Draco. Sebelumnya dia adalah wanita cantik yang menjadi ‘pelayan’ para petugas cabang. Wanita itu merasa hidupnya cukup memuaskan. Benar-benar tidak menyangka ada sosok yang menerobos masuk dan mulai membunuh di depan matanya. Saking takutnya, wanita itu benar-benar kehilangan separuh kewarasannya.
“Iblis? Jika yang kalian maksud adalah penghuni dunia bawah, itu mungkin benar. Karena ...”
Draco berkata dengan nada datar. Dia memiringkan kepalanya lalu melanjutkan.
“Kami adalah bawahan Raja Dunia Bawah, Tuan Hades.”
Ucapan yang dipenuhi dengan rasa hormat, kagum, dan takut dari mulut Draco langsung membuat orang-orang merinding.
***
Beberapa jam kemudian.
Di atap gedung, Ark yang duduk berjam-jam di sana akhirnya bangkit. Tanpa menoleh, dia berkata kepada Saito yang menemaninya dalam diam.
“Hey, Saito. Sebenarnya aku tidak begitu membenci orang yang mengandalkan atau membutuhkan orang lain. Tentu saja ada syaratnya, yaitu menyadari suatu hal penting. Mereka boleh saja berlindung, tetapi tidak boleh lupa kalau mereka harus terus tumbuh.
Mungkin berlindung pada Raja, Kaisar, atau mungkin Dewi membuat mereka merasa aman. Namun, dibandingkan mempercayai mereka ...”
Ark menoleh ke arah Saito. Pada saat itu juga, cahaya fajar kemerahan menerangi langit. Embusan angin pagi membuat rambut putih pemuda itu menari. Sepasang mata merah seperti rubi itu memandang ke arah kota. Memiliki senyum mengejek di wajahnya, pemuda itu berkata.
“Aku lebih mempercayai tanganku sendiri.”
__ADS_1
>> Bersambung.