
Sementara itu, di tempat Cassandra berada.
“Dunia terkutuk ini ...”
Wanita cantik itu mengatupkan gigi, bergumam dengan nada penuh kebencian. Dia melihat ke arah rekan-rekan barunya dengan ekspresi sedih. Meski belum lama mengenal mereka, wanita-wanita itu memperlakukannya dengan sangat baik.
Diperlakukan seperti saudari seperjuangan!
Khususnya sosok pemimpin mereka yang pendiam dan tampak dingin di luar, tetapi memiliki hati lembut dan hangat di dalam.
Baru beberapa hari yang lalu Cassandra bergabung dengan Valkyrie, kelompok kecil yang dipimpin oleh Silvia. Irene, wanita cantik berambut merah yang dia anggap sangat kuat itu ternyata masih kalah dari sang ketua.
Cassandra dengan mudah berbaur ke kelompok tersebut, bahkan merasa nyaman. Namun, kebahagiaan itu tidak bertahan lama.
Beberapa hari kemudian, Silvia meminta mereka untuk berkemas dan pergi dari markas. Pagi ini, kerusuhan yang disebabkan oleh ‘parade monster’ terjadi. Sekarang, mereka semua berada dalam masa pelarian.
Bukan karena kelompok mereka lemah. Namun, musuh mereka kuat dan jumlahnya terlalu banyak. Benar-benar bukan sesuatu yang belasan orang bisa tangani.
Cassandra melirik ke arah tertentu.
Di sana, tampak sosok Silvia yang memasang ekspresi tak acuh. Wanita itu menggendong gadis kecil yang terlelap karena terlalu lelah menangis. Dia memeluk erat gadis kecil itu, jejak kekhawatiran tampak di matanya.
“Bagaimana Irene? Apakah jaraknya telah melebar?”
Mendengar pertanyaan Silvia, Irene menjawab dengan wajah serius. Sama sekali tidak tampak main-main seperti biasanya.
“Maaf Tuan, tapi musuh pasti akan segera menyusul. Diperkirakan makhluk-makhluk level 4 itu bisa segera mengejar. Bahkan jika pasukannya agak terlambat, tetapi makhluk terbang pasti datang lebih awal.”
Mendengar itu, tubuh Silvia gemetar. Dia menggigit bibirnya dengan ekspresi tertekan. Wanita itu memiliki pemikiran untuk meninggalkan rekannya dan bergerak dengan kecepatan penuh. Namun, itu tidak mungkin dilakukan.
Jika bergerak dengan kecepatan penuh, tubuh rentan gadis kecil dalam pelukannya tidak bisa menanggung tekanan tersebut. Sedangkan meninggalkan orang-orang untuk menahan para binatang bermutasi juga tidak berguna.
Level musuh terlalu tinggi dan sulit bagi bawahannya bertahan. Sama saja, makhluk-makhluk itu akan segera menyusul dia dan putrinya!
“Mama.”
Tangan kecil mencengkeram erat pakaian Silvia. Sepasang mata berkaca-kaca menatap ke arah wanita itu, tampaknya sangat ketakutan.
Memeluk tubuh gadis kecil itu, Silvia berbisik pelan.
“Tidak apa-apa. Semuanya akan baik-baik saja.”
__ADS_1
“En.”
Melihat senyum lembut di wajah ibunya, gadis kecil itu mengangguk patuh. Dia memeluk ibunya dengan begitu erat, tenggalam dalam dekapannya.
Setelah beberapa saat, Silvia berhenti di atap sebuah bangunan. Belasan anggota lain juga ikut berhenti dengannya.
“Irene.”
Mendengar panggilan Silvia, Irene menoleh. Saat itu juga, dia tertegun ketika melihat wajah tegas wanita tersebut.
“Ketua-“
“Tolong gendong Eira, bahuku sedikit pegal.”
Setelah mengatakan itu, Silvia menurunkan gadis kecil itu lalu menepuk kepalanya dengan lembut.
“Mama sedikit lelah, Eira ikut dengan Saudari Irene terlebih dahulu ya? Tidak apa-apa kan?”
“Tidak.” Gadis itu menggelengkan kepala dengan panik. “Kita akan istirahat sebentar lalu melanjutkan perjalanan. Tidak apa-apa?”
Melihat ekspresi sedih Eira kecil, Silvia memasang senyum lembut. Dia memeluk gadis kecil itu lalu mengecup keningnya dengan lembut.
“Eira harus pergi bersama Saudari Irene dan Saudari Cassandra terlebih dahulu. Eira sering bertanya soal Papa kan? Mereka akan membawa Eira bertemu dengan Papa.”
Eira tampak terkejut. Gadis kecil itu tidak menyangka kalau dia benar-benar memiliki seorang ayah yang selama ini dia inginkan. Meski bersemangat, gadis kecil itu menekan semangatnya sambil menatap ibunya.
“Kalau Mama?”
“Mama sedikit lelah, jadi Mama akan beristirahat di sini beberapa saat. Setelah itu, Mama akan segera menyusul Eira.”
Silvia mencubit kedua pipi gadis kecil itu sambil berkata dengan senyum di wajahnya.
“Janji?” ucap gadis kecil itu dengan ekspresi polos di wajahnya.
“Ya. Mama janji akan segera menyusul Eira.”
Setelah mengatakan itu, Silvia mengaitkan jari kelingkingnya ke jari kelingking putri kecil kesayangannya.
Wanita itu kemudian melihat ke arah Irene yang menggigit bibir sambil menahan tangis. Dia menyerahkan tas kecil ke wanita berambut merah tersebut sambil berkata.
“Berikan ini padanya.”
__ADS_1
‘Meski tidak ingin menemuinya dan tidak ingin Eira mengetahuinya, tetapi tidak ada pilihan lain. Sekarang, hanya pria itu yang bisa menjaga dan merawat Eira.’
Silvia tampak enggan berpisah dengan putrinya. Sekali lagi dia memeluk gadis kecil itu sambil menahan air mata.
“Selama Mama tidak ada, Eira harus jadi gadis baik dan menurut dengan ucapan Saudari Irene.”
“En! Eira akan jadi gadis baik. Mama harus segera menyusul Eira!”
Silvia mengelus kepala Eira dengan lembut. Dia kemudian berkata pada Irene dan Cassandra.
“Tolong antar Eira menemui ayahnya. Setelah itu, kalian bebas.”
Mendengar ucapan Silvia, tubuh Irene gemetar. Memaksakan diri untuk tersenyum seperti biasa, wanita berambut merah itu berkata.
“Dimengerti.”
Akhirnya, Irene pun pergi membawa gadis polos yang tampak bersemangat bertemu dengan ayahnya. Sama sekali tidak tahu mungkin ini menjadi perpisahan dengan ibunya.
Melihat ke arah Irene dan Cassandra yang menghilang di kejauhan, senyum di wajah Silvia perlahan menghilang. Wanita itu kemudian melihat ke arah rekan-rekan lainnya.
“Kenapa kalian tidak pergi bersama mereka?”
Mendengar itu, wanita-wanita itu saling memandang lalu tersenyum. Salah satu dari mereka kemudian berkata.
“Berbeda dengan Saudari Irene dan Cassandra, kami tidak memiliki misi penting. Selain itu, Nona Eira adalah putri bagi kita semua. Jadi, kami sama sekali tidak keberatan menunda musuh dan membukakan jalan untuknya.”
Melihat ekspresi tulus di wajah rekan-rekannya, Silvia merasa sangat tersentuh. Memiliki senyum lembut di wajahnya, dia pun berkata.
“Terima kasih banyak.”
Saat itu juga, Silvia yang biasanya sangat dingin dan tegas membungkukkan badannya. Demi putrinya, dia sama sekali tidak keberatan kehilangan keagungannya. Lagipula, baginya, dibandingkan hal-hal lain ... Eira adalah segalanya.
RROOAARRR!!!
Saat itu, raungan binatang bermutasi terdengar dari kejauhan.
Beberapa saat kemudian, banyak makhluk bermunculan dari kejauhan. Puluhan ribu kelelawar membentangkan sayap mereka untuk menutup langit, puluhan makhluk tingkat tiga sebesar mobil merangkak melewati jalan-jalan dan merayap pada dinding gedung. Bahkan ada beberapa makhluk level 4, jauh lebih banyak dibandingkan di tempat Golden Maple Group dan Sword of Sufferings berada.
Melihat binatang bermutasi datang seperti banjir, ekspresi lembut masih terlihat di wajah Silvia. Menarik pedangnya, wanita itu berkata.
“Maafkan Mama, Eira ...”
__ADS_1
“Sepertinya Mama tidak bisa menepati janji kita.”
>> Bersambung.