Apocalypse Regression

Apocalypse Regression
Tidak Datang Dua Kali


__ADS_3

"Ark ... Kamu ..."


Julian menatap sosok Ark dengan eskpresi tidak percaya di wajahnya. Tangannya yang memegang pedang tidak bisa tidak menggenggam lebih erat. Dia benar-benar marah ketika melihat Ark yang membunuh dan tidak menghargai nyawa manusia.


Entah kenapa, rasanya tidak jauh berbeda dengan Kelompok Reaver yang telah mereka lawan!


Membuang pedang di tangannya, Julian langsung bergegas mendekati Ark. Mengepalkan tangannya erat-erat, dia langsung memukul ke arah wajah Ark sambil berteriak.


"Kenapa kamu melakukan hal seperti ini, Ark?!"


Ketika pukulan hendak mengenai wajahnya, Ark sedikit mengelak lalu melakukan tendangan lurus tepat ke perut Julian.


Bruak!


Sosok Julian terpental dan berguling-guling di lantai yang dipenuhi darah. Meski tidak terluka parah, pria itu langsung batuk-batuk.


Uhuk! Uhuk!


Masih bangkit kembali, Julian menatap ke arah Ark sambil bertanya.


"Jika kamu melakukannya dengan cara seperti ini, apa bedanya kamu dengan mereka ... ARK!!"


Mendengar teriakan Julian, Ark menjawab dengan nada datar.


"Aku, kamu, Borin, atau semua pemimpin kelompok di luar sana berbeda-beda. Apa yang kita lakukan adalah kebenaran versi kita sendiri. Jadi jika kamu mengelompokkan semuanya dalam beberapa kategori, sejak awal cara berpikirmu salah.


Bukannya salah. Hanya saja ... ya, berbeda denganku."


"Kalau begitu ... apakah kamu lawan atau kawan Silver Cross?!!"


Julian memicingkan mata. Dia menarik keluar senjatanya. Tampaknya siap untuk bertarung kapan saja.


"Tampaknya kamu bersemangat, tetapi sayangnya ... teman-temanmu tidak memiliki semangat yang sama."


Mendengar ucapan datar Ark, Julian terkejut. Dia melihat sembilan rekannya. Meski tidak terluka parah, tampaknya mereka benar-benar tidak ingin bertarung melawan Ark.


"Kalian ..."


"Jangan salahkan mereka."


Ark memotong dengan nada dingin dan tak acuh. Menatap ke arah Julian yang marah, dia melanjutkan.


"Tidak semua orang pemberani seperti dirimu, Julian. Tidak semua orang ingin berjuang sampai mati hanya karena membela kebaikan atau semacamnya."


"Diam."


"Semua orang yang masih bertahan di dunia ini ingin hidup dengan berbagai cara. Aturan yang selama ini kamu perjuangkan sudah tidak ada. Itu hanyalah aturan yang kamu buat sendiri."


"Diam!"


"Sejak awal, kamu seharusnya telah mengetahui ini ... Julian."

__ADS_1


"AKU BILANG DIAM!!!"


Julian bergegas ke arah Ark sambil mengayunkan pedangnya. Namun sosok Ark dengan mudah menghindari serangan demi serangan yang dia lancarkan.


Setelah beberapa saat, Ark tiba-tiba maju. Dia langsung memukul pergelangan tangan Julian. Membuat pria itu melepaskan pedangnya.


Saat itu juga, Ark meraih pedang Julian. Bukannya menebas, pemuda itu sekali lagi menendang perut Julian.


Bruk!


Sosok Julian berguling di jalanan. Ketika hendak bangkit, sosok Ark sudah berdiri di depannya sambil menghunuskan pedangnya. Ujung pedang yang tajam sudah berada beberapa centimeter di depan mata Julian.


"Kamu kalah, Julian."


"Bunuh aku."


Mendengar ucapan Julian, mata Ark menyempit. Dia kemudian menjatuhkan pedang di depan pria itu, sama sekali tidak berniat untuk membunuhnya. Lagipula ...


Orang sebaik Julian sangat jarang di dunia yang telah kacau ini.


Ark berbalik. Ketika hendak pergi, dia tiba-tiba mengingat sesuatu dan berkata.


"Baik bukan berarti harus naif dan lembut. Aku harap kamu mengingat kalimat ini. Aku pikir, itu akan berguna bagimu."


Setelah mengatakan itu, Ark berjalan memasuki minimarket. Sosok Stacy juga berjalan menyusulnya.


Masuk ke dalam minimarket, beberapa orang yang tersisa tampak ketakutan ketika melihat sosok Ark yang berjalan melewati mereka.


Stacy berkata dengan nada polos. Jika orang lain tidak melihat apa yang Ark lakukan, mereka mungkin berpikir pemuda itu selesai melakukan hal-hal indah seperti bermain musik, menari, atau melakukan hal lain. Hanya saja, kalimat yang diucapkan oleh Stacy benar-benar aneh. Sama sekali tidak cocok dengan apa yang dilakukan oleh Ark sebelumnya.


Ark menghampiri sosok pria paruh baya yang kurus dan lemah, langsung membuat pria itu ketakutan.


"Dimana para wanita berada?"


"M-Mereka ada di lantai atas, Tuan! T-Tolong jangan bunuh saya!"


Mengabaikan pria itu, Ark berjalan menuju ke tangga, langsung bergegas ke lantai dua.


Sampai di lantai dua, Ark dan Stacy langsung mencium aroma tidak sedap. Mereka berdua kemudian menuju ke sebuah ruangan lalu membukanya.


Saat itu, ekspresi Ark masih datar, tetapi tubuh Stacy gemetar. Gadis itu menggertakkan gigi, menahan amarah ketika melihat pemandangan di depan matanya.


Dalam sebuah ruangan sempit tanpa alas, tampak beberapa wanita yang tanpa sehelai benang menutupi tubuh mereka. Tangan mereka diikat. Mereka tampak kotor dan kurus. Ekspresi mati rasa dan tatapan kosong terlihat di wajah mereka. Melihat pemandangan keji semacam itu ...


Jelas para perempuan akan marah, bahkan gila!


Sedangkan Ark yang melihat pemandangan lebih mengerikan daripada hal semacam itu masih tenang. Ekspresinya masih sangat datar, apa yang dia lihat sama sekali tidak membuatnya tertarik.


Kebetulan, Ark melihat sosok yang tidak asing di sana. Ya ... gadis itu adalah Juana.


Melihat sosok Ark dan Stacy, ekspresi kosong dan mati rasa di wajah Juana berubah. Tatapannya berangsur-angsur pulih, ekspresinya menjadi lebih baik dari penuh harap.

__ADS_1


"Stacy! Kak Ark! Kalian ... Kalian datang untuk menyelamatkan aku!"


Juana merangkak ke arah Ark dengan ekspresi penuh harap. Dia benar-benar memiliki wajah berlinang air mata. Namun, apa yang Ark ucapkan membuat harapannya seperti disiram air dingin.


"Apakah di sini ada yang mengenal Natasha?"


Tidak mendapatkan jawaban, Ark berkata dengan nada datar.


"Bukan salah satu dari mereka. Kalau begitu kita pergi, Stacy."


Melihat Ark yang berbalik pergi, Stacy menatap para perempuan itu dengan wajah bingung dan linglung. Tampak enggan, gadis itu akhirnya berkata.


"Bolehkah setidaknya aku melepaskan tali yang mengikat mereka, Tuan?"


"Lakukan apa yang kamu suka."


Ark berkata tanpa berbalik.


Stacy mengambil belati. Dia kemudian memotong tali yang mengikat para gadis dalam ruangan. Ketika membuka ikatan di tangan Juana, Stacy terkejut melihat gadis tersebut memeluknya sambil menangis.


"Bantu aku, Stacy! Aku menyesal ... aku ingin ikut denganmu ..." Juana terisak. "Seharusnya aku tidak membuat keputusan ceroboh. Aku terlalu percaya diri dan malah berakhir seperti ini. Tolong bantu aku ... Stacy!"


"T-Tuan ..."


Stacy berkata dengan suara gemetar. Dia kemudian menoleh ke arah Ark yang bersandar pada dinding dekat tangga. Wajahnya tampak takut, berlinang air mata.


"Mereka akan baik-baik saja. Silver Cross akan mengurus mereka."


"Tapi—"


"Aku bisa menjamin kalau mereka hidup lebih baik bersama dengan Silver Cross. Namun jika kamu ragu ..." Ark menatap ke arah Stacy dengan ekspresi tak acuh. "Apakah kamu ingin aku mengakhiri penderitaan mereka?"


Ucapan Ark jelas langsung membuat Stacy dan Juana ketakutan. Beberapa gadis dalam ruangan juga takut, sementara sebagian masih masih tampak mati rasa.


"Aku sudah memberikan pilihan. Temanmu juga telah memilih. Kamu sendiri mengetahui itu, Stacy.


Jika kamu ingin tinggal ... kamu boleh tinggal dan ikut dengan Silver Cross. Mereka pasti akan memperlakukan kalian dengan baik. Sedangkan bagiku ... semuanya sudah cukup karena aku telah memberi kesempatan."


Setelah mengatakan itu, Ark mulai menuruni tangga sambil berkata.


"Lagipula, tidak semua kesempatan muncul lebih dari satu kali."


Mengatakan itu, Ark benar-benar meninggalkan Stacy.


Melihat sosok Ark yang pergi, Stacy menangis. Dia melepaskan tangan Juana sambil menangis dan berkata.


"Maafkan aku, Juana. Kamu pasti akan baik-baik saja, tapi maafkan aku. Aku ... aku tidak bisa ikut denganmu."


Setelah mengatakan itu Stacy bangkit lalu berlari pergi. Sambil mengusap air matanya yang terus tumpah.


Benar-benar meninggalkan sosok Juana yang menangis sendirian ... menyesali pilihan yang telah dia buat.

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2