Apocalypse Regression

Apocalypse Regression
Di Bawah Katedral


__ADS_3

Melihat ekspresi Ark yang cukup emosional, Jay buru-buru menyela.


“Aku juga ingin bicara banyak denganmu, Kawan. Namun, bukankah kita seharusnya menundanya? Kamu memiliki misi yang harus diselesaikan, bukan? Pergi!”


Pada saat mendengar ucapan Jay, Ark tertegun sejenak. Pemuda itu tersenyum di balik topengnya, lalu menyarungkan kembali pedangnya. Tanpa berlama-lama, dia langsung pergi sambil berkata.


“Sisanya akan kuserahkan pada kalian!”


Mendengar ucapan Ark, keempat orang itu mengangguk. Berbeda dengan Jay ... Kurona, Shirona, dan Stacy memang datang karena surat yang dia kirim. Mereka adalah bala bantuan yang pemuda itu tunggu.


Jay dan Lisa sendiri sebenarnya tidak dalam daftar. Namun karena mereka kebetulan sedang melakukan tugas memindahkan bibit dan herbal berharga dari markas cabang, keduanya memilih untuk datang. Selain karena ingin membantu, mereka juga ingin mendapatkan penjelasan dari ketua yang menyembunyikan sakitnya itu.


Ketika melihat Ark mencoba pergi, Simon langsung berteriak dengan ekspresi gila di wajahnya.


“MEMANGNYA AKU AKAN MEMBIARKANMU PERGI, HADES! BUNUH! BUNUH DIA UNTUKKU!”


Mendengar perintahnya, ratusan prajurit dengan perisai langsung berlari ke arah Ark dengan ekspresi ganas seperti binatang buas di wajah mereka.


Ark terus bergegas tanpa menahan diri. Dia sama sekali tidak mengeluarkan pedangnya karena yakin terhadap rekan-rekannya. Melihat banyak orang semakin mendekat, pemuda itu mengangkat sudut bibirnya.


Benar saja, saat itu dua bayangan melesat menyusul Ark. Keduanya melewatinya begitu saja, lalu mengeluarkan pedang. Bersamaan dengan kilatan cahaya, pedang di tangan mereka berdua langsung memotong orang-orang yang mencoba mendekati Ark.


Melihat jalan di tepi yang telah terbuka, Ark langsung pergi lewat sana sambil berkata.


“Terima kasih, Kurona, Shirona!”


Simon merasa hampir gila ketika melihat Ark meloloskan diri. Dia langsung berteriak sambil menunjuk ke arah Hades pergi.


“BUNUH DIA! TEMBAK! TEMBAK SAMPAI MATI!”


Ratusan pemanah langsung membidik Ark lalu menembakkan anak panah. Namun mereka sedikit terlambat karena sosok pemuda itu menghilang ke dalam bangunan. Benar-benar tidak muncul setelahnya.


Simon berteriak marah dan terus mengutuk. Melihat orang-orang yang dia anggap sebagai boneka bodoh itu membuatnya semakin marah. Karena menganggap mereka tidak berguna, pria itu berencana untuk mengejar Ark sendiri. Namun ...


Swoosh! Klang!


Simon mundur beberapa langkah ketika menangkis anak panah yang diarahkan tepat ke kepalanya. Melihat sosok pemanah yang berdiri di tempat paling tinggi sambil menjadi pengawas, dia menggertakkan gigi.


Saat itu, Simon melihat sosok pria berjubah yang telah melompat turun lalu berjalan ke arahnya.

__ADS_1


“Kamu ...”


“Wakil Ketua dari Sword of Sufferings, Jay. Ingat itu baik-baik, Bung.”


Setelah mengatakan itu, Jay langsung menarik keluar pedang panjang miliknya. Dia kemudian langsung bergegas menuju ke arah Simon lalu menebas dengan ganas.


KLANG!


“Oh? Benar-benar berada di tingkat 4?”


Jay memiringkan kepalanya. Dia kemudian menendang Simon sampai terpental beberapa meter, lalu mengejarnya sambil berteriak.


“INI AKAN MENJADI LEBIH MENARIK!”


Sama-sama dikelilingi oleh uap kemerahan yang panas, keduanya langsung bertabrakan dengan keras. Tanah di bawah mereka langsung dipenuhi dengan retakan. Sementara Jay yang barus saja tiba dan memiliki stamina penuh menyeringai, Simon menggertakkan gigi.


Setelah bertarung cukup lama dengan Ark dan sekarang mengendalikan ratusan orang secara langsung, energi di tubuhnya benar-benar terkuras sangat cepat. Merasa tidak tahan lagi karena rencananya semakin kacau, pria itu berteriak lantang.


“BUNUH ORANG INI UNTUKKU! HABISI DIA!!!”


Bersamaan dengan teriakan Simon, ratusan pejuang dan pemanah langsung mengalihkan fokus mereka kepada Jay. Meski Kurona dan Shirona bertarung dengan para pejuang, keduanya jelas tidak bisa membatasi pergerakan semua orang. Membunuh untuk membuka jalan masih bisa, tetapi mencegah ratusan orang pergi bukanlah perkara yang mudah. Selain itu, ada juga ratusan pemanah yang terus menembakkan anak panah ke arah Jay.


Sambil berlari, Stacy mengambil anak panah dan membidik musuh. Meski dia sedang berlari, bagian atas tubuhnya benar-benar tampak sangat stabil. Dengan mata yang berubah, dia membidik musuh seperti burung hantu yang menandai mangsanya.


Swuush!


Bersamaan dengan suara lembut anak panah menembus udara, salah satu pemanah musuh langsung jatuh. Sambil terus berlari, wanita itu menembak jatuh satu per satu pemanah musuh.


Jay sendiri terus bergerak untuk menghindari anak panah. Dia juga bertarung dengan para pejuang gila yang terus menyerangnya. Melihat ke arah para pejuang yang tubuhnya penuh dengan anak panah seperti landak, pria itu merasa kalau ketua musuh cukup gila karena benar-benar mengorbankan bawahannya dengan cara seperti itu.


Swoosh!


“Ups! Hampir saja!”


Merasakan luka kecil di lehernya, Jay yang melompat mundur berkata dengan ekspresi main-main di balik topengnya. Dia kemudian melirik ke arah Simon yang tadi nyaris memotong lehernya. Mundur belasan meter, pria itu berkata.


“Rencana A gagal! Berubah ke rencana B!”


Setelah mengatakan itu, perubahan muncul di kedua tangan dan kaki Jay. Dari ujung tangan sampai siku, dan dari ujung kaki sampai lulut ... exo-skeleton muncul untuk melapisi tubuh, menjadi pelindung. Bukan hanya dia, Kurona dan Shirona juga langsung melakukan hal yang sama.

__ADS_1


Rencana A adalah mengalahkan musuh hanya menggunakan skill dari miracle root pertama yang mereka serap. Sedangkan rencana B, tentu saja bukan hanya menggunakan miracle root pertama, tetapi juga miracle root ke-2 yang telah mereka serap!


Pada saat itu, tekanan mengerikan muncul dari sosok Kurona dan Shirona yang menyerap miracle root dari kumbang raksasa yang memiliki keunggulan kekuatan brutal dan pertahanan mengerikan. Saat itu juga, mereka langsung memotong beberapa orang dengan lebih kejam.


Jika sebelumnya mereka mengincar leher atau beberapa titik lemah, sekarang mereka memotong secara tegas dan ganas. Sekali menebas, bagian tubuh lawan langsung terpotong menjadi dua.


Melihat pemandangan semacam itu, Simon jelas sangat terkejut. Pada saat itu, bulu kuduknya tiba-tiba berdiri. Ketika menoleh, dia melihat sosok Jay yang sebelumnya begitu jauh puluhan meter darinya tiba-tiba muncul secepat embusan angin. Langsung menebasnya dengan kepat dan ganas.


KLANG! BLARRR!!!


Meski berhasil menangkis serangan Jay, tubuh Simon masih terhempas puluhan meter. Langsung menabrak dan menghancurkan dinding dengan keras.


Melihat kepulan asap yang begitu tebal, Jay menyeringai lalu berkata.


“Jangan mengalihkan pandanganmu ketika bertarung, Bung.”


“KAMU BISA LANGSUNG MATI, LOH.”


***


Sementara itu di dalam bangunan katedral.


Melihat bangunan yang begitu sepi setelah ditinggalkan oleh penghuninya, Ark tampak sangat tenang. Dia masih cukup waspada karena mungkin saja ada orang yang tertinggal untuk berjaga. Namun setelah mencari beberapa saat, hasilnya benar-benar nihil.


Pada saat melihat banyak hal dalam katedral yang diganti seperti patung dan lukisan yang sekarang menjadi milik Dewi Kegelapan atau hal-hal semacamnya, dia hanya bisa menghela napas panjang.


Ark berdiri di depan patung besar dengan sosok indah, mengenakan jubah, dan membawa sabit besar.


“Dewi Kegelapan, kah?”


Swoosh! BLARRR!


Ark langsung menendang patung itu sampai hancur. Dia sama sekali tidak repot-repot mencari trik karena tahu ... apa yang dicari olehnya ada di bawah patung itu.


Di bawah patung yang telah hancur, tampak sebuah jalan menuju ke bawah. Anak tangga yang berjejer rapi menuju ke tempat yang begitu gelap dan suram.


Melihat pemandangan semacam itu, Ark sama sekali tidak mengubah ekspresinya. Dia kemudian berjalan menuruni anak tangga ...


Siap untuk mengakhiri semuanya.

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2