Apocalypse Regression

Apocalypse Regression
Situasi Tiga Sisi


__ADS_3

Orang-orang masuk ke dalam bangunan utama markas Crux of Shadow. Bangunan tersebut sebelumnya adalah sebuah katedral terbesar di kota tersebut. Bentuk bangunan kuno tetapi megah membuat suasana tampak menjadi lebih khidmat.


Setelah berjalan beberapa waktu, mereka pun sampai di ruang rapat.


“Kalian benar-benar membuat kami menunggu begitu lama.”


Pada saat Silvia, Anthony, dan George masuk, mereka semua disambut oleh seorang pria kekar. Dia memiliki tubuh tegap, wajah persegi, dan yang paling mencolok ... penutup di mata kirinya. Dari penampilannya saja, semua orang jelas mengetahui kalau lelaki itu adalah seorang prajurit, tentara yang membela negara. Atau setidaknya ...


Mantan tentara.


“Bisakah kamu diam saja, Claus? Kamu benar-benar membuat semua orang merasa kesal ketika berbicara.”


“Bukankah aku yang seharusnya mengatakan itu, Anthony?”


Pria bernama Claus dan Anthony saling memandang. Ada aroma bubuk mesiu di antara mereka, tampaknya benar-benar akan meledak kapan saja. Hubungannya jelas tidak baik, tetapi anehnya mereka bisa berada dalam kelompok yang sama.


Silvia sama sekali tidak mempedulikan kedua pria yang dia anggap sebagai badut. Dia langsung berjalan menuju ke tempat duduknya. Benar-benar mengabaikan orang-orang di sekitar.


Dalam ruang rapat, ada sebuah meja bundar dengan dua belas kursi yang mengelilinginya. Selain Silvia, sudah ada enam orang yang duduk. Ditambah dengan Claus, Anthony, George, dan Renal yang sedang dirawat ... totalnya 11 orang.


Merasakan tatapan yang diarahkan anggota lainnya, Claus dan Anthony berhenti berdebat. Mereka pergi ke tempat duduk masing-masing. Setelah semua orang duduk di kursi mereka, hanya ada dua kursi yang masih kosong.


“Apakah Simon memanggil kita semua tanpa alasan?” suara Silvia terdengar.


Pada saat mendengar ucapan wanita itu, ekspresi banyak orang berubah. Selain beberapa orang yang tidak begitu terikat, sebagian besar dari mereka jelas menghormati pria bernama Simon tersebut karena ... dia adalah ketua dari Crux of Shadow.


“Bahkan jika kamu mengenal Ketua, kamu tidak boleh memanggilnya dengan cara seperti itu, Silvia! Ketua adalah orang yang ditunjuk oleh-“


“Aku tidak datang ke sini untuk mendengar bualanmu, Robb.”


Sosok pria jangkung dan kurus dengan rambut panjang keriting serta hidung mancung berbicara dengan nada penuh pemujaan, tetapi langsung disela oleh Silvia.


“Sudah aku bilang, Silvia! Panggil aku Roze!” teriak ‘pria’ itu dengan nada tinggi yang tidak wajar.


“Tutup saja mulutmu, Banci.” Silvia melirik Robb dengan mata dingin.

__ADS_1


Pria itu merasa sangat jengkel. Hanya saja, dia juga mengetahui kekuatan Silvia. Robb sendiri merasa takut dengan wanita itu. Lagipula, kekuatan Silvia juga diakui oleh ketua Crux of Shadow sendiri.


“Tampaknya semua orang telah hadir. Maafkan keterlambatanku, aku harus memeriksa Renal tterlebih dahulu.”


Pada saat itu, suara lelaki yang lembut dan sopan terdengar. Orang-orang pun langsung menoleh ke arah sumber suara pada saat bersamaan.


***


Sementara itu, masih di kota yang sama.


Dalam sebuah gedung di pinggiran kota yang terpencil dan dipenuhi oleh pepohonan di sekitarnya, tampak banyak orang berkumpul. Mereka semua adalah orang-orang yang tergabung dalam kelompok Spirit of Fire, sebuah kelompok yang bertentangan dengan Crux of Shadow.


Bisa dibilang, sebagian dari mereka adalah tokoh-tokoh resmi dari pemerintahan yang ditumbangkan oleh Crux of Shadow, terus mencoba melawan meski kalah berkali-kali. Mereka semua juga selalu bersembunyi dalam tempat gelap, jadi banyak orang memanggil mereka sebagai tikus kotor.


Di sempit tidak jauh dari sana, tampak sosok pemuda yang kotor berjalan dengan ekspresi muram di wajahnya.


Dia adalah Evans. Sudah beberapa waktu sejak dia dilepaskan oleh Silvia dan Irene, tetapi baru sekarang pemuda itu bisa kembali ke markas. Dalam beberapa hari ini, dia telah mengalami pengalaman yang sangat sulit. Bisa dikatakan hampir sama beratnya dengan disiksa dalam ruang sepi dan gelap.


Pada saar itu, banyak orang yang terkejut dan mengalihkan pandangan mereka ke arah Evans. Banyak dari mereka langsung membawa senjata, bersiap untuk bertarung melawan musuh yang tiba-tiba muncul. Namun suara teriakan lelaki langsung menghentikan gerakan mereka.


Saat itu juga, sosok pemuda langsung keluar dari kerumunan dan bergegas menuju ke arah Evans. Senyum sedih dan bahagia tampak di wajah pemuda itu.


“Apakah itu kamu, Evans? Apakah kamu baik-baik saja? Kamu ... kemana saja kamu selama ini?”


Mendengar suara pemuda yang begitu akrab, Evans melihat ke arah tersebut sambil memaksakan senyum di wajahnya.


“Senang melihatmu baik-baik saja, Brian.”


Pada saat mendengar suara sahabatnya yang serak, mata Brian langsung berkabut. Dia langsung berlari ke arah pemuda itu lalu merangkulnya dengan senyum penuh semangat.


“Kurang lebih sebulan berlalu. Kemana saja kamu selama ini? Bagaimana dengan penampilanmu? Apakah kamu baik-baik saja? Kamu terlihat sangat buruk sekarang.”


“Ya ... itu kisah yang panjang dan tidak bisa diselesaikan dalam satu tarikan napas.”


Melihat ekspresi kelelahan di wajah Evans, Brian langsung membawa sahabatnya pergi ke tempat tinggalnya. Melihat itu, meski banyak orang yang ragu, kebanyakan dari mereka sama sekali tidak mengatakan apa-apa. Lagipula, tidak ada orang yang sengaja berpura-pura bergabung dengan Spirit of Fire karena mereka adalah musuh Crux of Shadow.

__ADS_1


Tidak ada banyak orang yang ingin coba-coba bermain dengan resiko nyawa mereka.


Sampai di kamarnya, Brian langsung meminta Evans untuk berganti pakaian. Dia juga menyiapkan sebotol air dan kain bersih untuk membersihkan tubuh pemuda itu dari kotoran dan debu. Lagipula, penampilan Evans saat ini benar-benar tampak sangat buruk.


Hanya saja, pada saat Evans membuka pakaiannya, ekspresi Brian langsung berubah menjadi pucat. Di tubuh pemuda itu, banyak bekas luka panjang yang tampak sangat mengerikan. Dengan mata terbelalak, Brian menunjuk ke arah Evans sambil bertanya.


“Kamu ... apa yang sebenarnya terjadi padamu selama ini, Evans?”


Mendengar pertanyaan itu, Evans menatap ke arah sahabatnya dengan senyum dipaksakan di wajahnya.


***


Sementara itu, di markas cabang Sword of Sufferings.


Ketika hampir tiga ratus orang terbunuh, sisa orang dari empat kelompok lain kembali. Mereka tampaknya segera pergi dari markas Sword of Sufferings dengan terburu-buru. Sama sekali tidak berniat tinggal untuk beberawa di tempat yang mereka anggap berbahaya itu.


Melihat orang-orang yang pergi, para tahanan Sword of Sufferings menggelengkan kepala mereka. Tampaknya merasa agak lucu ketika melihat kelompok besar yang sebelumnya sangat mereka takuti sekarang lari terburu-buru.


Dalam ruang rapat sebelumnya, Ark masih duduk santai. Meski sembilan mayat telah disingkirkan, bekas darah pada lantai dan dinding masih belum dibersihkan.


Di sana, pemuda itu masih duduk dengan santai sambil minum teh. Sama sekali tidak tergaggu dengan pemandangan berdarah semacam itu.


“Apakah anda harus memperlakukan mereka dengan begitu baik, Ketua?”


Berdiri di belakang Ark, Saito bertanya dengan ekspresi heran.


Ark yang mendengarkan pertanyaan itu meletakkan gelas di atas meja. Dia kemudian berkata dengan senyum lembut.


“Apakah kamu tahu tentang wortel, tongkat, dan keledai? Kita naik di atas punggung keledai sambil mengikat wortel pada ujung tongkat lalu meletakkannya jauh di depan keledai. Ya ... biarkan keledai itu berlari untuk kita sambil mengejar wortel itu.”


Kata-kata Ark membuat Saito sedikit bingung. Hanya satu hal yang dia mengerti. Sword of Sufferings memanfaatkan kelompok lain di kota ini tanpa harus mengalami kerugian. Sedangkan tujuan Ark ke depannya ...


Saito sama sekali tidak bisa menebak apa yang ada dalam pikirkan sang ketua!


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2