Apocalypse Regression

Apocalypse Regression
Membuka Lembaran Baru


__ADS_3

Apabila Ark mengetahui apa yang sedang Darin pikirkan, dia pasti sudah menyangkalnya.


Ada tiga misi yang Ark berikan kepada Darin. Menyampaikan informasi kepada Julian, menyelesaikan hubungan sebab-akibat dengan Juana, dan bertahan menghadapi perubahan tahap dua. Sedangkan urusan hidup dan mati Silver Cross ...


Semuanya tergantung pada Julian!


Ark tidak pernah menyuruh Darin untuk mengurus masalah Silver Cross. Apa yang dia inginkan hanya memberi petunjuk agar Julian sadar. Tidak kurang, tidak lebih.


"Tempat biasa mereka berkumpul ada di ujung."


Perkataan Yonas langsung membuat Darin tersadar dari lamunannya.


Melihat ke ujung lorong, tangan kanannya tanpa sadar menggenggam tombak dengan erat. Pemuda itu kemudian menarik napas dalam-dalam sebelum menghembuskan napas perlahan.


Darin dan Yonas kemudian berjalan melewati lorong dan sampai di sebuah ruang santai umum yang luas.


Di sana, mereka langsung melihat enam belas orang. Lima laki-laki dan sebelas perempuan. Tampak tiga lelaki berpasangan dengan tiga gadis. Ada seorang lelaki yang duduk dengan dua gadis di kanan dan kirinya. Ada juga sosok Donzel yang duduk dengan dua gadis di kedua sisinya.


Terakhir, tampak Alvaro duduk santai dengan empat orang wanita di sekitarnya. Meski agak kurus dan kotor, setiap gadis yang ada di sana terbilang cukup cantik. Masing-masing dari mereka tampak lemah dan agak pucat. Mereka memakai pakaian tipis yang masih menonjolkan tubuh mereka.


Sementara para wanita diam dan bersandar dengan patuh, tampaknya sudah pasrah. Beberapa tampaknya puas dengan kehidupan mereka sekarang. Sedangkan kelima pria itu ... mereka saling bercanda dan tertawa.


Pandangan Darin berhenti ke salah satu gadis yang duduk di dekat Alvaro. Melihat sosok gadis kurus serta tampak pucat, tetapi berperilaku centil membuatnya menggelengkan kepalanya.


"Ternyata kamu telah jatuh sedalam ini ..."


Darin berkata dengan nada datar. Tampak tak acuh. Berbeda dari pemuda yang selalu menjilati Juana dan berusaha mengejarnya.


Ucapan Darin langsung membuat orang-orang di tempat itu menoleh ke arah mereka.


Saat itu, Alvaro dan Donzel yang sebelumnya sempat melihat Darin langsung mengerutkan kening mereka. Alvaro langsung mendengus dingin ketika melihat ke arah Yonas.


"Kenapa kamu membawa orang luar ke tempat ini, Yonas?!"


"Apa yang kamu katakan, Alvaro? Sword of Sufferings adalah teman Silver Cross, anggota mereka adalah teman kita juga.


Lagipula, kami datang bukan untuk berurusan atau membuat masalah denganmu. Kami ingin bertemu dengan Juana!"


Yonas berkata dengan ekspresi kesal di wajahnya. Dia, Alvaro, dan Donzel berasal dari tempat yang sama. Jadi, pria itu sangat mengenal kedua orang itu. Bahkan cukup membenci mereka.


"Saya???"


Juana yang berada dalam pelukan Alvaro tampak bingung. Dia kemudian memandang ke arah pemuda yang datang bersama Yonas. Setelah beberapa saat memperhatikan, ekspresinya langsung berubah.


"Bagaimana mungkin?!"


Juana berseru. Penampilan Darin jelas sangat berbeda daripada sebelumnya. Pemuda itu sekarang tampak keren. Bahkan tempramen Darin juga berubah.


Melihat reaksi Juana, Alvaro mengerutkan keningnya. Dia jelas merasa tidak senang dan marah.


"Siapa orang itu, Sayang? Jangan bilang ... mantan kekasihmu?"


Mendengar pertanyaan Alvaro yang dingin, Juana langsung menggelengkan kepalanya dengan putus asa. Memeluk lengan pria itu, dia berkata dengan manja.


"Darin adalah pemuda cupu yang terus mengejarku padahal sudah aku tolak berkali-kali. Tampaknya dia ke sini untuk menjemput aku atau semacamnya."


"HAHAHAHA!!!"


Mendengar ucapan Juana membuat Alvaro tertawa. Dia langsung meraih pinggang Juana lalu mencium gadis itu dengan ganas di depan Darin. Setelah selesai, pria itu menatap ke arah Darin dengan senyum penuh kemenangan.


"Apakah kamu puas, B-jingan menyedihkan? Berlarian ke sana-sini untuk mencari seorang gadis yang telah menjadi wanita orang lain.


Benar-benar menyedihkan! Saking menyedihkannya aku tidak bisa berhenti tertawa! Hahaha!"


"..."


Darin masih diam. Sementara itu, Yonas yang berdiri di dekat pemuda itu langsung marah. Dia menatap ke arah Darin dengan ekspresi emosional.


Saat itu, Juana membisikkan sesuatu kepada Alvaro. Pria yang mendengar bisikan Juana itu mengangguk sambil mendengarkan. Dia kemudian menatap ke arah Darin.


"Jadi temanmu yang bernama Stacy itu berada di kelompok yang sama dengan B-jingan menyedihkan ini?

__ADS_1


Tenang saja. Ketika melakukan patroli, kami akan mencari markas mereka lalu membawa temanmu kembali. Menyatukan kalian kembali bersama."


Alvaro berkata dengan senyum menjijikkan di wajahnya.


"T-Tapi ketua kelompok itu sangat jahat dan kuat." Juana berkata dengan nada centil.


"Tenang saja! Apa yang tidak bisa aku lakukan? Kelompok kecil seperti sampah itu ...


Aku akan membereskan dengan mudah."


"Wow! Sangat jantan!" ucap Juana dengan senyum di wajahnya.


"HAHAHAHA!!!"


Melihat mereka, ekspresi Darin menjadi semakin datar. Dia mengingat sosok Ark, lalu menggelengkan kepalanya. Pemuda itu juga ingat Stacy yang sekarang lebih kuat daripada dirinya.


"Benar-benar makhluk bodoh."


Darin berkata dengan nada datar, sama sekali tidak peduli dengan ejekan Alvaro.


"Apa kamu bilang?!"


Alvaro langsung naik pitam. Tidak terima dengan ejekan Darin.


"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Pria bodoh sepertimu ... bahkan tidak pantas untuk mengangkat sepatu Ketua.


Mungkin aku hanyalah pemuda cacat yang kehilangan satu lengan, anggota Sword of Sufferings yang disuruh untuk melakukan misi untuk menebus kebodohan dan dosaku. Namun ...


Pemuda cacat sepertiku sudah cukup untuk membunuh pria bodoh seperti dirimu."


Mungkin karena diam-diam terpengaruh oleh Ark, Darin berkata dengan nada datar seolah menirukan ketuanya. Pemuda itu tahu dirinya tidak kuat. Namun, dia memang cukup percaya diri untuk mengalahkan beberapa pemula itu.


Ucapan Darin langsung membuat otot di dahi Alvaro menonjol. Dia langsung bangkit dan mengambil pedangnya. Berjalan menuju ke arah Darin dengan ekspresi suram.


"Apa yang coba kamu lakukan, Alvaro?!"


Yonas hendak maju untuk menghentikan Alvaro, tetapi dihentikan oleh Darin. Pemuda itu dengan santai berkata.


"Tidak apa-apa."


"Apa yang kamu inginkan?" tanya Darin santai.


"MEMBUNUHMU!!!"


Alvaro berteriak dengan ekspresi marah di wajahnya. Dia langsung mengangkat pedang lalu menebas Darin dengan ganas.


Darin melompat mundur sambil mengelak dengan ekspresi tak acuh. Di kemudian mengayunkan tombak di tangan kanannya.


Klang!


Bilah pedang dan kepala tombak berbenturan. Melihat ke arah Alvaro yang menangkis serangannya, Darin tersenyum.


Senyuman Darin jelas membuat Alvaro menjadi semakin marah. Dia terus menerus mencoba menebas Darin, tetapi dihindari dengan mudah.


Darin menatap ke arah Alvaro dengan sedikit persetujuan.


"Jika itu Ketua, apa yang akan dia katakan? Oh, iya ..." Darin menatap tepat ke mata Alvaro. "Lumayan."


"KAMU!!!"


Swoosh!


Sosok Darin menghindar ke samping. Dia kemudian menusuk kaki Alvaro.


Ketika pria itu terkejut dan berteriak, Darin memutar tubuhnya lalu membanting tombaknya ke tangan Alvaro.


CRACK!!!


"AAARRRGH!!!"


Teriakan dan suara pedang jatuh terdengar. Namun sebelum Alvaro ingin mundur, Darin langsung menendangnya sampai jatuh berbaring di lantai. Dia kemudian menunjuk leher pria itu dengan ujung tombaknya.

__ADS_1


"Menyedihkan ..."


Setelah mengatakan itu, Darin menggelengkan kepalanya.


"Kamu mencoba menentang Sword of Sufferings, jadi kamu adalah musuh. Ketua bilang, kami harus mencabut rumput sampai akarnya."


"TIDAK!!!" teriak Alvaro ketakutan. Dia langsung menatap ke arah bawahannya dan berkata. "Apa yang kalian tunggu?! Bantu aku!"


Ucapan Alvaro membuat keempat pria itu agak ragu. Donzel hendak bangkit, tetapi Yonas menarik keluar pedangnya dan berkata.


"Sebagai mantan teman dan tetangga, aku akan memberimu peringatan. Jangan ikut campur pada duel ini ... Donzel."


Melihat ekspresi serius Yonas, Donzel mengangkat kedua tangannya dan berkata dengan santai.


"Aku tidak akan ikut campur. Tenanglah, Yonas!"


"Donzel! Kalian ..."


Melihat bawahannya yang begitu mudah berkhianat, Alvaro tampak kesal. Dia marah dan putus asa.


"Hanya saja, karena kamu anggota Silver Cross, tidak mungkin aku membunuhmu."


Ucapan Darin membuat Alvaro lega. Dia langsung memikirkan cara untuk mengurus anak buahnya yang tidak patuh dan membalas dendam. Namun, sebelum dia memikirkan banyak hal, rasa sakit langsung merambat ke seluruh tubuhnya. Melihat ke bawah, Alvaro melihat Darin menusuk lututnya ... menusuk kedua lututnya dengan kejam.


"ARRGGHHH!!!"


Mengabaikan teriakan Alvaro, Darin berkata.


"Hanya saja, aku tidak ingin membawa masalah di masa depan. Jadi, maafkan aku karena tindakan pencegahan ini."


Setelah mengatakan itu, Darin langsung mengayunkan tombaknya. Memotong kedua kaki Alvaro dengan kejam.


"AAARRRGH!!!"


Teriakan putus asa terdengar ketika darah mulai mengalir membasahi lantai. Tulang tangan kanan retak dan kehilangan dua kaki. Jelas, masa depan Alvaro sudah hancur.


Sebenarnya, Darin hanya ingin menikam kedua lutut. Hanya saja, ada kemungkinan kedua kaki Alvaro bisa disembuhkan, jadi dia memilih untuk langsung memutuskan kedua kakinya. Karena dengan teknologi yang jatuh ke belakang seperti saat ini, tidak mungkin menyambungkan kedua kaki itu kembali.


Mengabaikan Alvaro yang berteriak dan menangis sambil berguling-guling di lantai dengan putus asa, Darin berjalan ke arah Juana yang terkejut.


Gadis itu sadar dan merasa agak takut. Namun setelah memikirkannya kembali, dia merasa percaya diri karena mengetahui betapa Darin mencintai dirinya.


Juana mencoba bangkit dan meraih Darin yang mendekat sembari berkata dengan nada manja.


"Darin, aku—"


PLAK!!!


Suara tamparan keras terdengar. Saat itu juga, suara tak acuh terdengar.


"Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu."


Ucapan Darin langsung membuat semua orang di tempat itu terkejut. Mengabaikan orang-orang yang terkejut, pemuda itu menarik napas dalam-dalam. Dia menatap tepat ke mata Juana dan berkata secara langsung.


"Kamu adalah gadis licik dan kejam. Kamu adalah gadis yang suka memanfaatkan orang lain dan selalu merasa superior. Namun, tidak bisa disangkal bahwa aku menyukaimu, bahkan mencintaimu.


Saking cintanya, aku tidak peduli sekotor apa dirimu. Aku ingin membawamu dan merubah dirimu. Sungguh ... Aku hanya ingin hidup bersama dirimu dalam suka dan duka."


Ekspresi tak acuh Darin digantikan dengan senyum lembut. Dia menatap ke arah gadis itu dalam-dalam.


"Hanya saja, kamu telah mengecewakanku, berkali-kali mengecewakan diriku.


Aku merasa hidupku tidak begitu berarti. Aku ingin bersamamu, tetapi hal tersebut hanya akan menyakiti diriku lagi. Hingga suatu hari, aku tahu bahwa jalanku tidak berhenti di sini.


Bahkan tanpa dirimu, aku tidak boleh berhenti. Jadi ... Aku akhirnya memutuskan bahwa Darin yang dulu telah mati hari ini."


Mengatakan itu, Darin mendekati Juana lalu menyentuh dan mengelus kepalanya sesaat. Kemudian, dia menarik kembali tangannya.


Mengabaikan Juana yang terdiam di sana, Darin berkata.


"Selamat tinggal, Cinta sekaligus masa laluku. Aku pergi ...

__ADS_1


Untuk membuka lembaran baru dalam hidupku."


>> Bersambung.


__ADS_2