Apocalypse Regression

Apocalypse Regression
Jangan Menahan Diri


__ADS_3

Pagi di hari berikutnya.


"Kita hampir tiba di lokasi."


Melihat gerbang perumahan elit yang tampak megah, tetapi agak bobrok membuat Darin tidak bisa tidak mengangkat sudut bibirnya.


"Jadi kalian tinggal di perumahan elit?"


Yonas bertanya dengan ekspresi terkejut di wajahnya. Tidak menyangka kalau mereka akan tinggal di tempat semacam itu.


"Menurut Ketua, tempat ini jelas lebih aman daripada lokasi lain di kota."


"Itu memang benar."


Yonas mengangguk. Hanya saja, karena biasanya tempat ini hanya dihuni oleh para tokoh masyarakat yang terkenal kaya, memiliki kedudukan tinggi, dan semacamnya membuat banyak orang tidak memikirkan lokasi ini untuk ditinggali.


"Apakah orang-orang di tempat ini aman dari serangan zombie dan binatang buas, Darin?"


"Tidak." Darin menggelengkan kepalanya. "Tempat ini belum lama dibuka, jadi orang yang tinggal di sini tidak banyak. Selain itu, kebanyakan dari mereka segera melarikan diri ketika perubahan terjadi. Sementara sisanya, mereka menjadi zombie atau mati dimakan binatang buas."


"Jadi maksudmu ... perumahan ini kosong?"


"Bisa dibilang begitu, tetapi juga bisa dibilang tidak."


"..."


Melihat ke arah Yonas, Shani, dan Vadim yang bingung, Darin menjelaskan.


"Meski belum sepenuhnya dibersihkan, tetapi kalian bisa menganggap kalau tempat ini sekarang memiliki pemilik."


Mendengar itu, ekspresi terkejut muncul di wajah Yonas. Memiliki keheranan di wajahnya, pria itu berkata.


"Tuan Ark dan Sword of Sufferings."


"Kamu benar." Darin tersenyum. "Meski hanya memilih satu rumah sebagai markas dan beberapa rumah di sekitarnya untuk diproses, aku yakin Ketua tidak hanya memiliki tujuan kecil semacam itu."


Melihat ke arah ketiga orang yang tampak serius, Darin mengangkat bahu dengan ekspresi santai.


"Ikuti aku."


Setelah mengatakan itu, Darin berjalan melewati gerbang luar lalu masuk ke area perumahan.


Mereka semua langsung disambut dengan penampilan indah, tetapi juga mengerikan. Tampak banyak bangunan indah dengan jarak cukup jauh satu sama lain. Cat rumah tampak kusam, banyak rumput liar dan pohon yang tidak terawat.


Yonas, Shani, dan Vadim mengikuti sosok Darin. Setelah berjalan cukup lama, mereka sampai di sebuah jalan lurus. Hanya saja, ekspresi mereka langsung berubah ketika melihat banyak bekas darah dan tebasan dalam yang tersisa di jalanan.

__ADS_1


"Tampaknya zombie dan binatang buas juga masih bisa masuk ke tempat ini. Sedangkan bekas dalam ini ... mungkinkah cakar binatang buas yang tidak kita ketahui?"


Yonas memeriksa jalan. Pria itu tampak heran sekaligus penasaran.


"Itu bukan bekas cakar binatang buas."


Darin berkata dengan nada tenang, tetapi ekspresinya tampak serius sekaligus cukup bangga.


"Maksudmu?"


"Walau aku tidak melihatnya secara langsung, aku tahu kalau Ketua yang melakukan semua ini."


Mendengar jawaban Darin, Yonas membelalakkan matanya. Dia menatap ke arah pria itu dengan ekspresi tidak percaya.


"Hal semacam ini tidak mungkin dilakukan oleh manusia biasa, kan?


Jika setiap garis dalam ini tebasan, bukankah itu berarti hal tersebut dilakukan hanya dalam sebuah pertempuran? Maksudku, jika hanya satu, itu cukup masuk akal. Namun, di jalan ini jelas memiliki banyak tanda. Mungkin puluhan!"


"Itu karena Ketua dan anggota Sword of Sufferings lain bukanlah manusia biasa. Khususnya Ketua, dia benar-benar berbeda."


"Maksudmu?"


"Aku tidak akan menjelaskan lebih banyak. Setelah kalian disetujui dan bergabung dengan kelompok, kalian akan mengetahuinya sendiri."


Darin berbicara dengan nada misterius. Dia kemudian kembali berjalan menuju ke lokasi markas dengan cukup bersemangat.


Kata "benteng" langsung muncul di kepala Yonas dan tiga orang lainnya.


Darin kemudian mengetuk pintu gerbang dengan ritme tertentu. Dia memukulnya cukup keras sehingga orang di dalam akan mendengarnya.


Pintu terbuka lalu sosok pria tampan dengan rambut pirang dan tubuh kekar muncul. Dalam sekali lihat, dia jelas bukan orang biasa. Tekanan yang terpancar dari tubuhnya jelas bisa menjelaskan semuanya.


Pada saat Yonas, Shani, dan Vadim berpikir kalau itu adalah sosok "Tuan Ark" yang selalu dikatakan kepada mereka, Darin tiba-tiba berkata.


"Aku kembali, Kak Jay."


"Oh! Kamu benar-benar bisa kembali hidup-hidup, Darin!"


Jay tersenyum ramah. Namun ekspresinya agak berubah ketika melihat tiga orang yang datang bersama dengan Darin.


"Mereka?" tanya Jay singkat.


"Mereka adalah rekan yang saya temui dalam perjalanan ini, Kak Jay. Mereka bukan orang jahat. Kami telah melewati banyak hal bersama, jadi, ketika mereka berkata ingin bergabung dengan Sword of Sufferings, saya membawa mereka untuk datang.


Tentu saja, semua keputusan masih tergantung kepada Ketua."

__ADS_1


Mendengar ucapan Darin membuat Jay sakit kepala. Menurutnya, Darin kembali di saat yang tidak tepat. Lagipula, situasi antara anggota Sword of Sufferings sedang agak canggung sekarang. Meski tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, pria itu berpikir semuanya pasti ada hubungannya dengan Ark.


"Huh ..." Jay menghela napas. "Kamu kembali di saat yang kurang tepat. Aku akan memanggil Ark ke sini. Namun, jangan coba-coba mempertanyakan keputusannya."


"Kami mengerti."


Darin menjawab santai. Dia kemudian mengajak ketiga orang lainnya untuk menunggu di bawah pohon seberang jalan. Lagipula, bagi non-anggota, mereka dilarang untuk masuk ke dalam markas. Cukup ketat dibandingkan dengan aturan di Silver Cross.


Setelah menunggu beberapa saat, pintu gerbang kembali terbuka. Jay datang bersama dengan sosok pemuda di belakangnya. Dia tampak sangat tenang dan tak acuh, tetapi memancarkan sebuah kharisma sekaligus pesona dingin.


"Saya telah selesai menjalankan tugas, Ketua!"


Darin bangkit dan memberi hormat kepada Ark dengan ekspresi tulus.


Tatapan Ark menyapu sosok Darin lalu ke arah tiga orang yang berdiri di belakangnya.


"Jika kamu memaksakan diri untuk menggunakan tangan kirimu, mungkin tanganmu tidak akan pernah bisa sembuh lagi, Darin.


Terlepas itu, aku senang kamu bisa kembali."


Ark menatap tiga teman Darin lalu kembali berbicara.


"Jadi, siapa dan mengapa kamu membawa mereka datang ke markas kita, Darin? Seharusnya, kamu tahu kalau lokasi markas kita harus disembunyikan dari pihak luar."


Ucapan datar Ark membuat Darin merasa gugup. Namun ketika mengingat apa yang telah mereka lewati bersama, pemuda itu menarik napas dalam-dalam lalu mulai menjelaskan.


"Jadi begini, Ketua ..."


Ark mendengar penjelasan Darin. Mendengar keseluruhan cerita dari awal sampai akhir. Dia cukup terkejut ketika melihat tiga orang itu berhasil membunuh zombie spesial. Ya ... walau dari deskripsi baru berubah dan tidak begitu kuat.


Selain memiliki faktor keberuntungan cukup bagus, tampaknya mereka juga cukup berani dan memiliki rasa keadilan tinggi. Masih mau saling menolong padahal kemungkinan mati cukup tinggi.


"Maafkan kami, Tuan Ark. Saya, adik saya, dan Vadim merasa berhutang budi kepada Darin. Kami ingin mengikutinya. Jadi, tolong jangan salahkan dia."


Melihat ke arah Yonas yang berkata dengan ekspresi tulus dan penuh tekad, Ark masih berbicara dengan datar.


"Karena kalian sudah datang jauh-jauh sampai di sini, mari coba kekuatan kalian terlebih dahulu. Sedangkan urusan lain, kita akan membicarakannya nanti.


Jadi, keluarkan senjata kalian dan bersiap untuk bertarung."


Setelah mengatakan itu, Ark mengalihkan pandangannya kepada Jay.


"Uji kemampuan mereka, Jay."


Jay menarik pedang dari pinggangnya lalu membuat gerakan melemaskan otot-otot lehernya. Menatap ke arah Darin dan tiga orang di belakangnya, pria itu menyeringai.

__ADS_1


"Jika tidak ingin dipukuli, jangan menahan diri."


>> Bersambung.


__ADS_2