
Sekitar tiga jam kemudian.
Dalam ruangan berdebu dan kotor, Ark menatap sosok menawan Stacy. Gadis itu benar-benar berhasil melewati cobaan. Akhirnya, saat ini sudah ada tiga orang yang benar-benar menyelesaikan evolusi pertama. Bukan hanya perubahan tubuh, tetapi juga penyerapan Miracle Root.
'Dengan begini, tampaknya yang bisa kulakukan hanyalah terus maju.'
Sadar dari lamunannya, Ark kembali menatap Stacy lalu berkata.
"Selamat atasnya keberhasilanmu, Stacy."
"Terima kasih, Tuan."
Stacy tersenyum lembut. Tampaknya sangat bahagia. Gadis itu menatap ke arah Ark dengan tatapan membara.
"Ada apa, Stacy?"
Setelah bertanya, Ark tiba-tiba melihat pakaian Stacy yang basah oleh keringat. Dia melepaskan mantel lalu melemparkannya ke gadis tersebut.
"Pakai saja."
Stacy menangkap mantel Ark dengan ekspresi linglung. Dia menatap ke arah Ark lalu ke arah mantel musim gugur yang ada di tangannya. Meski agak kotor karena bercak darah, tetapi gadis itu tidak peduli. Dia malah mengendusnya lalu bergumam.
"Aroma Tuan ..."
Mendengar itu, Ark terdiam. Pura-pura tidak mendengarnya, dia bangkit lalu keluar dari ruangan sembari berkata.
"Setelah selesai beristirahat, segera keluar. Kita akan pergi ke taman kota."
Keluar dari kamar, Ark turun ke lantai bawah. Di sana, anggota tim lainnya sedang beristirahat sambil menunggu.
Melihat Ark yang baru saja tiba, mereka terkejut ketika melihat pemuda tersebut kehilangan mantelnya. Untuk berbagai alasan, biasanya Ark memakai kemeja, mantel musim gugur, celana panjang, sepatu, dan sarung tangan. Dia pasti memakai pakaian lengkap ketika melakukan perjalanan.
Ya. Setidaknya setelah membentuk Sword of Sufferings.
"Jangan menatapku dengan cara seperti itu. Khususnya kamu, Jay. Kamu sendiri pasti tahu bagaimana penampilan kita setelah menyerap Miracle Root."
Mengingat hal tersebut, Jay mengangguk. Dibandingkan Stacy yang hanya basah oleh keringat. Penampilan mereka yang dipenuhi oleh luka, pakaian compang-camping, dan sebagainya benar-benar tidak bisa dibandingkan.
"Apakah kita akan melanjutkannya, Ketua?" tanya Darin.
"Tentu saja." Ark mengangguk.
"Kapan kita berangkat?" tanya Jay.
__ADS_1
"Tunggu beberapa saat sampai Stacy menyesuaikan diri dengan tubuhnya. Setelah itu, kita bisa berangkat."
Ark menjawab santai. Mengingat sesuatu, dia kemudian melanjutkan.
"Hanya saja, kita akan masuk lewat jalan memutar."
"Bukankah itu memakan lebih banyak waktu, Ark?" tanya Jay.
"Memang. Namun itu lebih aman daripada langsung menerobos dari depan. Lagipula, banyak tubuh zombie di sana.
Aroma darah mungkin akan menarik beberapa pemangsa dari dalam taman kota. Selain itu, kita bisa menggunakan zombie tersebut untuk mengalihkan perhatian. Menghindari pertarungan yang tidak perlu dilakukan."
"Dimengerti!" jawab mereka serempak.
Setelah beberapa saat, Stacy turun memakai mantel musim gugur milik Ark. Anggota lain tidak begitu memedulikannya. Mereka langsung bersiap.
Segera berangkat menuju ke lokasi berikutnya!
***
Sekitar lima belas menit kemudian.
"Rasanya benar-benar seperti memasuki hutan yang belum dijamah manusia. Ya, walau sebelumnya aku belum pernah melakukannya."
Tanah di bawah benar-benar gembur dan dipenuhi dengan daun-daun kering. Bahkan ada beberapa cabang kayu busuk. Hal tersebut tentu membuat mereka merasa tidak nyaman. Bukan hanya mereka nyaris tidak bisa melihat dengan baik. Mereka juga kesulitan bergerak.
Merasa sedang menjadi serangga kecil yang merangkak di kebun seseorang.
"Apakah kalian melihat sesuatu yang tampak berguna?" tanya Jay.
"Gali tanaman merah itu, tanaman dengan bentuk daun aneh itu, juga ..."
Ark mulai menunjuk beberapa tanaman kecil. Yonas dan Vadim mengeluarkan beberapa plastik polibag dan sekop kecil dari tas mereka. Dengan bantuan Jay, Darin, dan Stacy mereka menggali cukup banyak tanaman. Memasukkannya ke polibag kecil.
"Bawa keluar dari area taman kota dulu, nanti kita masuk lebih dalam. Tidak baik untuk menimbun semuanya di tempat ini, kan?"
Mendengar ucapan Jay, Ark mengangguk. Memang, mereka mendapatkan cukup banyak tanaman berharga. Mereka juga tidak bisa membawa semuanya. Namun Ark masih cukup serakah, tidak ingin meninggalkan tanaman ini sendirian. Jadi dia mengumpulkannya di luar area taman kota.
'Kumpulkan dulu di tempat itu, lalu pilih yang paling berharga untuk dibawa kembali. Tinggalkan sebagian di pinggir taman, tanam lagi dan tandai.
Tanaman-tanaman itu bisa diambil lain kali.'
Ark merasa sangat puas. Saat ini, tanaman, khususnya yang berbentuk aneh dan tidak memiliki buah benar-benar diabaikan. Memang, sebagian dari mereka beracun, tetapi sebagian dari mereka sangat berguna.
__ADS_1
Di kehidupan sebelumnya, Ark sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk mencari apalagi menimbun tanaman-tanaman berharga karena setelah penelitian berkembang, tanaman-tanaman itu langsung dibersihkan oleh kelompok besar di bawah organisasi pemerintahan.
Didominasi oleh orang-orang di atas yang berpikir bahwa mereka masih seorang pejabat dan pemimpin. Melakukan apapun yang mereka mau hanya karena sebuah judul yang menempel di kepala mereka.
'Kumpulkan makanan, kumpulkan obat-obatan, bangun benteng pertahanan, terus perkuat diri agar tidak tertinggal dengan evolusi zombie atau binatang buas, buat lagi peradaban.'
Banyak pikiran muncul dalam benak Ark. Dia dan rekan-rekannya mengumpulkan cukup banyak tanaman dan menempatkannya di lokasi tersembunyi di pinggiran taman kota. Mereka kemudian kembali masuk ke area lebih dalam.
"Lihat itu! Apakah itu buah delima? Benar-benar tampak besar!"
Darin menunjuk pohon yang mirip pohon delima bermutasi. Di sana, tampak beberapa buah delima dengan bentuk aneh. Buah tersebut seukuran bola sepak takraw, berwarna hitam dengan beberapa garis merah.
'Akhirnya bahan terakhir ketemu!'
Ark merasa bersemangat, tetapi saat itu juga, ekspresinya berangsur-angsur menjadi buruk.
Pada awalnya, pemuda itu tidak terlalu memperhatikan karena biasanya tidak akan ada binatang yang peduli dengan beberapa tanaman kecil yang tidak berguna bagi mereka. Namun, biasanya akan ada binatang penjaga di pohon buah tertentu.
Menggabungkan dimana mereka tidak pernah bertemu binatang apapun sebelumnya, Ark merasa sangat yakin. Dia kemudian berteriak keras.
"TARIK SENJATA KALIAN DAN BERSIAP UNTUK BERTEMPUR!"
Teriakan Ark langsung mengejutkan rekan-rekannya. Mereka awalnya bingung, tetapi langsung mematuhi perintah. Mereka semua langsung memandang sekeliling dengan ekspresi serius dan gugup.
Setelah beberapa waktu, mereka sama sekali tidak melihat musuh. Ark sama sekali tidak lengah dia mengamati sekeliling dengan waspada. Ketika pemuda itu menyadari sesuatu, Jay yang merasakan ancaman kematian langsung berteriak.
"DARI ATAS!"
Bayangan hitam melesat. Ketika banyak orang tidak sempat menanggapi, Ark melesat. Pedang di tangannya langsung berayun kuat.
KLANG!
Suara benturan logam terdengar. Hal tersebut membuat orang-orang terkejut. Saat itu juga, sosok hitam mendarat lembut di tanah beberapa meter dari mereka.
Tubuh ramping dengan empat kaki menginjak tanah. Bagian depan tubuh tegap. Seluruh tubuhnya berwarna cokelat dengan corak aneh, seperti daun dan kayu yang kayu atau busuk.
Kepala segitiga dengan dua mata besar berputar dengan cara aneh, menatap ke arah Ark dan rekan-rekannya.
Ditambah dua sabit di bagian depan tubuhnya yang tampak seperti sabit berkarat yang siap menuai nyawa mangsanya, kata teror cukup untuk menggambarkannya.
Melihat makhluk itu, tangan Ark mengepal erat. Ekspresinya menjadi lebih serius. Matanya berkilat dingin.
'Dari sekian banyak makhluk, kenapa harus kamu ... Rotten Ghost Mantis!'
__ADS_1
>> Bersambung.