
Dalam sebuah rumah mewah, Silvia duduk dengan tenang sambil memejamkan matanya.
Tok! Tok! Tok!
Mendengar ketukan di pintu, wanita itu membuka matanya. Dia kemudian berkata dengan nada datar.
“Masuk.”
Pintu terbuka, lalu sosok Irene memasuki ruangan. Dia kemudian berjalan ke arah Silvia lalu berkata dengan lembut.
“Misi telah diselesaikan.”
“Bagus.” Silvia mengangguk ringan.
“Apakah saya boleh menanyakan sesuatu, Nona Silvia?”
“Katakan saja.”
“Kenapa anda melepaskan orang yang mungkin akan membuat masalah bagi anda di masa depan, Nona. Bahkan jika anda mengenal kakak Evans, bukan berarti anda akan melepaskan pemuda itu begitu saja. Bahkan menghadapi beberapa kerabat kenalan, anda tidak begitu berbelas kasih sebelumnya.”
“…”
Melihat ke arah Silvia yang diam saja, ekspresi penasaran muncul di wajah Irene. Memikirkan sesuatu, dia langsung terkejut. Wanita itu kemudian bertanya dengan ekspresi tidak percaya.
“Mungkinkah … orang itu adalah-“
“Cukup, Irene. Kamu tidak perlu memikirkan sesuatu yang tidak perlu. Dia hanyalah bagian dari masa lalu. Tidak kurang, tidak lebih.”
Irene melihat perubahan ekstrem di wajah Silvia. Rasa dingin, sakit, benci, dan berbagai emosi tercampur dalam ekspresi wanita itu. Saat itu, dia mengerti kalau dugaannya mungkin benar. Alih-alih mengatakan sesuatu untuk menghibur, wanita itu hanya bisa menghela napas panjang. Lagipula, dia mengerti bagaimana perjuangan Silvia sampai sejauh ini.
“Kalau begitu saya akan undur diri, Nona Silvia.”
“…”
Silvia tidak menjawab. Namun setelah Irene pergi, wanita itu menghela napas panjang. Dia menopang dagu, menatap ke luar jendela. Melihat langit biru tanpa setitik awan, Silvia bergumam.
“Kamu … masih mengingatku, kan?”
Meski ekspresi dingin masih terpatri di wajah Silvia, tetapi jejak kesedihan tampak dalam matanya.
***
Sementara itu, di markas Golden Crown.
Sosok pria paruh baya yang merupakan ketua dari kelompok Golden Crown mondar-mandir dalam kantornya. Dia jelas sangat cemas. Setelah mendapatkan informasi tentang Sword of Sufferings, pria paruh baya itu jelas mengetahui kekejaman pihak lawan. Pada awalnya, dia masih sangat percaya diri dengan kekuatan Crux of Shadow. Namun, saat ini pemikirannya menjadi berantakan.
‘Para monster itu …’
__ADS_1
Pria paruh baya tersebut menggertakkan gigi. Dia jelas sangat marah, tetapi juga merasa tidak berdaya. Pria tersebut merasa kalau kelompoknya hanyalah binatang kecil yang terjebak di antara pertempuran raksasa. Gesekan antara keduanya benar-benar bisa membuat kelompoknya sirna.
‘Bukankah mereka bilang kalau mereka adalah pengikut Dewi Kegelapan yang bertugas untuk melindungi manusia dari para iblis yang memberontak dan mengacaukan dunia? Omong besar! Mereka bahkan kewalahan menghadapi sekelompok penjahat kejam!’
Mengingat kengerian Draco, pria paruh baya itu menggertakkan gigi. Dia merasa marah, tetapi juga takut. Pria tersebut jelas sudah tidak lagi menganggap orang-orang dari Crux of Shadow dan Sword of Sufferings sebagai manusia, melainkan monster di balik kulit manusia.
Tok! Tok! Tok!
“Masuk!”
Pintu kantor terbuka, lalu sosok pemuda masuk ke dalam ruangan. Dia kemudian memberi hormat sebelum berkata.
“Saya datang untuk melapor, Ketua!”
“Katakan, ada apa! Apakah ada perkembangan?”
“Mohon maaf, Ketua. Saat ini area di sekitar markas lawan dijaga ketat. Kami sama sekali tidak bisa menyusup. Beberapa orang berusaha masuk, tetapi sama sekali tidak pernah kembali.”
Mendengar itu, mata pria paruh baya itu langsung terbelalak. Dia menatap ke arah bawahannya dengan ekspresi tidak percaya.
“BODOH! DASAR BODOH! KENAPA KALIAN MALAH MASUK?!”
Pria paruh baya itu langsung mondar-mandir di kantor sambil menggaruk kepalanya dengan ekspresi tertekan. Dia jelas mengutus beberapa scout handal untuk mencari informasi tentang Sword of Sufferings. Bukan hanya tidak ada hasil, tetapi mereka semua malah menghilang. Pria paruh baya itu menebak kalau Sword of Sufferings telah menangkap mereka, yang berarti …
Informasi tentang Golden Crown yang mencoba menyelidiki mereka telah bocor!
Pria paruh baya itu menatap ke arah prajurit tersebut dengan niat membunuh yang begitu jelas di matanya. Saat ini dia jelas sangat marah dan jengkel.
“Lapor, Ketua! Ada dua berita lain yang belum saya sampaikan.”
“KATAKAN!”
“Pertama, meski gagal mengetahui apa yang terjadi di dalam, tetapi para petugas telah mendapatkan informasi nyata tentang apa yang dilakukan Sword of Sufferings di luar area markas.”
Mendengar itu, ekspresi pria paruh baya tersebut berubah total. Dia tampak sedikit terobsesi, jadi buru-buru memberi perintah.
“Lalu apa yang kamu tunggu? Laporkan semuanya segera!”
“Lapor, Ketua. Alasan kelompok Sword of Sufferings keluar dari area markas adalah untuk mencari berbagai tanaman bermutasi yang aneh. Mereka tampaknya mengumpulkan tanaman untuk keperluan penelitian. Selain itu, mereka juga mengambil cukup banyak anakan pohon roti.”
“Apakah mereka gila? Tanaman bermutasi? Jelas 90% dari tanaman itu berbahaya untuk dikonsumsi, kenapa melakukan hal konyol seperti itu? Mungkinkan ada beberapa ilmuwan gila dalam kelompok mereka?
Selain itu, mereka juga mengambil anakan pohon roti. Hal semacam itu jelas tidak berguna. Dibandingkan dengan beberapa herbal yang lebih mudah hidup dan tumbuh, tanaman roti itu jelas sulit dipindahkan. Kita sendiri telah mencobanya berkali-kali tetapi pohon itu akan mati paling lambat selama tujuh hari. Kita bahkan telah mengorbankan banyak orang.”
“Mohon maaf, Ketua. Namun … tampaknya mereka berhasil memindahkan anakan pohon roti dan membiarkanya tetap hidup.”
“APA?!”
__ADS_1
Pria paruh baya itu menatap ke arah prajurit yang melapor. Melihat ekspresi serius dan agak takut di wajah pemuda itu, dia menjadi lebih pucat. Menarik napas dalam-dalam, pria paruh baya tersebut kemudian bertanya.
“Lalu apa yang ingin kamu laporkan selanjutnya?”
“Lapor, Ketua. Beberapa orang dari kelompok Emerald Goshawk, termasuk dengan ketua mereka datang untuk menemui anda.”
Mendengar laporan tersebut, mata pria paruh baya tersebut dipenuhi dengan kejutan. Menyempitkan matanya, dia berpikir.
‘Apa yang sebenarnya diinginkan orang-orang itu sampai repot-repot datang ke markas lawan yang berbahaya seperti ini?’
***
Malam harinya.
Setelah berbicara panjang lebar dengan kelompok Golden Crown, Mattias dan anggota kelompoknya memutuskan untuk kembali. Meski mereka bisa saja menginap, tetapi mereka merasa kalau berada di markas Golden Crown dimana juga ada Crux of Shadow di sana jelas lebih berbahaya daripada kejaran para zombie.
Pada saat mereka semua berjalan jauh dari markas Golden Crown, Caroline bertanya.
“Apakah menurutmu itu keputusan yang tepat, Kak? Maksudku, bukankah kita harus menjauhi pertempuran antara kelompok yang berbahaya bagi kita?”
“Kita tidak bisa membiarkan orang-orang tidak bersalah mati sia-sia. Setidaknya kita telah mencoba membantu mereka. Percaya atau tidak, sisanya terserah pada mereka.”
Setelah mengatakan itu, Mattias menggelengkan kepalanya. Saat itu, mereka semua dikejutkan dengan suara kicauan burung.
Pada saat melihat ke angkasa, mereka melihat dua burung besar berwarna putih berputar-putar tepat di atas mereka. Hal tersebut membuat mereka semua waspada. Mengikuti pengaturan Mattias, mereka memutuskan untuk segera bersembunyi. Namun saat tidak melihat kedua burung itu menyerang, Mattias dan rekan-rekannya tampak bingung.
Sebelum mereka sempat keluar dari gedung, orang-orang itu tiba-tiba mendengarkan suara bel.
Ring! Ring! Ring!
Suaranya terdengar lembut, mendekat perlahan tapi pasti.
Setelah beberapa waktu, semua orang langsung bersandar pada dinding untuk menyembunyikan diri. Tubuh mereka gemetar. Keringat dingin membasahi punggung mereka. Mattias langsung menutup mulut Caroline, meminta semua orang untuk menahan napas.
Di luar gedung tampak sosok serigala putih raksasa dengan bulu seputih salju berjalan dengan tenang. Makhluk itu memancarkan tekanan kuat, membuat semua orang dari Emerald Goshawk tidak berani bergerak sedikitpun.
Selama orang lain menyembunyikan diri, Mattias mencoba mengintip dari jendela. Saat itu juga, ekspresinya berubah.
Selain bel pada kalung, ada juga pelana di tubuh serigala raksasa itu. Di atasnya, tampak sosok pria berjubah putih dan bertopeng yang duduk layaknya seorang raja di singgasananya. Sosok itu menoleh ke arahnya, membuat Mattias melihat dua mata seperti rubi yang melihat menembus jauh ke dalam jiwanya.
Pada saat Mattias ketakutan, sosok berjubah putih itu menepuk lembut punggung serigala tersebut. Perlahan tapi pasti, mereka pergi menjauh. Setelah benar-benar menghilang di kejauhan, Mattias dan rekan-rekannya langsung menghirup udara dengan rakus. Tubuh mereka benar-benar lemah dan wajah mereka juga sangat pucat.
Mengingat sepasang mata yang jelas-jelas melihatnya sebelumnya, Mattias tidak bisa tidak mempertanyakan sesuatu dalam hatinya.
‘Apakah itu … benar-benar manusia?’
>> Bersambung.
__ADS_1