
Tanpa terasa, satu minggu berlalu begitu saja.
Dua hari setelah pertemuan, ternyata Silver Cross langsung setuju dengan apa yang diusulkan oleh Ark. Di hari ke tiga, mereka semua datang menuju ke markas Sword of Sufferings untuk melakukan perdangan besar-besaran. Mereka menjual cukup banyak tanaman bermutasi untuk ditukar dengan perlengkapan.
Karena hubungan aliansi, Ark akhirnya setuju untuk membiarkan mereka membeli beberapa senjata dan perlengkapan level 1 yang sudah dianggap lebih baik daripada pedang atau senjata-senjata mereka yang apa adanya. Selain itu, Ark bahkan mengirimkan lima husky dan kereta agar membawa barang dan mengantar mereka kembali ke markas dengan cepat agar tidak membuang banyak waktu.
Dengan cara itu, anggota pasukan dari Silver Cross dan Black Panther bisa berlatih dengan perlengkapan baru mereka. Membiasakan diri sebelum pertempuran yang sebenarnya terjadi.
Hari ini, di markas Silver Cross dan tempat perlindungan para pengungsi.
Di tempat ini, banyak perubahan jelas yang terjadi. Mereka membuat berlapis-lapis dinding untuk menghadang dan menunda para zombie. Meski dinding pertahanan tidak tebal, itu masih cukup untuk mengecoh para zombie. Jika itu gelombang binatang buas, maka hasilnya jelas dinding akan diratakan karena para binatang bermutasi yang liar bisa dengan mudah menabrak dan menghancurkannya. Namun, musuh mereka sekarang adalah zombie.
Melawan makhluk itu, persiapan seperti ini ... sudah cukup baik!
Selain dinding berlapis-lapis, mereka juga membuat tempat bagi para pemanah. Lokasi cukup tinggi di bagian belakang. Jumlah para pemanah akan menjadi banyak karena mereka akan mengelilingi markas dan bertugas untuk membidik para zombie agak tidak bisa mendekat. Lagipula, mereka mendapatkan banyak busur dan anak panah dari Sword of Sufferings.
Ada juga beberapa galian parit yang tidak terlalu dalam. Itu bisa menunda zombie dan mengganggu pergerakan mereka sehingga orang-orang yang berspesialis serangan dekat bisa dengan mudah menghabisi mereka.
Bisa dibilang, mereka telah mempersiapkan diri dengan cara yang cukup baik.
Di kantor, Julian mengumpulkan para petinggi dari dua kelompok yang akan berpartisipasi dalam pertempuran di garis depan.
“Bagaimana menurutmu, Siegfired?” tanya Julian setelah selesai menjelaskan.
“Sudah sangat bagus.” Siegfried mengangguk. “Dengan begini, kemungkinan besar barisan depan bisa melindungi markas dan para pengungsi. Mereka juga telah bekerja keras untuk membuat dinding perlindungan dan jebakan selama ini. Mereka layak diberi istirahat.”
“Kalau begitu, sisanya tergantung kita ... para pejuang!” ucap Julian dengan ekspresi tegas.
Melihat semua orang tampak bersemangat, Siegfried langsung menuang air dingin kepada mereka dengan berkata.
“Meski begitu, ada satu masalah. Jika ada beberapa zombie level 3 yang muncul bersamaan, aku, Julian, dan Berto tetap tidak akan berpisah dan mengincar satu per satu zombie. Itu berarti, sisa zombie harus ditahan agar tidak mendekat ke markas bagaimanapun caranya. Mungkin mengorbankan nyawa.
Apakah kalian bersedia melakukannya?”
Mendengar itu, banyak orang sedikit terdiam. Meski mereka ingin menjawab bahwa mereka mau, tetapi dalam kenyataan, mungkin mereka akan ketakutan ketika berhadapan dengan zombie level 3.
Saat itu, salah satu pemuda bangkit dan berkata.
__ADS_1
“Saya bersedia. Ada orang-orang di belakang yang telah berjuang sebisa mereka dan mempercayakan sisanya pada kita. Bahkan jika harus mati, aku akan menunda zombie beberapa saat. Aku ... tidak ingin mengkhianati kepercayaan mereka!”
Perkataan pemuda itu membuat mata orang-orang berbinar. Mereka merasa kalau semangat juang mereka membara. Lagipula, sudah sangat sulit membuat orang-orang mau percaya, bersatu, dan bekerja keras bersama. Jika para prajurit gagal menjaga kepercayaan para warga.
Orang-orang itu mungkin tidak akan pernah mempercayai mereka dan berperilaku putus asa ke depannya. Hal semacam itu ... bukan hal yang ingin mereka lihat!
Setelah memiliki persatuan, mereka ingin bangkit bersama. Oleh karena itu, mereka sekarang benar-benar bertekad. Bahkan jika harus mati ...
Mereka siap menunda para zombie agar tidak menyerang dan mengacaukan markas!
Melihat orang-orang dipenuhi semangat juang, Julian tersenyum. Bukan hanya merasa senang, dia juga merasa sangat bangga kepada mereka. Melihat matahari yang masih menggantung di langit, pemuda itu kemudian berkata.
“Kalau begitu, rapat selesai! Segera kembali dan beristirahat. Pastikan untuk berada dalam kondisi terbaik. Lagipula ...”
Julian tersenyum.
“Ini akan menjadi malam yang panjang.”
***
Sementara itu, sekitar setengah kilometer dari stadion tempat para zombie bersarang.
Jay berkata dengan ekspresi serius di wajahnya. Mengikuti perintahnya, ratusan orang langsung berhenti. Selain Jay, Mona, Lisa, dan Natasha ... ada juga 250 prajurit yang dikerahkan dalam misi ini. Di antaranya, ada 100 prajurit level 2 yang sebelumnya ikut misi ekspedisi. Ada juga 150 orang prajurit level 1 yang melakukan misi untuk mengasah diri mereka.
Bukan hanya di sini, tetapi jumlah pasukan yang sama juga ada di tempat Saito berada. Bisa dibilang, kali ini Ark ingin menggerakkan banyak orang dan melakukan serangan secara serius.
“Hey, Jay! Sudah kubilang, kamu salah membuat keputusan! Kita datang terlalu awal!”
Lisa tidak bisa tidak mengeluh. Jarak markas utama ke stadion dan ke mall terbesar di kota jelas berbeda cukup jauh. Entah karena gugup atau bersemangat, Jay benar-benar meminta pasukan berangkat tepat bersamaan dengan pasukan Saito.
Seperti yang terlihat, mereka benar-benar datang terlalu awal.
“Bukankah itu berarti kita bisa beristirahat lebih lama? Juga, jangan panggil aku dengan cara tidak sopan seperti itu, Lisa. Aku beberapa tahun lebih tua daripada kamu.”
“Ya, ya, ya ... terserah kamu, Paman.”
Mendengar balasan Lisa, sudut bibir Jay berkedut. Saat itu, suara Mona juga terdengar.
__ADS_1
“Datang terlalu awal juga belum tentu baik. Beristirahat lebih lama bukanlah pilihan baik. Dalam waktu ini, semua orang mungkin akan menjadi lebih cemas karena menunggu terlalu lama untuk bertarung. Hal tersebut mempengaruhi peforma pertarungan mereka.
Lain kali, jangan melakukannya.”
Pada saat merasakan tatapan dingin Mona, Jay tersenyum jujur. Sambil menggaruk belakang kepalanya, pemuda itu berkata.
“Dimengerti, Sayang.”
***
Sekitar dua jam kemudian, sekitar setengah kilometer dari mall.
“Kita beristirahat di sini.”
Suara Saito yang tenang terdengar.
“Ya, Pak!” jawab orang-orang serempak.
“Tidak perlu begitu bersemangat. Masih ada beberapa jam, kalian perlu makan lalu beristirahat. Jangan mengkhawatirkan sesuatu yang tidak perlu karena hal tersebut hanya akan menjadi penghambat.”
Mendengar penjelasan Saito, mereka semua mengangguk dengan ekspresi serius. Ketika orang-orang beristirahat, Saito langsung mendekati Draco dan Leon.
“Apakah ada yang ingin kamu bicarakan, Wajah Lumpuh?” tanya Leon.
Sejak mereka diungguli oleh Saito terlalu jauh, Leon selalu merasa kesal ketika melihat Saito. Setiap kali latihan dan mencoba melawannya, pria itu benar-benar dikalahkan oleh Saito dan tidak pernah menang satu kali pun.
“Ada yang ingin aku bicarakan dengan kalian.”
“Aku tahu ini menjengkelkan, Leon. Namun kita tidak bisa mengacaukan misi dan membuat Ketua marah.” Draco berkata dingin.
“Cih!” Leon meludah tidak puas, tetapi masih mendengar.
“Aku telah membuat rencana dalam misi ini.”
Saito berkata pada Draco dan Leon. Memiliki ekspresi dingin di wajahnya, pria itu kemudian melanjutkan.
“Jika kalian ingin misi ini sukses besar dan mendapatkan pujian ... dengarkan perkataanku.”
__ADS_1
>> Bersambung.