
Beberapa hari kemudian.
Ark pergi bersama dengan Jay, Lisa, dan 30 orang lainnya. Lokasi yang akan mereka tuju adalah pusat kota. Mungkin lebih tepatnya ... saluran air bawah tanah yang berada di kota.
Mereka langsung menuju ke titik tertentu karena tidak semua saluran air bermasalah. Ada juga yang telah hancur ketika apocalypse. Namun, lokasi yang mereka tuju adalah tempat dimana para tikus bermutasi tinggal dan berkembang.
Di perumahan elit sendiri, saluran drainase berbeda. Tempat itu menggunakan selokan dan gorong-gorong. Dikarenakan area hijau lebih banyak dan lebih subur, perumahan elit sendiri lebih aman karena air hujan biasanya tidak menggenang dan langsung disalurkan melalui jalur pembuangan.
"Aromanya begitu kuat. Ini benar-benar sangat menyebalkan. Tidak bisakah kita pergi ke tempat lain?"
Lisa tampak tidak berdaya. Dia sebenarnya merasa jijik. Namun kali ini, Ark sendiri yang memilihnya. Jadi, mau tidak mau dia harus melakukannya.
Alasan kenapa Ark memilih Jay dan Lisa adalah kekuatan mereka. Dibandingkan dengan anggota lain, keduanya memiliki keuntungan di bagian kekuatan serta memiliki serangan dengan efek area luas, sehingga sangat berguna melawan musuh yang memiliki jumlah lebih banyak.
"Omong-omong, apakah daging gagak bermutasi itu benar-benar tidak bisa dimakan, Ark?" tanya Jay dengan ekspresi kusut.
Pada waktu misi pengurangan, Jay dan pasukannya membunuh sangat banyak gagak bermutasi. Makhluk tersebut tampaknya tidak begitu beracun dan bisa dikonsumsi. Jika bukan karena nasihat dari Ark, Jay dan bawahannya pasti sudah memakan daging makhluk tersebut.
Rasanya ... memanen kuku, bulu keras, dan bulu leher yang lembut masih sangat kurang! Bahan lain benar-benar disia-siakan!
"Apakah kamu bodoh, Paman? Kita akan pergi ke tempat menjijikkan! Baunya bahkan sampai ke sini!
Bisa-bisanya kamu membahas makanan di tempat seperti ini!"
Lisa langsung berkata dengan nada tak puas. Dia kemudian mendengus dingin. Tampaknya marah karena Jay membuat selera makannya menjadi semakin menghilang.
"Kalau begitu kita langsung turun."
Ucap Ark ketika membuka penutup saluran drainase bawah kota. Aroma menjijikkan langsung menyerang indera mereka. Bahkan, 30 prajurit tidak bisa tidak mengerutkan kening. Mereka menahan diri untuk tidak muntah.
"Bah! Bau ini benar-benar menjijikkan! Kita sudah memakai masker, tetapi baunya masih begitu kuat!"
Seperti yang dikatakan Lisa, mereka semua memakai masker sederhana yang dibuat dari kain sutera.
Melihat ke arah orang-orang yang tampak ragu, Ark menggelengkan kepalanya. Dia kemudian turun terlebih dahulu.
Sampai di bawah, dia langsung menginjak lantai berlumpur. Dindingnya juga tampak kotor dan ditumbuhi lumut. Ada juga air yang mengalir di tengah-tengah. Meski tampaknya tidak terlalu dalam, tetapi warna air sangat gelap dan kotor. Ada juga berbagai sampah di sana.
Setelah beberapa saat, Lisa, Jay, dan tiga puluh orang lainnya juga turun.
Terowongannya cukup luas, jadi mereka semua lebih leluasa bergerak.
Usai membiasakan diri dengan medan beberapa saat, mereka kemudian berjalan maju. Menginjak lumpur yang mengotori sepatu, celana panjang, dan ujung jubah mereka.
Setelah beberapa saat, Ark tiba-tiba berhenti. Saat itu juga, semua orang berhenti.
Tidak jauh di sisi lain terowongan yang gelap ...
__ADS_1
Puluhan pasang mata merah tiba-tiba muncul dan menatap Ark serta rekan-rekannya dengan tatapan ingin membunuh!
***
Sementara itu, di gedung yang tidak jauh dari markas Silver Cross.
"Mulai dari sini, aku serahkan sisanya kepada kalian."
Vadim berkata dengan ekspresi serius. Di depannya, tampak sosok Saito dan 15 orang lainnya.
Mengetuk gagang katana dengan lembut, Saito menjawab, "Tenang saja. Kami akan berhati-hati. Lagipula, ini misi dari ketua. Jika sampai ada masalah ..."
Semua orang langsung menelan ludah. Tiba-tiba, rasanya tenggorokan mereka menjadi dingin. Ingatan tentang cahaya pedang biru yang memotong segalanya membekas dalam kepala mereka.
Orang-orang itu tahu kalau hal tersebut bukan sword qi. Namun mereka masih takut. Lagipula, sangat tidak masuk akal memotong musuh dari kejauhan hanya dengan gelombang angin yang muncul akibat tebasan pedang.
Jika tidak melihat dengan mata kepala mereka sendiri, orang-orang itu tidak akan percaya bahkan jika dipukuli sampai hitam dan biru!
"Aku hanya tidak menyangka kalau kamu masih menjadi buronan." Saito menggeleng ringan.
Setelah itu, Saito dan 15 orang lainnya langsung pergi ke markas Silver Cross, tempat pemerintahan kota baru berada!
Usai berjalan cukup lama, Saito dan lima belas orang lainnya sampai di depan markas Silver Cross. Saat itu juga, mereka langsung menjadi pusat perhatian.
"Jubah bulu, topeng, pakaian, dan senjata layak. Apakah mereka dari Sword of Sufferings?"
"Bukan hanya tampak, mereka memang para elit yang dilatih dengan ketat! Kualitasnya lebih baik anggota Aliansi Dark Triangle lainnya!"
"Sayang sekali, mereka hanya menerima yang muda dan sudah tidak memiliki kerabat."
"Ya. Itu peraturan yang agak aneh."
"..."
Entah siapa yang memulai, orang-orang mulai membicarakan anggota Sword of Sufferings yang baru saja tiba.
"Apakah ada yang bisa kami bantu, Pak?" tanya penjaga gerbang.
"Tolong sampaikan kepada Mr Julian. Ketua kami, Hades telah mengirim kami untuk melakukan sesuatu. Dia juga telah menyetujui hal tersebut."
Saito berkata dengan tenang. Tangan kirinya selalu memegang gagang pedang. Sepasang mata dingin menatap penjaga di depannya, membuat orang itu merasa tidak nyaman.
"Kalau begitu tunggu sebentar, Pak!"
"Ya." Saito mengangguk.
Penjaga gerbang kemudian masuk ke markas.
__ADS_1
Setelah beberapa saat, sosok Berto keluar dari markas bersama beberapa orang. Mereka tampaknya telah bersiap menyambut. Baik secara halus atau kasar.
"Ini memang Sword of Sufferings," gumam Berto. Pria itu kemudian menghampiri Saito dan melanjutkan. "Ikuti aku."
"Baik."
Dibimbing oleh Berto, Saito dan lima belas orang lain masuk ke markas Silver Cross. Namun, anggota lain menunggu di lantai pertama yaitu ruang tunggu. Sementara Saito sendiri langsung pergi menuju ke kantor Julian.
"Aku benar-benar tidak menyangka kalau Hades akan mengirim orang untuk hal semacam itu."
Pada saat Saito masuk ke kantor, suara Julian terdengar.
Julian menggelengkan kepalanya. Merasa kalau Ark yang dia kenal telah berubah. Pria itu kemudian menatap Saito dan bertanya.
"Apakah kamu telah menghapal nama dan penampilannya?"
"Dua puluh orang ... aku telah mengingatnya."
Saito mengangguk ringan.
Sementara Saito dan Julian berbicara, Berto tampak bingung. Tanda tanya besar muncul di atas kepalanya ketika bingung. Setelah tidak tahan, pria itu mengikuti percakapan.
"Dua puluh orang apa, Ketua? Bukankah tidak lama ini penerimaan anggota baru Sword of Sufferings telah dilakukan?"
"Kita bukan membahas hal itu, Berto."
Julian menggeleng kepalanya.
"Jika bukan itu, lalu apa yang kita bicarakan?" tanya Berto.
Tidak langsung menjawab, Julian malah menatap Julian. Setelah melihat orang itu mengangguk kepadanya, dia akhirnya menghela napas panjang.
"Ini soal dua puluh wanita."
"Oh, wanita ...." Berto mengangguk sebelum ekspresinya berubah menjadi terkejut. "Apa? Dua puluh wanita? Ini tidak seperti yang sedang aku pikirkan, bukan?"
"Tidak." Julian menggelengkan kepalanya. "Itu seperti yang kamu pikirkan."
"Maksudmu ..." Berto terpana.
"Ya."
Julian mengangguk dengan senyum masam di wajahnya. Pria itu bersandar pada kursinya lalu menghela napas panjang. Dia memejamkan mata sambil berkata.
"Hades memintaku untuk mengirim dua puluh wanita yang dia kenal, bahkan telah dia tandai!"
>> Bersambung.
__ADS_1