
Di sebuah barak militer yang dijadikan markas kelompok Black Panther.
"Aku harap semuanya berjalan sesuai dengan rencana."
Joseph bersandar pada kursinya sambil memejamkan mata. Di depannya, tampak secangkir teh tak tersentuh yang telah kehilangan kehangatannya. Suasana hatinya benar-benar rumit. Dia memiliki sisi munafik dimana dirinya ingin menyadarkan orang-orang, tetapi pria itu juga tahu ... mereka telah membusuk sampai akar dan tidak bisa disembuhkan.
"Malam ini ..." gumam Joseph.
Hari yang ditunggu telah tiba. Malam ini, Dark Caravan dan Silver Cross akan datang membantu dalam rencana pemberontakan. Apakah banyak orang akan mati atau tidak tergantung kerjasama antara mereka.
Membuka matanya, Joseph melihat ke arah senja. Melihat pemandangan indah tersebut membuat ekspresinya menjadi lebih tenang.
Tok! Tok! Tok!
Mendengar ketukan pintu. Joseph menoleh lalu berkata, "Masuk."
Pintu terbuka. Saat itu, sosok Siegfried masuk ke dalam ruangan dengan ekspresi khawatir.
"Semuanya kacau, Tuan! Mereka ... bagaimana bisa mereka ..."
"Hah? Tenangkan dirimu, Siegfried! Tarik napas dalam-dalam, tenang, katakan semuanya perlahan."
Siegfried yang sebelumnya khawatir menarik napas dalam-dalam. Setelah agak tenang, dia akhirnya menjelaskan.
"Tuan, meski semuanya tampak tenang, tetapi sebenarnya situasi sudah menjadi lebih tegang.
Ada ... ada anggota di kubu kita yang berkhianat. Para tetua mengetahui apa yang coba kita lakukan."
"Apa?! Apakah yang kamu katakan itu benar?!" tanya Joseph dengan ekspresi khawatir.
"Hal tersebut memang benar, Tuan."
"Lalu ... kenapa mereka tidak mulai menyerang terlebih dahulu? Apakah ada sesuatu yang salah?"
"Memang. Pihak lain tahu kalau kita akan menyerang di malam hari, tetapi mereka telah mempersiapkan diri. Para tetua ... telah menghubungi Imperial Tiger dan Third Scars untuk meminta bantuan! Mereka berjanji kalau Black Panther akan bergabung dengan Imperial Tiger, kembali seperti dahulu setelah pertempuran usai.
Belum lagi, dua kelompok itu seharusnya tiba tepat saat matahari terbenam. Jelas, perilaku kita telah dihitung. Haruskah kita melarikan diri untuk menghindari pertempuran, Tuan?!"
"Jangan bodoh! Jika kita melarikan diri, bagaimana jadinya rekan-rekan kita lainnya? Bahkan jika mereka diselamatkan, mereka akan menaruh kebencian, tidak lagi percaya dengan keadilan dan berpikir kalau apa yang dilakukan Imperial Tiger atau para tetua busuk itu benar!"
"Namun, sudah tidak ada waktu lagi. Jika mereka tiba, semuanya benar-benar akan berantakan! Bahkan jika Dark Caravan dan Silver Cross menyusul, belum tentu mereka akan membantu. Lagipula ... Aliansi Dark Triangle belum resmi didirikan!" Siegfried berkata dengan senyum pahit di wajahnya.
"Kalau begitu kita akan mempercepat rencananya!"
Mengatakan itu, Joseph langsung bangkit dari kursinya. Dia langsung mengambil pedang lalu keluar kantor, bergegas ke tempat para tetua biasanya berkumpul.
__ADS_1
Sampai di lokasi, Joseph terhenti tidak jauh dari pintu ruangan yang tertutup rapat. Hanya saja, ada tujuh orang yang berdiri di depan pintu. Mereka adalah Thomas dan enam orang prajurit dengan pangkat serta kemampuan tinggi. Setidaknya, selain Thomas yang tidak berguna, enam orang lainnya benar-benar merepotkan untuk dihadapi.
"Menyingkir, Thomas. Ada hal penting yang harus aku bicarakan dengan para tetua."
Mendengar ucapan Joseph, Thomas mencibir.
"Hentikan akting burukmu itu, Joseph. Kami telah mengetahui rencana busukmu! Lebih baik kamu menyerah!"
Mata Joseph menyempit. Dia menatap ke arah Thomas dengan sengit lalu berkata, "Jika tidak?"
Jawaban Joseph membuat Thomas tertawa. Dia membuka lebar kedua tangannya. Dengan wajah sombong, pria paruh baya gemuk itu berkata.
"Sebenarnya aku ingin menunggu dua kelompok lain agar bisa mengurangi kekacauan. Namun karena kamu bersedia datang ..." Thomas menyeringai. "Aku tidak keberatan memulainya lebih awal!"
Ketika Thomas selesai bicara, enam orang lain langsung menarik pedang mereka. Siap bertempur kapan saja.
"Jadi begitu ..."
Tanpa sedikitpun rasa takut, Joseph menarik keluar pedangnya.
***
Sementara itu, di sebuah jalan raya sepi.
Kereta Dark Caravan terparkir menghadang jalan. Tali yang mengekang Debby dilepas. Tampak sembilan orang yang berdiri di dekat kereta sambil menunggu. Mereka adalah Stacy, Roxanne, dan tujuh anggota Violet Sword lainnya.
"Aku tidak tahu." Stacy menggelengkan kepalanya. "Hanya saja, apa yang diinginkan Tuan adalah tindakan pencegahan."
"Pencegahan, kah?" gumam Roxanne.
"Meski seharusnya tiba di malam hari, ketua ingin membuat berbagai persiapan. Jadi akhirnya kita datang lebih awal. Bukan hanya kita, tetapi Silver Cross juga membantu.
Tugas kita bukanlah mengikuti pertempuran, tetapi mencegah pihak lain ikut campur dalam pertempuran. Apakah kamu mengerti maksudku?"
"Saya mengerti," balas Roxanne.
Stacy kemudian menatap ke arah Debby lalu berkata, "Tuan memintamu untuk membantu kami, Debby. Jadi jangan membuat masalah walau Tuan tidak ada di sini."
Debby mengangguk. Setelah itu, Black Doberman tersebut tiba-tiba menggeram sambil menatap ke arah tertentu.
Di kejauhan tampak sekitar seratus lima puluh orang berbaris rapi. Mereka semua memakai seragam militer usang. Dipimpin oleh Zander ... mereka adalah bala bantuan dari Imperial Tiger.
Di sisi lain, Zander melihat kereta, seekor Black Doberman dan sembilan sosok berjubah yang menghadang jalan. Melihat makhluk yang tidak asing, dia bertanya, "Apakah Hades telah mendapatkan kebocoran informasi atau menebaknya? Hal tersebut tidak penting. Masalahnya, apakah kalian pikir sembilan orang bisa menghentikan 150 orang?"
Stacy maju ke depan. Menatap ke arah Zander dan pasukannya, wanita itu memiringkan kepalanya.
__ADS_1
"Lebih tepatnya 10 melawan 150 orang. Sedangkan apakah bisa atau tidak ... bagaimana mungkin kita tahu jika tidak mencobanya?"
Setelah mengatakan itu, Stacy menarik dua pedang pendek keluar. Bukan hanya dia, tetapi delapan perempuan lain juga melakukan hal sama. Debby juga siap bertarung.
Melihat pemandangan di depannya, ekspresi Zander menjadi muram. Dia benar-benar tidak menyangka kalau sekelompok kecil perempuan benar-benar berusaha menghentikan pasukannya.
"Apakah kamu benar-benar tidak berniat untuk mundur?"
"..."
Melihat bagaimana Stacy hanya diam, Zander menjadi semakin muram. Dia kemudian berkata dengan nada berat.
"Kalau begitu ... jangan menyesali pilihan kalian."
***
Sementara itu, di tempat lain.
"Apakah Mr Hades benar-benar hanya mengirim kalian bertiga?"
Berto yang datang dengan lima puluh orang menatap ke arah Darin, Yonas, dan Vadim yang memakai jubah serta topeng. Dia benar-benar meragukan keputusan Hades yang tampaknya hanya main-main dengan mereka. Sama sekali tidak berniat membantu Silver Cross dalam menghadang jalan.
"Anggota lain memiliki tugas berbeda. Dengan adanya kalian, tambahan kami bertiga sudah lebih dari cukup." Sambil memikul tombaknya, Darin berkata dengan tenang.
"Kalian tidak akan memberikan semua beban kerja kepada kami, kan?" tanya Berto dengan ekspresi rumit.
"Kamu bisa melihatnya sendiri nanti."
Setelah mengatakan itu, Darin diam. Dia dan Berto kemudian melihat ke arah tertentu. Di sana, tampak banyak orang yang memiliki ekspresi ganas berbaris. Jumlah mereka ... kurang-lebih 200 orang!
Mereka dipimpin oleh pria berkulit pucat dengan rambut hitam yang disisir belah tengah. Matanya sipit, tampak seperti terpejam. Senyum terus menggantung di wajahnya. Dari penampilannya ... orang-orang merasa kalau pria tersebut mirip ular licik.
Berto melirik ke arah Darin lalu berkata, "Aku harap kamu tidak takut lalu melarikan diri."
Mendengar itu, Darin menjawab tak acuh.
"Tenang, aku bukan pengecut semacam itu."
***
Sementara itu, di atap sebuah bangunan tiga lantai tidak jauh dari barak militer.
Tiga sosok yang menunggangi serigala menatap ke arah barak militer dengan tenang. Mereka tampaknya merasakan perubahan suasana di barak militer, tetapi tidak segera bergerak.
Ark yang menunggangi Finn menatap ke arah matahari terbenam. Ketika sinar merah sirna dan warna hitam memenuhi dunia, pemuda itu berkata,
__ADS_1
"Karena mentari telah terlelap dalam tidurnya ... mari mulai pestanya."
>> Bersambung.