Apocalypse Regression

Apocalypse Regression
Krisis Silver Cross


__ADS_3

Sementara itu, di markas Sword of Sufferings.


"Dengan begini, kecuali anak-anak dan Darin, sisa anggota telah melewati evolusi pertama."


Ark duduk di kursi sambil melihat sosok Natasha dan Abigail yang berbaring di ranjang dengan tubuh dipenuhi keringat. Wajah mereka benar-benar merah padam.


"Kamu ... bisa-bisanya kamu melihat kami dengan cara seperti itu!"


Natasha berkata dengan ekspresi marah, penuh kebencian di wajahnya.


Seperti yang diketahui, proses evolusi dan proses penanaman Miracle Root sangat menyakitkan, bahkan bagi orang yang terbiasa seperti Ark. Jadi, dalam prosesnya, tidak bisa dipungkiri kalau Natasha dan Abigail mengeluarkan teriakan-teriakan agak aneh. Jika Jay tidak tahu, mungkin pria itu akan mengira kalau Ark sedang melakukan beberapa hal buruk dengan kedua wanita itu.


Mengabaikan Natasha yang marah, Ark menopang dagu.


"Aku hanya mengawasi kalian. Memastikan bahwa tidak ada kesalahan. Ya ... syukurlah kalian berhasil melewatinya dengan baik."


"..."


Natasha hanya diam. Meski dia marah, wanita itu tahu kalau apa yang Ark lakukan juga untuk mereka berdua. Menurut yang dikatakan oleh Jay, Ark juga menemani Jay waktu evolusi.


Natasha juga tahu bahwa sebelumnya Ark menemani Stacy ketika evolusi. Namun, karena awalnya tidak tahu, dia sempat berpikir kalau keduanya sedang melakukan permainan liar. Namun setelah penjelasan, dia hanya bisa mengeluh kepada kepalanya yang terlalu banyak berpikir.


"Anu ... Tuan Ark ... S-Saya merasa lemah."


"..."


Ark menatap ke arah Abigail. Berbeda dengan Natasha yang berkeringat cukup deras, bisa dibilang ... seluruh pakaian Abigail basah oleh keringat. Wajahnya merah, napasnya naik-turun, ekspresi sayu di wajahnya membuat wanita itu tampak lebih menarik. Belum lagi, karena pakaiannya basah, Ark melihat seluruh garis-garis di tubuhnya.


"Kemana kamu melihat, B-jingan!"


Menyadari kalau Ark menatap ke arah kakak iparnya, Natasha langsung berteriak marah.


'Bukannya aku belum pernah melihatnya.'


Pikir Ark ketika mendengar teriakan Natasha. Mengabaikan wanita pemarah itu, dia menghampiri Abigail.


"Dengarkan aku!"


Melihat ke arah Ark yang mengabaikan dirinya, Natasha berkata dengan marah. Dia kemudian segera bangkit dari ranjang. Namun, wanita itu jatuh lagi karena rasa sakit di tubuhnya belum sepenuhnya membaik.


"Jangan banyak bergerak pada saat proses pemulihan. Bukan hanya memperlambat, hal tersebut mungkin akan membuatmu mengalami cedera."


Ark berkata dengan nada tak acuh, dia kemudian menghampiri Abigail sembari bertanya.


"Ada apa? Apa yang kamu rasakan?"


"Rasanya ... tubuh saya terlalu lemah. Terasa lembek dan aneh."


Abigail berkata dengan ekspresi malu di wajahnya. Lagipula, sosok Ark sedang memandangi dirinya sekarang. Meski tidak seperti kejadian di malam sebelumnya, kali ini Abigail tidak mengambil inisiatif, jadi dipandang dengan cara seperti itu ... dia benar-benar malu.


"Jika sesuatu terjadi pada Kak Abigail, aku janji akan mengalahkanmu sampai babak belur!"


"Jika kamu diam, tidak akan ada yang sadar kalau kamu begitu bodoh."


Ark berkata dengan nada tak acuh. Mengabaikan Natasha yang memelototi dirinya, pemuda itu menatap Abigail dengan curiga.


"Cobalah untuk melakukan apa yang aku katakan, Abigail."


"B-Baik," ucap Abigail dengan nada gugup.

__ADS_1


Ark tidak menyuruh Abigail untuk melakukan hal-hal aneh. Sebaliknya, dia hanya menyuruh wanita itu untuk melakukan gerakan-gerakan sederhana dengan tangannya.


Melihat ke arah Abigail, Ark benar-benar terkejut. Dia tidak menyangka, ketika dirinya tidak banyak berharap ... ternyata Abigail membangkitkan bakat khusus ras manusia.


Tubuh elastis!


Seperti namanya, kemampuan itu membuat pemiliknya memiliki tubuh elastis seperti ... bahkan lebih baik daripada orang yang telah menekuni yoga.


Memang, tidak bisa seperti karet yang bisa sangat lentur, tetapi kemampuan ini membuat gerakan pemiliknya bisa lebih fleksibel. Jika dikembangkan dengan baik, kemampuan ini bisa menjadi senjata kuat. Menghindari nyaris semua serangan normal, menyerang dengan cara unik dan sulit diprediksi.


Ark menatap Abigail ... menatap wanita itu dengan tatapan panas.


"Kerja bagus, Abigail!"


Ark memegang tangan Abigail. Dia tersenyum lembut kepada wanita itu.


"Eh?!! Ini ... Anu ..."


Otak Abigail tiba-tiba terasa kosong. Saking terkejutnya, wanita itu merasa jantungnya ingin melompat keluar dari dadanya. Menatap ke arah pemuda tampan yang tersenyum ke arahnya, wajahnya terasa sangat panas.


Di sisi lain, Natasha yang melihat interaksi antara keduanya hanya bisa cemberut.


Tiba-tiba merasakan sensasi tidak nyaman di dadanya!


***


Sementara itu, di markas Silver Cross.


Setelah berbicara dengan Julian, Darin akhirnya pergi untuk mencari Juana. Dalam perjalan turun dari lantai tiga, dia kembali bertemu dengan Yonas.


"Yo! Apakah kamu sudah selesai?!"


"Tidak." Yonas mengangkat bahu dengan senyum santai di wajahnya. "Aku rasa kamu tidak begitu mengenal tempat ini, jadi aku menunggumu."


"En?"


Ucapan Yonas membuat Darin terkejut. Dia tidak menyangka kalau ada orang yang masih cukup baik.


"Kalau begitu maaf karena telah merepotkanmu."


"Tidak apa-apa. Kamu ingin pergi ke mana? Tidak mungkin langsung kembali, kan?"


"Aku ingin mencari seorang gadis wanita bernama Juana."


"Maaf? Apa yang kamu katakan tadi?"


Ekspresi terkejut tampak di wajah Yonas.


"Wanita bernama Juana. Dia cantik, memiliki rambut hitam panjang ... mungkin sulit untuk dikenali sekarang. Mungkin paling mudah, salah satu kakinya terluka parah dan sudah tidak bisa digunakan."


Melihat ekspresi terkejut di wajah Yonas, Darin mengerutkan kening. Dia jelas melihat kejanggalan pada ekspresi pria itu, jadi akhirnya bertanya.


"Kamu mengenalnya, kan?"


"Itu ..." Yonas menggaruk kepalanya dengan ekspresi canggung. "Kalau boleh tahu ... apakah kamu kerabatnya atau mungkin kekasihnya?"


"Tidak. Aku sama sekali tidak memiliki hubungan yang begitu dalam dengan wanita itu."


"Syukurlah~"

__ADS_1


"Kenapa???" Darin mengangkat alisnya.


"Juana, dia adalah salah satu wanita Alvaro."


"Alvaro?"


"Pria hitam kekar, botak dengan bekas luka di kepalanya. Dia memakai anting emas."


"Hmmm ..." Darin mengangguk dengan ekspresi datar di wajahnya. "Salah satu wanitanya, kah?"


"Kamu pasti tahu. Dibandingkan kita, para lelaki di masa jayanya, orang tua, anak-anak, dan wanita itu lemah.


Untuk bertahan hidup, banyak mereka melakukan hal-hal semacam itu. Ya, mirip dengan wanita di rumah bordil untuk mendapatkan uang. Banyak wanita yang memilih untuk menjual jasa mereka dengan ganti makanan."


"..."


Melihat ke arah Darin yang diam saja, Yonas buru-buru menjelaskan.


"Tentu saja, meski terdengar kotor, tempat ini lebih baik daripada kelompok-kelompok lain. Lagipula, di kelompok lain, banyak orang yang memilih untuk menangkap para gadis cantik dan digunakan untuk pemuas. Sama sekali tidak mementingkan kehidupan, apalagi perasaan mereka."


"Memang lebih baik, tetapi bukan yang terbaik."


Darin berbicara dengan ekspresi semakin datar di wajahnya.


"Ya ... aku rasa hampir tidak mungkin untuk mencari tempat lebih baik. Omong-omong, ada hal lebih penting.


Alvaro dan beberapa anggota timnya adalah para pria kasar yang tergila-gila dengan wanita cantik. Jadi, mereka sering mengundang para wanita untuk bersenang-senang. Awalnya dengan paksa, tetapi setelah itu diketahui Ketua, perbuatan mereka dihentikan.


Jadi, sekarang mereka memilih beberapa wanita untuk dijadikan milik mereka. Setelah itu, mereka akan memberi makanan kepada mereka untuk digantikan dengan jasa."


"Julian tidak menghentikan itu?"


"Apa yang bisa dilakukan oleh Ketua? Bahkan jika Ketua membenci tim Alvaro, dia masih membutuhkan kekuatan mereka. Lagipula, insiden purnama pertama membuat banyak pejuang Silver Cross tumbang."


"Kenapa tidak menggunakan orang-orang dewasa, paruh baya untuk membantu?"


"Itu ..." Yonas tersenyum canggung.


"Kebijakan Julian untuk melindungi yang lemah, kah?"


"Intinya, tidak banyak pejuang muda yang tersisa, jadi Ketua mencoba mencari anggota baru. Bahkan agak putus asa. Itulah kenapa Ketua masih toleran dengan tim Alvaro.


Asal mereka tidak melanggar batas-batasnya atau berperilaku berlebihan."


Penjelasan Yonas membuat Darin menggelengkan kepalanya. Bahkan hanya mendengar sedikit saja, dia tahu bahwa pondasi kelompok ini kurang kuat. Bisa dibilang, seluruh kelompok hanya ditopang oleh satu orang, yaitu Julian.


Dalam sekali lihat, Darin menyadari satu hal penting.


Kelompok Silver Cross ... bisa runtuh kapan saja!


Mengingat sosok Ark yang mengirimnya, ekspresi Darin menjadi serius. Setelah beberapa saat memikirkan dan menyambungkan semua petunjuk, ekspresi pemuda itu berubah. Dia langsung tersenyum pahit ketika berpikir.


'Apakah anda ingin aku membantu Silver Cross memecahkan masalah ini, Ketua?'


Darin menghela napas panjang.


'Tampaknya anda benar-benar terlalu membesar-besarkan kemampuanku.'


>> Bersambung!

__ADS_1


__ADS_2