
Di malam yang dingin dan sepi, Ark memimpin semua anggotanya untuk keluar dari markas.
Mereka semua membuat formasi di sekeliling perumahan elit. Meski jumlah mereka tidak banyak, tidak mencapai ribuan atau puluhan ribu. Namun mereka semua adalah prajurit yang telah menyelesaikan evolusi.
"Aku agak gugup. Beberapa gelombang monster sebelumnya, aku hanya beruntung bisa melewatinya."
"Bukan hanya kamu, aku pun juga sama."
"Apakah kita akan baik-baik saja?"
"Seharusnya kita bisa bertahan. Kita telah menyelesaikan evolusi tahap pertama. Bukan hanya itu, kita memiliki Tuan Hades."
"Ya. Dengan adanya Tuan Hades, semuanya pasti akan berjalan dengan baik."
"..."
Berbagai pembicaraan terjadi. Meski mereka gugup, suasana tidak begitu tertekan. Tampaknya orang-orang itu juga sudah menyiapkan mental mereka baik-baik.
Sementara para prajurit berada di garis depan, para pekerja bersembunyi di belakang tembok pertahanan. Mereka bertugas untuk mengisi ulang anak panah dan mengobati orang-orang yang terluka.
Walau pekerjaan tersebut sebenarnya aman, tetapi mereka semua tidak puas. Mereka tidak puas hanya dengan dilindungi karena hal tersebut bukan kekuatan mereka sendiri. Orang-orang itu juga ingin bertarung di garis depan dengan kekuatan mereka sendiri.
"Apakah kamu merasa khawatir, Ark?"
Berdiri di dekat Ark, Jay tidak bisa tidak bertanya.
"Aku sedikit memikirkan orang-orang di luar sana.
Aku berharap mereka tidak begitu sembrono sehingga berakhir dengan kecelakaan. Aku juga berharap kalau Julian dan Joseph bisa membuat keputusan baik dalam situasi semacam ini."
'Ya ... Aku harap mereka tidak langsung runtuh setelah berdiri.'
Ark tidak mengatakan kalimat terakhir secara langsung karena dia mengetahui kalau hal tersebut tidak sopan. Melirik ke arah Jay, pemuda itu tertegun.
"Ada apa denganmu, Jay?"
"Hiks! Aku tidak menyangka ... Aku benar-benar tidak menyangka kalau kamu masih bisa memikirkan orang lain di luar sana, Ark."
Sudut bibir Ark berkedut. Dia tidak bisa tidak berkata, "Jika aku tidak peduli tentang kepentingan manusia, kenapa aku harus repot-repot melakukan semua ini?"
"Errr ... Kamu ada benarnya."
Ark menatap langit sambil termenung. Setelah beberapa waktu, dia akhirnya kembali berbicara.
"Minta semua orang bersiap di tempat mereka. Kali ini ... pestanya akan lebih meriah."
Mendengar ucapan Ark, sebagian orang menjadi semakin gugup. Meski begitu, mereka juga cukup bersemangat. Alasannya sederhana. Baru kali ini merasa memiliki kekuatan untuk bertarung dengan para zombie tanpa takut akan kematian.
__ADS_1
Detik demi detik berlalu, setelah sekian lama menunggu ...
Tahun baru akhirnya tiba.
Saat itu juga, suara teriakan zombie dan raungan binatang buas menggema di seluruh bagian kota. Banyak orang langsung menjadi pucat ketika mendengar suara-suara yang bermunculan dan menggema di angkasa.
Tanah yang Ark dan rekan-rekannya pijak mulai bergetar. Beberapa es yang tersisa mulai retak dan berhamburan. Debu mulai membumbung tinggi. Dari kejauhan, tampak ribuan zombie yang berbondong-bondong menuju ke wilayah Sword of Sufferings.
Melihat ke arah para zombie, Ark langsung menghunus pedangnya. Dia menunjuk ke arah kejauhan lalu memberi perintah.
"Tarik senjata kalian dan bersiap di tempat! Ingat satu kalimat yang harus terus kalian pikirkan ketika bertarung!"
Mata Ark berkilat dingin, dia kemudian berteriak.
"BUNUH MEREKA TERLEBIH DAHULU MAKA MEREKA TIDAK AKAN MEMBUNUH KALIAN!"
Swoosh!
Puluhan anak panah terus berterbangan. Para pekerja yang berdiri di atas tembok pertahanan melakukan tugas mereka. Meski tidak bisa menghabisi banyak musuh, serangan itu sedikit memperlambat gerakan para zombie.
Ark kemudian melirik ke arah Jay lalu membuat isyarat. Dia kemudian membuat siulan keras. Saat itu, para pemanah berhenti menembak.
Melemaskan otot-otot tubuhnya, Jay bergegas ke depan sambil berteriak.
"SCARLET KNIGHTS ... IKUTI AKU!!!"
Tidak memakai senjatanya, pria itu langsung bertarung dengan dua tinjunya. Melihat zombie semakin padat, bukannya takut, dia malah tersenyum dingin.
Jay memasang kuda-kuda. Saat gerombolan zombie semakin mendekat, tangan kanannya yang terkepal erat langsung memukul dengan ganas ke depan. Pukulannya seperti mengaduk lalu menghancurkan semua udara di depannya lalu ...
CRASH!!!
Berpusat dari Jay sampai 5 meter jauh ke depan, seluruh zombie yang menghadang jalan langsung meledak. Ya. Bukan patah atau terpotong, tetapi langsung meledak menjadi daging cincang.
Melihat pemandangan itu, para prajurit menjadi lebih bersemangat. Mereka langsung maju, bertarung dengan gila dengan para zombie.
Saat itu, suara Stacy terdengar.
"Gerombolan zombie tingkat 2 muncul dari arah jam sepuluh, Tuan!"
Stacy berdiri di atas tembok pertahanan sambil mengawasi kejauhan. Dia tampaknya menjadi pengawas yang mengamati medan pertempuran.
Mendengar ucapan Stacy, Ark langsung memberi instruksi.
"DRACO! LEON!"
"DIMENGERTI!!!"
__ADS_1
Leon muncul sambil memikul sebuah pedang besar. Di sebelahnya, tampak Draco yang tampak lebih tenang.
Pertarungan besar kemudian berlanjut.
Selama pertarungan bisa diselesaikan oleh pasukan, Ark tidak akan menyuruh anggota inti maju. Ketika musuh cukup kuat seperti beberapa makhluk level 2 muncul, barulah dia mengutus mereka. Kecuali beberapa makhluk level 3 yang terkadang muncul, Ark sama sekali tidak maju ke depan.
Dengan begitu, pertempuran terus berlanjut. Dari zombie, kemudian muncul berbagai binatang buas ... Sword of Sufferings bisa menangkal semuanya. Tidak secara sempurna, tetapi mereka masih bisa menghadapinya.
Tanpa terasa, waktu berlalu begitu saja. Tanah di luar perumahan elit menjadi ladang pembantaian. Aroma darah kuat tercium di udara.
Melihat langit kemerahan dan mentari yang akhirnya menampakkan sosoknya, banyak prajurit yang kelelahan secara fisik dan mental merasa lega. Mereka merasa pertempuran akhirnya akan berakhir.
Akan tetapi, saat itu sesuatu yang tidak terduga terjadi.
RROOAAARRR!!!
Raungan panjang terdengar, merobek udara dan membuat semua makhluk yang mendengar suaranya berdiam diri dan gemetar.
Dari ufuk timur, sosok hitam mulai menampakkan wujudnya.
Terbang perlahan dengan tenang, tidak lambat atau cepat, tidak tinggi atau rendah. Namun ... makhluk itu tampak begitu tenang dan tak acuh seolah tidak menganggap keberadaan makhluk lain.
Sosoknya hitam legam bagai tinta. Tubuhnya dipenuhi dengan sisik yang tampak keras dan tajam, membuatnya semakin berbahaya. Makhluk tersebut seperti kadal raksasa, tetapi dengan dua tanduk melengkung dan dua pasang sayap di punggungnya.
Panjang sekitar 120-125 meter. Bentangkan sayapnya mencapai 100 meter. Ya ... lebih besar daripada sebuah pesawat terbang.
Naga!
Itulah kata yang muncul dalam benak semua orang. Namun, semua orang tidak berani menatapnya. Mereka menunduk diam dan gemetar karena merasakan kengerian ketika makhluk tersebut muncul. Bukan hanya manusia, tetapi para zombie dan binatang buas juga tidak berani bergerak dari tempatnya.
Sosok makhluk itu terbang perlahan di atas kota. Namun alih-alih takjub, semua makhluk dalam kota kehilangan suara mereka.
Ark menatap makhluk itu dengan mata merah. Dia menggertakkan gigi karena merasa marah.
Di kehidupan sebelumnya, teori mengatakan bahwa pembatas akan membuka perlahan, sedikit demi sedikit. Namun setelah melihat sosok yang melayang di angkasa melewati kota, Ark tahu kalau teori tersebut salah.
Setidaknya tingkat 5! Mungkin hampir menembus tingkat 6!
Melihat sosok naga hitam yang menghilang di kejauhan, Ark mengepalkan kedua tangannya dan menggigit bibirnya. Baik bibir atau telapak tangannya berdarah, tetapi dia tidak peduli. Saat itu juga, pemuda itu merasakan perasaan yang hampir dia lupakan.
Ketidakberdayaan!
Melawan makhluk mengerikan dan dunia yang kejam, Ark merasa tidak berdaya. Belum lagi, dia sangat menyadari ...
Betapa kecilnya manusia.
>> Bersambung.
__ADS_1