
Pagi buta, empat hari kemudian.
Ark dan rekan-rekannya akhirnya sampai di tanah kosong dan tandus yang berada di luar kota.
Melihat ke arah kota yang diselimuti kabut misterius, tanpa sadar semua orang menelan ludah. Khususnya, kemarin ketika mereka melihat pohon raksasa yang menutupi hampir separuh kota. Melihatnya dari jarak yang dekat, orang-orang menjadi gugup.
“Itu ... bagaimana mungkin ada pohon sebesar itu?”
Melihat kampung halamannya yang berubah total, Jay merasa lebih gugup. Dibandingkan dengan kota-kota lain yang mengalami mutasi, kota ini benar-benar berubah menjadi medan khusus.
Sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan kota lain!
“Tenanglah, Jay. Setelah beristirahat sejenak, kita akan masuk ke kota.”
Ark langsung mengingatkan Jay. Dia bisa mengerti betapa cemasnya sahabatnya itu. Orang normal pasti akan merasa gugup dan cemas jika mengetahui keluarganya dalam masalah besar, khususnya jika ada hubungannya dengan hidup dan mati.
“Aku mengerti, Ark.” Jay mengangguk dengan ekspresi berat.
Ark menepuk pundah Jay. Setelah itu, dia langsung memberi perintah kepada orang-orang.
“Koki. Segera siapkan sarapan.”
“Ya, Ketua!” jawab mereka serempak.
“Sisanya beristirahat. Segera pulihkan energi karena siang ini, kita harus sudah masuk kota dan mencari tempat sebagai markas sementara.”
“Ya, Ketua!” jawab para prajurit serempak.
Ark langsung pergi mencari tempat untuk beristirahat sendirian.
Duduk di bawah pohon pinggir hutan sendirian, pemuda itu memejamkan matanya. Pda saat itu juga, dia langsung memilah berbagai kenangan. Mengumpulkan segala informasi penting yang perlu diperhatikan. Lagipula ...
Kota itu berbeda daripada beberapa tempat sebelumnya.
***
Siang harinya.
Setelah memulihkan energi dan kondisi semua orang benar-benar prima, Ark langsung memimpin pasukan menuju ke kota. Melewati tanah kering dan tandus, semua orang menjadi lebih gugup dibandingkan sebelumnya.
Ekspresi tegas, mata selalu mengawasi sekitar dimana kabut semakin tebal. Berjalan dalam formasi barisan rapi, para prajurit membawa perisai mereka di tangan kiri. Siap untuk menahan berbagai serangan yang mungkin muncul.
Melihat penampilan prajurit yang tidak mengecewakan, Ark diam-diam mengangguk. Merasa puas dengan perkembangan mereka.
Mulai memasuki kota, Ark langsung berbicara.
__ADS_1
“Semua orang, bersiap untuk bertarung!”
Mendengar ucapan Ark, semua orang langsung menarik senjata mereka. Meski bingung, mereka jelas melaksanakan instruksi dari sang ketua.
Masuk ke dalam area kota, mereka semua disambut dengan kabut tebal. Merasakan jarak pandang mereka semakin menyempit, semua orang menjadi lebih gugup.
Saat itu juga, suara dentingan logam terdengar. Hal tersebut membuat banyak orang panik.
Di kejauhan, beberapa sosok zombie biasa muncul. Melihat mereka, Jay adalah orang pertama yang berbicara.
“Yang benar saja? Zombie, di siang hari?”
Melihat ke arah para zombie, mata Ark menyempit. Salah satu informasi penting dari kota kabut.
Tidak ada yang namanya siang atau malam hari. Kecuali mereka keluar atau melakukan perhitungan teliti, makhluk di dalamnya akan melupakan konsep waktu. Sama sekali tidak tahu seberapa lama waktu berlalu.
Di tempat yang dipenuhi kabut dingin, lembab, dan suram ini ... zombie sama sekali tidak mempedulikan siang atau malam.
Mereka bebas berkeliaran 24 jam!
ROOAARR!!
Beberapa zombie langsung membuat raungan aneh. Dipimpin tiga atau empat zombie, lebih dari dua puluh zombie muncul lalu menyerang ke arah ‘manusia lemah’ yang berkerumunan itu.
Alih-alih menyuruh orang langsung menyerang, Ark meminta mereka bertahan.
Pada saat pertempuran dimulai, apa yang Ark khawatirkan akhirnya benar-benar terjadi. Tidak seperti pertempuran biasanya dimana orang-orang bisa dengan mudah membunuh zombie di level seperti itu. Perlu beberapa waktu untuk menyelesaikan pertempuran.
Rasanya, kemampuan setiap orang mengalami ‘nerf’, alias penurunan.
Alasannya sederhana. Zombie di tempat ini lebih lincah dan paling penting ... kabut yang menghalangi pandangan mereka.
Jelas, orang-orang ini tidak terbiasa jalan-jalan dalam kabut, apalagi bertarung.
Meski Ark sudah menduganya, tetapi tidak bisa disangkal kalau dia cukup kecewa. Menghela napas pendek, pemuda itu kemudian berkata.
“Selain orang yang memiliki kemampuan visi dan deteksi, kalian semua pasti merasa kesulitan bertarung. Oleh karena itu, biarkan aku memberi contoh.”
Setelah mengatakan itu, Ark pindah ke depan barisan. Melihat para zombie belum datang, pemuda itu kembali menjelaskan.
“Seperti yang kalian lihat. Kabut ini sangat tebal, jika tidak memiliki penglihatan bagus, sulit untuk bertindak di tempat seperti ini.
Oleh karena itu, apa yang kita perlukan sekarang bukanlah pandangan, tetapi pendengaran.”
Setelah mengatakan itu, Ark memejamkan matanya. Bahkan, jika dia memiliki visi yang luar biasa, tetapi sekarang dirinya sedang memberi contoh. Jadi, pemuda itu perlu melakukan apa yang seharusnya bisa dicontoh bawahannya.
__ADS_1
ROARR!!
Lolongan zombie kembali terdengar. Melihat beberapa zombie muncul dan berlari ke arah Ark, para prajurit fokus pada sang ketua yang sedang memejamkan mata.
Swoosh!
Ark dengan mudah menghindari serangan demi serangan. Sambil menghindari serangan, pemuda itu mulai menjelaskan.
“Apa yang kalian perlu tandai adalah suara angin berasal. Meski sulit di awal dan cukup menegangkan, tetapi setelah terbiasa, kalian juga bisa menghindari berbagai serangan dari kabut.
Dalam tempat berkabut seperti ini dimana salah satu indera (penglihatan) dibatasi, indera lain menjadi lebih sensitif. Jadi, kalian bisa memanfaatkannya.
Dibandingkan menghindari serangan di luar kota dengan mata terpejam, di sini hal semacam itu lebih mudah dilakukan.
Tentu saja ... perlu banyak latihan untuk mendapatkan hasil memuaskan.”
Setelah mengatakan itu, Ark membuka matanya. Pemuda itu kemudian memenggal leher para zombie dengan mudah hanya menggunakan tangan kosong.
“Perlu diperhatikan. Tampaknya zombie di tempat ini lebih lincah daripada di luar. Bukan hanya zombie, tetapi makhluk lain juga sama. Apakah kalian mengerti?”
“Ya, Ketua!” jawab mereka semua tegas.
“Kalau begitu, bersihkan tempat ini. Setelah itu, cari gedung dimana kita bisa tinggal. Tempat yang cocok dijadikan markas sementara.”
“Ya, Ketua!”
Setelah itu, mereka semua membersihkan tempat itu.
Usai membersihkan tempat itu, Ark langsung membawa orang-orang untuk mencari tempat tinggal sambil melakukan latihan perburuan.
Bangunan di tempat itu tampak lebih rusak. Cat telah terkelupas, dinding dipenuhi dengan jamur dan lumut. Banyak akar raksasa yang merusak jalan dan berbagai bangunan.
Tidak hanya itu, tetapi banyak pepohonan raksasa yang tumbuh di atap gedung dan bangunan-bangunan lainnya. Rasanya, seperti hutan besar yang ingin mengubur kota ini.
Meski lokasi tampak lebih suram dan makhluk-makhluknya juga lebih berbahaya, tetapi ada keuntungan besar tinggal di tempat ini.
Keuntungan tersebut adalah ... banyak pohon buah bermutasi yang bisa di makan di kota ini. Selama memiliki kekuatan atau cukup dengan kecerdasan, orang-orang di kota ini tidak takut kelaparan.
‘Tidak takut kelaparan, tetapi dihantui oleh rasa takut setiap hari karena berhadapan dengan makhluk-makhluk berbahaya. Sungguh, bukan harga murah untuk tinggal di tempat seperti ini.’
Memikirkan itu, Ark menggelengkan kepalanya. Berhenti memikirkan beberapa hal acak, pandangannya beralih ke arah Jay, karena dia tahu ...
Sekarang pria itu pasti menjadi lebih cemas dan khawatir!
>> Bersambung.
__ADS_1