
Ark menepuk pundak Jay dan memberinya pandangan berarti.
"Apa?" tanya Jay dengan ekspresi bingung.
Melihat ke arah sahabatnya yang tidak peka, Ark menghela napas panjang sebelum berkata.
"Apakah kamu ingin membunuh mereka?"
"Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan itu, Ark?"
"Berikan pedangmu."
Mendengar ucapan Ark, Jay masih memberikan pedangnya kepada pemuda tersebut. Setelah itu, dia memandang ke arah sahabatnya dengan ekspresi aneh.
"Kamu tidak menyuruhku bertarung dengan tangan kosong, kan?"
"Tentu saja tidak. Kamu bisa menggunakan sarung pedang. Menurutku, itu lebih dari cukup."
Ark berkata dengan ekspresi datar di wajahnya. Perkataannya jelas membuat Yonas, Shani, dan Vadim tidak senang. Hanya Darin yang masih tampak serius.
"Apakah itu baik-baik saja?" tanya Jay.
"Tentu saja. Lagipula, aku tidak ingin kamu menggertak mereka. Setidaknya, dengan begini situasi sedikit lebih imbang."
"Aku mengerti." Jay mengangguk ringan.
Saat itu, suara Yonas yang penuh keraguan terdengar.
"Bukankah ini berlebihan, Tuan Ark? Meski kami tidak bisa dianggap elit, kami masih percaya diri dalam kemampuan bertarung kami."
Mendengar itu, Ark menoleh. Melihat ke arah Yonas, dia mengangkat bahu dengan wajah tak acuh.
"Jika kalian berempat bisa mengalahkan Jay dengan mudah, aku akan minta maaf secara pribadi. Bahkan mengizinkan kalian untuk langsung bergabung dengan Sword of Sufferings."
"Empat? Maksud anda—"
"Tentu saja gadis itu juga ikut bertarung. Aku tidak pilih-pilih. Hanya karena dia perempuan, cukup cantik, dan alasan lain tidak membuatku untuk meloloskan dia begitu saja."
"Tapi Shani, adik saya tidak bisa bertarung, Tuan Ark."
"Jangan menawar denganku. Jika dia tidak ingin bertarung, antar saja dia kembali ke Silver Cross."
Ucapan Ark membuat Shani bingung. Biasanya, orang-orang akan menerima kakaknya sekaligus dirinya dengan mudah. Bisa dibilang, dia selalu menjadi orang yang berada di belakang Yonas.
Akan tetapi, tampaknya lelaki yang menjadi kelompok Sword of Sufferings itu tidak membiarkannya lolos begitu saja.
"Saya akan bertarung!" ucap Shani tegas.
Yonas menatap sosok adiknya dengan ekspresi kesal. Akan tetapi, Shani mengabaikan. Dia bahkan tampak bertekad.
"Kalau begitu kalian bersiap-siap."
Ark berjalan menjauh sambil membawa pedang Jay. Sementara itu, Jay sendiri malah hanya membawa sarung pedang.
__ADS_1
"Kalian bisa menyerang kapan saja."
Jay tersenyum ramah. Hanya saja, di mata keempat orang itu, senyumnya tampak seperti sebuah ejekan.
Memegang erat pedang di tangannya, Yonas menjadi serius. Dia melirik ke arah Vadim yang menahan diri, menunggu aba-aba dari dirinya. Shani sendiri berdiri di belakang sambil membawa sebuah belati.
Yonas mengalihkan pandangannya ke Darin. Setelah keduanya saling menatap, mereka mengangguk lalu berseru bersamaan.
"Serang!"
Sosok Yonas bergegas maju dari depan. Darin serta Vadim menyerang dari kiri dan kanan.
Melihat ketiganya menyerang bersamaan, Jay diam-diam mengangguk. Namun, dia merasa kalau mereka terlalu langsung. Bisa dibilang, meremehkan kekuatannya dan tidak begitu serius.
"Aku mungkin dihajar jika tidak serius. Jadi, maaf kalau aku kurang sopan."
Melihat sosok Yonas yang mengayunkan pedangnya, Jay sedikit menghindar lalu langsung menebas dengan kuat.
Bang!
Yonas menangkis serangan Jay, tetapi masih terpental mundur beberapa meter. Tangannya sedikit gemetar karena dampak guncangan sebelumnya. Menatap ke arah pria pirang dan gampang itu, Yonas berseru dalam hati.
'Tidak kalah kuat dibandingkan zombie yang melawan kami sebelumnya!'
Bang! Bruak!
Sosok Vadim juga terpental mundur sementara Darin dipukul kuat sambil terpental dan berguling di atas aspal.
Terlebih lagi kamu, Darin. Ark dan aku jelas berpikir kalau kamu sudah berkembang lebih baik setelah pergi. Namun lihat dirimu sekarang.
Cukup menyedihkan."
Swoosh!
Darin yang bangkit langsung maju dan mengayunkan tombak dengan kejam. Saat itu, Jay tampak cukup terkejut oleh gerakan Darin yang begitu tiba-tiba. Dia langsung mengayunkan sarung pedang, menghadapi serangan Darin secara langsung.
"Sekarang!" teriak Darin.
Saat itu juga, Yonas dan Vadim juga menyerang. Memanfaatkan celah yang dibuat oleh Darin untuk mereka.
Melihat dua pedang yang hendak menikamnya, Jay menyeringai.
"Menarik!"
Otot-otot tubuh Jay yang awalnya tampak santai langsung menjadi lebih kencang. Dia kemudian menebas kuat secara horizontal. Menghempas sosok Darin dan Vadim.
BRUAK!!!
Merasakan dampak serangan Jay, ekspresi terkejut tampak jelas di wajah mereka berdua. Ekspresi itu bercampur dengan rasa tidak percaya dan teror. Sama sekali tidak pernah berpikir kalau sosok Jay akan begitu kuat.
Jelas bukan lagi kekuatan manusia!
Jay juga langsung menangkis serangan Yonas dengan sarung pedang di tangan kanan. Dia kemudian memukul Yonas dengan kuat menggunakan tangan kirinya.
__ADS_1
Bruk!!
Sosok Yonas juga dihempaskan sampai jatuh dan berguling-guling di aspal.
Melihat ke arah tiga orang, Jay memegangi lehernya dengan kiri dan menunjukkan ekspresi santai. Namun, dia kemudian berkata dengan nada dingin.
"Bangkit!"
Melihat ke arah Jay, mereka bertiga akhirnya paham maksud Ark. Jelas, Jay belum mengerahkan seluruh kemampuannya, tetapi mereka bertiga masih kalah.
Jika diperhatikan, kondisi fisik Jay saat ini cukup mirip dengan zombie spesial yang mereka lawan. Hanya saja, pria pirang itu tidak menyerang dengan gila-gilaan dan tanpa pikiran. Sebaliknya, dia menyerang dengan cukup santai, tetapi menggunakan teknik dasar yang membuat mereka bertiga tidak bisa melawan.
Ya. Itu bukan teknik muluk-muluk, tetapi hanya teknik dasar. Namun, Jay bisa mengalahkan mereka dengan mudah bukan hanya karena teknik atau fisiknya. Dia juga cukup memahami bagaimana harus bertahan atau menyerang, titik mana yang seharusnya diincar, dan sebagainya.
Dengan kata lain, melawan Jay yang memiliki fisik seperti zombie spesial tetapi dengan kecerdasan cukup tinggi membuat mereka bertiga kewalahan!
Darin, Yonas, dan Vadim bangkit dengan ekspresi penuh tekad. Mereka saling memandang, lalu terus mencoba menyerang Jay.
Satu jam berlalu begitu saja. Tiga orang berbaring di atas aspal dengan tubuh dipenuhi memar. Mereka tampak sangat lelah, bahkan tidak bisa bangkit.
Jay sendiri berdiri tegak di tempatnya. Meski tidak memiliki luka yang berarti, tetapi dia juga berkeringat deras. Tampak cukup kelelahan.
Mengabaikan mereka, Ark menatap sosok Shani lalu bertanya.
"Sampai kapan kamu akan berdiri di sana? Apakah kamu takut? Apakah kamu bingung harus menyerang dari mana karena tidak memiliki kesempatan? Atau semuanya?"
Jay, Darin, Yonas, dan Vadim menatap ke arah Shani yang berdiri sambil memegang belati dengan ekspresi gugup. Bahkan ketika tidak melakukan apa-apa, dia berkeringat cukup deras.
"Jika tidak ingin tinggal, maka kembalilah."
Ucapan dingin Ark seperti saklar pemicu.
Sosok Shani langsung berlari ke arah Jay lalu menebas dengan canggung. Tentu saja, bisa dihindari Jay dengan mudahnya.
Sekali, dua kali, tiga kali, sepuluh kali, dua puluh kali ... berkali-kali tebasan dan tusukan dilancarkan. Namun hasilnya sama, dihindari oleh Jay dengan mudah.
Saat itu, suara dingin dan tegas Ark terdengar.
"JAY!!!"
Mendengar teriakan Ark, Jay yang awalnya bingung tiba-tiba menggertakkan gigi. Dia tampak enggan. Ketika melihat sosok Shani yang menyerang dengan ceroboh dan sudah kelelahan, pria itu menghindari serangan lalu memukul perut wanita itu dengan keras.
BRUK!
Shani yang memiliki tubuh lemah dibandingkan dengan tiga orang lain jatuh ke atas aspal. Dia jelas kesakitan, kelelahan, dan putus asa. Pada akhirnya ... benar-benar tidak bisa melakukan apa-apa.
Ark yang duduk di bawah pohon sambil menopang dagu menatap keempat orang itu. Memiliki ekspresi datar di wajahnya, pemuda itu membuka mulutnya.
"Tanyakan pada diri kalian sendiri."
"Apakah kalian layak untuk bergabung dengan Sword of Sufferings?"
>> Bersambung.
__ADS_1