
Satu hari kemudian, di markas Golden Maple Group.
Melihat banyak orang yang berkumpul untuk mengatur tim baru, Jay merasa agak rumit.
Kemarin dia telah melihat banyak orang dimakamkan. Meski kematian itu wajar, khususnya di dunia yang kacau ini. Namun melihat ekspresi sedih mereka yang kehilangan rekan-rekannya membuatnya merasa tidak nyaman.
“Apakah selalu seperti ini?”
Duduk di tempat penyimpanan ramuan sembari melihat Chelsea, Jay tidak bisa tidak bertanya.
“Apakah maksud anda upacara pemakaman, Tuan Muda?”
Chelsea memiringkan kepalanya. Menatap ke arah Jay yang linglung dengan ekspresi bingung.
“Ya.” Jay mengangguk berat.
“Sebenarnya tidak.” Chelsea menggelengkan kepalanya. “Sebenarnya, kami tidak sering melakukan upacara pemakaman.”
“Lalu kenapa upacara semacam itu dilakukan kemarin? Apakah karena ada petinggi yang mati dalam misi?”
“Tidak juga.” Sekali lagi Chelsea menggerlengkan kepalanya.
“Lalu kenapa?” tanya Jay.
“Bukan karena jabatan atau pangkatnya. Hanya saja, kami tidak selalu bisa membawa kembali tubuh rekan-rekan kami.
Kebanyakan anggota mati ketika berhadapan dengan zombie atau binatang bermutasi. Melawan makhluk-makhluk semacam itu, tubuh mereka tidak utuh. Bahkan sering kali ditelan oleh monster atau dihancurkan menjadi pasta daging.
Jika kondisi mereka utuh, terkadang jarak dari tempat itu ke markas utama sangat jauh. Jadi akhirnya terpaksa dikuburkan di tempat mereka mati. Bisa dibilang, hanya sedikit yang bisa kembali dan dimakamkan dengan cara layak.”
Mendengar itu, Jay kehilangan kata-kata. Dia mengerti apa yang dimaksud oleh Chelsea.
Bukan karena mereka tidak ingin melakukannya, tetapi karena kekuatan mereka tidak mengizinkan mereka melakukannya. Dihadapan lawan yang sangat kuat, mereka benar-benar tidak bisa melakukan apa-apa.
Hanya bisa menerima nasib seperti ayam potong di peternakan yang bisa saja diambil dan disembelih kapan saja.
‘Kehidupan semacam itu ...’
Memikirkannya saja membuat Jay merasa sangat tertekan. Dia sama sekali tidak menyangka kalau kehidupan ternyata begitu rapuh.
Bukan karena mereka tidak mau berusaha.
Bukan karena mereka tidak mau bertarung.
__ADS_1
Bukan karena mereka tidak mau berkembang.
Mereka hanya tidak bisa melakukannya.
Ya ... sesederhana itu.
‘Jadi ini yang Ark maksud kalau aku masih sangat beruntung dibandingkan orang-orang di luar sana.’
Memikirkan itu, Jay menghela napas panjang. Saat itu juga, dia mulai memikirkan apa yang selama ini dilakukannya.
‘Apakah apa yang aku lakukan ini benar?’
Pertanyaan semacam itu mulai muncul dalam kepala Jay. Pertanyaan tentang bagaimana hidupnya harus berjalan. Apa yang seharusnya dilakukan karena dia memiliki kekuatan.
Pada saat itu, Jay tiba-tiba memikirkan sosok Ark.
Menurut pemuda itu, di apocalypse ini, mereka hanyalah pembawa tongkat estafet. Tidak memegang tongkat itu untuk selamanya, tetapi memberikannya kepada generasi berikutnya. Memastikan kalau umat manusia bisa bertahan.
Walau ide Ark cukup ekstrem karena hanya ingin menyelamatkan orang-orang yang memenuhi kriteria, tetapi Jay yakin sahabatnya memegang kebenaran miliknya sendiri.
Membangun tempat, mengumpulkan orang, melatih mereka, menambah jumlah manusia. Apa yang dilakukan Ark selama ini sesuai dengan pandangan jangka panjang. Berbeda dengan apa yang dia dan orang-orang lain pikirkan.
Makanan? Air? Monster? Apakah bisa bertahan atau tidak?
Lelaki itu tidak hanya memikirkan dirinya, tetapi seluruh umat manusia. Hanya saja, dia menyerah untuk menyelamatkan semua orang dan memilih yang masuk dalam kategori ‘berguna’ untuk perkembangan umat manusia.
Walau kejam, Jay juga menyadari kalau dengan cara Ark, kemungkinan bertahan dan berkembang memang lebih besar daripada mengambil dan menampung semuanya secara acak. Hanya saja, pria itu bertanya-tanya ...
‘Apakah hati nuraninya terluka ketika dia tidak bisa menyelamatkan semua orang dan hanya bisa memilih apa yang diperlukan?’
‘Apakah dia menutupi semua perasaannya dan menyegelnya di balik ekspresi datar sedingin es di kutub utara itu?’
‘Jadi, selama ini kami hanya memandang dari sisi yang kami ketahui tanpa mempedulikan apa yang sebenarnya dia rasakan?’
Memikirkannya sahabatnya yang selalu membuat keputusan tegas dan kejam, Jay tiba-tiba merasa tertekan. Dia merasa bersalah sekaligus menyesal karena kurang menghargai apa yang dilakukan oleh pemuda itu.
‘Tentu saja, aku masih tidak menyukai bagaimana dia menggantung perasaan banyak perempuan.’
Memikirkan hal tersebut, Jay sekali lagi menggelengkan kepalanya.
Chelsea yang melihat Jay mengangguk dan menggeleng dengan linglung menahan senyum. Dia tidak tahu apa yang dipikirkan pria itu. Meski begitu, gadis itu tahu kalau Jay memikirkan hal penting, jadi tidak berniat untuk mengganggungnya.
Sekitar setengah jam kemudian, Jay baru tersadar.
__ADS_1
Menoleh ke arah Chelsea yang tersenyum kepadanya, pria itu langsung merasa sangat malu. Benar-benar sibuk melamun sendiri dan mengabaikan semua hal di sekitarnya.
“Uhuk! Uhuk! Maafkan ketidaksopananku, Chelsea.”
“Sama sekali bukan masalah, Tuan Muda.” Chelsea membalas lembut.
“Omong-omong, aku mendapatkan ide yang mungkin berguna.”
“Ide?” Chelsea memiringkan kepalanya.
“Aku tidak mungkin membantu kalian secara langsung, tetapi aku masih bisa membantu kalian dengan caraku sendiri.
Misalnya, karena kendala perjalanan, dua kelompok tidak bisa terus berdagang, aku bisa mempersingkatnya menjadi perdagangan satu minggu satu kali. Selain itu, aku juga melihat beberapa bahan di gudang yang Ark minati.
Daripada memiliki nilai penelitian kurang atau menjadi pajangan, bukankah lebih baik menukarnya dengan barang atau pengetahuan yang dibutuhkan terlebih dahulu?”
Mendengar ide Jay, mata Chelsea langsung berbinar. Bukan hanya karena bisa mendapatkan pengetahuan yang diinginkannya, tetapi gadis itu bisa sesekali keluar untuk bertemu Ark. Hanya saja, dia tampak agak lesu ketika memikirkan ketua dan wakil ketua Golden Maple Group.
Ide Jay sebenarnya cukup bagus, bahkan masuk akal. Hanya saja, orang tua Jay belum tentu menyetujui ide semacam itu. Itulah sebabnya dia merasa agak sedih. Lagipula, cara yang Jay berikan memang jauh lebih cepat untuk mengumpulkan kekuatan dan pengetahuan.
Tetap saja, tidak semua orang terbiasa dengan hal semacam itu. Merasa lebih baik menyimpan barang langka bahkan menganggapnya sebagai harta atau semacamnya padahal tidak bisa menggunakannya.
Di dunia yang begitu kacau ini, hidup beberapa hari lebih lama sudah dianggap anugerah. Cara berpikir seperti itu sama sekali tidak efektif untuk bertahan di dunia kacau ini. Lebih baik menggigit sesuai yang bisa digigit, mengenyangkan perut agar bisa berjalan ke depan dengan lancar.
Hanya saja, kebanyakan orang suka mencoba menggigit lebih dari yang bisa dia gigit. Pada akhirnya malah membuatnya tersedak sampai mati.
Bukan berakhir untung, tetapi malah buntung.
Meski tidak mengatakan apa yang dipikirkannya, Jay sedikit bisa menebak apa yang ada dalam kepala Chelsea. Pria itu kemudian tersenyum sambil berkata.
“Tenang saja, Chelsea. Aku akan mencoba meyakinkan ayah dan ibuku. Tindakan ini menguntungkan kedua belah pihak, seharusnya mereka setuju.”
“Benarkah?” tanya Chelsea penuh keraguan.
“Tentu saja benar.”
“Bagaimana kalau Tuan Ark tidak setuju? Meski menguntungkan, mengeluarkan secara berlebihan jelas kurang bermanfaat dalam hubungan jangka panjang kedua kelompok.”
“Tenang saja, Ark pasti mengerti apa yang aku maksud.”
Mendengar ucapan Jay, Chelsea mengangguk ringan. Dia kemudian membungkuk 45 derajat sambil berkata.
“Terima kasih atas bantuan anda untuk Golden Maple Group, Tuan Muda.”
__ADS_1
>> Bersambung.