Apocalypse Regression

Apocalypse Regression
Persahabatan dan Kekeluargaan


__ADS_3

Dalam kamar Brian.


“Jadi ... selama ini kamu benar-benar ditangkap oleh Crux of Shadow?”


Brian menatap ke arah Evans dengan heran. Meski rumor kalau pemuda itu ditangkap telah menyebar, tetapi kemunculannya jelas membuatnya berpikir kalau rumor tersebut ramah. Selain itu, kemungkinan selamat setelah ditangkap hampir mendekati nol.


“Kamu tidak berkomplot dengan mereka, kan?” tanya Brian dengan ekspresi curiga.”


“Jika aku berkomplot dengan mereka, aku tidak akan menemuimu. Sebaliknya, aku pasti akan melaporkan lokasi markas ini secara langsung.”


Mendengar pertanyaan bodoh temannya, Evans menggelengkan kepalanya. Dia sekarang duduk di ranjang. Pakaiannya telah diganti menjadi lebih baik dibandingkan sebelumnya. Selain itu, dia jelas terlihat lebih sehat dibandingkan saat dirinya dilepaskan. Jika Ark berada di sini, dia pasti akan terkejut karena ...


Saat ini Evans telah berada di puncak tingkat pertama! Bisa menembus tingkat ke dua kapan saja!


“Kamu benar.”


Brian menggelengkan kepalanya. Dia jelas mengenal sahabatnya sendiri. Meski dirinya penasaran dengan apa yang dialami oleh pemuda itu, tetapi tidak bertanya karena takut sahabatnya mengingat penyiksaan yang diterima. Brian tidak ingin Evans terus mengingat kejadian mengerikan itu dan merasa trauma, jadi dia memilih untuk diam.


“Omong-omong, bagaimana dengan Beatrice?” tanya Evans dengan ekspresi lembut di wajahnya.


Ekspresinya penuh kasih sayang sama sekali tidak bisa disembunyikan dari wajah itu. Jelas, gadis bernama Beatrice memiliki hubungan yang baik dengan Evans. Hanya saja, ekspresi Brian langsung berubah ketika mendengar ucapan sahabatnya.


Dengan kekuatannya saat ini, Evans jelas bisa melihat perubahan ekspresi pada wajah sahabatnya. Pada saat itu juga, hatinya tiba-tiba merasa tenggelam.


“Apakah ada sesuatu yang buruk terjadi padan Beatrice, Brian?”


“...”


Evans merasa marah ketika melihat sahabatnya diam. Dia langsung menghampirinya dan menarik kerahnya. Dengan tatapan dingin, pemuda itu bertanya.


“Katakan padaku, Brian! Apa yang terjadi pada Beatrice?! Apakah dia ... mati?”


Brian diam sejenak. Setelah beberapa waktu, dia menghela napas panjang dan berkata.


“Lebih baik kamu melupakan gadis itu, Evans.”


“Bisa-bisanya kamu mengatakan hal semacam itu, Brian!” teriak Evans marah.


Bukannya takut, Brian langsung mendorong Evans pergi. Dia menunjuk tepat ke wajah sahabatnya sambil berkata dengan ekspresi serius.

__ADS_1


“Kamu sama sekali tidak perlu mencarinya! Dia mengkhianatimu, Evans! Beatrice sama sekali bukan gadis sebaik yang kamu pikirkan!”


Perkataan Brian jelas membuat Evans tertegun sejenak. Ekspresinya langsung berubah menjadi gelap karena marah. Dia kemudian langsung berjalan ke arah sahabatnya tersebut lalu memukulnya dengan keras.


BRUAK!


“Bahkan jika kamu sahabatku, kamu tidak bisa mencemarkan nama baik Beatrice begitu saja, Brian! Aku akan mencarinya!”


Brian berusaha bangkit. Dia merasa kesakitan. Benar-benar tidak menyangka kalau pukulan Evans menjadi semakin kuat. Melihat sahabatnya pergi meninggalkan ruangan, ekspresi khawatir muncul di wajah Brian. Pemuda itu akhirnya memaksakan diri untuk bangkit dan menyusul Evans.


“Tunggu! Evans!”


Setelah beberapa waktu, Brian akhirnya melihat sosok Evans yang terhenti. Pria itu berdiri dalam diam sambil melihat ke tempat orang-orang yang biasanya berkumpul dan beristirahat di sana. Pandangan Evans jelas mengarah ke satu titik. Sama sekali tidak pernah berpaling dari arah tersebut.


Di sana, tampak banyak orang yang duduk di sofa. Terlihat sosok lelaki yang tampak sangat mencolok di antara mereka semua. Selain penampilannya yang tinggi, kekar, dan ganas ... dia sangat mencolok dibandingkan dengan orang lain karena banyak gadis di dekatnya. Salah satunya adalah gadis muda dengan rambut pirang panjang bergelombang. Dia memiliki paras cantik dan tubuh layaknya model.


Gadis itu sekarang sedang bertingkah seperti kucing manja dalam dekapan pria tersebut. Dia hampir tidak mengenakan apa-apa, tertawa dan menampilkan senyum menggoda ke arah pria tersebut.


Ya ... itu adalah kekasih. Tidak! Mantan kekasih Evans, Beatrice!


“Paul! Orang itu-“


“Kamu tidak perlu melakukannya, Evans! Sejak awal aku sudah mengatakannya, tetapi kamu tidak percaya. Sekarang, kamu melihatnya dengan mata kepalamu sendiri. Jadi ...


Semua ini sudah cukup, Kawan!”


Mendengar ucapan Brian, tangan Evans yang sebelumnya mengepal erat akhirnya menjadi lembih kendur. Dia menarik napas dalam-dalam. Pemuda itu kemudian menoleh ke arah sahabatnya. Menampilkan ekspresi menyedihkan dengan senyum dipaksakan di wajahnya.


“Brian-“


“Tidak apa-apa, Kawan. Tidak apa-apa.”


Brian terus menepuk lembut pundak sahabatnya. Saat itu juga, dia tahu pemuda cerdas dan baik hati tersebut benar-benar merasa hancur. Kehilangan semangat dan harapannya.


***


Sementara itu, di markas cabang Sword of Sufferings.


Di ruang santai, Ark duduk di sofa dengan tenang. Hanya saja, ekspresinya agak berubah-ubah karena sekarang dia tidak duduk sendiri. Di sisi kiri dan kanannya, ada Kurona dan Shirona yang bersandar dan memeluknya seperti koala memeluk pohon.

__ADS_1


“Apakah kalian sudah selesai? Kalian bukan lagi anak kecil, Kurona, Shirona.”


“Tentu saja belum Senior. Kami belum selesai mengisi energi.”


“Kurona benar, Senior. Kami belum selesai mengisi energi.”


“...”


Mendengar keduanya, Ark benar-benar merasa tidak berdaya. Keduanya jelas sangat setia kepadanya sampai-sampai terlalu bergantung kepada dirinya. Meski itu bukan sesuatu yang buruk bagi dirinya, tetapi juga ada beberapa hal yang agak sulit dilakukan.


Sama seperti sekarang, karena tidak ingin berpisah untuk menjalankan misi, keduanya ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersama. Ark meminta keduanya untuk mengawal barang-barang yang harus dikirim ke markas utama. Hanya saja, keduanya merasa enggan berpisah.


Meski cukup romantis, tetapi Ark bisa melihat sikap kekanak-kanakan mereka. Mengingat asal mereka membuatnya tidak tega untuk memperlakukan mereka dengan buruk. Dia pernah menelantarkan mereka berdua, dan pemuda tersebut tidak ingin kejadian semacam itu kembali terjadi.


“Lakukan sesuka kalian.” Ark berkata dengan ekspresi datar.


“Hehehe~”


Keduanya meringkuk seperti kucing, bersandar pada Ark sambil memejamkan mata. Tampaknya keduanya benar-benar sangat menikmati waktu kebersamaan mereka dengan Ark.


“Senior?” panggil Kurona.


“Iya?”


“Kita tidak akan lagi berpisah seperti sebelumnya, kan?”


Mendengar pertanyaan tersebut, Ark sedikit terkejut. Dia kemudian melihat ke arah Kurona dan Shirona yang menatapnya dengan tatapan sedih, tampak seperti anak kucing yang tidak ingin ditinggalkan. Pada saat itu juga, Ark langsung mengingat pertama kali dia menemui mereka.


Ark kemudian menyentuh kepala dua gadis itu lalu mengelusnya perlahan.


“Aku tidak akan meninggalkan kalian lagi.”


Perkataan tulus dan lembut dari mulut Ark membuat kedua gadis itu terkejut. Air mata langsung tumpah dari mata mereka. Dengan senyum bahagia, keduanya menggosokkan pipi mereka ke pipi Ark.


“Maukah kamu berjanji, Senior?” tanya Shirona.


Ark tersenyum lembut. Keduanya sudah seperti keluarga baginya. Mengecup lembut kening Kurona dan Shirona, dia kemudian berkata.


“Aku berjanji.”

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2