
Beberapa jam kemudian, dalam markas sementara Sword of Sufferings.
“Apakah kakak belum kembali?” tanya Evans.
Pemuda itu merasa agak cemas. Dia tidak menyangka kalau wanita itu benar-benar sangat kuat dan bisa bertarung melawan kakaknya habis-habisan. Selain itu, Evans juga merasa bersalah atas banyaknya kematian.
Bukan karena orang-orang yang dia bunuh secara langsung, tetapi karena mereka yang dia tinggalkan dan apa yang terjadi pada kakaknya.
Evans tahu, alasan kenapa Crux of Shadow bisa melacak keberadaan markas jelas karena bunyi lonceng. Suara itu sangat keras dan pasti terdengar dari kejauhan. Jika tidak ada suara lonceng, mustahil bagi mereka yang mencari begitu lama tetapi tidak menemukan lokasi tiba-tiba menemukannya.
Itu berarti, entah Ark yang memilih untuk bersembunyi dan mengalihkan perhatian karena terluka. Bahkan ribuan orang tidak bersalah di markas Spirit of Fire yang mungkin telah dieksekusi ... itu adalah kesalahannya.
Evans duduk dengan ekspresi lesu. Dia tampaknya merasa kesakitan, padahal tidak ada bekas luka mengerikan di tubuhnya.
“Ketua belum kembali. Namun, Evans ... apakah kamu yakin tidak memiliki kakak perempuan?”
“Apa maksudmu, Mr Draco?”
“Penampilan dingin, kekuatan, bahkan teknik itu benar-benar mirip dengan miliki Ketua. Aku merasa mereka terlalu mirip, jadi bertanya apakah mereka memiliki hubungan darah atau semacamnya?”
“Tidak.” Evans langsung menolak pernyataan itu. “Aku sama sekali tidak memiliki kakak perempuan. Setahuku, wanita itu adalah tokoh penting di Crux of Shadow. Namanya Silvia.”
“Dia adalah rekanku dari kelompok pembunuh sebelum apocalypse datang.”
Suara dingin terdengar. Semua orang menoleh dan mendapati Ark yang berjalan dengan tangan kanan dililit perban. Ekspresinya sedikit pucat, tetapi tidak tampak begitu parah.
“Ketua!” ucap mereka serempak.
“Aku baik-baik saja. Kalian tidak perlu khawatir.”
Setelah mengatakan itu, Ark langsung memilih tempat untuk duduk. Usai duduk bersandar, pemuda itu kemudian berkata dengan ekspresi datar di wajahnya.
“Soal keadaan orang yang tersisa, kamu tidak perlu khawatir. Menurut kesanku, Silvia sama sekali bukan orang yang suka membunuh untuk bersenang-senang. Dia hanya membunuh target yang ditandai. Wanita itu juga memiliki kebanggaan tinggi dan tidak suka mengambil trophy milik orang lain.
Selain itu, aku sudah mengirim pesan kepada Saito lewat Huginn dan Muninn. Setelah beberapa waktu, dia akan datang untuk memeriksa. Jika tidak ada masalah, pria itu akan membawa orang-orang itu dari sana, memberi tempat baru dimana mereka bisa bersembunyi dengan aman.”
“Saito?” tanya Evans.
__ADS_1
“Pria yang mengalahkanmu dengan mudah dan tanpa sengaja melukai Brian.”
“...”
Mendengar itu, Evans terdiam. Dia jelas mengingat orang itu. Anehnya, pemuda itu sama sekali tidak bisa menemukan Saito setelah dirinya bergabung dengan Sword of Sufferings.
Merasakan tatapan aneh dari adiknya, Ark berkata dengan nada tak acuh.
“Saito selalu aku kirim untuk melakukan tugas sendiri. Dia sangat handal dalam menyamar, keterampilan pedangnya juga sangat baik.”
Pada saat mendengar penjelasan kakaknya, Evans langsung memikirkan Brian. Sama seperti yang dikatan oleh kakaknya, sahabatnya juga cukup baik dalam penyamaran dan bertarung. Sangat disayangkan, kecerobohannya membuat Brian menjadi korban padahal tidak memiliki kesalahan.
“Apakah kamu tidak takut kalau dia akan mengalami kecelakaan, Kak?”
“Tidak. Aku dan dia telah membuat kesepakatan serta sama-sama bersiap untuk kemungkinan terburuk.
Saito sendiri tidak memiliki tugas yang mustahil dilakukan. Selain itu, jika terjadi sesuatu kepadanya, aku hanya bisa merelakannya. Kemudian cari alasan dia mengalami kecelakaan, balas dendam, dan rawat orang-orang yang disayanginya.
Tentu saja, kemungkinan seperti itu kurang dari 5%. Selain itu, aku juga tidak akan memintanya untuk melakukan misi yang terlalu berbahaya. Misinya pasti berada dalam kemampuannya, jadi aku merasa cukup tenang.”
“Maksudmu, kamu mempersiapkan semuanya dengan baik sebelum melakukan sesuatu, Kak?”
“Bukankah itu suatu hal yang seharusnya dilakukan oleh semua orang?” ucap Ark datar.
Memang, apa yang dikatakan Ark tidak salah. Hanya saja, tidak setiap orang begitu gigih untuk berlatih dan bersabar untuk menunggu. Juga, ada kasus dimana mereka tidak bisa menunggu karena didesak oleh waktu. Memikirkan semua itu, Evans menghela napas panjang.
“Omong-omong. Setelah beristirahat, kamu ikut aku ke atas, Evans.”
Mendengar perintah kakaknya, Evans hanya menatap dengan ekspresi bingung di wajahnya.
***
Beberapa waktu kemudian, di atap gedung.
Sosok Ark dan Evans duduk saling berhadapan. Evans menatap ke arah kakaknya dengan ekspresi penuh keraguan. Jarang sekali Ark memintanya untuk berbicara empat mata kecuali ada suatu hal penting menyangkut dengan dirinya. Jadi dia hanya menunggu kakaknya berbicara.
“Apa yang ingin kamu lakukan sekarang?” tanya Ark.
__ADS_1
Mendengar pertanyaan yang begitu tiba-tiba, Evans tertegun. Dia merasa agak bingung. Melihat ekspresi serius di wajah kakaknya, pemuda menjadi semakin tidak paham.
“Sejak kembali, kamu jelas bimbang. Bahkan jika kamu menyembunyikannya, sebagai kakak, tentu saja aku bisa melihatnya.”
“...”
“Katakan saja. Selama bisa membantu, aku akan melakukan sesuatu.”
Melihat betapa seriusnya kakaknya, Evans menarik napas dalam-dalam. Pada awalnya dia ingin memendam dan mengubur semuanya. Namun setelah melihat Ark, dia akhirnya menggertakkan gigi lalu bertanya.
“Apakah kamu berencana untuk pindah atau membuka cabang di kota ini, Kak?”
“Kenapa kamu menanyakan itu? Aku sudah bilang kan, tujuan Sword of Sufferings ke sini adalah menghabisi Crux of Shadow.”
“Lalu bagaimana dengan orang-orang yang tidak bersalah? Seperti sisa Spirit of Fire, pasti para orang yang awalnya ditipu untuk memuja Crux of Shadow juga akan kehilangan tempat berlindung. Jika dibiarkan-“
“Biarkan mereka mengetahui seberapa penting mengembangkan kemampuan mereka sendiri.”
“TIDAK SEMUA ORANG SEPERTIMU, KAK ARCHIE!”
Melihat Evans yang tampak begitu emosional, Ark sedikit terkejut. Sejak kecil, adiknya sams sekali tidak berbicara dengan keras kepadanya. Melihat adiknya yang sedikit berubah, Ark memilih untuk mendengarkan.
“Jika mereka dibiarkan seperti itu, orang-orang itu akan saling memanjat menjadi kuat. Namun pada akhirnya pemenangnya adalah orang yang kejam dan berbakat. Jika tidak memiliki tujuan terarah sepertimu, kota akan menjadi lebih kacau. Ada juga kemungkinan Crux of Shadow lain akan tercipta. Mereka akan memperkuat diri dan menekan orang-orang biasa sehingga menganggap mereka sebagai makhluk yang lebih tinggi.
Aku ... aku tidak ingin melihat hal-hal semacam itu kembali terulang!”
Melihat ekspresi tulus di wajah adiknya, Ark memejamkan matanya lalu tersenyum. Pada saat itu, dia langsung mengerti apa yang terjadi di kehidupan sebelumnya. Meski adiknya agak payah dalam bersosialisasi, tetapi keberuntungannya cukup baik. Dia juga memiliki kelebihan, yaitu bisa beradaptasi dengan cepat.
Sebagai pemilik Black Slime pertama, mustahil baginya tidak bisa meloloskan diri dari serangan pasukan semut, kecuali ...
Pemuda itu memilih untuk melindungi orang-orang kota dan bertarung dengan para semut dan akhirnya gugur dalam pertempuran tersebut!
Berpikir kalau orang baik mati lebih cepat, Ark menggeleng ringan. Setelah menghela napas, pemuda itu membuka matanya lalu berkata.
“Kalau begitu jadilah api yang menerangi jalan mereka.”
>> Bersambung.
__ADS_1