Apocalypse Regression

Apocalypse Regression
Menggila Saja!


__ADS_3

Satu hari kemudian, di ruang bawah tanah markas Golden Crown.


“Sakit! Ini benar-benar menyakitkan!”


Berbaring di ranjang, Renal berteriak dengan ekspresi marah dan kesal di wajahnya. Bagian dada dan perutnya dililit oleh kain bersih yang dijadikan sebagai perban. Melihat pemandangan seperti itu, George menggelengkan kepalanya.


“Apa yang lucu, George?! Kamu benar-benar menjengkelkan! Kenapa kamu malah membawaku mundur! Aku belum selesai dengan iblis itu! Demi Dewi Kegelapan, aku harus menghapus makhluk itu dari dunia ini!”


“Jika tinggal di sana, mungkin kita yang akan mati, Nak. Sebaiknya kamu tenang dan coba memikirkannya dengan baik.”


Setelah mengatakan itu, George menepuk kepala Renal beberapa kali lalu pergi meninggalkan ruangan tersebut. Merasakan kepalanya ditepuk, pemuda itu berteriak marah.


“Jangan tepuk kepalaku, K-parat!”


Melihat ke arah George pergi, Renal tampak kesal. Saat mengingat perasaan tertekan ketika melawan Draco, pemuda itu menggertakkan gigi. Ekspresinya menjadi lebih kejam dan gila daripada sebelumnya. Menarik napas dalam-dalam, dia tertawa.


“Hahahaha! Lain kali! Lain kali kita bertemu, aku akan membunuhmu … Draco!”


***


Sementara itu, di markas cabang Sword of Sufferings.


“Mr Draco telah sadar, Tuan.”


Sosok Demonte yang baru saja masuk ke dalam ruangan langsung melapor kepada Ark. Sementara itu, pemuda berambut putih dan mata merah seperti rubi itu masih tampak tenang. Dia melirik ke arah Demonte sejenak sebelum berkata.


“Kamu boleh pergi.”


“Baik!” jawab Demonte tegas.


Melihat ke arah Demonte yang memberi hormat sebelum pergi, Ark mengangguk ringan. Dia kemudian mengalihkan pandangannya ke Saito yang berada di kantor.


“Aku sudah mendengar laporan terperinci darimu kemarin, Saito.


Musuh yang kuat kebanyakan dari mereka seperti para awakener level 2, ada dua pemimpin yang berada di level 3, dan mengenalkan diri sebagai anggota Crux of Shadow. Jumlah mereka 27 orang.


Selain itu, ada juga kelompok terkuat di kota ini, Golden Crown yang tampaknya memusuhi kita. Jumlah mereka lebih dari seribu, tetapi yang ikut dalam misi sebelumnya adalah 100 orang terbaik dari kelompok tersebut.


Aku sudah mengingatnya, jadi … apa yang kamu ingin laporkan?”


Melihat senyum di wajah Ark, Saito diam sejenak. Seolah memikirkan sesuatu, dia menarik napas dalam-dalam sebelum berkata.


“Saya di sini untuk meminta keringanan hukuman untuk Draco, Ketua.”


“Oh? Kenapa?”

__ADS_1


“Saya yang bertanggung jawab dalam misi ini. Saya gagal untuk melihat kekuatan musuh dan membuatnya dalam kondisi seperti itu. Jadi saya merasa harus bertanggung jawab dalam masalah ini.”


“Siapa yang bilang aku akan menghukum Draco?”


“En?” Saito menatap ke arah Ark dengan ekspresi terkejut. “Apakah anda tidak menghukumnya karena telah kehilangan kendali?”


“Draco sama sekali tidak melakukan sesuatu yang salah. Dia juga tidak membantai rekan atau orang-orang yang kita anggap tidak bersalah. Jadi … kenapa aku harus menghukumnya?”


“…”


Melihat ekspresi penuh kejutan di wajah Saito, Ark menambahkan.


“Tentu saja, aku akan melakukan sesuatu yang lain alih-alih menghukumnya.”


Setelah mengatakan itu, Ark bangkit dari kursinya. Dia berjalan keluar dari ruangan. Saat melewati Saito, pemuda itu menepuk pundak ahli pedang tersebut dengan lembut lalu pergi ke suatu tempat sebelum menuju ke tempat Draco dirawat.


Beberapa waktu kemudian, Ark sampai di ruangan Draco dirawat. Di sana, dia langsung melihat sosok Draco yang duduk di ranjang sambil menunduk. Jelas tampak jejak penyesalan di wajahnya. Pria itu kemudian mendongak, pada saat memandangnya, orang itu langsung menunjukkan senyum pahit.


“Ketua-“


“Kamu sama sekali tidak perlu mengatakan apa-apa karena aku telah mengetahui semuanya.”


“Dimengerti.” Draco mengangguk ringan.


“Bos! Draco-“


Ark memandang Leon dengan ekspresi datar, langsung membuat pria besar itu diam. Dia kemudian melihat ke arah Draco dan berkata.


“Kamu sudah baikan, jadi langsung ikuti aku.”


Setelah mengatakan itu, Ark berbalik pergi. Orang-orang dalam ruangan saling memandang dengan ekspresi bingung. Namun pada akhirnya mereka mengikuti Ark karena Draco juga langsung pergi mengikuti ketua dari kelompok Sword of Sufferings tersebut.


Setengah jam kemudian, mereka akhirnya sampai di sebuah lahan parkir luas tidak jauh dari markas cabang Sword of Sufferings. Di sana, Stacy, Kurona, dan Shirona telah menunggu.


“Stacy!”


Mendengar ucapan Ark, Stacy langsung melemparkan sebuah benda hitam ke arah sang ketua. Pemuda itu kemudian menangkapnya. Setelah itu, dia melemparnya tepat ke depan Draco.


Melihat tombak hitam yang menancap tepat di depannya, Draco tertegun.


“Bukankah akhir-akhir ini kamu sering mengamuk. Lalu mengamuklah sepuasnya. Biarkan aku melihat seberapa berbahaya itu.”


Mendengar perkataan tersebut, Draco menatap ke arah Ark dengan ekspresi bingung. Dia melihat pemuda itu sedang melipat lengan kemejanya ke atas. Sepasang mata bak rubi memandangnya dengan ekspresi tak acuh. Hal tersebut membuat Draco semakin ragu.


Draco melihat ke arah Ark, lalu ke arah para petinggi Sword of Sufferings yang menatapnya dengan ekspresi serius. Merasa tidak nyaman, dia akhirnya memberanikan diri untuk berkata.

__ADS_1


“Saya rasa kita tidak perlu-“


“DRACO!”


Suara dingin dan tegas langsung menembus telinga Draco.


“ANGKAT SENJATAMU DAN SERANG AKU!”


Melihat mata merah Ark, Draco mencabut tombak yang menancap di depannya. Menggertakkan gigi, dia langsung bergegas menuju ke arah Ark sambil berteriak.


***


Dua jam kemudian.


Lahan parkir yang awalnya datar dan bersih menjadi penuh dengan cekungan, retakan, dan puing yang berserakan di mana-mana. Pemandangan tersebut jelas bisa digambarkan sebagai kekacauan.


Di tengah lahan parkir, tampak sebuah cekungan besar. Di sana, sosok Draco yang penuh darah berbaring terlentang. Meski kondisinya parah, tetapi bukan kebencian atau kemarahan yang terlukis di wajahnya, tetapi malah ekspresi kebingungan.


“Apakah hanya seperti itu?”


Di samping Draco, Ark dengan pakaian berantakan dan berlumuran darah sedang berjongkok sambil menatap pria yang berbaring di depannya.


“Sebelumnya aku salah. Aku pikir hanya membuatmu memikirkan perasaan menjadi manusia itu sudah cukup. Aku benar-benar tidak menyangka di balik penampilanmu yang kejam, kamu sebenarnya adalah orang yang lembut, Draco.


Kamu ketakutan. Kamu takut jika kehilangan kendali, kamu akan melukai orang-orang yang tidak seharusnya kamu lukai, bahkan mungkin rekan-rekan atau sahabatmu sendiri. Namun, kamu tidak perlu memikirkan itu, karena …”


Ark menyeringai.


“Kamu lemah.”


Mendengar itu, Draco tertegun.


“Semakin kamu takut, semakin mudah kamu kehilangan kendali. Jadi selain mengingat perasaan menjadi manusia, tetaplah menjadi berani.


Sebelumnya kamu pasti takut kalau kamu akan melukai orang-orang tidak bersalah, melukai rekan-rekanmu, atau bahkan membunuh sahabatmu. Namun mulai sekarang, kamu tidak perlu memikirkan itu. Percayalah seperti apapun bentukmu, di hatimu, kamu masih manusia. Juga, kamu tidak perlu takut lagi.


Bahkan jika kamu mengamuk dan menjadi gila …”


Ark menepuk kepala pria itu dengan lembut, mengacak-acak rambutnya lalu tersenyum.


“Yakinlah kalau kami akan menghentikanmu, jadi buang rasa takutmu dan bawa kembali keberanianmu itu. Lagipula, kamu tidak sendiri. Ada kami di sini.”


Setelah mengatakan itu, Ark langsung bangkit. Melihat ke arah senja yang mewarnai langit dengan warna merah, dia kembali berkata.


“Mari pulang.”

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2