Apocalypse Regression

Apocalypse Regression
Tidak Sesederhana Kelihatannya


__ADS_3

Tiga hari kemudian.


Di siang hari yang begitu panas, Brian menyeka keringatnya. Sekarang dia berada di lokasi yang tidak begitu jauh dari markas utama Crux of Shadow. Tempat ini sebenarnya sangat berbahaya baginya karena jika sampai tertangkap, dia pasti akan berakhir dengan cara yang sangat buruk.


Meski sebenarnya takut, tetapi Brian tetap menggertakkan gigi untuk datang ke tempat ini. Alasan kenapa dia melakukannnya hanya untuk bertemu dengan Sword of Sufferings. Menurut tebakannya, kelompok itu cepat atau lambat akan pergi menuju markas Crux of Shadow entah untuk langsung menyerang atau sekadar memeriksa. Oleh karena itu, Brian memilih untuk menunggu di tempat dimana dirinya bisa melihat kedatangan Sword of Sufferings.


“Apakah sebaiknya aku beristirahat terlebih dahulu? Menurut pola, seharusnya Sword of Sufferings membuat gerakan di malam hari, kan?”


Brian menggosok matanya. Bukan hanya ekspresinya lebih pucat, tetapi dia juga tampak lebih kurus dan lelah. Dia tampaknya mengalami hari-hari sulit selama tiga hari ini. Lagipula, untuk seorang manusia biasa yang melakukan perjalanan selama tiga hari, itu memang bukan sesuatu yang mudah dilakukan.


Zombie paling biasa atau binatang bermutasi tingkat pertama sudah menjadi ancaman besar bagi mereka. Jadi bertahan hidup, apalagi sendiri sama sekali tidak mudah!


“Lebih baik menunggu beberapa hari lagi. Jika Sword of Sufferings memang tidak muncul, seharusnya mereka telah meninggalkan kota. Hanya datang untuk memperingatkan Crux of Shadow agar tidak membuat masalah di wilayah kekuasaan mereka.”


Brian bergumam pelan. Memilih tempat yang agak bersih tetapi juga agak tersembunyi, dia pun memejamkan mata untuk mengistirahatkan pikiran dan tubuhnya.


Malam harinya.


Membuka matanya, Brian melihat ke tempat yang begitu gelap lalu menghela napas lega. Meski tidur bukanlah suatu hal yang spesial, tetapi perilaku seperti itu mungkin mengundang bahaya. Bisa saja binatang buas atau zombie menyerang mereka dalam tidur. Jadi dia merasa lega dan bersyukur karena tidak ada hal buruk yang terjadi kepada dirinya.


Brian kemudian pergi ke jendela lalu mengeluarkan teleskop untuk melihat area sekitar. Meski cukup gelap, tetapi dia masih bisa melihat dengan bantuan cahaya bintang. Pada saat dia sibuk mencari, dia menggeleng ringan. Pria itu sama sekali tidak kecewa karena tidak melihat apa yang ingin dia lihat. Namun ekspresinya tiba-tiba berubah saat dirinya hendak menyimpan kembali teleskopnya.


Di atas gedung seberang jalan yang tingginya sama dengan gedung tempat dia berada, tampak dua belas orang berjubah. Satu orang berdiri di tepi gedung, dan sebelas orang berlutut di belakangnya. Saat Brian mencoba untuk memeriksa mereka lebih cermat, dia hanya bisa kecewa karena jarak pandang di malam hari terlalu buruk.


Saat itu, Brian tertegun sejenak. Sosok yang berdiri di tepi atap gedung menoleh ke arahnya. Ya, tepat ke arah dia berada. Sepasang mata merah yang indah sekaligus membuat kedinginan begitu mencolok dalam kegelapan menatap ke arahnya.


“Ini bohong, kan? Di malam hari, tidak mungkin mata manusia bisa melihat dalam jarak sejauh ini, kan? Aku saja tidak bisa melihatnya dengan jelas meski menggunakan teleskop.”

__ADS_1


Brian bergumam pelan. Menyadari kalau sosok dengan mata seperti rubi itu tidak lagi melihat ke arahnya, dia merasa lega. Brian kemudian melihat sebelas orang di belakang pria itu bangkit lalu pergi.


Saat itu juga, pemuda itu menjadi agak panik. Menggunakan teleskopnya, dia akhirnya melihat ke arah setiap lantai gedung seberang jalan. Namun setelah lebih dari dua puluh menit, dia sama sekali tidak bisa melihat apa-apa.


“Apa mungkin mereka beristirahat setelah perjalanan panjang? Apakah perasaan ditatap sebelumnya hanya khayalanku saja?”


“Apanya yang khayalan?”


Mendengar pertanyaan itu, bulu kuduk Brian langsung berdiri. Dia kemudian menoleh sambil menarik belati di pinggangnya. Namun saat dia memutar tubuhnya, pemuda itu merasakan sebuah tangan kuat mencekiknya lalu mengangkatnya tinggi.


Menahan rasa sakit, Brian melihat sosok berjubah hitam dan mengenakan topeng yang mencekiknya. Meski takut, dia juga merasa cukup bersemangat karena akhirnya bertemu dengan kelompok Sword of Sufferings yang datang seperti badai dan menghilang dengan tenang layaknya embusan angin.


“Dari penampilanmu, seharusnya kamu bukan anggota dari Crux of Shadow, kan?”


Mendengar pertanyaan itu, Brian ingin menjawab. Namun karena sedang dicekik, dia hanya bisa menggelengkan kepalanya. Memberi isyarat kalau dirinya sama sekali tidak ada hubungannya dengan Crux of Shadow.


Sosok berjubah itu langsung menjatuhkan dirinya. Brian yang jatuh sama sekali tidak memikirkan rasa sakitnya, tetapi lebih sibuk mengirup udara dengan rakus. Setelah beberapa saat, dia menjadi lebih tenang. Pemuda itu kemudian melihat ke depan dimana sosok berjubah hitam dengan sebuah tombak di pundaknya menatap dirinya dengan tenang.


Mendengar itu, Brian lebih terkejut. Pada saat itu juga, berbagai pertanyaan muncul dalam benaknya.


‘Tingkat satu? Apakah itu tingkat kekuatan menurut mereka? Itu berarti Crux of Shadow juga memiliki hal semacam itu?’


Mengingat berbagai kebencian dalam hatinya, Brian langsung berlutut di depan sosok berjubah hitam itu.


“Tolong izinkan saya untuk masuk ke dalam Sword of Sufferings, Tuan!”


“Hah?!”

__ADS_1


Sosok berjubah hitam itu tampak terkejut. Setelah beberapa saat, niat membunuh muncul darinya. Kemudian, suara dingin terucap dari mulutnya.


“Apakah kamu pikir ... Sword of Sufferings adalah kelompok yang akan menerima tikus dan kucing liar begitu saja?”


“En?”


Brian terkejut. Saat mendongak, dia langsung berkeringat deras saat melihat ujung tombak yang diarahkan ke lehernya. Jantungnya berdebar, dia merasa sangat gugup. Namun saat mengingat kematian anggota keluarganya, Brian berteriak dengan mata merah dan penuh tekad.


“AKU INGIN MEMBALAS DENDAM PADA CRUX OF SHADOW!”


***


Sementara itu, di atap gedung seberang jalan.


Ark berdiri di tepi gedung sambil memandang area sekitar. Pemuda itu memiliki ekspresi serius di balik topengnya.


‘Ada yang salah dengan area ini. Lebih tepatnya, area di sekitar markas utama Crux of Shadow.’


Mata Ark menyempit. Pada saat mengawasi sekitar, dia sama sekali tidak melihat makhluk lain, bahkan zombie atau tikus bermutasi yang begitu umum di area lain. Selain itu ...


‘Tempat ini terlalu sepi.’


Ark melihat ke arah kejauhan. Menurutnya, apa yang terjadi sekarang sama sekali tidak normal. Bahkan di sekitar markas utama Sword of Sufferings yang sering dibersihkan, pasti akan ada beberapa makhluk acak yang muncul. Sedangkan di tempat ini, tidak ada bekas pertempuran atau jejak permbersihan yang dilakukan secara berkala.


Seolah-olah ... memang tidak pernah ada pertempuran sekala besar di area sekitar tempat ini.


Melihat ke arah katerdral tua beberapa kilometer jauhnya yang dihiasi dengan beberapa obor dan tampak mencolok dari kejauhan, mata Ark menyipit.

__ADS_1


‘Orang-orang ini ... tidak sesederhana kelihatannya.’


>> Bersambung.


__ADS_2