Apocalypse Regression

Apocalypse Regression
Hanya Dua Pilihan


__ADS_3

Membuka matanya, Ark melihat pemandangan yang begitu familiar.


Perbukitan indah dengan sungai yang dialiri air jernih. Hutan rimbun di kejauhan dimana para burung bernyanyi. Padang rumput luas yang dipenuhi bunga liar berwarna warni. Sebuah desa terpencil yang damai dan indah.


Tempat itu adalah tempat yang pernah Ark kunjungi setelah kembali dari misi. Tempat itu juga tujuan yang pemuda inginkan setelah menyelesaikan semuanya. Tempat dimana dia bisa tinggal dengan tenang tanpa memikirkan banyak hal atau kembali melakukan kejahatan.


Di atas tanah lapang yang penuh dengan bunga, sosok gadis yang mengenakan gaun sederhana berdiri memunggunginya. Melihat sosok itu, Ark tanpa sadar ingin menghampirinya, tetapi tubuhnya tidak bisa dia gerakkan.


Pada saat dia bingung, marah, dan kesal karena rasa tidak berdaya … suara lembut terdengar di telinganya.


‘Mungkin saat tidak bisa melindungi, bekas luka di tubuhmu akan bertambah.’


‘Mungkin dalam kesunyian, suara teman-teman yang tak sempat kamu raih tangannya akan menggema dan merobek jiwa.’


‘Mungkin saat kamu sendiri dan kesepian, kamu akan terhenti karena beban yang kamu tahan selama ini.’


‘Mungkin saat kamu merasa lemah dan kesakita, kamu ingin menitikkan air mata.’


‘Mungkinkah kamu menahannya agar bisa tampak tegar?’


‘Atau kamu berusaha menyembunyikan rasa sakit itu dalam di balik topeng kebohongan?’


‘Aku rasa lelaki yang menangis bukanlah lelaki yang lemah. Lagipula, apa yang kamu anggap sebagai kelemahan …’


Sosok itu berbalik dengan senyum lembut di wajahnya.


‘Bukankah itu juga bagian dari menjadi manusia?’


Mengingat kenangan dari anak-anak, remaja, dewasa, apocalypse tiba … kematiannya. Ark berkali-kali merasakan perasaan tidak berdaya. Namun entah bagaimana, rasa sakit dan luka itu yang membuatnya terus menjadi lebih baik daripada sebelumnya.


Manusia mungkin sering membuat kesalahan dan jatuh berkali-kali. Namun ketika dia bangkit dan menerima lukanya …


Orang itu pasti bisa melangkah ke depan dan menjadi lebih baik daripada sebelumnya!


Pada saat Ark merasa jantungnya berdebar kencang, pemuda itu tiba-tiba terbangun dari mimpinya. Duduk bersandar pada tubuh Finn yang berbaring di belakangnya lalu melihat Huginn dan Muninn yang bertengger di atas pohon mawar bermutasi, dia mengusap sedikit air mata di sudut matanya.


Melihat ke arah nisan yang tampak sederhanda, senyum lembut muncul di wajah Ark.

__ADS_1


“Aku tidak tahu apakah roh itu memang ada dan apakah kamu benar-benar datang menemuiku. Namun aku pasti telah melihatmu dalam mimpiku. Meski menyebalkan untuk mengakui ketidakberdayaanku. Namun …


Terima kasih telah membantuku.”


Ark kemudian bangkit. Menatap ke arah nisan itu, dia menyentuh kalung safir yang mengantung di lehernya.


“Meski tidak bisa kita wujudkan, mimpi yang kita gambar bersama bersama tidak akan pudar.”


“Aku juga tidak akan lagi mencoba melupakan perpisahan ataupun rasa sakit.”


“Terima kasih karena telah membuatku tidak takut lagi.”


“Terima kasih karena telah membuatku berjalan lagi.”


Ark membungkuk sopan. Setelah kembali menegakkan tubuhnya, pemuda itu menampilkan senyum lembut dan tuluh di wajahnya.


“Sampai jumpa lagi, Anya.”


***


Tiga hari kemudian.


Melihat dirinya sendiri pada cermin, Ark tidak bisa tidak menghela napas panjang. Dia mengakui kalau kemampuan dari kraken dalam beregenerasi benar-benar sangat keterlaluan.


Setelah keluar dari kamar dan turun ke lantai pertama, Ark kemudian sarapan bersama orang-orang. Hanya saja, Kurona dan Shirona masih memerlukan waktu untuk pulih dan tidak bisa ikut. Jay juga sama. Meski sudah bangun, pria itu harus tinggal di rumah dan tidak melakukan hal-hal berat sebelum lukanya sembuh total.


Melihat bagaimana Jay tampak senang karena dirawat dan dimanja oleh Mona, Ark sangat yakin kalau pria itu baik-baik saja!


Setelah sarapan, Ark langsung berganti pakaian lalu bersiap-siap. Hari ini dia akan pergi ke markas utama Silver Cross. Pemuda itu bahkan juga mengundang Joseph dan Siegfried ke sana. Dia mengirimkan pesan lewat Huginn dan Muninn.


Ark merasa kalau semuanya harus diperjelas. Jika tidak, banyak hal akan berantakan ketika saat waktunya tiba. Jadi, pemuda itu pun berangkat bersama beberapa rekannya menuju ke markas Silver Cross.


Usai perjalanan cukup lama, mereka akhirnya tiba di markas Silver Cross.


Melihat kedatangan Ark, semua orang tampak terkejut. Mereka semua berpikir kalau pemuda itu sebelumnya telah ditumbangkan dan tidak bisa bangkit. Bahkan beberapa orang berpikir kalau Hades yang terkenal telah mati setelah melawan monster yang sangat kuat. Namun mereka semua salah karena Hades sekali lagi muncul di depan mereka.


“Senang melihatmu baik-baik saja, Hades.” Joseph berkata dengan senyum di wajahnya.

__ADS_1


“Aku tidak menyangka ada waktu dimana kamu benar-benar bisa dikalahkan,” tambah Julian.


“Tampaknya kalian tidak terkejut melihat aku selamat?”


Mendengar pertanyaan Ark, keduanya saling memandang seolah sedang bertanya apakah pemuda itu bercanda. Melihat itu, Ark sendiri tidak tahu apakah harus sedih atau bahagia. Jelas, mereka berdua percaya dengan kekuatannya, dan itu bukanlah hal yang buruk. Hanya saja, mereka tampaknya berpikir kalau tidak ada makhluk yang terlalu kuat di luar sana untuk membunuhnya.


Padahal itu salah besar!


“Bagaimana kalau kita masuk dan berbicara?” ucap Julian.


“Baik.” Ark mengangguk ringan.


Setelah semua orang masuk, Ark langsung pergi ke ruang rapat sementara para anggota kelompoknya tinggal untuk beristirahat. Di ruang rapat, hanya ada enam orang yang tinggal, dua per kelompok. Mereka adalah Ark dan Lisa dari Sword of Sufferings. Julian dan Berto dari Silver Cross. Joseph dan Siegfried dari Black Panther.


“Jadi apa yang ingin kamu bicarakan sampai harus berkumpul bersama seperti ini, Ark?”


“Tentu saja aku harus memberitahukan hal yang sangat penting, Julian.” Ark mengangkat bahu.


“Ada apa?” tanya Joseph dengan ekspresi serius.


“Kalian hanya mengetahui kalau aku dan beberapa anggota inti Sword of Sufferings dikalahkan. Jadi sebelum membahas topik yang lebih berat, aku akan menceritakan apa yang terjadi terlebih dahulu.”


Semua orang saling memandang lalu mengangguk. Saat itu, Ark mulai bercerita.


Mendengarkan cerita pemuda itu dan bagaimana cara menggambarkannya membuat semua orang kecuali Lisa mengerutkan kening. Lisa sendiri tahu kalau cerita Ark sedikit dibuat-buat, tetapi hal tersebut tidak membuatnya lebih buruk. Sebaliknya, meski kurang fokus pada titik pertarungan mereka dengan Raja Semut, Ark menyorot tentang semut-semut lain. Baik itu bentuk sarang dan perkiraan jumlah semut di dalamnya.


“Jadi maksudmu … Raja Semut itu sangat kuat sampai kalian berempat tidak bisa mengalahkannya?” tanya Julian dengan ekspresi tidak percaya.


“Menyebalkan untuk mengakuinya. Namun begitulah kenyataannya.” Ark mengangguk.


“Ada yang lebih penting. Hades berkata kalau pasukan semut bisa berkembang dengan cepat. Jika kita membiarkan mereka terus mengambil sumber daya, makhluk-makhluk itu pasti akan memusnahkan kota ini cepat atau lambat. Bahkan bisa memusnahkan kota-kota di sekitarnya setelah ini.” Joseph fokus ke titik lain.


Pada saat itu, mereka berdua mulai berdebat. Ark kemudian pura-pura batuk lalu berkata dengan tenang.


“Sebenarnya, kita hanya memiliki dua pilihan.”


Mendengar itu, Joseph dan Julian langsung menatap ke arah Ark.

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2