Apocalypse Regression

Apocalypse Regression
Menunjukkan Taring Mereka Pada Dunia


__ADS_3

Di lokasi Stacy dan Violet Sword menghadang Imperial Tiger.


"Sebenarnya ... kalian itu apa?"


Zander menutup mata kirinya dengan tangan. Aliran darah membasahi tangannya. Ekspresi kesakitan, kemarahan, dan keterkejutan tercampur di wajah pria paruh baya tersebut.


Di sekitar Zander, tampak banyak potongan tubuh. Entah itu kepala, tangan, kaki, atau bahkan organ dalam yang berceceran. Area tersebut dipenuhi dengan mayat dan darah. Bau amis dan busuk menyebar di udara, jika dibiarkan, mungkin saja akan menarik para binatang buas atau zombie yang mencari mangsa.


Dari banyaknya orang yang dibawa Zander, apa yang tersisa di belakang kurang dari seratus orang. Ekspresi ragu dan takut tampak di wajah mereka. Orang-orang itu merasa sedang dalam mimpi buruk tetapi tak bisa terbangun.


Di sisi lain, tampak Stacy dan anggota Violet Sword yang masih utuh. Pedang pendek di tangan mereka penuh dengan darah. Sedikit cipratan darah juga tampak di jubah atau topeng mereka.


Debby, Black Doberman raksasa itu sendiri tampak mengerikan. Dia menggeram dengan mulut penuh darah, beberapa luka goresan tampak di tubuhnya, tetapi sama sekali tidak ada luka serius. Tampaknya dia tidak merasa kesakitan, hanya terus-terusan menatap Zander dan bawahannya. Siap untuk menyerang lagi jika diperlukan.


Menghadapi pertanyaan Zander, Stacy memiringkan kepalanya.


"Bukankah jawabannya sudah jelas? Kami ... manusia."


"JANGAN BERCANDA! TIDAK MUNGKIN MANUSIA BISA MELAKUKAN SEMACAM ITU!"


Zander berteriak marah. Jelas, cara bertarung Stacy dan rekan-rekan wanita itu terlalu berlebihan. Baik kekuatan atau kecepatan mereka jelas bukan sesuatu yang bisa dicapai oleh manusia. Lebih mirip dengan manusia super dalam komik atau cerita-cerita fiksi!


'Apakah mereka memang manusia super? Jika benar, bukankah seharusnya yang 'terbangun' hanya beberapa orang? Kenapa mereka semua bisa begitu kuat?'


Berbagai pertanyaan muncul dalam benak Zander. Sebelum pria itu mencerna segalanya, suara dingin menyela.


"Jadi ... katakan pilihan Imperial Tiger sekarang. Terus maju, atau memilih mundur?"


Stacy berkata dengan nada datar, tampaknya tidak begitu peduli dengan kehidupan dan kematian orang-orang Imperial Tiger.


Zander menatap ke arah Stacy lekat-lekat. Dia merasa marah dan benci, tetapi merasa tidak berdaya dan hanya bisa menggertakkan gigi. Menarik napas dalam-dalam, dia kemudian berkata.


"Imperial Tiger akan menarik diri dari masalah ini!"


***


Di lokasi Darin, rekannya, dan orang-orang Silver Hunter yang menghadang Third Scars.


BRUK!!!


Sosok Viper terpental dan berguling-guling di atas aspal yang dipenuhi darah. Pria itu bangkit lalu melirik sekitar. Melihat banyak anak buahnya mati, ekspresinya berubah menjadi lebih buruk. Dia kemudian menatap ke arah pria yang berjalan ke arahnya.


Melihat sosok bertopeng dan mengenakan jubah sambil membawa tombak, Viper tersenyum.

__ADS_1


"Jadi kamu Charon, kah? Bukankah itu nama sosok yang membawa kapal ke alam bawah?


Dengan kekuatan seperti itu, kenapa kamu hanya menjadi pesuruh? Daripada menjadi bawahan yang bahkan tidak diingat banyak orang, ada hal lebih baik yang bisa kamu lakukan.


Bergabunglah dengan Third Scars dan aku akan memberimu tempat tetua. Kamu memiliki hak yang sama dengan ketua, makanan, kekayaan, wanita ... kamu bisa mendapatkan semuanya. Orang sepertimu sama sekali tidak perlu bekerja keras, apalagi menjadi kusir yang tidak penting. Bergabunglah denganku, tentu saja teman-temanmu juga bisa ikut. Apa yang aku tawarkan pasti tidak akan mengecewakan kalian."


"Apakah kamu sudah selesai?" tanya Darin dengan nada dingin.


"Kamu ... Kenapa kamu memilih menjadi seperti itu padahal kamu bisa mendapatkan lebih?! Ada yang salah di kepalamu!" teriak Viper dengan ekspresi marah.


Darin masih tidak peduli. Dia menatap ke arah Viper dengan tatapan tak acuh. Melihat banyak anggota Third Scars yang terbunuh, dia kemudian berkata.


"Kembalilah ke tempat asalmu."


"Hah???" Mata Viper terbelalak, pria itu tampak terkejut karena apa yang dia dengar.


Saat itu juga, suara penuh amarah dan ketidakpuasan terdengar.


"Apa maksud ucapanmu, Charon?! B-jingan ini telah membuat banyak kekacauan! Mana mungkin kita melepaskannya!" teriak Berto.


Darin mengabaikan Berto dan terus menatap ke arah Viper.


"Tarik pasukanmu dan kembali ke tempat asalmu."


Berto berlari ke depan, bergegas ke arah Viper dengan tegas. Berniat untuk membunuh penjahat itu dengan tangannya sendiri!


Klang!


Sosok Berto terpental mundur beberapa meter. Tangannya yang memegang pedang gemetar karena dampaknya. Dia kemudian melihat ke arah Darin yang menghalanginya. Ekspresinya langsung berubah menjadi lebih buruk.


"Apa yang kamu lakukan, Charon?! Apakah kamu benar-benar akan membiarkan B-jingan itu pergi?!" teriak Berto.


"Aku hanya menjalankan misi," jawab Darin.


"Jangan bilang ... Dark Caravan memiliki hubungan dengan Third Scars?! Kelompokmu benar-benar membuat kesepakatan dengan para b-jingan itu?!"


"Tentu saja tidak."


"LALU KENAPA?!!"


"..."


Sementara Darin dan Berto berdebat, Viper langsung melarikan diri sambil memberi perintah.

__ADS_1


"THIRD SCARS ... RETREAT!!!"


Melihat itu, Berto juga memberi perintah.


"Hentikan mereka untukku!"


Mengikuti ucapan Berto, banyak anggota Silver Cross yang mulai mengejar. Namun saat itu, suara Darin kembali terdengar.


"Yonas ... Vadim ... jangan biarkan mereka lewat."


Yonas dan Vadim langsung menghadang jalan, membuat anggota Silver Cross tidak berani lewat begitu saja. Setelah bertempur bersama, mereka semua mengerti betapa mengerikannya para anggota Dark Caravan. Jadi mereka tidak berani ceroboh, buru-buru pergi mencari kematian.


Melihat ke arah Darin dan dua rekannya yang menghadang jalan, ekspresi Berto menjadi semakin gelap. Menggertakkan gigi, pria itu berkata,


"Dark Caravan ... Sebenarnya apa yang kalian inginkan ..."


Mendengarkan ucapan Berto, Darin diam sejenak. Setelah beberapa saat, dia kemudian membuka mulutnya.


"Itu bukanlah sesuatu yang perlu kalian pusingkan."


***


Di markas Black Panther.


Dalam ruang persembunyian yang gelap, suara datar menitik terdengar di ruang sunyi. Hampir seluruh ruangan basah dengan darah. Darah dan potongan organ mewarnai lantai dan keempat sisi dinding, bahkan ada banyak cipratan noda di langit-langit.


Pada dinding, tampak beberapa mayat yang dipaku ke dinding sambil digantung secara terbalik. Mayat-mayat itu hampir tidak bisa dikenali karena beberapa bagian tubuhnya dipotong, sementara sisanya dipenuhi dengan luka. Namun dari sisa pakaian, identitas mereka masih bisa diketahui ...


Mereka adalah para tetua Black Panther!


Di sudut ruangan, tampak beberapa wanita tanpa mengenakan sehelai benang di tubuh mereka. Tubuh mereka dilapisi dengan darah. Mereka semua terus meringkuk bersama-sama dan menggigil ketakutan. Tatapan mereka terus tertuju pada sosok bertopeng dan jubah hitam yang bersandar di sofa. Darah terus menitik dari jubahnya yang basah kuyup.


Para wanita itu awalnya adalah mainan para tetua. Namun saat para tetua itu terpojok, wanita-wanita itu dijadikan sandera. Namun saat sosok berjubah hitam masuk ke dalam ruangan, dia sama sekali tidak peduli dengan sandera dan langsung maju ke depan. Membuat salah satu wanita mati.


Saat itu juga, sisa sandera dibiarkan dan para tetua mencoba melarikan diri. Hanya saja, mereka semua ditangkap lalu digantung terbalik pada dinding. Disiksa untuk mencari informasi sebelum dibunuh oleh sosok berjubah hitam itu.


Ya ... disiksa dan dibunuh tepat di depan mata para wanita (sandera) tersebut.


Sosok berjubah hitam itu masih bersandar di sofa yang basah. Dia menatap ke arah pintu yang sedikit terbuka kemudian berkata.


"Akan aku serahkan sisanya kepadamu."


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2