Apocalypse Regression

Apocalypse Regression
Zona Merah


__ADS_3

Keesokan harinya.


Dalam kereta yang ditarik oleh Debby, Ark duduk bersama Stacy, Natasha, dan Lisa. Sedangkan Darin duduk di kursi kusir.


Sebenarnya Ark tidak berniat untuk membawa Lisa, tapi gadis itu bersikeras ikut. Dia berkata akan pergi kemanapun Debby pergi. Karena pada awalnya Debby memang milik Lisa, Ark akhirnya menyetujuinya.


"Hey, Ketua. Aku masih tidak mengerti." Lisa berkata dengan ekspresi bingung.


"Ada apa?"


"Bukankah taman kota sekarang ditandai sebagai zona merah dan sangat berbahaya? Kenapa kita pergi ke sana?"


Zona merah, tempat berbahaya yang akhirnya diumumkan karena terjadinya pengurangan jumlah manusia akhir-akhir ini. Banyak orang terbunuh ketika menjelajahi tempat yang sekarang dijadikan sebagai zona merah.


Di kota ini, ada beberapa zona merah yaitu taman kota, kebun binatang, aquarium raksasa, rumah sakit pusat kota, pusat perbelanjaan pusat kota, raven tower, dan perumahan elit.


Taman kota bisa dibilang sarang serangga. Kebun binatang rumah bagi para binatang buas bermutasi. Aquarium raksasa juga sama. Untung saja, binatang-binatang dari ketiga tempat tersebut belum keluar. Atau lebih tepatnya, hanya berkeliling di area sekitarnya saja. Jika tidak, orang-orang akan menghadapi banyak masalah.


Rumah sakit dan pusat perbelanjaan bisa dibilang sarang zombie paling besar di kota. Memiliki jumlah zombie sangat banyak sehingga orang-orang tidak bisa menghitung jumlah pastinya. Namun Ark yakin, pasti ada banyak zombie spesial di sana.


Raven tower. Sebenarnya ini adalah nama baru. Sebelumnya, tempat ini adalah sebuah gedung tertinggi di kota. Namun saat ini menjadi sarang puluhan ... ratusan ribu gagak bermutasi. Dengan jarak beberapa kilometer dari sana, kita bisa melihat banyak gagak dengan ukuran paling kecil sebesar elang terbang memenuhi langit.


Pemandangan yang menakjubkan sekaligus mengerikan karena makhluk-makhluk itu bisa menghabisi banyak manusia dengan mudah.


Sedangkan perumahan elit sebenarnya adalah markas Sword of Sufferings. Hanya saja, banyak orang yang lewat merasakan kejanggalan karena tempat itu sangat sunyi. Hanya ada lolongan serigala atau suara ledakan yang muncul sesekali dari sana. Membuat banyak orang percaya tempat itu adalah sarang monster.


Imperial Tiger beberapa kali mengirimkan orang untuk masuk ke area perumahan, tetapi tidak ada yang kembali. Tentu saja, itu karena Ark dan rekan-rekannya menghabisi mereka. Kelompok lain seperti Silver Cross dan Black Panther ingin mencobanya, tetapi mereka berhenti setelah mereka membeli informasi dari Dark Caravan kalau tempat itu memang berbahaya. Pada akhirnya, hal tersebut membuat rumor kalau perumahan elit adalah sarang monster semakin menyebar luas.


Pada akhirnya, perumahan elit menjadi salah satu zona merah!


Tentu saja, ini hal yang Ark inginkan. Bahkan dia berterima kasih dalam lubuk hatinya kepada orang pertama yang menyebarkan rumor aneh tersebut. Setidaknya, perkembangan Sword of Sufferings saat ini menjadi lebih lancar.


Ark melihat ke arah Lisa yang tampak kebingungan.


"Tempat itu memang berbahaya bagi orang-orang normal. Namun, apakah kamu pikir kita semua masih normal?


Bahkan jika tempat itu masih berbahaya, setidaknya kita bisa melarikan diri. Tentu saja, saat ini kita hanya akan menjelajahi taman kota. Zona merah lain? Sebaiknya kamu tidak memikirkannya."

__ADS_1


Pada saat itu, tiba-tiba kereta berhenti.


"Ada apa, Darin?"


"Debby berhenti karena ada yang menghadang kita, Ketua. Tampaknya, kita akan kerepotan."


Mendengar itu, Ark pergi ke luar untuk melihat. Saat itu juga, ekspresinya berubah.


Di depan mereka, ada tiang lampu lalulintas. Di atas lampu lalulintas, tampak sosok primata seukuran manusia dengan tubuh tertutup bulu putih. Dia memiliki ekor panjang yang berayun ringan.


Makhluk tersebut duduk santai di atas sana. Di tangannya, dia memegang sebuah benda bulat. Dia menggali ke dalam benda itu lalu mengeluarkan segenggam zat berwarna putih dengan sedikit warna merah muda. Setelah memakannya, makhluk tersebut menunjukkan ekspresi penuh kenikmatan di wajahnya.


Di bawah tiang lampu lalulintas, tampak beberapa tubuh manusia. Tubuh mereka patah dan bengkok dengan cara aneh. Namun ada satu kesamaan, kepala mereka terputus dari leher. Juga, tampak lubang di tengkorak mereka. Zat semi cair berwarna putih dan merah muda terciprat ke mana-mana. Membuat orang ingin muntah ketika melihatnya.


Ketika Stacy, Natasha, dan Lisa keluar. Ekspresi mereka langsung berubah ketika melihat pemandangan di depan mata mereka.


"Aku lihat kamu belum menemukan Miracle Root yang cocok denganmu, Darin."


Mendengar ucapan Ark, ekspresi Darin berubah.


"Kera putih ini tampaknya telah mencapai level dua. Bukan hanya terlihat kuat, tetapi tampaknya cocok untukmu."


Tentu saja, Ark sebenarnya mengetahui apa skill yang dimiliki kera mutan tersebut. Namun dia tidak akan mengatakannya. Jadi sekarang tergantung Darin mau menerima sarannya atau tidak.


"Biarkan aku berpikir sejenak, Ketua."


Ark mengangguk. Dia kemudian melepaskan tali yang mengikat Debby lalu memberi aba-aba.


"Lisa, tetap di dekat Debby, dia akan menjagamu. Sisanya, bersiap untuk bertarung.


Ingat, kecerobohan berarti kematian."


Mengatakan itu, Ark mengeluarkan pedangnya. Anggota kelompok lain juga mengeluarkan senjata mereka.


Kera yang duduk di atas lampu lalulintas tersebut menghentikan gerakannya. Dia menjatuhkan kepala yang dia pegang lalu menatap ke arah Ark dan rekan-rekannya. Makhluk tersebut bahkan menyeringai kejam dengan noda otak dan darah di wajahnya.


"Kamu pikir ini menarik, bukan? Mari kita lihat, sampai kapan kamu berpikir ini menarik."

__ADS_1


Mengatakan itu, Ark langsung melesat beberapa meter ke depan lalu melompat tinggi. Udara berkumpul pada bilah di tangan kanannya. Pemuda itu kemudian menebas dengan kejam.


Merasakan ancaman kematian, kera itu langsung melompat jauh lalu mendarat di aspal.


Swoosh! Bang!


Serangan Ark dihindari, tetapi tetap memotong tiang lampu lalulintas. Membuatnya jatuh dan menghantam aspal dengan keras.


Pemuda itu mendarat dengan ekspresi tak acuh. Dia melirik ke arah kera mutan. Mata yang sebelumnya berwarna hitam legam berubah menjadi biru seperti safir. Menatap ke arah kera dengan dingin.


Kera mutan itu merasa terprovokasi. Dia memukul dada sambil meraung marah. Makhluk itu kemudian bergegas ke arah Ark dengan niat membunuh.


Kera mutan sampai di depan Ark dan meninju dengan kuat, tetapi pemuda itu tampak begitu tenang.


Ark menghindari pukulan demi pukulan, cakar demi cakar. Dia terus menghindari serangan lawan sambil mengamati setiap gerakan lawannya. Setelah beberapa saat, pemuda itu menyimpulkan.


Swoosh! Bang!


Tinju kera mutan menghantam dengan kuat, tetapi menangkisnya dengan pedang di tangannya. Ekspresinya tampak tenang seolah tidak begitu peduli dengan serangan makhluk di depannya. Hal tersebut membuat kera mutan menjadi semakin marah dan terus memukul dengan kejam.


Bang! Bang! Bang!


Ark terus menangkis serangan demi serangan tanpa berpindah dari tempatnya.


"Kekuatan, kecepatan, dan refleks baik. Bakat cukup. Baru naik tingkat dua, tetapi sombong karena kekuatannya. Terlalu malas dan mudah berpuas diri. Evaluasi ..."


Ark menarik keluar satu lagi pedangnya. Matanya langsung berkilat dingin.


"Menyedihkan!"


SLASH!


Kedua pedang di tangan Ark bergerak cepat, menyisakan garis cahaya biru. Detik berikutnya ... kedua tangan dan kepala kera jatuh ke aspal.


Menyarungkan kembali pedangnya, Ark melirik makhluk tersebut dengan ekspresi tak acuh di wajahnya.


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2