Apocalypse Regression

Apocalypse Regression
Akhir Tahun


__ADS_3

Sekali lagi, semakin tidak dirasakan, semakin cepat waktu berlalu. Tanpa semua orang sadari, malam tahun baru telah tiba.


Pada malam ini, hanya ada kesunyian. Bukan hanya para manusia, tetapi zombie dan binatang bermutasi juga diam. Rasanya tidak ingin menyambut kedatangan tahun baru.


Salju berhenti turun, dan mulai mencair. Dunia tidak lagi hanya dilapisi dengan warna putih. Berbagai warna mulai menghiasi dunia yang begitu sunyi.


Di malam tahun baru, ada ‘ritual’ khusus yang dilakukan di markas Sword of Sufferings. Setiap malam tahun baru, mereka semua akan mengasah senjata mereka masing-masing setajam mungkin. Merawatnya dengan hati-hati dan memastikan tidak ada sedikitpun kesalahan.


Di markas utama Sword of Sufferings, suara mengasah bilah terdengar seperti simphony penyambut tahun baru. Semua orang tidak keluar dari rumah masing-masing, tetapi mengasah senjata dan menyiapkan perlengkapan tempur mereka.


Meski malam menuju tahun baru sunyi, tetapi ketika tahun berganti ... kesunyian akan digantikan keramaian dimana para monster akan menggila. Seolah-olah dipaksa oleh dunia untuk merayakannya.


Bukan hanya di markas Sword of Sufferings. Bahkan jika tidak ada ritual mengasah senjata, orang-orang di seluruh dunia juga mempersiapkan diri untuk menyambut tahun baru. Namun tidak ada kebahagiaan di wajah mereka.


Sebaliknya, mereka membenci acara tahun baru yang dulu pernah mereka suka dan nantikan.


Dalam rumahnya, Ark duduk di sofa dengan tenang sambil menikmati secangkir teh panas. Bukannya tidak bersiap, tetapi dia telah menyiapkan semuanya lebih awal.


Saat Natasha, Abigail, Stacy, Roxanne, Kurona, dan Shirona bersiap, pemuda itu menjaga Nathan dan Nala sambil menikmati tehnya. Meski telah mengikutinya sejak awal, tetapi kedua anak itu sama sekali tidak diizinkan maju ke medan perang karena belum cukup usia.


Meski demikian, mereka berdua telah memiliki pemikiran cukup dewasa dan tidak rewel. Bisa dibilang, dunia yang mengerikan dan kejam memaksa pemikiran mereka lebih dewasa.


“Nathan, Nala, ingat untuk bersembunyi di ruang bawah tanah seperti biasa. Meski Sword of Sufferings kuat, kita harus berjaga-jaga karena tidak ada yang bisa memastikan apa yang akan terjadi.


Apakah kalian mengerti?”


“Baik, Ketua!” ucap kedua anak itu serempak.


Nathan dan Nala menatap ke arah Ark sambil mengangguk tegas. Mereka berdua sangat menurut, khususnya kepada pemuda itu.


Di mata mereka berdua, Ark bukan hanya sosok ketua kelompok. Lelaki itu sudah mereka anggap sebagai idola, tuan, guru, bahkan ayah mereka sendiri.


Setelah keduanya terlihat mengantuk, Ark langsung mengajak mereka menuju ke ruang bawah tanah. Dia membawa keduanya ke ruangan kecil di sudut yang cukup tersembunyi lalu menyuruh keduanya masuk.


Di dalam ruang tersebut, sudah ada alas hangat, bantal, dan selimut. Ada juga beberapa makanan kering yang bisa dimakan langsung dan juga lilin buatan.


Ark tersenyum lembut lalu berkata.


“Semuanya akan baik-baik saja seperti biasa. Kalian bisa tidur dengan nyaman seperti biasa.


Selamat malam, Nathan, Nala.”

__ADS_1


Setelah menutup tubuh keduanya dengan selimut, Ark pergi tanpa lupa menutup pintu.


Kembali ke lantai atas, ekspresi santai di wajahnya berubah menjadi lebih serius. Lagipula, tidak ada yang bisa menebak kejadian di tahun baru. Monster macam apa yang akan muncul dalam gelombang kegilaan, dan level berapa yang akan muncul.


Melihat ke arah para wanita yang telah bersiap, Ark berkata dengan tenang.


“Suruh semua orang segera bersiap. Pergi ke lokasi berjaga masing-masing. Persiapkan apa segalanya di lokasi jaga dalam empat jam ini.”


Para wanita langsung membalas serempak.


“Dimengerti!”


***


Beberapa jam kemudian.


Puluhan tim kecil terdiri dari lima orang berjaga di atas great wall yang mengeliling markas Sword of Sufferings. Meski anggota kelompok itu terbilang banyak dan dipenuhi dengan orang kuat, tetapi setiap tim sama sekali tidak bertanggung jawab atas area sempit.


Setidaknya, mereka menjaga area cukup luas. Cukup banyak tim terpusat di pintu gerbang depan karena tempat tersebut pasti akan menjadi tujuan monster menerobos.


Di bagian gerbang depan, ada Jay, Lisa, dan Mona. Di bagian dinding belakang, ada Natasha, Stacy, Roxanne, dan mantan kelompok golden rose. Di bagian kiri, ada Draco, Leon, dan Claus. Di bagian kanan, ada Darin, Yonas, dan Vadim.


Old Franky, Stein, dan beberapa murid mereka bertanggung jawab atas logistik. Kurona dan Shirona tidak memihak pihak manapun, hanya dikirim jika ada salah satu lokasi yang mendapatkan serangan berlebihan.


Saito adalah satu-satunya anggota yang bisa terbang kecuali Ark, jadi dia bertugas untuk menjadi pengawas. Mengawasi medan pertempuran, memberitahu orang-orang jika ada musuh kuat atau jumlah banyak yang muncul ketika mereka berperang.


Tidak hanya itu, Saito juga bertugas untuk menghabisi binatang terbang yang lolos dari panah orang-orang dan masuk ke wilayah Sword of Sufferings.


Tentu saja, dia melakukannya dengan Huginn dan Muninn.


Tepat tengah malam, teriakan dingin Saito menggema dari atas markas Sword of Sufferings.


“Musuh muncul dari arah barat, pasukan barat diharapkan untuk segera bersiap!”


“Musuh dari arah selatan bergerak pelan dengan cara sembunyi-sembunyi, pasukan selatan diharap untuk berhati-hati!”


“Musuh muncul dari arah timur dengan jumlah sangat banyak, beberapa pasukan di sekitar yang tidak memiliki banyak pekerjaan diharap untuk segera membantu!”


“...”


Selagi suara Saito terdengar, semua orang yang awalnya cukup santai langsung bersiap di tempat masing-masing dengan ekspresi serius di wajah mereka. Ada juga beberapa orang yang bergegas menuju ke bagian timur untuk membantu sesuai dengan rencana.

__ADS_1


Di tempat Lisa dan Jay berada, pasukan berbaris dengan ekspresi tegang. Bisa dibilang, mereka masih cemas untuk menghadapi gelombang monster. Lagipula, setiap tahun, bukan hanya jumlahnya yang meningkat, tetapi juga level mereka semakin tinggi dan semakin berbahaya.


Jika berkata tidak takut dan cemas, mereka pasti berbohong!


Sementara Jay masih berdiri tenang di tempatnya, sosok Lisa sudah berdiri tegak di depan pasukan dengan armor hitam legam yang menutupi seluruh tubuh kecuali kepalanya. Dia memikul sebuah pedang raksasa sembari menatap ke arah gerombolan monster yang muncul di kejauhan sambil menyeringai.


Lisa menunjuk ke arah para monster dengan pedang raksasa di tangan kecinya sembari berteriak.


“Berhenti gemetar, Para Pengecut! Bersiaplah untuk bertarung!”


“Bertarung untuk melindungi rumah kita. Pegang erat senjata kalian ...”


Melihat musuh semakin mendekat, Lisa menyeringai kejam.


“HABISI MEREKA SEMUA!”


Bersamaan dengan teriakan Lisa, regu pemanah langsung melancarkan serangan. Ratusan anak panah langsung melesat di udara, bergegas menuju ke arah para zombie dan binatang bermutasi yang menggila.


Anak panah terus ditembakkan, dan banyak monster lemah berjatuhan. Namun, masih ada juga beberapa monster yang cukup kuat untuk menerobos ke depan. Bergegas menuju ke barisan pertahanan yang dipimpin oleh Jay dan Lisa.


Melihat sosok binatang bermutasi yang tampak seperti lembu dan banteng dengan ukuran sangat besar bergegas ke arahnya, Lisa menyeringai. Dia juga berlari puluhan meter ke depan sebelum berhenti.


Pada saat tanduk makhluk itu hendak mengenainya, Lisa langsung membanting pedangnya.


BANG!


Makhluk mirip banteng raksasa itu langsung terhenti. Namun, pemandangan aneh dimana sosok gadis kecil menghentikan tank itu sama sekali tidak mengejutkan anggota Sword of Sufferings.


Melihat mata terkejut banteng raksasa itu, Lisa tertawa. Gadis itu kemudian memutar tubuhnya lalu menendang kepala makhluk tersebut dengan keras.


CRACK!


Suara retakan terdengar, disusul dengan tubuh besar banteng raksasa yang terhempas belasan meter dan melukai monster lainnya.


Saat itu juga, teriakan Lisa kembali terdengar.


“BUNUH! BUNUH MEREKA SEMUA!!!”


Sorakan keras terdengar dari belakang. Pasukan Sword of Sufferings langsung bergegas ke depan untuk melawan para monster yang menggila.


Pertempuran di malam tahun baru pun kembali pecah.

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2