
Satu bulan berlalu begitu saja.
"Jangan lupa oleh-olehnya."
Melihat Jay, Kurona, dan Shirona yang telah bersiap membuat Lisa langsung berkata tanpa sedikitpun rasa malu. Melihat gadis itu, sudut bibir Jay berkedut.
"Kita tidak pergi untuk main-main, Lisa."
"Aku mengerti. Omong-omong, kenapa aku tidak melihat Ketua?"
"Dia ... sedang sibuk mengurus sesuatu."
Jay berkata dengan ekspresi rumit. Dalam dua bulan ini, empat orang termasuk Ark telah menembus tingkat tiga. Sisa anggota inti juga telah naik ke tingkat dua walau sebagian belum memperoleh Miracle Root mereka. Sedangkan dua tim Scarlet Sword dan Violet Sword telah mendapatkan Miracle Root pertama mereka.
Bisa dibilang, kecuali Nathan, Nala, dan Nami ... anggota Sword of Sufferings lain telah melampaui Julian.
Dalam waktu ini juga, Saito dan Roxanne telah mendapatkan Miracle Root pertama serta telah meminum 10 ramuan evolusi tingkat dua. Mereka separuh jalan menuju evolusi ke dua. Menjadi anggota terkuat kecuali para anggota inti.
Di ruang kerja, Natasha duduk berseberangan dengan Ark. Suasana ruangan tampak begitu sunyi.
"Kamu pasti tahu kalau aku tidak akan mengizinkanmu pergi."
Ark berbicara dengan suara rendah. Dia menatap Natasha dengan ekspresi dingin.
"Aku sudah muak tinggal di sini, Ark."
"Kamu ingin ditugaskan di luar markas?" tanya Ark dengan nada datar.
BRUAK!!!
Natasha menggebrak meja dengan ekspresi marah di wajahnya.
"Aku tidak tahan lagi! Kamu sudah tahu apa yang aku maksud, tetapi kamu bersikap seolah tidak tahu apa-apa! Aku benci sikapmu yang seperti itu, Ark!
Benar-benar membuatku muak dan tidak tahan untuk tinggal di sini!"
"..."
Ark hanya diam. Dia menoleh ke arah lain, tidak ingin bertemu dengan tatapan Natasha.
"Kamu pasti tahu kalau kami menyukaimu. Apakah aku perlu menyebutkannya? Stacy, Kurona, Shirona, Roxanne ... bahkan Kak Abigail.
Kamu tahu itu, kan?"
Merasakan tatapan sengit dari Natasha, Ark akhirnya menghela napas panjang.
"Aku tahu."
"Lalu kenapa kamu pura-pura tidak tahu? Kenapa kamu tidak menolak saja jika tidak menyukainya?"
"..."
"Aku tahu kalian, para lelaki sama saja. Kamu pasti juga berpikir untuk membuat harem atau hal semacam itu, kan? Kalau begitu kenapa kamu tidak langsung melakukannya saja. Tarik mereka ke kamarmu dan lakukan saja, aku yakin mereka tidak akan menolakmu!"
"..."
"Aku tahu kalau lelaki memang seperti itu. Atau, kamu berbeda? Mungkin saja kamu tidak melihat paras dan tubuh kami seperti para lelaki lain. Mungkin saja ...
__ADS_1
Kamu tidak melihat kami sebagai perempuan? Apakah di matamu kami mirip dengan hewan peliharaan yang patuh pada pemiliknya? Atau bahkan lebih rendah dari itu?"
"Tentu saja tidak!" ucap Ark dengan wajah lelah.
"Lalu putuskan secara jantan apakah kamu akan menerima atau menolak mereka! Digantung dan dipermainkan ... apakah kamu tahu rasanya? Itu sama sekali tidak nyaman, Ark!"
"Kamu tahu itu tidak mudah, Natasha! Belum lagi, ini bukanlah waktu untuk mengembangkan perasaan. Kita perlu terus berkembang dan-"
"Berhentilah mengelak dan hadapi masalah yang kamu buat, B-jingan!"
"Aku tidak bisa memilih. Aku tidak bisa melukai kalian dan mengacaukan semua yang aku bangun hanya karena perasaan!"
"Lalu ambil kami semua!"
"Kamu gila! Siapa wanita yang mau berbagi lelaki yang mereka sayangi!"
"Lalu katakan padaku, wanita mana yang mau menjadi hewan peliharaan?! Wanita mana yang mau dijadikan sebagai boneka pemuas?!"
"Itu berbeda! Mereka ditangkap dan tidak punya pilihan! Sedangkan kalian-"
"Kami tidak lebih dari burung indah dalam sangkar!
Sejak kami masuk ke dalam sangkar yang bernama Sword of Sufferings, sudah tidak ada kebebasan bagi kami. Memang, kami hidup dengan nyaman. Namun itu tetap menyakitkan!"
"Lalu kamu ingin aku menyeret kalian ke kamar untuk menghabiskan malam, bersenang-senang tanpa memedulikan perasaan kalian?"
"YA! Itu lebih baik daripada hidup seperti ini!"
"Kamu sudah gila, Natasha! Kamu sudah gila!"
"..."
Ark diam saja. Pemuda itu bingung harus berkata apa. Dia sendiri tahu, dirinya tidak pandai dalam hal-hal yang berhubungan dengan perasaan.
Saat itu, suara Natasha kembali terdengar.
"Julian."
"Julian?" tanya Ark dengan ekspresi bingung.
"Kejatuhan, kematian rekan-rekannya, pengkhianatan, dan segalanya yang membawa Silver Cross sampai menjadi salah satu dari Lima Raja. Sebagai orang yang ada di sisimu sejak awal ... aku tahu kamu ikut ambil bagian di dalamnya. Tidak!
Lebih tepatnya, kamu yang membuatnya menjadi seperti saat ini. Apakah kamu tidak memikirkan apa yang pria itu rasakan? Julian ... apa yang sebenarnya kamu coba lakukan kepadanya?"
"Natasha, kamu-"
"Third Scars dan Black Panther ... saat ini kamu mengincar mereka."
"..."
"Kenapa kamu diam? Aku benar, bukan?"
Natasha tertawa ketika melihat Ark hanya diam.
"Bahkan jika kamu tahu, seharusnya kamu menyembunyikannya. Terlalu pintar bukanlah hal yang baik, Natasha."
"Kamu ingin membungkamku? Bunuh? Silahkan saja! Itu lebih baik daripada hidup dengan ketakutan seperti ini!"
__ADS_1
"..."
"Asal kamu tahu, Ark. Ketika melihat Lisa yang sudah seperti adikmu atau melihat kamu begitu peduli dengan Stacy, Kurona, dan Shirona ... aku takut!
Bagaimana kalau kamu membesarkanku (merawat) hanya untuk digunakan di masa depan? Lalu bagaimana dengan Kak Abigail atau Roxanne? Mungkinkah kamu juga memiliki rencana untuk mereka?
Mungkin orang lain dan dirimu sendiri tidak sadar betapa mengerikannya kamu, Ark. Melihat kamu mengendalikan hidup Julian seperti master puppet yang mengendalikan boneka dengan beberapa benang merah di jari-jarimu ...
Kamu benar-benar lebih mirip iblis daripada manusia, Ark. Kamu sangat baik, tetapi secara bersamaan juga sangat kejam!"
"Aku tidak mungkin menggunakan kalian dengan cara seperti itu. Aku sudah menganggap kalian seperti keluargaku."
"Berhenti mengeluarkan kata-kata manis dari mulutmu dan buktikan saja, B-jingan!"
Natasha bangkit dari kursinya lalu tiba-tiba merobek pakaiannya dengan tangannya. Mendekat ke arah Ark dengan ekspresi penuh tekad di wajahnya.
Melihat perubahan kejadian yang begitu tiba-tiba membuat Ark tidak siap. Bukannya dia tidak suka wanita cantik. Di kehidupan sebelumnya, dia juga melakukan hal one night stand atau semacamnya untuk melampiaskan frustrasi yang menumpuk. Hanya saja, sekarang pemuda itu tidak siap untuk menjalin hubungan lebih dalam.
Ark bangkit lalu meraih jubah bulu berwarna abu-abu yang tampak baru kemudian menutupi tubuh Natasha dengan itu.
Pada saat itu, air mata yang tertahan akhirnya tumpah di wajah Natasha ketika dia menjatuhkan diri di kursi. Duduk merosot sambil bergumam pelan.
"Aku tahu selama ini kamu memiliki rencana untuk kami. Aku sudah tidak tahan lagi ...
Lebih baik kamu kamu membunuhku, Archie."
"Kenapa kamu begitu keras kepala?"
Ark memijat pelipisnya. Melirik ke arah Natasha yang putus asa, dia kembali berkata.
"Apakah kamu tahu, jika kamu menjadi pasanganku, mungkin hidupmu lebih menderita. Jika sampai orang-orang di luar sana tahu kalau kamu pasangan Hades, mereka akan menargetkanmu.
Jika kamu sampai tertangkap. Apa yang terjadi mungkin lebih buruk daripada kematian."
"Aku juga mengerti, tetapi aku tidak peduli! Jadi berhenti melarikan diri, B-jingan!"
"..."
Ark menghela napas panjang. Setelah beberapa saat, dia mengambil jubah hitam dan topengnya sebelum berjalan pergi.
"Apakah kamu akan lari?" tanya Natasha.
"Beri aku waktu untuk memikirkannya. Setelah aku kembali ... aku akan membereskan semua masalah ini."
Setelah mengatakan itu, Ark membuka pintu lalu keluar dari ruang kerja. Di situ, dia melihat Abigail yang tampaknya menguping pembicaraannya. Wanita itu hanya menunduk dengan ekspresi bersalah sekaligus malu. Ark menggeleng ringan sebelum pergi tanpa mengatakan apa-apa.
Setelah Ark pergi, Abigail masuk ke ruang kerja lalu menghampiri Natasha. Melihat penampilan wanita itu, dia menjadi khawatir lalu segera memeluknya.
"Kenapa kamu melakukan hal semacam itu? Bagaimana kalau dia benar-benar membunuhmu?"
"Lalu itu kekalahanku. Namun tidak peduli apa yang terjadi, aku harus mengatakannya. Biarkan b-jingan itu membuka mata dan berhenti melarikan diri."
Bersandar dalam pelukan Abigail, Natasha yang kelelahan memejamkan mata sambil bergumam.
"Meski berbahaya, pada akhirnya ... ini kemenanganku."
>> Bersambung.
__ADS_1