Apocalypse Regression

Apocalypse Regression
Mengirim Informasi


__ADS_3

Dua hari kemudian.


"Sungguh ... aku heran kenapa aku memilih untuk menuruti permintaan orang itu."


Duduk dalam sebuah kios kecil yang berantakan, Darin bergumam pelan. Dia sudah melakukan perjalanan satu hari satu malam. Akan tetapi, dia masih belum sampai di markas Silver Cross. Pemuda itu bahkan sempat berpikir bahwa Ark mungkin menipu dirinya. Belum lagi setelah kejadian semalam dimana dirinya dikelilingi zombie dan nyaris mati.


Darin bahkan telah kehilangan kacamata miliknya. Akan tetapi, dia masih merasa bersyukur. Mungkin karena meminum ramuan evolusi, matanya mulai membaik. Bahkan jika belum sepenuhnya normal, tetapi penglihatannya tidak begitu buruk.


Mengingat sosok Ark yang berdiri di atas tumpukan mayat zombie dan tampak agung, Darin menghela napas panjang.


"Mana mungkin ketua ingin menjebak orang-orang seperti diriku? Jika ingin, dia pasti sudah menghabisi aku dengan dengan mudah. Satu tebasan?"


Mengingat seberapa kuat Ark, Darin tersenyum masam. Dia benar-benar merasa rendah diri. Sama sekali tidak memiliki keberanian untuk membuat kelompok sendiri apalagi untuk melawan Ark.


Darin tahu bahwa Ark masih menyembunyikan kekuatannya. Meski selain Jay tidak ada yang mengetahuinya, tetapi dia masih cukup memperhatikan. Khususnya pada jejak yang tertinggal setelah Ark membunuh tikus mutan untuk pertama kali.


Tebasan tipis dan cukup dalam di aspal jelas tidak dilakukan dengan cara biasa. Darin menduga, hal tersebut berhubungan dengan kemampuan Ark. Khususnya ketika dia melihat Jay memiliki kemampuan khusus.


Hanya saja, Darin agak bingung. Menurut Ark, Stacy jelas telah menyelesaikan evolusi pertama. Namun, gadis itu tidak memiliki kemampuan khusus apapun. Itu berarti, ada dua kemungkinan.


Pertama, Ark berbohong kalau Stacy telah menyelesaikan evolusi pertama. Kedua, ada cara atau persyaratan lain untuk mendapatkan kekuatan aneh semacam itu.


Karena Ark adalah pria yang biasanya tidak ingkar pada kata-katanya, Darin menduga bahwa alasan kedua yang lebih masuk akal.


Jika Ark tahu apa yang dipikirkan oleh pemuda cupu itu, dia pasti akan langsung memujinya. Hanya saja, pemuda itu tidak akan terlalu peduli. Bahkan jika Darin mengetahui alasannya, tanpa resep dan tata cara untuk melakukannya ... semuanya akan sia-sia. Mungkin akan menjadi usaha bunuh diri.


"Lupakan ... sebaiknya aku segera mencari lokasi markas Silver Cross selagi matahari sudah terbit.


Jika terlambat dan besok gelombang kekacauan sekali lagi terjadi, sudah terlambat bagiku untuk menangisi kebodohanku."


Darin berkata dengan ekspresi kecut di wajahnya. Dia kemudian membuka tas, mengambil tiga potong kecil daging lalu meminum seteguk air. Setelah itu, dia kembali mengemasi semuanya. Kemudian ... pemuda itu melanjutkan perjalanannya.


Baru berjalan beberapa menit, Darin terkejut ketika mendengar suara langkah kaki. Saat itu, dia langsung mencengkeram erat tombak di tangan kanannya dengan ekspresi serius.


Sampai di sebuah perempatan, Darin akhirnya bertemu dengan sebuah tim kecil yang terdiri dari lima orang. Tentu saja, kelima orang itu juga melihat ke arah Darin.


Penampilan cukup bersih, rambut acak-acakan, kulit tampak sehat, wajah tampan dan dingin setelah kacamata dilepas ... belum lagi, karena sudah berkali-kali bertarung di antara hidup dan mati, aura di sekitarnya tampak berbeda.


Melihat penampilan Darin, kelima orang itu saling memandang. Walau tangan kiri Darin menggantung lemas, tetapi mereka masih tahu, dari sikapnya .... pemuda tersebut sama sekali bukan orang biasa.


Jelas orang yang telah melihat cukup banyak darah!


Pemimpin kelompok kecil itu mengangkat kedua tangannya. Melihat ke arah Darin, orang itu berkata.


"Yo! Apakah kamu sedang melakukan perjalanan, Kawan?! Tampaknya kami tidak pernah melihatmu di sekitar sini."


Mendengar itu, ekspresi Darin sedikit mengendor.


"Apakah kalian dari kelompok Silver Cross?"


"Kamu kenal kelompok kami?"

__ADS_1


"Ya. Lagipula, kalian cukup terkenal."


"Apakah begitu??"


Pria itu menatap ke arah keempat temannya. Meski tidak mengatakan apa-apa, mereka tampak cukup bangga dengan kelompok mereka.


"Kalian benar-benar dari kelompok Silver Cross?"


"Benar."


"Kalau begitu, kalian pasti tahu Julian."


"Kamu ... mengenal ketua kami?"


Ketua tim kecil itu merasa terkejut.


"Tidak begitu mengenalnya. Namun, ada hal sangat penting yang perlu aku sampaikan kepadanya. Jadi, bisakah kalian mengantarku untuk pergi ke markas kalian?"


"Itu ..." pria di sisi lain tampak ragu.


"Ini menyangkut nyawa banyak orang."


Darin berkata dengan ekspresi tegas. Menurut apa yang Ark sampaikan, Julian adalah tipe pria yang mau melindungi orang-orangnya bahkan jika harus memotong kaki atau lengannya sendiri. Jadi, kata-kata tersebut sudah cukup untuk membuat kelima orang itu mengangguk.


"Kebetulan kami berencana untuk kembali setelah berpatroli."


"Terima kasih."


Dalam perjalanan itu, Darin juga mulai mengenal anggota tim itu. Kapten tim itu bernama Yonas, seorang pria berkulit hitam dengan rambut hitam bergelombang yang dikepang. Kapten dari tim 3 Silver Cross, seorang pria yang ceria, baik, dan ramah.


Sekitar hampir satu jam perjalanan, mereka akhirnya sampai di markas Silver Cross.


Melihat ke arah sebuah gedung delapan lantai yang tampak tua, tetapi tampak kokoh membuat Darin menjadi semakin penasaran dengan kelompok Silver Cross. Akan tetapi, ekspresinya berubah ketika dia masuk ke dalam gedung.


Apa yang Darin lihat adalah banyak orang di sana. Kebanyakan dari mereka tua dan paruh baya. Ditambah beberapa anak kecil, jumlah mereka cukup banyak. Di lantai pertama yang luas, sudah ada lebih dari dua puluh orang. Belum lagi dari beberapa lantai di atas, orang-orang yang beristirahat dalam ruangan.


Hanya saja, orang-orang itu tampak kotor, kurus, dan pucat. Bahkan beberapa orang yang sebelumnya gemuk tampak kuyu. Beberapa bahkan tampak sekarat.


Memang, tidak seperti markas kelompok Reaver dimana semua orang diperlakukan dengan buruk. Hanya saja, bahkan jika diperlakukan baik, mereka jelas masih tidak hidup lebih baik.


"Kita akan pergi ke lantai tiga." Yonas berkata dengan ekspresi tenang.


"Baik."


Karena tidak ada listrik, mereka naik ke lantai tiga dengan menggunakan tangga.


Setelah beberapa saat, mereka akhirnya sampai di depan sebuah ruangan.


Tok! Tok! Tok!


"Masuk."

__ADS_1


Ketika pintu diketuk, suara jawaban langsung terdengar dari dalam. Yonas kemudian membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan bersama dengan Darin.


"Kamu sudah kembali, Yonas. Bagaimana?"


Sosok Julian duduk di kursinya, menatap ke arah Yonas dengan senyum di wajahnya.


"Maaf, Ketua. Tidak ada makanan yang tersisa di sekitar. Semuanya telah dibersihkan. Tampaknya, kita harus mencoba untuk memakan beberapa tumbuhan acak untuk mengisi perut."


"Bagaimana jika kita keracunan?"


"Itu ... Aku tidak tahu, Ketua. Jika tidak mencoba, orang-orang mungkin akan mati kelaparan. Jadi, bukankah lebih baik kita mencoba?"


Yonas berkata dengan senyum melankolis di wajahnya. Mendengar ucapan Yonas, bukan hanya Julian, tetapi beberapa orang dalam ruangan juga tampak sedih.


Saat itu, Darin tahu betapa beruntungnya dirinya karena telah hidup di Kelompok Sword of Sufferings.


Menggelengkan kepalanya, Julian menatap sosok Darin.


"Lalu ... siapa teman ini? Apakah kamu ingin bergabung dengan Silver Cross?" Julian berkata dengan ramah.


"Perkenalkan, namaku Darin. Aku adalah anggota dari kelompok Sword of Sufferings. Ketua mengirimku ke sini untuk menyampaikan pesan kepadamu, Tuan Julian."


"Sword of Sufferings? Nama suram macam apa itu? Aku belum mendengar nama kelompok itu."


Julian mengerutkan kening. Dia mencoba mengingat, tetapi akhirnya memilih untuk menyerah.


"Sword of Sufferings adalah kelompok kecil dengan anggota kurang dari sepuluh orang."


Mendengar ucapan Darin, banyak orang yang menahan tawa. Julian dan Yonas bahkan juga tercengang. Namun saat itu, Darin menambahkan.


"Ketua bilang, dia mengenalmu, Tuan Julian."


"Ketuamu? Siapa namanya?" tanya Julian dengan ekspresi ragu.


"Ark."


Seketika, ruangan langsung menjadi sunyi. Kebanyakan orang yang ada di sana telah melihat Ark dengan mata mereka sendiri, jadi mereka diam. Bahkan Yonas dan beberapa orang yang tidak mengenal Ark menyadari bahwa ada sesuatu yang salah dengan suasana di sana.


"Ark ..." Julian menggertakkan gigi. Menatap ke arah Darin dengan ekspresi rumit, dia melanjutkan. "Jangan bilang dia ingin datang dan merampok makanan kami? Jika itu keinginannya, tolong katakan padanya ... kami tidak bisa memenuhi permintaannya."


Melihat bagaimana Julian merespon, Darin langsung ragu. Jelas, ucapan Ark yang berkata bahwa dirinya akrab dengan Julian itu tidak benar.


Jika Julian tahu apa yang Ark ucapkan kepada Darin, dia pasti sudah menunjuk wajah orang itu sambil meneriakinya.


Mengabaikan suasana suram, Darin menarik napas dalam-dalam lalu berkata dengan ekspresi serius di wajahnya.


"Ketua menyuruhku datang untuk menyampaikan informasi penting. Ini menyangkut nyawa banyak orang."


Mendengar ucapan Darin, orang-orang dalam ruangan langsung menatap ke arahnya dengan ekspresi serius.


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2