Apocalypse Regression

Apocalypse Regression
Tenang Sebelum Badai


__ADS_3

"Apa-apaan itu?! Tikus?!!"


Jay yang menyusul Ark setelah menguburkan semua zombie dan membersihkan darah di jalanan terkejut melihat sembilan bangkai tikus sebesar Golden Retriever.


Di belakang Jay, beberapa anggota lain yang menyusul juga terkejut.


"Apa yang terjadi di sini, Ark?"


Mendengar Jay yang tampaknya cukup khawatir, Ark membalas dengan tenang.


"Seperti yang kamu lihat. Tikus bermutasi."


"Maksudmu ..."


"Ya. Sejak awal, aku tidak pernah bilang bahwa musuh kita hanya zombie, kan? Setelah perubahan, pasti banyak juga makhluk yang berevolusi, mengalami mutasi karena beradaptasi dengan lingkungan baru.


Bukan hanya zombie atau makhluk binatang buas, kita juga harus berhati-hati dengan manusia lain. Singkatnya ...


Hampir semua yang ada di dunia ini akan menjadi musuh kita. Lawan yang berusaha menahan kita untuk terus hidup."


"..."


Mendengar ucapan Ark, semua orang merasa gugup. Sebaliknya, pemuda itu masih tampak tenang. Tampaknya sudah tidak asing dengan suasana dunia yang semakin mengancam. Justru merasa lebih familiar dengan perasaan semacam itu.


"Singkirkan bangkai tikus ini lalu kembali."


"Errr ... apakah ada bagian dari tikus ini yang bisa dimanfaatkan, Ark?"


"Seharusnya giginya yang tajam dan beracun memiliki sedikit kegunaan. Hanya saja, itu merepotkan. Jadi lebih baik disingkirkan saja."


Mendengar ucapan Ark, Stacy dan Natasha tampak lega. Pada awalnya, kedua wanita itu kesulitan menerima fakta bahwa mereka memakan daging zombie. Namun karena terbiasa, mereka cukup terbiasa. Sedangkan memakan tikus yang kotor dan beracun ...


Keduanya jelas tidak bisa membayangkan hal tersebut!


***


Kembali ke markas, mereka segera mandi lalu sarapan.


Bahkan jika mereka menghadapi hal tidak terduga semalam, hal tersebut tidak menghentikan Ark untuk menyuruh mereka menyelesaikan pekerjaan. Namun bedanya, setelah makan siang, pemuda itu menyuruh mereka semua untuk beristirahat. Tidak ada kelas teori atau latihan sore!


Hal tersebut jelas membuat anggota lain berhati-hati.


Sementara itu, tampaknya ada yang salah paham.


Sejak pagi, Abigail merasa agak canggung. Khususnya ketika Ark berbicara soal istirahat di siang sampai sore hari. Dia merasa bersalah. Merasa hal tersebut dilakukan karena ulahnya semalam.


Tentu saja, Abigail tidak akan mengatakannya dengan keras.


Sambil mengajari Nathan dan Nala menghitung, wanita itu sesekali melirik ke arah Ark yang duduk di sofa sambil bersandar dan memejamkan mata. Rona merah langsung muncul di pipinya.


Di satu sisi, Abigail merasa bersyukur karena Ark menjaganya tanpa melakukan apapun semalam. Membuat wanita itu merasa bahwa dirinya bukanlah wanita buruk yang melakukan hal-hal kotor setelah suaminya meninggal. Di sisi lain, meski tidak tahu kenapa, Abigail merasa agak menyesal karena Ark tidak benar-benar "menyentuh" dirinya.

__ADS_1


'Apakah aku kurang menarik?'


Pikiran itu muncul dalam kepala Abigail. Hanya saja, hal tersebut membuatnya merasa agak bingung.


Abigail menikah setelah lulus SMA di usia 18 tahun, dan melahirkan Nathan dan Nala di usia 19 tahun. Bahkan jika kedua anak itu hampir berusia 7 tahun, usia Abigail masih 26 tahun. Usia dimana wanita tampak cantik dan mempesona. Bahkan, penampilan wanita itu tampak lebih muda daripada usia aslinya. Kemungkinan karena gen, sekaligus sikapnya yang baik dalam memilih makanan dan melakukan olahraga rutin.


Banyak lelaki yang masih tertarik padanya bahkan setelah seluruh wajahnya tertutup lumpur. Jadi, Abigail cukup percaya diri dengan penampilannya. Khususnya saat ini, ketika dia telah membersihkan tubuhnya setiap hari dan memakai pakaian layak.


'Lalu kenapa?'


Abigail bingung. Tanpa sadar, dia melihat ke arah Nathan dan Nala. Sadar kalau kemungkinan besar bukan karena penampilan, tetapi karena statusnya sebagai seorang ibu ... wanita itu tersenyum lembut. Dia sama sekali tidak marah, apalagi membenci kedua anaknya karena hal tersebut. Lagipula, apapun yang terjadi, Nathan dan Nala adalah darah dagingnya sendiri.


"Apakah kamu demam, Mama?"


Suara gadis kecil yang ketakutan terdengar.


Nathan yang mendengar ucapan Nala juga langsung menatap ke arah ibunya dengan ekspresi khawatir. Dia menoleh ke kiri dan kanan dengan khawatir. Melihat ke arah Ark yang duduk di sofa sambil memejamkan mata, dia merasa agak ragu.


Pada akhirnya, bocah itu memberanikan diri untuk berjalan ke arah Ark lalu menarik sudut kemejanya.


Membuka matanya, Ark melihat sosok Nathan yang tampak cemas.


"Ada apa, Nathan?"


"Tuan Ark! Mama ... Mama demam!"


Sementara keduanya berbicara, gadis kecil itu, Nala sudah memeluk ibunya sambil berkata dengan histeris.


"..."


Mendengar itu, sudut bibir Ark berkedut. Tidak pernah berpikir kalau manusia yang lemah akan begitu mudah mati.


Menghela napas panjang, Ark bangkit dari tempat duduknya. Dia kemudian menghampiri Abigail yang memiliki wajah merah, entah karena sakit atau malu.


"Biarkan aku memeriksanya."


Ark berkata dengan nada datar lalu menyentuh lembut dahi Abigail dengan punggung tangannya. Hal tersebut membuat  wajah wanita itu semakin merah.


"Demam ringan," ucap Ark dengan datar.


Tentu saja, Ark juga paham ada hal lain yang membuat wajah wanita itu merah. Hanya saja, dia fokus ke demam. Lagipula, Abigail yang baru saja mandi dan nyaris tidak memakai apa-apa ditiup oleh angin semalam. Jelas, masuk akal jika demam ringan.


"Itu sama sekali tidak berbahaya. Ibumu tidak akan mati hanya karena hal semacam itu."


Ark berkata datar sambil menarik Nala menjauh dari ibunya.


Mendengar ucapan Ark, gadis kecil itu langsung berhenti menangis. Dia menatap ke arah lelaki tampan itu sembari bertanya.


"Apakah Mama baik-baik saja?"


"Tidak juga. Ibumu perlu istirahat. Kamu dan juga saudaramu tidak boleh mengganggunya. Selain membuat ibu kalian tidak segera sembuh, kalian juga bisa tertular, tahu?"

__ADS_1


Ark menggendong Nala dengan satu tangan, dan memegang tangan Nathan dengan tangan lainnya. Melihat ke arah Abigail, pemuda itu melanjutkan.


"Kamu istirahat terlebih dahulu, biarkan aku yang menjaga Nathan dan Nala."


Mendengar ucapan Ark, Abigail tertegun di wajahnya. Masih memiliki rona merah di wajahnya, wanita itu segera menunduk lalu mengangguk ringan.


"Terima kasih," bisik Abigail lirih.


Berjalan menuju ke arah halaman belakang dengan Nathan dan Nala, Ark berkata dengan nada datar seperti biasa.


"Sama-sama."


***


Petang setelah matahari terbenam.


"Sup daging dan air jahe?"


Melihat apa yang tersedia di atas meja, Jay bertanya penuh keraguan.


"Beberapa hari ini cukup dingin. Ada baiknya untuk menghangatkan diri."


Mendengar jawaban Ark yang begitu tak acuh, anggota lainnya mengangguk ringan. Merasa sangat normal. Namun ada satu orang yang tahu bahwa semua tidak sesederhana apa yang Ark ucapkan. Ya ... dia adalah Abigail yang makan sambil menunduk untuk menutupi rasa malunya.


"Kamu benar-benar baik, Ark. Bagaimana kalau kita terus makan malam dengan menu seperti ini?"


"Memangnya kamu pikir jahe bisa tumbuh hanya dalam waktu kedipan mata? Kita harus merawatnya, memperbanyak untuk persediaan dan—"


"Aku tahu ... Aku tahu. Berhentilah untuk membahas masa depan yang suram itu. Lebih baik kita makan dengan santai dan nyaman, ok?


Kamu pasti tahu aku juga hanya bercanda."


"..."


Melihat ke arah Ark yang diam, Jay melanjutkan.


"Omong-omong ... tidak bisakah kita mendapatkan garam, Ark? Bahkan jika rebusan segar cukup enak, aku benar-benar ingin hidangan dengan bumbu!!"


"..."


Melihat bagaimana Jay dengan tidak tahu malu menginginkan bumbu dan membuat hidangan seperti di masa normal, semua orang terdiam. Jika orang di luar sana tahu apa yang Jay katakan, mereka pasti sudah muntah darah karena marah!


Masih bisa makan tiga kali sehari, benar-benar masih tidak bersyukur! B-jingan macam apa itu!


Merasakan kehangatan di atas meja makan, Ark makan dengan tenang. Namun suasana hatinya juga cukup baik. Dia merasa kalau makan bersama seperti ini tidak buruk juga. Hanya saja ... hal semacam ini tidak akan bertahan lama.


Melihat malam yang semakin gelap, ekspresi Ark menjadi serius. Semakin gelap, semakin tenang. Namun, dia tidak suka ketenangan ini, karena ...


Ini hanyalah ketenangan yang muncul sebelum badai tiba!


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2