
“Kamu bisa memimpin sesuai yang kamu mau, Julian. Namun jika kamu mau mendengar sedikit saran, aku harap kamu tidak pilih-pilih dalam mengatur barisan. Walau ada orang yang lebih lemah entah itu karena masih terlalu muda atau mungkin tua, kamu tidak boleh memihak sepihak.”
“Kenapa? Bukankah mereka membutuhkan bantuan kita?”
“Kita bukan pengasuh bayi. Apapun alasannya, mereka telah datang ke tempat ini untuk bertarung. Jadi mereka juga harus siap untuk mati. Oleh karena itu, aku tidak akan menyia-nyiakan anggota kelompokku hanya untuk orang yang tidak aku kenal.”
“Hades, kamu …”
“Aku memang egois, Julian. Tidak semua orang sebaik dirimu. Jadi kamu juga harus bersiap, karena suatu saat mungkin ada orang yang hanya memanfaatkan kebaikanmu.”
Ark dan Julian berbicara dengan tenang. Meski nada mereka tidak terlalu keras, tetapi masih bisa didengar orang-orang di sekitar karena suasananya cukup sunyi.
Ekspresi orang-orang tampak berubah. Ada yang merasa ketakutan, ada yang tampak gugup, dan ada yang menatap ke arah Ark serta Julian dengan mata penuh kebencian. Jenis terakhir tentu saja adalah para pengecut yang sengaja maju ke medan pertempuran untuk mendapatkan nama, tetapi tidak berani berkorban dan hanya menginginkan jasa orang lain.
Banyak orang di dunia yang memiliki sifat semacam itu, bahkan di masa-masa normal dan damai. Hal tersebut terjadi bukan hanya di lapisan masyarakat kalangan atas atau bawah, tetapi merata dari bawah sampai ke atas. Dari hal-hal kecil sampai hal besar dimana uang untuk rakyat bisa-bisanya masuk ke kantong ‘wakil rakyat’ yang tugasnya mengurus rakyat.
Ya. Mengambil sesuatu yang bukan haknya. Jangankan wakil rakyat, nama tikus saja terlalu baik untuk mereka. Bahkan tikus akan marah jika dibandingkan dengan makhluk-makhluk kotor semacam itu.
Sebagai manusia, menginginkan sesuatu adalah hal yang biasa. Namun, bukan berarti kita boleh mengambil sesuatu yang bukan hak kita.
Jika ingin dianggap sebagai manusia, kita harus memperlakukan orang lain sebagai manusia dan berperilaku seperti manusia!
“Jadi, bagaimana selanjutnya? Di mana kamu akan menempatkan kelompokku? Di sisi kiri atau kanan?” tanya Ark.
“Silver Cross akan mengambil bagian tengah paling depan disusul oleh anggota kelompok lain. Di sisi kanan, Siegfried dan Black Panther akan mengurusnya. Jadi kamu akan mengurus sisi kiri. Apakah itu baik-baik saja?”
“Tidak apa-apa.” Ark membalas datar.
“Apakah kamu baik-baik saja dengan pengaturan semacam itu? Kamu tahu kalau di sisi kiri jalur yang kita lewati memiliki medan cukup sulit. Jika kamu ingin membicarakan masalah ini, aku dan Siegfried bisa-“
“Tidak perlu. Di tempatkan dimana saja, aku tidak peduli. Selain itu, kami, Sword of Sufferings juga tidak diatur oleh orang lain. Namun kamu bisa tenang, Sword of Sufferings pasti akan melakukan bagiannya dengan baik. Jadi … sisanya terserah pada kalian.”
__ADS_1
Mendengar ucapan Ark, Julian dan Siegfried saling memandang lalu mengangguk.
“Kalau begitu sudah diputuskan.” Julian berkata dengan ekspresi serius. “Semua orang, segera persiapkan diri! Setelah tiga puluh menit, semuanya harus sudah siap dan berbaris.”
“YA!”
Sebagian orang menjawab serempak, sementara sebagian lain mengangguk sebagai tanda persetujuan.
Setelah Julian dan Siegfried pergi untuk mengatur pasukan mereka sendiri, Ark kembali fokus kepada orang-orangnya. Dia menyuruh mereka beristirahat sejenak untuk menenangkan diri serta juga mempersiapkan diri secara fisik dan mental.
Setengah jamberlalu begitu saja.
Sekitar seribu orang membentuk barisan yang terlihat cukup luar biasa. Menginjakkan kaki mereka di tanah luar kota untuk pertama kalinya, orang-orang itu jelas merasa gugup. Jangankan rang-orang biasa, bahkan Lisa juga tampak lebih gugup daripada biasanya.
“Monster raksasa itu tidak akan muncul secara tiba-tiba lalu emnumbuk kita semua menjadi adonan daging, kan?” gumam Lisa.
Mendengarkan gumaman gadis yang berjalan tidak jauh darinya, sudut bibir Ark berkedut. Dia jelas tidak menyangka akalau gadis itu memiliki imajinasi yang cukup kaya. Benar-benar berpikir kalau makhluk sebesar itu bisa menghilang dan muncul kapan saja.
“Aku sendiri yakin makhluk itu tidak akan muncul secara tiba-tiba. Maksudku … ingat saja sebensar apa makhluk itu. Bukankah sangat aneh jika makhluk semacam itu tiba-tiba muncul dari ketiadaan?”
Mendengar ucapan skeptis Ark, Lisa cemberut. Orang-orang dalam barisan Sword of Sufferings juga tampak lebih santai. Namun tidak berselang lama, ekspresi mereka kembali berubah karena saat itu …
Suara Higinn dan Muninn terdengar di telinga semua orang! Ya … ada juga suara merpati bermutasi milik Julian yang kali ini dia bawa.
“Oh! Bukankah itu Jasmine?”
Ark menatap ke arah burung merpati besar yang bergegas menuju Julian.
Mendengar ucapan Ark, ekspresi Julian berubah menjadi buruk. Dari kejauhan, dia menoleh lalu melotot sambil berteriak.
“Siapa yang kamu panggil Jasmine, Hades?! Namanya Justin!”
__ADS_1
“Sangat baik!” ucap Ark yang tidak bisa menggambarkan perasaannya dengan kata-kata.
Sudah jelas, setelah mengenali anaknya sendiri, sang ayah akhirnya mengganti nama anaknya. Jika sebelumnya Ark tidak memberitahu pria itu, dia yakin kalau Jasmine akan tetap menjadi Jasmine, bukan Justin!
Beberapa orang di belakang Julian langsung menoleh ke arah lain, berpura-pura tidak melihat atau mendengar apapun. Pentingnya si merpati putih bagi Julian jelas di mata anggota Silver Cross. Jadi noda tentang nama itu jelas merupakan salah satu rasa sakit dan penyesalan yang didapatkan Julian selama di apocalypse ini.
Sementara itu, Huginn dan Muninn yang tampak lebih mendominasi sama sekali tidak turun. Sebaliknya, mereka berputar-putar di satu sisi untuk menggambarkan apa yang sebenarnya mereka lihat.
Barisan langsung bergerak menuju ke arah Huginn dan Muninn berada. Setelah tiba beberapa puluh meter dari lokasi, ekspresi orang-orang langsung berubah. Di sana, jelas tampak lebih dari dua ribu semut. Masalahnya bukan jumlahnya, tetapi komposisi mereka.
Tampak setidaknya 1700 sampai 1800 semut sebesar sepeda motor Harley. Mereka berbaris, mengcabik-cabik apa yang ada di depan mereka. Memakan banyak binatang buas bermutasi, zombie, pepohonan. Selain itu, ada juga lebih dari seratus semut dengan tubuh lebih besar. Ukuran masing-masing hampir sebesar mobil Mini Cooper.
Melihat para semut, kepala orang-orang menjadi mati rasa. Mereka yang sebelumnya begitu santai tampak lebih gugup. Bahkan sebelum bertarung, moral pasukan langsung turun.
Ark sendiri mengabaikan hal tersebut karena fokus pada hal lain. Di sisi para semut yang melihat banyak manusia tampak terkejut sejenak. Namun tidak selang beberapa detik, teriakan melengking terdengar dan para semut langsung bergegas maju. Menyerbu langsung ke arah para manusia dengan gila! Bertindak seperti sedang melihat makanan favorit mereka!
“PARA PEMANAH! BIDIK!”
Ark berkata dengan nada keras, dingin, dan tegas. Anggota Sword of Sufferings yang awalnya tampak bingung langsung sadar. Orang-orang di belakang langsung mengikuti instruksi Ark, mengambil busur dan anak panah lalu mulai membidik.
“PARA KSATRIA! CABUT PEDANG KALIAN DAN ANGKAT PERISAI!”
Mengikuti perintah Ark. Orang-orang di barisan depan langsung bersiap. Mereka mengatur posisi, menarik pedang dan mengangkat perisai. Berisap menghadapi para semut yang langsung bergegas ke arah mereka dengan gila.
“PARA PEMANAH! TEMBAK!”
Puluhan anak panah secara bergiliran melesat menuju ke arah para semut. Meski bidikannya tepat, tetapi anak panah sama sekali tidak menghasilkan luka serius. Mungkin karena telah menduganya, Ark masih memiliki penampilan tenang.
Sementara banyak orang panik, bahkan beberapa yang pengecut berusaha melarikan diri, Ark dan bawahannya masih diam di barisan mereka. Sosok Ark mengunggu, dan terus menunggu. Dekat … semakin dekat … saat para semut berada dalam jarak kurang dari sepuluh meter, pemuda itu langsung menghunus pedang, menunjuk ke depan sambil berteriak lantang.
“BUNUH MEREKA SEMUA UNTUKKU!!!”
__ADS_1
>> Bersambung.