
Tidak menanggapi ucapan Ark, sosok ‘Jay’ meraung marah. Dia langsung menyerang pemuda yang berada beberapa meter di depannya. Orang yang membuatnya merasakan bahaya.
BANG!
Belum sempat orang-orang berkedip, sosok Ark tiba-tiba dihempaskan belasan meter.
Menahan serangan Jay, mata Ark menyempit. Walau memiliki banyak pengalaman, pemuda itu masih cukup terkejut dengan pukulan Jay yang lebih cepat daripada peluru tetapi juga berat.
Mengangkat sudut bibirnya, dia bergumam.
“Tanpa orang-orang ketahui, sebenarnya ada orang yang lebih berbahaya dan bisa meledak kapan saja dibandingkan Draco. Terlebih lagi, orang itu ternyata adalah Wakil Ketua dari Sword of Sufferings?”
Ekspresi Ark semakin tenggelam.
“Bukankah itu benar-benar miris?”
Melihat Jay yang kembali menyerangnya, mata Ark menjadi lebih fokus.
Swoosh! Swoosh! Swoosh!
Pukulan demi pukulan yang merobek udara melewati Ark, membuat ekspresi pemuda itu semakin serius. Anehnya, setiap serangan yang begitu cepat dan berat sama sekali tidak mengenainya.
Mata merah bak rubi itu terus bergerak, mengamati setiap gerakan Jay dengan cermat. Sembari menghindari sebelum serangan diluncurkan, dia memikirkan tindakan balasan yang perlu dilakukan.
Klang!
Pedang dan tinju bertabrakan dengan keras. Meski sedikit terdorong mundur, Ark masih mencengkeram erat pedang lalu menebas dengan tegas.
Di depan tatapan terkejut semua orang, nyala api biru melesat, memotong sisi kiri perut Jay dengan kejam.
Tidak sampai di sana, Ark yang melewati Jay langsung memutar tubuhnya lalu menebas bagian ketiak kiri. Melesat langsung ke bagian bahu untuk memotong tangan kiri makhluk itu.
“Cih!”
Menyadari kalau tebasannya kurang dalam karena pertahanan lawan cukup kuat, Ark mendecak tidak puas.
Pada saat hendak mundur, Jay juga memutar tubuhnya lalu memukul Ark dengan sangat keras. Karena jaraknya terlalu dekat, pemuda itu sama sekali tidak bisa mengelak. Langsung menggnakan salah satu anggota tubuh untuk bertahan.
BANG!
Sosok Ark dihempaskan puluhan meter. Ketika mendarat dengan stabil, pemuda itu langsung melirik tangan kirinya yang patah. Bukan hanya patah, tetapi bengkok dengan cara yang aneh.
Walau rasanya sebenarnya sangat sakit, Ark sama sekali tidak merubah wajahnya. Pemuda itu malah mencengkeram erat pedang dengan tangan kanannya, menunggu serangan lanjut dari Jay yang mengejarnya.
Tanpa mengucapkan sepatah kata, pemuda itu langsung mengayunkan pedangnya dari kejauhan.
Swoosh! Swoosh!
__ADS_1
Seolah dikendalikan pedang di tangan Ark, seratus bilah yang diselimuti api merah menyerang Jay sesuai dengan lintasan pemuda itu menebas.
Klang! Klang! Klang!
Makhluk itu menyilangkan tangan sambil sedikit menunduk untuk menghalangi serangan Ark. Dia menerobos ke depan dengan cepat, mengabaikan bilah-bilah tajam yang memotong dan melukai tubuhnya.
“ROOAARR!!!”
Ketika jarak keduanya menjadi kurang sepuluh meter, makhluk itu langsung membuat raungan keras yang menyebabkan banyak orang terkejut.
Detik kemudian, dia melesat dengan kecepatan penuh dan muncul di depan Ark sambil mengayunkan tinjunya dengan sekuat tenaga.
Crash!
Ark menebas sekuat tenaga, tetapi pedang di tangannya langsung dipatahkan. Belum sempat menghindar, pukulan lain menghancurkan tulang rusuk kirinya.
JLEB!
Saat itu juga, ekor seperti tombak langsung menembus jantung Ark. Menggantungnya tinggi-tinggi sebelum menghempaskannya belasan meter.
Di depan tatapan tidak percaya semua orang, tubuh Ark langsung berguling-guling di tanah. Berhenti bergerak ketika menabrak pohon dengan keras.
Seratus belati terbang juga langsung jatuh ke tanah, benar-benar kehilangan nyalanya.
Selain geraman rendah dari makhluk itu, suasana langsung menjadi sunyi.
Kurang dari setengah menit kemudian, suara batuk terdengar. Saat itu, semua orang melihat ke arah sumber suara.
Melihat rambut panjang tergerai dan pakaian berantakan, pemuda itu menghela napas panjang. Dia langsung merobek kemeja lalu membuangnya ke samping, menunjukkan tubuh ramping tetapi berotot yang dipenuhi dengan luka.
Walau luka-luka itu tampak mengerikan, tetapi mulai pulih dengan kecepatan yang bisa dilihat oleh mata.
“Menghadapimu hanya dengan kemampuan bawaan tampaknya memang tidak mungkin. Sepertinya aku masih terlalu percaya diri dan berakhir dipukuli.”
Sambil mengatakan itu, Ark mulai merapikan rambutnya lalu mengikatnya ke belakang. Dalam sekejap, tubuhnya mulai kembali normal.
Setelah mengikat rambutnya, pemuda itu mengusap darah di sudut bibirnya.
“Kamu tidak berpikir semua akan berakhir sesingkat itu kan? Maaf saja, Kawan ...”
Memiliki senyum main-main di wajahnya, Ark berkata.
“Aku baru saja selesai pemanasan.”
***
Sementara itu, di lorong depan kamar Mona.
__ADS_1
“Apakah anda berusaha menghentikan saya, Nona Roxanne?”
Melihat sosok Roxanne yang berdiri menghalangi jalannya, Mona langsung mengerutkan kening. Dia jelas mengetahui kalau keributan yang terjadi di luar disebabkan oleh Ark dan Jay. Itulah yang membuatnya merasa sangat khawatir.
“Aku hanya menjalankan tugas, Kak Mona. Maaf, sebaiknya kamu kembali ke kamar untuk beristirahat. Lagipula, terlalu lelah tidak baik untuk bayi yang ada dalam kandungan.”
Mendengar ucapan Roxanne, Mona tahu kalau wanita itu tidak akan mengizinkannya keluar. Namun dia sendiri merasa harus keluar untuk melihat apa yang terjadi. Lagipula, apa yang terjadi pasti ada hubungannya dengan Jay, kekasihnya sekaligus ayah dari bayi dalam perutnya.
“Bukankah menghirup udara segar juga baik, Nona Roxanne? Bagaimana kalau membiarkan saya keluar sebentar?”
“Bukankah kamu tadi sudah keluar, Kak Mona? Jalan-jalan sebentar dan sedikit berolahraga memang baik, tetapi sebaik tidak berlebihan.”
“Tapi-“
“Maafkan aku, Kak Mona. Kamu harus kembali ke kamar. Ini perintah dari Ketua.”
Ekspresi Mona berubah. Jejak kesedihan tampak di wajah wanita dingin itu. Dengan tangan mengepal erat, dia bertanya.
“Apakah Jay akan baik-baik saja? Selama anda menjawab pertanyaan ini, saya akan kembali ke kamar.”
Roxanne langsung memejamkan matanya. Mengingat bagaimana Ark memintanya untuk mencegah Mona keluar sebelumnya, dia merasa ragu. Menghela napas panjang, wanita itu menjawab.
“Aku tidak tahu.”
“...”
Mona menunduk. Setelah memikirkan berpikir sejenak, wanita itu berkata.
“Seharusnya semua baik-baik saja kan?
Aku tahu kalau Jay suka membuat masalah dan tidak bisa diandalkan. Dia juga sering kali menjadi beban dan membuat ketua merasa tidak nyaman. Namun, pria itu sama sekali tidak jahat.
Maksudku ... dia hanya naif dan bodoh?
Jay itu setia terhadap rekan-rekannya. Meski bodoh, dia juga sangat peduli dengan sesamanya. Orang itu sama sekali tidak akan mengkhianati Sword of Sufferings. Dia pasti hanya merasa bingung atas apa yang menimpanya. Lagipula, Jay pasti mengkhawatirkan orang tuanya. Jadi ...
Ketua pasti tidak akan menganggapnya sebagai penghalang kan? Dia akan baik-baik saja kan?”
Mona mengangkat wajahnya. Air mata mulai mengalir membasahi pipinya. Walau dia merasa kesal karena Jay sibuk sendiri, bahkan sempat mendekati wanita lain padahal dia dalam kondisi seperti sekarang.
Tetap saja, Mona tidak bisa tidak mengkhawatirkannya.
Melihat Mona yang menjalani hari-hari buruk setelah menjalankan misi penjelajahan ini, Roxanne langsung menghampiri lalu memeluk wanita itu sembari berbisik.
“Aku tidak tahu. Aku memang tidak tahu, tapi ...”
Roxanne menghela napas panjang.
__ADS_1
“Percayalah, Ketua pasti membuat keputusan yang terbaik. Bukan hanya untuk dirinya sendiri atau Sword of Sufferings, tetapi juga untuk Kak Jay.”
>> Bersambung.