Apocalypse Regression

Apocalypse Regression
Pesona Bunga


__ADS_3

Sekitar setengah jam kemudian.


“Silahkan diminum.”


Jay, Chris, dan Lara duduk di kursi sementara sosok gadis cantik itu menyajikan minuman. Usai menyajikan, dia ikut duduk di kursi berseberangan dengan Jay.


“Ah! T-Terima kasih!” balas Jay sambil menggaruk belakang kepalanya.


Mengetahui kalau dirinya beberapa kali teralihkan, Jay merasa agak malu. Dia melirik ke arah gadis itu, lalu disambut dengan senyum lembut dan ramah.


Melihat senyuman itu, Jay merasa lebih gugup.


“Maaf, hanya ini yang bisa saya hidangkan, Nyona Lara, Tuan Chris.”


Gadis itu sedikit membungkuk dengan ekspresi bersalah. Meski ingin menyambut tamu dengan baik, tetapi dia hanya bisa menyajikan air dan beberapa potong buah.


“Berhenti melamun dengan ekspresi bodoh dan mempermalukan kami, Nak!”


Melihat Jay yang melongo, Lara langsung berkata dengan ekspresi tak puas di wajahnya. Wanita itu kemudian menoleh ke arah gadis cantik di sebelahnya.


“Namanya Chelsea. Dia adalah ilmuwan jenius dan ahli farmasi yang membantu kami dalam mengembangkan banyak obat.”


“Mungkin terlambat, tapi perkenalkan ... nama saya Chelsea. Mohon bantuan ke depannya.”


Chelsea sedikit membungkuk, menyapa Jay dengan sopan.


“Uhuk! Uhuk!”


Melihat putranya yang teralihkan dengan paras cantik dan gelombang yang muncul ketika Chelsea membungkuk, Chris langsung pura-pura batuk.


“Anu! Ya! Namaku Jay. Mohon bantuan ke depannya.”


“...”


Chris dan Lara kehilangan kata-kata ketika melihat kebodohan putra mereka. Sementara itu, Chelsea menutup mulut dan terkikik.


Suara merdu terdengar di telinga Jay. Pria itu menatap ke arah Chelsea seperti sedang kesurupan. Pada saat itu juga, dia tiba-tiba teringat sosok Mona.


‘Ingat Jay, kamu sudah berkeluarga! Berhenti memikirkan hal-hal bodoh seperti itu!’


Jay menggelengkan kepalanya. Namun, ekspresinya kembali berubah ketika melihat Chelsea.


‘Kalau tidak salah, Ark memiliki hubungan dengan beberapa perempuan, kan? Ini adalah apocalypse dan hukum tidak berlaku, kan? Mungkin saja aku bisa ...’


Melihat Chelsea yang teramat cantik, Jay tanpa sadar menelan ludah.


“Aduh!”


Jay tercengang ketika melihat ayahnya memukul belakang kepalanya. Merasakan tatapan tidak puas pria paruh baya itu, dia benar-benar tidak tahu apa yang sedang terjadi.

__ADS_1


“Bukankah kamu datang untuk melihat lab? Kamu bilang ingin menanyakan beberapa hal dan mencoba membantu, kan? Apa yang kamu lakukan dengan melamun di sana?!”


Mendengar itu, Jay langsung memasang senyum canggung di wajahnya. Setelah melihat Chelsea dan duduk untuk minum, pria itu benar-benar melupakan tujuannya datang ke tempat itu.


“Apakah itu benar, Tuan Muda?” tanya Chelsea.


Sebagai anggota Golden Maple Group, gadis itu memanggil Jay dengan sebutan ‘Tuan Muda’ karena telah mengetahui identitasnya.


“Eh?! Iya. Aku memang datang untuk memeriksa. Namun, kamu tidak perlu memanggilku Tuan Muda. Kamu bisa memanggilku Jay secara langsung atau Kak Jay.”


“Kalau begitu ... Kak Jay?”


Chelsea memandang ke arah Jay dengan mata berwarna lavender. Suara lembut dan senyum ramah gadis tersebut membuat jantung Jay berdegup kencang.


“Kalau begitu, bisakah aku memanggilmu Chelsea secara langsung?”


“En.” Chelsea mengangguk lembut.


Usai bertukar beberapa kata, Chelsea bangkit sambil berkata.


“Kalau begitu tolong ikuti saya, Tuan Muda ... maksud saya, Kak Jay.”


“Baik!”


Jay bangkit dengan penuh semangat. Pria itu lalu mengikuti kemana Chelsea pergi.


Sesaat kemudian, mereka pun tiba di ruang khusus tempat Chelsea biasanya melakukan penelitian.


Meski begitu, ada juga beberapa potongan daging dan beberapa kelinci bermutasi. Kelinci-kelinci itu sama sekali tidak menjadi lebih besar. Bedanya, makhluk itu memiliki sebuah tanduk di dahinya.


“Ini?” ucap Jay dengan ekspresi ragu.


Mendengar itu, Chelsea mengambil satu kelinci dari kandang. Makhluk itu sama sekali tidak membuat banyak perlawanan.


Gadis itu mengelus kepala kelinci bermutasi dengan senyum lembut di wajahnya. Mengalihkan pandangannya ke Jay, dia pun berkata.


“Bukankah ini menyedihkan, Kak Jay? Makhluk lucu seperti mereka pada akhirnya harus menjadi bahan percobaan hanya karena lemah. Namun, jika tidak menggunakan mereka, manusia tidak bisa maju.


Pada akhirnya, kita diburu oleh makhluk yang lebih kuat tetapi memburu yang lebih lemah. Ya ... begitulah dunia bekerja.”


“...”


Melihat ekspresi sedih di wajah Chelsea, Jay bingung harus mengatakan apa. Setelah memikirkannya baik-baik, dia akhirnya berkata.


“Aku mengenal seseorang yang mungkin bisa membantumu. Meski apa yang kamu lakukan memang luar biasa, tetapi aku mengenal seseorang yang juga ahli dalam bidang farmasi.”


“Eh?” Chelsea menatap Jay dengan sepasang mata berwarna lavender, tampaknya agak bingung sekaligus terkejut. “Apakah itu benar, Kak Jay?”


“Benar. Hanya saja, ada beberapa hal yang harus kamu ingat.”

__ADS_1


“Tolong katakan, Kak Jay.”


“Pertama, dia itu sangat tak acuh pada seseorang dan kehidupan. Ekspresinya sangat dingin seperti es. Meski begitu, lelaki itu memiliki pencapaian baik dalam banyak hal.


Kemudian, ada hal yang lebih penting. Chelsea, kamu harus menjaga jarak dengannya. Lelaki itu seperti serigala jahat yang mengincar kelinci lucu dan manis sepertimu. Maksudku, kamu cantik, jadi harus berhati-hati tidak terjebak dalam perangkapnya.”


“...”


Mendengar itu, Chelsea mengangguk dengan ekspresi serius. Bukannya tampak dingin, gadis itu malah tampak lebih imut.


Di sisi lain, Ark tidak tahu kalau pria yang selalu menyebutnya sebagai sahabat terbaiknya menjual dirinya. Mengatakan hal-hal buruk tentang dirinya di depan orang lain karena menargetkan gadis itu.


Benar-benar bersikap murahan dan tidak kompeten!


Melihat Jay yang melongo dan tampak bodoh, Chelsea menutup mulutnya sambil menahan tawa. Hanya saja, senyum menawan masih tampak di wajahnya.


“Kenapa kamu tertawa?” tanya Jay dengan ekspresi linglung.


“Saya hanya merasa, selain baik ... kamu juga lucu, Kak Jay. Saya menyukainya.”


Mengatakan itu, pipi Chelsea tiba-tiba menjadi agak merah. Gadis itu kemudian menjelaskan dengan terburu-buru.


“Maksud saya, anda sangat ramah dan baik. Berbeda dengan orang-orang yang selalu dalam tekanan dan membuat frustrasi, saya merasa nyaman berada di sekitar anda.”


“...”


Jay berdiri mematung di tempatnya. Pria itu merasa jantungnya berdegup kencang seperti genderang perang. Tanpa sadar, dia menatap Chelsea dengan tatapan panas.


Merasakan itu, Chelsea tanpa sadar mundur dua langkah sambil memanggil.


“Kak Jay?!”


Sadar dari lamunannya, Jay melihat Chelsea yang agak ketakutan dengan ekspresi menyesal. Pria itu kemudian membungkuk 45 derajat sambil berseru.


“Maafkan atas ketidaksopananku, Chelsea.”


Meski agak takut, Chelsea masih berkata.


“Tidak apa-apa, Kak Jay. Daripada membahas hal itu, bagaimana kalau kita membahas hal lain? Misalnya bunga ungu dengan tujuh kelopak ini?”


Mendengar jawaban Chelsea, Jay merasa lega. Dia akhirnya mengikuti gadis itu dalam diam.


Selama berkeliling, Chelsea terus menjelaskan berbagai bahan dengan serius. Suaranya benar-benar merdu dan enak didengar. Dari setiap ucapannya, tampaknya dia benar-benar sangat suka belajar.


Sementara itu, Jat yanga terus mengikuti dan mendengarkan. Melihat paras cantik, mendengar suara merdu, dan mengendus aroma bunga yang menyegarkan benar-benar membuat pria itu mabuk.


Meski mengingat Mona dan tahu kalau apa yang dilakukan salah, dia tidak bisa menghentikan dirinya sendiri.


Rasanya benar-benar telah jatuh dalam pesona bunga cantik yang ada di depannya.

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2