
Empat hari kemudian.
"Seratus lima puluh botol. Setiap orang maksimal meminum sepuluh botol. Satu hari tidak boleh mengonsumsi lebih dari satu botol atau orang itu akan meledak."
Ark meletakkan tiga kotak ke atas meja. Di setiap kotak, ada 50 botol kecil ramuan evolusi tingkat satu. Dia kemudian melihat ke arah Julian dan Joseph.
"Dua kotak untuk Silver Cross, satu kotak untuk Black Panther. Tidak ada yang keberatan, bukan?"
Mendengar pertanyaan itu, Joseph dan Julian saling memandang. Sebenarnya Joseph merasa kalau itu "kurang adil", tetapi dia juga sadar kalau Julian bertaruh dengan Ark.
"Kami tidak keberatan," ucap Joseph.
"Terima kasih." Julian mengangguk ke arah Joseph.
"Tidak masalah. Beginilah seharusnya."
Keduanya kemudian melihat ke arah Ark. Julian menarik napas dalam-dalam sebelum berkata.
"Sepuluh hari untuk mencerna dan membiasakan diri. Dua hari untuk melakukan serangan.
Hasilnya akan ditentukan dalam dua belas hari."
Mendengar ucapan Julian membuat Ark mengelus dagu. Pemuda itu kemudian bergumam dengan ekspresi datar di wajahnya.
"Lima hari sebelum akhir musim dingin. Waktunya cukup tipis, tetapi bukan masalah."
Ark mengalihkan pandangannya ke arah Julian sebelum melanjutkan.
"Aku akan menyiapkan pedang paling tajam dan mengasahnya dengan baik. Jika kamu menggunakannya, pasti lebih baik daripada pedang rusak itu.
Ya ... Pastikan saja untuk mencuci lehermu sampai bersih."
Setelah mengatakan itu, Ark mengambil topengnya lalu pergi meninggalkan ruangan.
Julian memejamkan matanya. Dia menarik napas dalam-dalam, kemudian menghela napas panjang.
"Apakah kamu yakin dengan ini, Julian?" tanya Joseph.
"Maksudmu?" Julian melirik ke arah Joseph.
"Meski memberi potion untuk membuat sepuluh "awakener" terbilang murah hati, tetapi ini juga membuatmu lebih kesulitan.
Maksudku, aku bisa saja memilih 5 orang yang paling setia. Namun untuk memilih 10 orang, itu juga merupakan ujian lain. Belum lagi, kelompokmu terdiri dari orang-orang yang sebenarnya tidak saling mengenal.
Bisa dibilang ... Hades sedang menargetkan dirimu."
"Lalu kamu ingin membaginya menjadi 7 dan 8?" tanya Julian dengan senyum di wajahnya.
"Tentu saja tidak." Joseph menggelengkan kepalanya. "Meski hal tersebut cukup menguntungkan Black Panther, tetapi itu melenceng dari kesepakatan. Kamu pasti tahu, bagaimana Hades akan menanggapinya."
Melihat bagaimana Joseph sebenarnya tulus mengkhawatirkan dirinya, Julian tersenyum. Dia tidak menyangka kalau rekan aliansi itu masih memiliki hati. Mengangkat bahu, dia berkata santai.
__ADS_1
"Tenang saja. Silver Cross ... berbeda dari kelompok lainnya."
***
Dua hari kemudian.
"Sepuluh hari kemudian, kah?"
Duduk di punggung Finn, Ark bergumam pelan. Dia menatap ratusan zombie level satu dan dua di kejauhan. Di belakangnya, tampak para pejuang baru yang cukup gugup. Ada juga Lisa yang bersandar pada pedang yang ditancapkan di tanah sambil menguap dan Stacy yang berdiri menunggu perintah.
"Benar-benar tidak ada habisnya," gumam Lisa.
Ark menatap ratusan zombie yang bergegas maju. Dia sama sekali tidak bergerak dari tempatnya. Sebaliknya, pemuda itu langsung memberi perintah.
"Tarik keluar pedang kalian. Ingat, tidak perlu takut, lakukan sama seperti saat latihan." Ark melihat para zombie semakin mendekat. "Serang."
"SERANG!!!"
Entah siapa yang mulai berteriak dan maju terlebih dahulu, tetapi banyak orang langsung maju secara bersamaan.
Melihat bagaimana para prajurit bertarung ganas melawan para zombie, Ark melirik ke arah Stacy.
"Bantu aku mengurus para zombie level dua, Stacy."
Setelah mengatakan itu, Ark memegang busur dan mulai memanah. Stacy juga melakukan hal yang sama, tetapi ada perubahan pada matanya.
Stacy memanah dengan cepat. Bukan hanya menyaingi kecepatan Ark, tetapi juga akurasinya sangat kuat. Satu anak panah bisa digunakan untuk menumbangkan satu zombie. Benar-benar tidak kalah dengan Ark yang memiliki banyak pengalaman.
Alasannya adalah ... akurasi Lisa dalam memanah terlalu buruk. Bahkan lebih buruk daripada anak kecil yang baru belajar memanah!
Ark benar-benar tidak ingin anggota baru yang telah dia latih terbunuh oleh anak panah nyasar!
Bukan hanya rugi nyawa, tetapi juga waktu dan sumber daya. Membayangkannya saja membuat Ark merasa tidak enak badan.
Jadi kecuali ada situasi tidak terduga ...
Biarkan saja Lisa berdiri di sana sebagai maskot.
Saat itu, suara Huginn dan Muninn terdengar. Lisa yang sebelumnya mengantuk tiba-tiba membuka matanya. Mencabut pedangnya, dia berjalan mengikuti arah kedua burung gagak putih sambil berkata.
"Tampaknya sudah waktunya bagi nona ini beraksi."
Setelah itu, Lisa langsung pergi. Dia terus mengikuti kemana Huginn dan Muninn menuju. Namun saat gadis itu sampai di tujuan, dia benar-benar kehilangan kata-kata.
Jauh di depannya, Lisa bisa melihat sosok besar berjalan menuju ke arah wilayah Sword of Sufferings. Setiap kali makhluk itu melangkah, suara keras terdengar. Rasanya tanah di sekitar makhluk tersebut berguncang.
Apa yang Lisa lihat adalah ... seekor badak.
Badak yang lebih besar daripada gajah Afrika dengan kulit tebal. Rasanya makhluk tersebut seperti sedang memakai armor berat. Selain itu, meski lambat, badak tersebut sangat berat. Baik serangan dan pertahanan makhluk tersebut jelas tidak perlu diragukan lagi.
'MILIKKU!'
__ADS_1
Pikir gadis itu sebelum berbalik pergi. Dia langsung berlari ke tempat Ark berada.
Setelah sampai di sana, gadis itu langsung berkata.
"Kamu harus maju sendiri, Kak! Itu badak bermutasi tingkat tiga. Aku tidak bisa melakukannya."
"..."
Sudut bibir Ark berkedut. Dia tidak menyangka kalau Lisa begitu lugas. Mengingat sosok badak bermutasi dalam benaknya, pemuda itu mengangguk.
Ark melompat turun dari punggung Finn. Dia kemudian berkata kepada husky putih tersebut.
"Panggil Kurona, Shirona, dan Jay. Suruh mereka datang."
Mendengar perintah Ark, Finn langsung pergi menuju ke markas.
Ark kemudian melihat ke arah Stacy.
"Aku serahkan sisanya kepadamu, Stacy."
"Baik, Tuan." Stacy mengangguk.
Setelah itu, Ark pergi bersama dengan Lisa. Mereka bergegas menuju ke tempat badak bermutasi berada. Sesampainya di sana, pemuda itu menatap sosok bermutasi dengan ekspresi serius.
"Sepertinya kamu pandai dalam memilih, Lisa. Makhluk ini benar-benar tidak buruk."
Mendengar Ark yang tiba-tiba memuji dirinya, Lisa tersenyum.
"Jadi—"
"Kita tidak bisa membiarkannya terus maju. Jika tidak, dampak pertarungan mungkin bisa merusak pagar pembatas."
Sebelum Lisa berbicara, Ark tiba-tiba memotongnya. Pemuda itu kemudian membidik badak bermutasi dengan busur di tangannya.
Swoosh!
Anak panah melesat cepat. Ketika mengenai kulit badak bermutasi, anak panah malah memantul kembali.
Melihat pemandangan itu, ekspresi Ark menjadi lebih serius.
"Tampaknya serangan biasa tidak akan berfungsi. Pertahanannya terlalu kuat."
Lisa yang mendengar ucapan Ark menjadi agak kecewa. Jika mereka tidak bisa membunuh makhluk itu dan malah mengusirnya, dia harus memilih binatang bermutasi lain agar tidak merepotkan rekan-rekannya.
Saat itu, Jay, Kurona, dan Shirona akhirnya tiba. Bukan hanya mereka, tetapi empat husky juga datang. Melihat pemandangan di kejauhan, mereka cukup terkejut.
"Pertahanannya terlalu kuat, jadi kalian tidak perlu menahan diri. Aku memiliki tiga perintah ..."
Ark menyingkirkan busur dan anak panah lalu menghunus pedangnya. Mata hitamnya mulai berubah warna dan uap kemerahan mulai menyelimuti tubuhnya.
"Hentikan, tekan, lalu hancurkan makhluk itu!"
__ADS_1
>> Bersambung.