Apocalypse Regression

Apocalypse Regression
Putus Asa


__ADS_3

Malam harinya, dalam markas Silver Cross.


"Apakah anda akan membiarkan semua ini berlalu begitu saja, Ketua?"


Di ruang rapat, Donzel berkata dengan ekspresi cemas di depan Julian. Tampak tidak setuju untuk membiarkan Darin pergi begitu saja.


"..."


Julian hanya diam sambil menutup matanya. Sebenarnya dia merasa sangat bingung. Pria itu merasa ragu untuk membuat keputusan.


"Alvaro yang memulai pertengkaran dan dia juga yang mengancam Darin. Berkata bahwa jika ada kesempatan, dia akan pergi mencari markas Sword of Sufferings. Membunuh anggota laki-laki dan membawa para wanita kembali."


Yonas langsung membalas dengan ekspresi rumit. Di satu sisi, dia merasa agak kasihan dan kurang nyaman karena Silver Cross ditentang. Namun, di sisi lain, pria itu tidak bisa berbohong kalau Alvaro memang memiliki niat buruk.


"Apa kamu yakin, Yonas?!"


Julian bertanya. Saat itu, banyak mata diarahkan kepada Yonas. Tentu saja, banyak yang tidak puas kepada pria itu karena membela "orang luar", daripada membela anggota kelompoknya sendiri.


Menarik napas dalam-dalam, Yonas masih berkata dengan jujur.


"Aku yakin, Ketua. Bahkan ketika berbicara dengan Darin, dia bilang, jika bukan karena hubungan Sword of Sufferings dan Silver Cross ...


Dia pasti sudah membunuh Alvaro."


"Dia telah memotong kaki Alvaro dan menghancurkan tangan kanannya! Sama saja membunuhnya!


Cih! Membela orang luar seperti itu. Memangnya berapa banyak orang itu membayarmu?"


Donzel berkata dengan ekspresi sengit.


Melihat ke arah Donzel, Yonas menggelengkan kepalanya. Memiliki senyum masam di wajahnya, dia berkata.


"Aku tidak peduli jika kamu dan Alvaro membenciku karena Shani. Namun, jangan libatkan dua urusan yang berbeda. Aku hanya mengatakan yang sejujurnya.


Apakah kalian percaya atau tidak, itu terserah kalian."


"Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan Shani!" ucap Donzel dengan ekspresi marah.


"Cukup!"


Melihat keduanya berdebat, Julian langsung berkata dengan nada tegas.


"Masalah ini akan ditunda terlebih dahulu. Ada masalah penting soal kemungkinan gelombang zombie dan binatang buas yang mungkin terjadi tengah malam.


Urusan Darin dan Sword of Sufferings ditunda terlebih dahulu. Kita harus fokus pada pertahanan. Banyak nyawa yang harus kita lindungi."


"Apakah berita tersebut bisa diandalkan, Ketua? Maksudku ... apakah 100% akurat?"


Salah satu anggota bertanya.


"Sekitar 50% akurat. Namun, lebih baik mencegah daripada kita menerima dampak keras seperti sebelumnya. Aku yakin ... orang itu tidak mengirim seseorang untuk datang hanya karena keisengan semata."


Orang-orang saling memandang. Yonas dan Donzel juga saling memandang. Karena prioritas utama saat ini adalah bertahan hidup, mereka akhirnya memutuskan untuk menunda.


"Kalian semua bantu segera panggil anggota tim kalian. Kita akan membuat barikade sederhana di sekitar pintu depan gedung. Setelah itu, segera istirahat. Kita harus menyimpan tenaga untuk bertarung!"


"Baik!!!" jawab mereka semua serempak.


Melihat ke arah rekan-rekannya, ekspresi Julian tampak serius. Benar-benar sangat mementingkan apa yang mungkin terjadi malam ini.


***


Tanpa terasa, beberapa jam berlalu begitu saja.


Menatap langit malam dipenuhi bintang, ekspresi serius tampak di wajah orang-orang di markas Silver Cross. Bukan hanya tidak memiliki ekspresi bahagia, mereka tampak sangat suram.


Tidak ada jam. Tanpa kepastian, semua orang menunggu dalam diam. Mereka semua menjadi gugup. Otot-otot mereka tampak semakin tegang, padahal pertarungan belum dimulai.


Akhirnya ... jam dua belas malam tiba!


Saat itu, orang-orang merasa otak mereka berdengung. Mereka langsung mengambil pegangan agar tidak jatuh. Setelah sepenuhnya sadar, mereka semua saling memandang dengan ekspresi bingung.


Selain rasa pusing ... sama sekali tidak ada yang terjadi.

__ADS_1


"Tampaknya informasi yang diberikan oleh pemuda bernama Darin itu salah. Kami hanya buang-buang waktu. Seharusnya—"


"Diam!"


Sebelum Donzel menyelesaikan ucapannya, Julian menyela. Ketika semuanya diam, pria itu mencoba mendengarkan dengan baik-baik.


Pada awalnya, suara tidak terlalu jelas. Namun, setelah beberapa saat, suara menjadi semakin keras. Rasanya seperti kerumunan orang sedang berlari bersamaan. Suara tersebut jelas membuat ekspresi orang-orang menjadi jelek.


Julian langsung berteriak.


"Bersiap di posisi kalian! Ketika musuh tiba, kita akan menghadangnya! Banyak nyawa yang harus kita lindungi!!!"


"YA, PAK!!!" jawab semua orang serempak.


Darin juga ada di antara orang-orang yang mencoba menahan gelombang zombie. Dia berdiri di posisi tidak jauh dari Yonas. Hanya saja, ketika para zombie muncul ...


Ekspresi semua orang langsung menjadi pucat.


Bukan puluhan. Bahkan dalam sekali lihat, ada ratusan zombie. Mungkin lebih dari seribu zombie!


Hal tersebut jelas membuat orang-orang gemetar ketakutan. Saat itu juga, suara heroik Julian terdengar.


"Mereka hanya menang dalam jumlah! Jika kita bersatu, kita memiliki kemungkinan untuk bertahan lebih besar!


Berdiri di posisi kalian ... Bersiap untuk bertarung!!!"


Akan tetapi, ketakutan di hati orang-orang lebih tinggi daripada keinginan mereka untuk bertarung.


Entah siapa yang memulai, satu per satu orang mulai berteriak lalu berbalik untuk melarikan diri.


Sosok Yonas masih berdiri di tempatnya dan bertekad, tetapi saat itu tangannya ditarik.


"Kita harus pergi! Dengan orang sebanyak ini, tidak mungkin kita menang tanpa memanfaatkan medan."


"Tapi—"


"Apakah kamu memiliki keluarga? Pacar? Atau siapa saja? Kita harus menemukannya dan segera pergi!


Para zombie akan segera tiba! Berhenti bersikap bodoh, waktu tidak menunggu siapapun! YONAS!!!"


"Shani ..." gumam Yonas. "Bahkan jika aku mati, aku harus melindungi Shani!"


"Apa yang kamu tunggu! Kita harus pergi!"


"Baik! Ikuti aku! Kalian semua juga ikuti aku!"


Yonas langsung memerintahkan empat anggota timnya. Pria itu tahu bahwa mereka berempat sudah tidak memiliki keluarga, jadi mereka hanya memedulikan nyawa mereka sendiri.


"Kak Yonas—"


"Diam saja dan ikuti aku!"


"Baik!!!" jawab mereka serempak.


Dalam kekacauan, puluhan anggota Silver Cross langsung bubar. Mereka mencoba mundur untuk menyelamatkan nyawa mereka sendiri.


Mengikuti Yonas, Darin dan empat pria lain segera menuju ke lantai dua lalu mengetuk sebuah pintu.


"SHANI! CEPAT BUKA PINTUNYA!! KITA HARUS SEGERA PERGI DARI SINI!!"


Yonas menggedor pintu dengan panik. Pintu terbuka, sosok gadis cantik berkulit putih dengan rambut pirang lurus sebahu dengan mata biru membuka pintu. Gadis remaja itu terkejut ketika melihat sosok Yonas yang panik.


"Kakak? Ada apa? Kenapa kamu—"


"Situasi tidak baik! Ada sekitar seribu zombie! Kita harus segera pergi!


Tampaknya Ketua dan orang-orang memilih untuk naik ke atas. Kita harus ikut naik, menunda waktu sambil menemukan tempat cocok untuk bertarung!"


"YONAS!!!"


Darin berseru. Dia kemudian melihat kalau Yonas, Shani, dan empat orang lainnya menoleh ke arahnya.


"Kita harus meninggalkan bangunan ini. Naik ke atas bukan pilihan yang bagus."

__ADS_1


"Tapi—"


Suara Yonas tercekat ketika melihat ekspresi serius di wajah Darin.


Darin tidak banyak bicara, tetapi memandang orang-orang dan berkata.


"Percayalah padaku! Bahkan jika kita gagal, kemungkinan selamat yang aku pilih lebih baik daripada naik ke atas!"


"Ugh ..."


Yonas menggaruk kepalanya dengan ekspresi tertekan.


"TERSERAH! KALAU BEGITU AKU IKUT! NAMUN JIKA GAGAL DAN TERJADI SESUAI PADA SHANI ...


BAHKAN JIKA ADA KEHIDUPAN LAIN, AKU TIDAK AKAN MEMAAFKAN DIRIMU, DARIN!!!"


"AKU MENGERTI!" jawab Darin dengan suara berat.


"Maaf, Kapten! Aku akan pergi ke atas mengikuti ketua. Aku tidak bisa ikut denganmu."


"Aku juga!"


"Maafkan aku, Kapten!"


"..."


Tiga orang menyatakan untuk tidak ikut.


Melihat ke arah mereka, Yonas menghela napas panjang. Dia kemudian berkata.


"Tidak apa-apa! Maafkan atas kecerobohanku. Kalian adalah saudara-saudara bagiku. Jika kita selamat dan bisa bertemu ...


Kita akan duduk bersama dan bercanda lagi seperti sebelumnya. Pergi!!!"


Mereka bertiga saling memandang. Memiliki ekspresi rumit di wajah, mereka akhirnya memberi hormat dan berkata serempak.


"Kami pergi, Kapten!"


Melihat ketiga orang pergi, Yonas menatap ke arah salah satu rekan yang tertinggal.


"Kamu tidak pergi, Vadim?"


"Kamu pernah menyelematkan aku, Kapten. Hidup mati ini ... Aku akan mengikuti dirimu."


Pria bernama Vadim itu berkata dengan senyum di wajahnya.


Yonas langsung memukul ringan pundaknya sambil berkata.


"Dasar bodoh. Kalau begitu ..." dia mengalihkan pandangannya ke Darin. "Nyawa kami bertiga ada di tanganmu, Darin!"


Menarik napas dalam-dalam, Darin berkata.


"Aku mengerti. Ikuti aku!"


Setelah mengatakan itu, Darin bergegas. Diikuti oleh tiga orang lainnya, dia segera keluar dari gedung lewat pintu belakang.


"Ada sebuah rumah besar sekitar satu kilometer dari sini. Kita harus bergegas pergi ke sana.


Di sana seharusnya ada basemen. Kita bisa bersembunyi di sana!"


Mengatakan itu, Darin terus berlari menuju ke lokasi. Untung saja, gelombang zombie muncul dari arah yang berlawanan, jadi setidaknya, mereka tidak akan menuju ke arah zombie untuk bunuh diri.


Tentu saja, masih ada beberapa zombie yang tersisa di jalan. Karena tidak mungkin semua zombie berkumpul di tempat yang sama. Pasti ada beberapa yang tersebar di arah lain.


"Kita harus menghabisi mereka semua!"


Darin langsung mengayunkan tombak. Memotong kepala salah satu zombie dengan kejam. Meski memerlukan tenaga ekstra, tetapi sekarang dia bisa membunuh zombie normal dalam sekali serang.


Sambil terus bergerak maju dan bertarung, mereka akhirnya sampai di lokasi.


Hanya saja, ekspresi mereka semua ... khususnya Darin langsung berubah ketika melihat satu zombie tersisa yang berdiri menghadang jalan mereka. Dalam sekali lihat, zombie itu tidak normal karena memiliki kulit merah agak oranye. Namun, Darin langsung tahu karena mendapatkan informasi dari Ark bahwa apa yang ada di depan mereka ...


Adalah zombie spesial yang berkali-kali lebih berbahaya daripada zombie normal!

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2