
“Bagaimana bisa?”
Melihat pemandangan mengerikan dimana Blade of Areia mati-matian bertahan melawan ratusan kepiting koral biru sampai banyak yang terluka, Scorpio tampak tidak percaya.
“Memangnya apa yang kamu harapkan? Semua orang maju ke depan lalu menyapu bersih sarang binatang itu?”
Ucapan datar dari mulut Ark membuat Scorpio merasa malu. Meski memiliki perbedaan, dia sama sekali tidak menyangka kalau perbedaan masih terlalu dilebih-lebihkan.
Tentu saja, alasan kenapa Scorpio tidak tahu karena dirinya bahkan belum memahami level makhluk dan peningkatan melalui evolusi. Dia hanya berlatih dan mencoba membangun dasar karena para seniornya (prajurit lain) berkata kalau semua akan terungkap pada waktunya.
Menyuruh pria itu tidak terlalu terburu-buru karena takut mengacaukan segalanya.
“Apakah kita akan membantu mereka, Ketua?”
“Tidak perlu.” Ark menggeleng ringan sambil melihat dari kejauhan. “Meski agak berat, tetapi mereka pasti bisa melaluinya. Biarkan menjadi pengalaman yang tidak pernah mereka lupakan sepanjang hidup.”
“...”
Entah kenapa, Scorpio merasa kalau kata ‘agak berat’ memiliki arti yang berbeda jika keluar dari mulut Ark. Habis-habisan, mati-matian, penuh darah dan sekarat ... itu benar-benar dianggap sebagai ‘agak berat’ di mulut pemuda tampan berambut putih itu.
Scorpio merasa itu sangat keterlaluan!
‘Apakah mereka akan baik-baik saja?’
Melihat kondisi Blade of Areia, Scorpio merasa agak ragu. Namun ekspresinya berubah setelah beberapa waktu.
‘Ini ... bagaimana mungkin hal semacam ini bisa terjadi?’
Di depan mata terkejut Scorpio, Blade of Areia yang awalnya tampak putus asa benar-benar masih sanggup bertahan. Bahkan mereka mulai melancarkan serangan balik. Mulai membunuh satu per satu kepiting koral biru dengan kerja sama.
Dari apa yang Scorpio lihat, orang-orang itu tampaknya menirukan startegi yang dilakukan oleh Sword of Sufferings. Hanya saja, karena perbedaan kekuatan, mereka memerlukan lebih banyak orang untuk menaklukkan satu kepiting koral biru.
“Jangan remehkan tekad manusia untuk bertahan hidup.”
“Eh?”
Mendengar ucapan Ark, Scorpio tampak bingung.
“Aku menyebutnya ‘seni dalam berputus asa’ karena itu hanya bisa dilakukan ketika mereka dalam keadaan putus asa.
Misalnya, ketika menghadapi krisis kematian dimana mereka hanya memiliki dua jawaban. Jawaban pertama tentu saja menyerah lalu mati. Itu lebih mudah karena kebanyakan orang yang mengalami kegagalan memilih untuk kabur (mati) dan menghindari jalan itu.
Sedangkan yang terakhir adalah menggunakan keputusasaan untuk memaksa dirinya sendiri berkembang. Menggunakan seluruh tubuh, setiap milimeter untuk melakukan yang terbaik agar bertahan. Tubuh mengeluarkan potensi dalam diri, otak bekerja lebih keras, dan seperti yang kamu lihat ...
__ADS_1
Ya. Mereka berkembang dengan pesat meski dalam waktu singkat.”
“...”
Scorpio sama sekali tidak tahu harus mengatakan apa. Walau apa yang Ark katakan cukup masuk akal, tetapi dia merasa kalau hanya orang kurang waras yang menggunakan metode ekstrem dan kejam semacam itu.
Lempar beban berat di bahu mereka, biarkan mereka membentuk otot atau diltimpa sampai mati. Itulah bagaimana Scorpio mengartikan apa yang Ark sebelumnya katakan.
“Meski membutuhkan terlalu banyak orang untuk membunuh seekor kepiting, rasanya jumlah yang dibutuhkan terlalu jauh jika dibandingkan dengan zombie. Mereka terlalu banyak menyia-nyiakan tenaga dan kekuatan.”
Mendengar komentar dari mulut Ark, Scorpio memilih diam. Entah kenapa, rasanya dia telah mengembangkan rasa kebal atas ucapan sang ketua yang dingin dan kejam.
“Kamu bisa mengkhawatirkan mereka nanti. Apa yang perlu kamu lakukan sekarang adalah memperhatikan setiap gerakan seniormu. Karena sudah pasti, cepat atau lambat kamu juga akan melawan zombie dan binatang-binatang bermutasi.”
“Baik, Ketua!”
Mengikuti saran Ark, Scorpio lebih fokus dengan pertarungan orang-orang dari Sword of Sufferings. Melihat bagaimana berbagai keterampilan yang dipelajari bisa digunakan pada pertarungan nyata.
Tiga jam pun berlalu begitu saja.
Dalam waktu ini, lebih dari seribu kepiting koral biru dihabisi. Tentu saja, 80% dilakukan oleh Sword of Sufferings. Namun, area yang mereka bersihkan baru bagian luar dan mulut gua.
Orang-orang itu belum masuk lebih dalam untuk terjun dan menghabisi para kepiting yang ada di sarang.
“Ya. Meski agak lambat, tetapi cangkang mereka memang menyebalkan.”
“Ingat kata Ketua? Incar bagian celahnya, Bung. Celahnya!”
“Aku sudah mencobanya, tetapi tidak selalu berhasil karena mereka kadang bisa melindungi diri.”
“Hehehe. Begitu pula yang aku rasakan.”
“Lalu kenapa kamu protes?”
“...”
Selesai bertarung, orang-orang dari Sword of Sufferings pergi beristirahat sambil membicarakan pertarungan sebelumnya. Sementara itu, pemandangan lain terlihat di kelompok Blade of Areia.
Di sana, banyak orang tampak pucat dan lemas. Kebanyakan dari mereka tampak sangat kelelahan dan bisa ambruk kapan saja. Belum lagi, meski tidak ada korban nyawa, masih ada cukup banyak orang yang terluka entah itu ringan atau berat.
Jadi, pada saat melihat orang-orang dari Sword of Sufferings berbicara dan bercanda seperti baru pulang joging bersama, mereka sangat terkejut dan tampak tidak percaya.
Mereka sama sekali tidak percaya kalau perbedaan antara kedua kelompok bisa sampai sejauh itu. Mereka juga berhenti menganggap Sword of Sufferings remeh atau terlalu percaya diri.
__ADS_1
Orang-orang itu sadar, bukan karena Sword of Sufferings ingin berniat sombong atau tiudak serius. Namun pada kenyataannya, jumlah orang yang mereka bawa memang sudah lebih dari cukup untuk melakukan misi penalkukan bersama ini.
“Berhenti bersikap santai. Langsung pergi beristirahat. Aku memberi kalian waktu 1 jam.
Setelah itu, semua orang berkumpul sesuai dengan tim masing-masing. Kemudian, kalian akan mulai berjaga, lima tim akan berjaga selama dua jam dan dilakukan bergantian. Seperti yang kalian ketahui, meski musuh yang terlihat sudah beres, tetapi belum semua.
Bisa saja, musuh akan mengirim lebih banyak pasukan. Bukan hanya level 1, tetapi juga level 2. Jadi kalian mengerti yang aku maksud, kan?”
“Ya, Ketua!” jawab mereka serempak.
Scorpio merasa agak aneh. Dia merasa kalau orang-orang dari Sword of Sufferings terlalu penurut. Belum lagi, tidak ada penampilan tidak puas padahal Ark tidak ikut membantu dalam pertempuran.
Sementara orang-orang dari Blade of Areia sibuk beristirahat sambil mengobati luka, anggota Sword of Sufferings agak menjauh dari tempat pertempuran untuk istirahat dan makan.
Ark sendiri menyalakan sebatang rokok. Duduk di atas batu sambil mengawasi mulut gua di kejauhan. Tampaknya sedang menunggu sesuatu.
“Apakah ada masalah, ketua?”
Mendengar pertanyaan itu, Ark menjawab santai.
“Tidak ada masalah. Semua berjalan sesuai dengan dugaanku.”
“Sesuai dengan dugaan anda?”
“Ya.” Ark mengangguk ringan. “Itu berarti sebentar lagi waktunya bekerja.”
“Eh?”
Scorpio yang dianggap memiliki kecerdasan tinggi benar-benar tidak bisa memahami apa yang dimaksud oleh Ark. Namun, sekitar satu jam kemudian, dia baru paham apa yang dimaksud oleh sang ketua.
Suara gerakan ribuan kaki bersamaan yang terdengar berisik mengejutkan orang-orang yang sedang beristirahat. Khususnya orang-orang dari Blade of Areia yang berpikir pertempuran sudah usai.
Beberapa saat kemudian, ribuan kepiting koral biru muncul dari dalam gua raksasa. Hannya saja, kali ini agak berbeda karena ukuran mereka tidak hanya selebar satu meter. Ada yang memiliki ukuran dua, tiga, bahkan empat meter.
Semakin besar, tampak semakin mengerikan karena bentuk cangkangnya semakin tidak beraturan dan terlihat mengancam.
Saat itu juga, semua orang melihat sosok yang berjalan melewati mereka dengan tenang.
Berdiri jauh di depan barisan sendirian, Ark mencabut pedangnya. Pemuda itu mengembuskan asap rokok sambil menatap ke arah para kepiting dengan wajah datar.
“Waktunya bekerja, Anak-anak.”
>> Bersambung.
__ADS_1