Apocalypse Regression

Apocalypse Regression
Penipu


__ADS_3

Ucapan Stacy langsung membuat Darin merasa tidak nyaman.


Pemuda itu berjalan perlahan untuk melihat orang yang berjalan dari kejauhan. Mengintip dari jendela yang buram, dia melihat enam orang yang berjalan bersama-sama.


"Mereka ..."


Darin bergumam dengan ekspresi tertekan di wajahnya.


Orang-orang itu entah kenapa langsung membuat lukanya terasa sakit seperti pertama kali tangannya patah.


Saat itu, Darin terkejut ketika melihat Stacy tiba-tiba keluar dari toserba untuk melihat mereka semua.


"Apa yang kamu lakukan, Stacy?" tanya Darin lirih.


"Melihat mereka dari balik kaca buram tidak jelas, jadi aku keluar untuk melihat."


Stacy berbicara dengan nada tak bersalah. Melihat ke arah enam orang yang datang, gadis itu merasa agak aneh.


"Apakah mereka yang membawa Juana pergi?"


"Ya." Darin mengangguk. "Namun kali ini tambah satu orang lagi."


Sementara itu, di sisi lain, tampak enam orang terkejut ketika munculnya Stacy.


Kelompok itu terdiri dari sosok lelaki gemuk dengan tinggi sedang serta berambut keriting berwarna pirang, lelaki tinggi dan kurus dengan ekspresi muram di wajahnya, pria gemuk dengan baju kotak-kotak serta memakai kacamata, dan pria pendek kurus dengan gigi mancung dan memiliki tampang licik.


Selain keempat orang itu, ada juga lelaki tampan dengan rambut cokelat. Dia cukup tinggi, dengan tiga anting emas yang mencolok di telinga kirinya. Dari cara keempat orang sebelumnya menyanjung, tampaknya pria ini adalah pemimpin kelompok.


Yang terakhir adalah seorang wanita pendek dengan pakaian serba tertutup, hanya menampakkan matanya saja. Meski begitu, bentuk tubuhnya yang seperti model sama sekali tidak bisa disembunyikan.


Melihat ke arah Stacy yang tampak cantik dan terawat, keenam orang itu langsung terkejut.


Pria pendek dengan gigi mancung langsung berkata.


"Tampaknya ada yang aneh, Kak Jordan!"


Mendengar peringatan pria pendek itu, pria tampan yang memimpin langsung menyempitkan matanya.


Saat itu, sosok Darin berjalan keluar dari toserba. Melihat pria itu, ekspresi keenam orang itu menjadi semakin serius.


"Yo! Ternyata itu Darin! Bagaimana kabarmu? Apakah teman-temanmu datang untuk menjemput? Tampaknya Juana hanya bisa menyesal karena kamu tidak ikut dengan kami ke tempat perlindungan."


Mendengar teriakan Jordan, Darin membalas.


"Maaf membuat kalian khawatir. Namun seperti yang kalian lihat, aku sudah baik-baik saja. Kalian tidak perlu mengkhawatirkan aku lagi."


"Kalau begitu, bisakah kami berbicara dengan pemimpin kalian? Ada suatu hal penting yang ingin kami bicarakan."


Menurut informasi yang diberikan oleh Juana, tampaknya ada dua orang pria kuat dalam kelompok kecil itu. Mereka adalah dua elit yang sulit dihadapi.


Hanya saja, ketua kelompok Reaver ingin tahu informasi dari mereka. Lagipula, menurut apa yang diceritakan Juana, mereka tampil bersih, memiliki senjata serta pakaian bagus, dan tidak tampak kelaparan.


Menurut ketua kelompok Reaver, seharusnya kedua orang itu menemukan tempat persembunyian yang menampung banyak makanan dan air. Itulah kenapa dia mengirim beberapa orang itu untuk mendapatkan informasi.


Setelah mendapat informasi, tentu saja, apa yang perlu dilakukan kemudian adalah ... menjarah mereka!


Lagipula, dua orang jelas tidak mungkin melawan dua puluh orang bersenjata. Meski zombie lebih kuat dari mereka, zombie kurang cerdas. Itulah kenapa ketua Reaver percaya bahwa mereka bisa mengalahkan Ark dan Jay karena tinju mereka lebih banyak.


Ya ... Setidaknya itulah yang mereka pikirkan.


Melihat ke arah Stacy, Jordan menjilat bibirnya.

__ADS_1


'Apakah itu teman Juana? Tampaknya lebih cantik daripada apa yang diceritakan gadis itu.'


Jordan menatap ke arah Darin dengan tatapan tajam.


"Maaf! Kami akan segera pergi, jadi tidak ada yang perlu dibicarakan."


Darin berkata dengan nada keras dan tegas.


"Aku hanya ingin bertemu dengan pemimpin kelompokmu. Di masa kacau seperti ini, kita harus saling membantu, kan?


Lagipula, aku yakin ketuamu juga tidak akan menolak informasi dari kami. Itu pasti akan berguna bagi dirinya untuk menumbuhkan kelompok kalian."


Pada saat itu, Stacy memiringkan kepalanya dan berkata.


"Apa yang kalian bicarakan? Jika kalian mencari Tuan, dia pergi dengan Jay untuk melakukan sesuatu."


"Tuan???"


Mendengar itu, kelima pria itu menatap ke arah Stacy dengan tatapan jahat dan ekspresi menjijikkan.


"Tampaknya pria itu suka bermain dengan cara seperti itu," ucap pria kurus dengan gigi mancung.


Melihat ke arah Stacy, Jordan merasa matanya agak panas. Dia menjilat bibirnya. Mengalihkan pandangannya ke arah Darin, ekspresinya berubah menjadi sengit.


"Apa maksud dari ucapanmu tadi, Darin?!"


"Sudah kubilang, kami akan segera pergi. Kak Ark dan Jay akan kembali setelah matahari terbit. Kami akan pergi setelah mereka kembali."


"Itu buruk, Darin. Tampaknya ketuamu terhenti di jalan karena hujan. Seharusnya sebentar lagi matahari terbit, ya ... meski mendung.


Sedangkan kamu. Apakah namamu Stacy?"


"..."


"Aku? Aku memang Stacy? Ada apa?"


"Syukurlah kamu baik-baik saja. Juana sangat mengkhawatirkan kamu. Apakah ketua kelompokmu benar-benar meninggalkan kamu di sini bersama Darin yang bahkan tidak bisa bertarung?


Bukankah itu terlalu berbahaya? Bisa-bisanya dia meninggalkan gadis cantik sepertimu di sini."


"Tenang. Tuan membekali aku senjata, jadi tidak apa-apa."


Stacy tersenyum ramah sambil menepuk pinggangnya.


Melihat pedang di pinggang gadis itu, keenam orang itu tampak terkejut. Setelah beberapa saat hening, Jordan kembali berkata.


"Walaupun ketuamu memberi pedang, tetap saja, terlalu berbahaya bagi gadis sepertimu untuk bertarung sendiri melawan zombie.


Karena ketuamu tampaknya tidak kembali, lebih baik kamu ikut dengan kami. Di tempat perlindungan, ada lebih banyak orang dan lebih aman. Selain itu, kehidupan di sana lebih nyaman."


Mendengar itu, ekspresi terkejut tampak di wajah Stacy.


"Benarkah???"


"Tentu saja."


Jordan menepuk dadanya dengan ekspresi penuh keyakinan.


"Terlebih lagi, ketua kami adalah mantan tentara bayaran. Dia jelas kuat dan lebih bisa diandalkan."


"Apakah Juana ada di sana?"

__ADS_1


"Ya! Di sana kamu juga bisa bertemu dengan Juana. Gadis itu sangat mengkhawatirkan kamu. Ini juga salah satu alasan kenapa kami kembali datang memeriksa area ini."


"Jadi begitu ..."


Stacy mengangguk. Memiliki senyum polos di wajahnya, gadis itu berkata.


"Kalau begitu aku akan melihat tempat perlindungan itu."


"Bagus!"


Jordan mengangguk puas. Saat itu, dia berkata dengan senyum di wajahnya.


"Kamu adalah gadis, tidak pantas untuk bertarung di barisan depan. Lebih baik kamu berada di tengah, biarkan kami melindungimu dalam perjalanan, Stacy."


"Sungguh?"


"Tentu saja!"


"Kalian sangat baik," ucap Stacy lembut.


"Stacy! Bukankah kita harus menunggu Kak Ark?!"


Darin di dekat Stacy langsung mengingatkan gadis itu.


"Jangan menunggu sesuatu yang tidak pasti, Darin. Daripada menunggu, bagaimana kalau kamu juga ikut dengan kami?"


Mendengar ucapan ramah Jordan, Darin mengerutkan kening.


Mengabaikan Darin yang terdiam, Jordan kembali berkata.


"Anu ... Stacy?"


"Iya?"


"Maaf jika tidak sopan. Namun, karena kami akan melindungi kamu dalam perjalanan, bisakah kami meminjam pedangmu. Aku rasa, itu akan mempermudah kami jika bertemu dengan zombie.


Tentu saja kami tidak memaksa! Jika tidak boleh—"


"Tentu saja boleh! Lagipula, kalian akan melindungi aku dalam perjalanan."


Stacy berkata dengan senyum di wajahnya. Dia berjalan ke arah mereka sambil melepas pedang dari pinggangnya.


Saat itu, pria pendek dengan gigi mancung berjalan menghampiri Stacy sambil berkata ramah.


"Biarkan aku memeriksanya. Aku cukup ahli dalam—"


Slash! Bruk!


Pria pendek itu terkejut ketika melihat tubuhnya sendiri. Hanya saja, tubuh itu tidak memiliki kepala. Sebelum sempat berbicara, pandangannya langsung menjadi gelap.


Melihat sosok gadis cantik dan ramah itu tiba-tiba memenggal orang, semua orang langsung terkejut.


"Hehehehe ..."


Suara tawa aneh terdengar dari Stacy. Gadis itu menutupi mulutnya dengan tangan kiri sambil menahan tawa, tetapi tidak bisa.


"Hehehehe ... Menipu gadis polos dan tidak bersalah masuk dalam jebakan kotor kalian ..."


Membuka tangan yang menutupi mulutnya, Stacy menunjukkan senyum terdistorsi sambil menatap ke arah Jordan dan teman-temannya.


"Itu benar-benar sangat lucu ... bukan?"

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2