
Gambaran jelas bagaimana kota dimusnahkan muncul dalam benak Ark.
Banyak orang berlari, banyak orang bersembunyi di sudut, banyak orang putus asa. Pasukan yang terdiri dari ksatria semut merah berbaris untuk melakukan pembantaian. Para jenderal semut terbang di angkasa menjadi pengawas. Para semut pekerja membawa ‘bahan makanan’ pergi ke sarang mereka. Sedangkan dia, sang Raja …
Duduk di atas singgasana sambil melihat semuanya.
Teriakan putus asa, tangisan anak kecil, suara orang-orang yang memohon terdengar di telinga layaknya simfoni kehancuran.
Para ksatria berbaris. Orang-orang yang memegang teguh tekad mereka berjalan menuju ke istana. Menarik senjata dan berjuang demi kebebasan. Bertaruh nyawa demi masa depan yang tidak diketahui, hanya demi membuka jalan bagi generasi berikutnya.
Tubuh menumpuk dalam istana. Daging dicabik-cabik sebagai makanan makhluk-makhluk keju itu. Air mata dan darah mengalir seperti sungai. Seperti malam gelap tanpa cahaya, mereka semua berharap kalau sang mentari akan segera tiba.
Apa yang disebut rasa sayang? Apa yang disebut dengan cinta? Pada saat ‘dia’ tiba, semua perasaan indah itu hanya akan menjadi tinta yang digunakan untuk melukis gambaran keputusasaan. Karena pada saat itu …
Dia akan mengambil apapun yang kamu anggap berharga.
…
Pada saat pandangan Ark kembali, dia melihat ke arah Shirona dengan ekspresi tidak percaya.
Pada saat itu juga, beberapa kenangan kembali muncul dalam kepalanya.
Dua gadis kembar yang begitu muda dibawa ke organisasi. Padahal masih belum menjadi anggota tingkat tinggi, tetapi Ark mendapatkan tugas untuk merawat dan mengajari mereka. Banyak hal yang keduanya tidak ketahui, jadi dia dan Anya yang akhirnya mengajarkan mereka banyak hal.
Apa yang boleh dilakukan. Apa yang tidak boleh dilakukan. Apa yang harus dihindari. Apa yang harus diwaspadai. Banyak hal yang harus Ark ajarkan kepada mereka berdua. Bahkan tanpa sadar membuatnya menganggap keduanya sebagai adik ke-2 dan ke-3 baginya.
Mengingat senyum polos di wajah kedua gadis kecil itu, Ark langsung berteriak sekuat tenaga.
“SHIRONA!”
BANG!
Gadis itu langsung menghalangi tinju yang tiba-tiba diarahkan ke kepalanya. Bersamaan dengan suara ledakan keras, tubuh gadis itu langsung terlempar lebih dari tiga puluh meter. Tangan kanan yang digunakan untuk menghadang patah, kepalanya retak, tampak darah mengalir dari tujuh lubang di kepala.
__ADS_1
Shirona benar-benar langsung kehilangan kemampuan bertarung hanya karena pukulan acak yang begitu tiba-tiba. Namun saat melihat bahwa gadis itu masih bernapas, teman-temannya langsung terlihat lega. Mereka semua kembali melihat ke arah sosok yang tiba-tiba muncul.
Tinggi dua meter, tidak kurang, tidak lebih. Seluruh tubuhnya berwana hitam legam. Matanya berwarna merah darah. Selain tanduk di kepala yang tampak seperti mahkota, sisa penampilannya mirip dengan jenderal semut. Hanya berbeda warna dan lebih kecil.
Makhluk itu kemudian melihat ke arah para husky yang menggeram kepadanya.
“Manusia, binatang buas, teman … aneh.”
Suara serak dan tidak menyenangkan kembali terdengar. Berbeda dengan Ark yang hanya memiliki ekspresi serius, ekspresi Kurona dan Jay benar-benar berubah. Baru kali ini mereka mendengar monster yang bisa berbicara dengan bahasa manusia.
“Hey, hey, hey … aku tidak gila, kan? Apakah hanya aku yang mendengar makhluk ini berbicara?”
Jay bertanya dengan ekspresi bingung, takut, dan tampak campur aduk. Meski telah melihat banyak monster dengan penampilan lebih mengerikan daripada semut hitam di depannya, tetapi semua makhluk itu tampak liar dan buas. Di kepala pria itu, mereka semua tidak lebih dari binatang buas yang tidak memiliki akal.
Pemandangan di depannya benar-benar membuat Jay mulai menumbangkan pemikiran sebelumnya.
“Tenang, Jay! Kurona!” Ark langsung berteriak. “Gunakan seluruh kemampuan kalian tanpa perlu memikirkan apa-apa!”
Setelah berteriak, Ark sendiri langsung bergegas menuju ke arah Raja Semut. Mata berubah warna, pola hitam muncul di tubuh, dua pedang langsung diselimuti oleh energi biru yang tampak begitu kental.
‘Leher, pinggang, belakang lutut …’
Ark langsung menebas dengan kecepatan luar biasa. Namun, di sisi lain, Raja Semut juga bergerak sangat cepat. Hindari, hindari, hindari … balas menyerang. Meski teknik gerakannya tampak ceroboh, tetapi insting dalah bertarung makhluk itu jelas sangat kuat.
Klang! Klang! Klang!
Menghadapi serangan Ark, tangan Raja Semut langsung menggunakan teknik tangan pisau yang dia pelajari sendiri secara refleks. Normalnya, serangan seperti itu tidak begitu kuat, tetapi karena fisik makhluk itu yang sangat kuat sekaligus jari-jari ramping dan setangguh logam paduan. Keempat tangan Raja semut benar-benar seperti pedang.
Ekspresi Jay dan Kurona langsung berubah ketika melihat pemandangan di depan mereka semua. Keduanya bahkan tidak berani mendekat, apalagi mencoba membantu.
BANG!!!
Sosok Ark terpental mundur belasan meter, tetapi masih berdiri kokoh. Pemuda itu merasa jari-jari tangannya sedikit kesemutan karena menahan serangan Raja Semut. Namun belum sempat dia mengambil beberapa sayap, sosok Raja Semut langsung melesat ke arahnya.
__ADS_1
KLANG!
“Ugh! Monster ini …”
Merasakan kedua lengannya menjadi semakin mati rasa, Ark langsung memilih untuk menghindari serangan Raja Semut. Meski dia cepat, tetapi makhluk itu masih lebih cepat dibandingkan dengan dirinya.
Mundur, tangkis, mundur, tangkis … balik menyerang!
Ark terus melakukan hal semacam itu. Dia bahkan sesekali meluncurkan serangan jarak jauh, tetapi dengan mudah dihindari oleh Raja Semut. Cahaya pedang terus berkilat, dua monster terus bertarung dengan gila tanpa memedulikan apa yang ada di sekitar mereka.
Jay dan Kurona langsung mundur, mereka langsung membawa Shirona menjauh agar tidak terpengaruh.
“Huft! Huft! Huft!”
Bertarung dengan penuh semangat puluhan ronde, Ark akhirnya diam di tempatnya. Dia berdiri dengan napas naik-turun. Keringat membasahi seluruh tubuhnya, dia menatap ke arah serangga humanoid itu dengan ekspresi rumit.
‘Sudah aku duga, aku masih belum mampu. Baru saja terlahir tetapi sekuat itu … benar-benar membuat iri. Bukannya menakutinya, tampaknya aku malah membuat monster ini senang.’
Pola hitam di tubuh Ark mulai menyebar lebih banyak. Tangan yang awalnya sedikit mengendur langsung memegang pedang dengan erat. Pemuda itu kemudian berteriak keras.
“JAY! KAMU DAN KURONA KEMBALI TERLEBIH DAHULU!”
Mendengar perintah yang begitu tiba-tiba, Jay langsung terkejut. Ekspresinya tiba-tiba berubah.
“Apa maksudmu, Ark? Bukankah itu hanya semut? Kita pasti bisa mengalahkannya bersama!”
“AKU BILANG, PERGI!!!”
Ark berteriak lantang. Dia kemudian menatap ke arah Raja Semut yang diam di tempat, sama sekali tidak tahu sedang memikirkan apa. Makhluk itu jelas masih muda dan baru menetas tidak lama ini. Raja Semut tampaknya masih bingung akan sesuatu, jadi dia ingin memberi kesempatan untuk rekan-rekannya pergi.
Kali ini, Ark ingin menjadi orang yang mengulur waktu bagi mereka. Itu karena …
Raja Semut bahkan belum memulai serangan yang sebenarnya!
__ADS_1
>> Bersambung.