Apocalypse Regression

Apocalypse Regression
Membuka Hati


__ADS_3

"Namamu?"


Melihat ke arah sosok wanita cantik dengan rambut berwarna cokelat bergelombang dengan iris hazel, Ark langsung membuat pertanyaan.


"Seharusnya anda mengetahui nama saya, Mr Hades."


Setelah tali dan penutup mulut dilepas, wanita itu tampak tenang. Dia membalas Ark dengan nada sopan. Tidak tampak takut, tetapi juga tidak tampak sombong.


"Menarik ..." Ark mengelus dagu. "Kalau begitu senang berkenalan denganmu, Eva."


"Sama dengan saya, Mr Hades. Saya juga senang berkenalan dengan anda."


"Kamu tidak takut?" tanya Ark dengan senyum penuh makna.


"Tidak ada yang perlu aku takuti." Eva memasang senyum di wajahnya.


"Bagaimana jika aku mencoba memilikimu."


Ark menyipitkan matanya. Tangannya langsung terulur untuk meraih Eva. Namun saat itu juga, wanita itu langsung masuk dalam pelukan sebelum mundur perlahan dengan tatapan ganas dan kejam.


Ark menatap ke arah Eva yang tampak bangga dengan ekspresi aneh.


"Vadim bahkan bisa menghindari serangan menyelinap seperti ini. Apakah kamu berpikir aku tidak bisa melakukannya?"


"Kamu jelas tertusuk!" ucap Eva dingin.


Ark menunjukkan bekas luka yang tertutup perlahan di perutnya. Dia menatap ke arah wanita itu dengan tatapan tak acuh.


"Aku tidak menghindar karena aku tidak perlu melakukannya. Itu berarti ..." Mata Ark berkilat dingin. "Racun pada bilah belati sama sekali tidak berfungsi untukku."


"Kamu—"


Sebelum Eva menyelesaikan ucapannya, Ark langsung meraih lehernya lalu mencekik wanita itu dengan tangan kanannya. Sesaat kemudian, dia langsung melemparkannya ke dinding dengan keras.


Eva menabrak dinding lalu memuntahkan beberapa suap darah karena dampak benturannya.


"HADES! HENTIKAN ITU! KAMU—"


"Tutup mulut bocah itu. Dia terlalu berisik."


Ark langsung memberi perintah. Vadim langsung melakukan perintahnya. Menutup mulut Stein sama seperti sebelumnya. Jadi pemuda itu hanya bisa menggeliat sambil memelototi Ark dengan penuh kebencian.


Melihat ke arah Eva yang menatapnya dengan dingin, Ark mengangkat bahu.


"Kamu berpikir bahwa martabat lebih baik dari kehidupan. Mungkin hal semacam telekinesis itu benar bagi seorang wanita suci yang tidak ingin dinajiskan.


Hanya saja, angan-anganmu bisa hilang setelah bertemu denganku. Karena jika aku ingin, kamu tidak bisa mati bahkan jika mencoba bunuh diri.


Ingin mencobanya?"


"Berhenti berbicara seolah dirimu dewa dan bermain seperti iblis, Hades."


Setelah mengatakan itu, Eva dengan tegas langsung menggorok lehernya sendiri. Namun saat itu juga, suara keras terdengar di ruangan.

__ADS_1


Krak!


Entah kapan, sosok Ark muncul di depan Eva dan menendang tangannya sampai mematahkan tulangnya.


Wanita itu langsung berguling di lantai, memegangi tangan sambil menggertakkan gigi. Dia menatap ke arah Ark dengan ekspresi tidak percaya.


Ark langsung membungkam mulut Eva dengan tangan kanannya. Bukan hanya menutupnya, tetapi juga meremas wajahnya dengan kuat.


"Kamu bahkan tidak bisa menggigit lidah sampai mati."


Melihat ke arah Ark, tatapan manik terlintas di mata Eva. Saat itu, Ark kembali tersenyum.


"Apakah kamu sudah takut sekarang?"


"..."


"Aku bisa saja melakukan hal-hal yang tidak bisa kamu bayangkan di depan adikmu. Hanya saja, aku tidak begitu peduli dengan hal-hal semacam itu.


Yang pasti, aku mengambilmu karena kamu berguna bagiku. Tidak kurang, tidak lebih.


Selain itu ..."


Ark melepaskan Eva lalu kembali berdiri.


"Aku bukanlah iblis apalagi dewa. Aku manusia ... hanya manusia biasa."


Mengamati Eva, Ark akhirnya mengerti kenapa wanita itu tidak terkenal di kehidupan sebelumnya. Padahal, wanita di depannya jelas tidak kalah jenius dibanding adiknya.


Hanya saja, Eva lebih keras dan terlalu berani.


Setelah beberapa saat diam, Ark kembali bicara.


"Jawab aku. Kenapa kamu melakukannya?"


"Aku tidak tahu apa yang kamu maksud."


"Kamu tahu, karena kamu melakukannya. Kamu pintar, tetapi juga bodoh. Kamu jelas tahu bukan kawanku, tetapi masih mencoba membunuhku. Jadi katakan padaku ...


Apa yang membuatmu melakukannya."


"Aku membencimu. Sangat membencimu."


Eva berkata sambil menatap Ark. Dia menatap pemuda tampan itu dengan tatapan penuh dengan kemarahan dan kebencian.


"Aku bahkan tidak mengenalmu sebelumnya."


"Kamu pembunuh." Eva berkata dengan tegas.


"Aku membunuh orang-orang yang pantas dibunuh."


"Apakah para pengungsi kelaparan itu juga termasuk? Apakah kamu pikir mereka pantas mati?!"


"Apa hubungannya denganku. Aku tidak melakukan apa-apa." Ark berkata tak acuh.

__ADS_1


"Kamu bisa membantu mereka, tetapi kamu malah diam saja. Kamu yang membunuh mereka!"


"Bisakah itu diartikan sebagai membunuh?


Aku sudah bilang, aku bukan iblis atau dewa. Aku manusia biasa yang memiliki banyak keterbatasan. Kamu pikir aku bisa menyelamatkan semua orang seperti messiah yang membawa keajaiban pada dunia?


Tolong jangan berhalusinasi. Aku kira kamu hanya cukup gila karena kehilangan rekan-rekanmu. Pada akhirnya, kamu selalu menyalahkan orang lain dan dirimu sendiri.


Bahkan sampai menganggap kehidupan tidak berharga."


Mendengar perkataan Ark, mata Eva langsung terbelalak. Dia menatap ke arah pemuda itu dengan ekspresi tidak percaya.


"Bagaimana bisa? Bagaimana kamu bisa tahu kalau—"


"Aku merasa itu tidak semuanya. Lebih tepatnya, ada hal lain yang membuatmu membenci semua orang."


Ark langsung menyela. Dia menarik napas dalam-dalam sebelum menunjuk Eva sambil berkata.


"Aku tidak tahu apa yang membuatmu membenci semua orang. Namun aku tahu, apa yang disebut "api" (kehidupan), cepat atau lambat akan padam.


Kamu bisa saja membenci dirimu karena telah kehilangan teman-temanmu. Kamu juga bisa berpikir bahwa mereka yang mati tidak akan kembali. Namun, kamu juga harus ingat ...


Orang-orang itu selalu hidup di sini."


Ark menunjuk ke otaknya sendiri.


"Kekal dalam kenangan. Bahkan jika kamu mencoba menghilangkan ...


Itu hanya sementara karena kenangan-kenangan itu akan tersembunyi begitu dalam hati.


Seperti sebuah kotak Pandora yang menunggumu untuk membukanya."


Melihat ekspresi kosong Eva, Ark kembali berkata.


"Hidup mungkin tidak menyenangkan. Terkadang kamu akan jatuh di bawah, di injak-injak, dan merasa tertekan.


Namun begitulah kehidupan.


Mungkin terdengar munafik, tetapi selalu ada yang perlu disyukuri dalan kehidupan ini. Bahkan jika kamu membenci, tetapi kamu harus mensyukuri waktu hidup yang kamu miliki.


Mungkin kamu ingin mengakhiri hidup ini, tetapi terkadang kamu juga harus ingat ...


Kamu tidak hanya hidup untuk dirimu sendiri.


Aku mungkin tidak menikmati manisnya memiliki orang tua, tetapi aku menyadari banyak orang yang menyayangiku dan aku pun hidup demi mereka.


Di dunia ini, mungkin kita hanyalah pelari estafet belaka. Entah menjadi yang pertama, ke dua, tiga, atau nomor berapa ...


Apa yang kita lakukan hanyalah menerima baton/tongkat estafet (harapan), lalu berlari sejauh mungkin sebelum memberikannya ke orang berikutnya.


Jadi berhenti merendahkan dirimu atau menganggap hidup ini tidak berarti."


"..."

__ADS_1


Eva yang sebelumnya diam saja langsung tertunduk. Ruangan kemudian tenggelam dalam kesunyian. Beberapa saat kemudian, kesunyian diisi dengan suara isak yang menyayat telinga.


>> Bersambung.


__ADS_2