Apocalypse Regression

Apocalypse Regression
Teori Kelangsungan Hidup Umat Manusia


__ADS_3

Setelah tiga hari, Dark Caravan akhirnya tiba ke markas mereka.


Di sana, kedatangan mereka langsung disambut dengan baik oleh rekan-rekannya. Turun dari kereta, Ark langsung dihampiri oleh Jay.


"Wow! Lihatlah, Hades yang terkenal telah kembali! Kamu benar-benar mengagumkan, Ark. Membuatku sampai—"


Ucapan Jay terhenti ketika melihat dua sosok gadis cantik yang mengikuti Ark. Dia menggosok matanya, dua gadis kembar tersebut memang nyata. Sama sekali bukan ilusi.


Jay kemudian menatap ke arah Ark dengan ekspresi kosong. Namun matanya menyatakan apa yang ingin dia katakan.


'Bukankah kamu bilang tidak peduli dengan harem? Kamu bahkan tidak peduli dengan gadis, bukan? Kamu juga bilang kita harus fokus pada pengembangan diri dan kekuatan.


Omong kosong macam apa itu!!!'


Ark mengabaikan tatapan sengit Jay. Meski sebenarnya mengerti, dia memilih untuk berpura-pura bodoh agar tidak menambah masalah. Pemuda itu kemudian memperkenalkan mereka berdua.


"Nama mereka adalah Kurona dan Shirona, junior yang ada di tempat dulu aku bekerja."


Anggota Sword of Sufferings lainnya mengangguk, tampaknya memberi pengertian. Merasa bahwa Ark masih sama. Sama sekali tidak mencari keuntungan sementara, tetapi memang mengambil orang-orang yang diperlukan.


Sementara itu, kata "junior" langsung membuat Jay terpana. Dia kemudian menyisir rambutnya ke belakang dengan jari-jarinya lalu maju dan menyapa.


"Perkenalkan, kedua Nona. Namaku Jay, wakil ketua dari kelompok Sword of Sufferings.


Selain itu, aku juga rekan kerja Ark sebelum apocalypse. Ya ... meski kita berbeda organisasi, tetapi kita masih "rekan" dari Ark, bukan? Jadi aku harap kita bisa akrab."


Sedikit mirip Ark tetapi versi perempuan, Kurona dan Shirona menatap Jay dengan ekspresi kosong. Keduanya saling memandang lalu mengangguk. Setelah itu, mereka mundur beberapa langkah. Langsung bersembunyi di balik punggung Ark.


"..."


Jay yang berusaha terlihat keren terpana. Anggota lain pura-pura tidak melihatnya. Tampaknya telah akrab dengan Jay yang mencoba mencari romansa dalam hidupnya.


"Pfft ... Hahahaha!"


Lisa, gadis kecil yang sulit diatur itu tertawa. Dia sama sekali tidak terlalu peduli dengan ekspresi gelap Jay. Gadis tersebut malah menunjuknya sambil berkata.


"Hahahaha! Bahkan tanpa mengucapkan sepatah kata, anggota baru tahu kalau kamu adalah pria berhidung belang, Paman!"


"..."


Jay masih diam. Setelah beberapa saat, dia berteriak sambil mengacak-acak rambutnya sendiri. Pria itu kemudian berkata dengan nada marah.


"Kenapa begitu sulit mendapatkan cinta sejati di dunia yang gila ini! Bukankah cinta terlahir dari ketulusan? Ini benar-benar kebohongan!"


Anggota Sword of Sufferings lain memutar mata mereka. Orang-orang itu sama sekali tidak melihat ketulusan Jay. Jelas, pria itu melihat sosok paras terlebih dahulu baru mendekatinya. Sama sekali bukan jenis ketulusan yang muncul tanpa pandang bulu.


Jay kemudian menunjuk ke arah Darin. Dia meraung marah.


"Kamu anggota ke-3, Darin! Kamu datang lebih lambat dariku, tapi kenapa kamu malah sudah memiliki pacar! Itu tidak adil, Bung!"


Mendengar itu, orang-orang langsung mengalihkan pandangan mereka ke Darin, termasuk Yonas dan Vadim yang berbicara dengannya.

__ADS_1


"A-Apa yang kamu maksud, Kak Jay! Jangan memfitnah sesuka hati!" ucap Darin dengan nada tergagap.


"Aku tidak buta, Bung! Lihatlah Shani, gadis itu jelas gugup dan khawatir ketika Ark membuat masalah di luar. Khawatir kamu terseret masalah dan mati di luar sana!


Ketika kamu kembali, dia langsung berlari dengan ekspresi lega! Siapa yang coba membohongi siapa! Aku tidak sebodoh itu, Bung!"


Semua orang menatap ke arah Shani. Wajah gadis itu tiba-tiba menjadi merah seperti apel. Yonas, kakaknya tidak bisa tidak bertanya.


"Apakah itu benar, Shani?"


Shani melirik ke arah Darin. Melihat kekasihnya mengangguk, dia akhirnya mengakui.


"Itu memang benar, Kak."


"Maafkan aku, Yonas. Tapi aku benar-benar menyukai Shani. Dia selalu baik dan peduli dengan kita. Ketulusannya membuatku jatuh hati padanya."


Darin segera berjalan lalu berdiri di dekat Shani. Dia menatap ke arah Yonas dengan ekspresi menyesal, tetapi masih tegas.


"Apa yang kamu katakan!" teriak Yonas.


"Aku ingin bersama Shani, Yonas!" tegas Darin.


"Panggil aku Kak Yonas!" ucap Yonas tegas.


Melihat Darin dan Shani yang terkejut, dia langsung maju lalu memeluk mereka.


"Apa? Kalian pikir aku marah? Aku sama sekali tidak marah. Aku malah lega karena Darin pasti bisa menjagamu, Shani.


Akan tetapi, jangan pernah menyakiti perasaan Shani, Darin! Jika tidak, aku tidak akan pernah memaafkanmu!"


Darin membalas dengan senyum bahagia. Shani juga tersenyum lega. Merasa senang kekasih dan kakaknya begitu akrab.


"Selamat untuk kalian berdua. Dengan begini Yonas dan aku tidak akan terlalu terbebani dan khawatir karenamu, Shani!"


Vadim datang sambil tertawa hangat. Dia menganggap Shani sebagai adiknya sendiri. Jadi melihat adiknya aman dan bahagia, pria itu juga tampak ceria.


"Tunggu! Tunggu! Tunggu!"


Jay tiba-tiba menyela. Ketika mereka menatap ke arahnya, pria itu berkata dengan ekspresi aneh.


"Bukankah kamu harusnya bilang "AKU TIDAK AKAN MEMBIARKANMU MENGAMBIL ADIKKU!" atau hal-hal semacam itu, Yonas? Kamu benar-benar langsung setuju?"


Mendengar ucapan Jay, sudut bibir mereka berkedut. Mereka benar-benar dibuat kewalahan oleh pemikiran Jay. Saat itu, Ark yang sedari tadi diam menghampiri Darin dan Shani.


"Kalian berpacaran?"


Suara datar dan tak acuh langsung membuat dingin suasana yang seharusnya ceria.


Melihat sahabatnya, Jay bersorak dalam hati.


'Bagus, Sahabatku! Beri mereka pelajaran! Tidak ada kisah cinta yang diperlukan di dunia yang kacau ini! Fokus mencari kekuatan!

__ADS_1


Aku mendukungmu!'


Melihat sepasang mata dingin diarahkan kepada mereka, Darin menjadi gugup. Dia melihat Shani ketakutan dan langsung memegang tangannya. Menahan diri untuk tidak melangkah mundur, Darin menatap Ark tepat di matanya dan berkata.


"Kami memang berpacaran, Ketua! Kami serius dan ingin hidup bersama, menjadi keluarga sampai akhir hayat kami!"


Kata "berani" langsung muncul di benak orang-orang ketika mendengar ucapan Darin. Mereka tidak menyangka kalau pemuda yang biasanya rendah hati itu bisa begitu tegas.


Ark memandang keduanya dengan ekspresi datar. Setelah beberapa saat, pemuda itu mengangguk ringan dan tampak setuju. Dia kemudian berkata.


"Kalau begitu segera buat anak."


Ark berkata dengan nada datar, polos, dan tanpa sedikitpun candaan.


"Eh?"


Darin dan Shani terkejut.


"EEEHHHH??!"


Keduanya berteriak bersamaan dengan wajah merah padam. Benar-benar tidak menyangka ketua yang begitu serius akan mengatakan kalimat semacam itu.


"Tunggu! Apa yang kamu katakan, Ark!"


Jay langsung menghampiri Ark dan berkata dengan ekspresi tercengang.


Ark menggelengkan kepalanya. Dia masih tampak serius ketika mulai menjelaskan.


"Aku sama sekali tidak salah. Kalian juga tidak salah dengar. Lebih baik Darin dan Shani segera memiliki anak.


Di akhir dunia ini, selain kekurangan kekuatan dan makanan, apa yang umat manusia butuhkan? Itu adalah populasi!


Mungkin lebih dari 90% umat manusia hilang dari muka bumi sekarang. Apakah kita bisa terus bertahan sampai akhir atau tidak masih belum pasti.


Kita memang ingin menyelesaikan kekacauan ini dan memulai era baru. Namun jika tidak berhasil, kita harus menyerahkan ke generasi berikutnya.


Daripada membiarkan jumlah manusia berkurang, lebih baik jika bisa menambahnya. Paling tidak, generasi berikutnya lebih baik daripada generasi kita yang kebingungan melawan bencana. Mereka bisa meneruskan perjuangan kita.


Juga—"


"Okay, Bocah pintar! Stop di sana!"


Ketika orang lain tercengang karena penjelasan Ark, Jay langsung menyela. Pria itu langsung menghampiri sahabatnya lalu menyeretnya pergi sambil berkata.


"Jika kamu setuju, lebih baik kamu tidak merusak suasana. Otakmu berjalan baik, tetapi ini tentang pertukaran perasaan."


Ketika mereka berdua menghilang di sudut, suara Jay masih terdengar.


"Ikut denganku! Mari bicarakan cara bagaimana menjadi manusia!"


Tempat itu langsung sunyi. Mereka semua benar-benar kehilangan kata-kata.

__ADS_1


Sama sekali tidak tahu harus berkata apa.


>> Bersambung.


__ADS_2