
'Inilah kenapa aku membenci makhluk bermutasi cerdas.'
Musuh Ark saat ini berbeda dengan Raja Serigala Hitam yang terus mengejarnya tanpa berpikir, menyepelekan manusia yang dianggap lemah dan malah dijatuhkan dari gedung lalu dipotong tanpa sempat mengeluarkan kemampuannya. Makhluk di depannya juga berbeda dengan Peacock Mantis Shrimp bermutasi yang sebenarnya kuat, tetapi berpikiran sederhana dan kurang gizi.
Gurita cincin biru ini terbilang cerdas. Keluar dari tempatnya, terus berpindah untuk mencari mangsa. Akhirnya tiba di tempat yang cocok untuk digunakan sebagai sarang. Lokasi dimana dia bisa hidup tenang tanpa banyak pesaing, tetapi juga cukup strategis karena lokasi tersebut lebih sering dikunjungi.
Ark telah mencoba beberapa kali untuk memancingnya keluar dari kolam, tetapi hasilnya nihil. Gurita cincin biru tersebut sama sekali tidak terkecoh dan sadar kalau dirinya akan dirugikan jika harus bertarung di daratan dalam waktu lama.
Meski Ark merasa lawannya cukup berat, dia sama sekali tidak mundur. Memiliki kecerdasan tinggi, itu berarti juga memiliki efek memperkuat skill telekinesis miliknya. Belum lagi, pemuda itu enggan melepaskan kemampuan regenerasi super yang jika dikembangkan ke tahap lebih tinggi ... bukan tidak mungkin dianggap setengah abadi.
Kenapa hanya setengah? Karena selama kehidupan Ark sebelumnya, dia sama sekali belum pernah melihat makhluk yang benar-benar abadi. Bahkan sosok yang dianggap sebagai 'Naga' yang menduduki bagian atas rantai makanan pun masih bisa dibunuh.
Memikirkan berbagai makhluk aneh di akhir dunia, Ark menghela napas panjang.
'Seandainya hal-hal seperti sihir itu ada ... alih-alih menjadi separuh monster, membombardir musuh-musuh dengan api, es, petir, dan semacamnya pasti terlihat keren.
Meski kekuatan psikis (telekinesis) bisa dikembangkan ke arah itu, tetap saja hal semacam itu tidak praktis. Belum lagi, beban pada kekuatan mental terlalu berat. Khusunya untuk makhluk-makhluk kelas bawah. Mungkin saja meledakkan kepalanya sendiri!'
Pada saat Ark memikirkan itu, gurita cincin biru bermutasi itu masuk ke dalam kolam. Benar-benar meninggalkan pemuda yang sedang melamun di kejauhan itu sendirian.
Melihat kejadian tersebut, sudut bibir Ark berkedut. Merasa agak marah, pemuda itu langsung meraih salah satu kursi penonton lalu melemparnya ke kolam. Tidak cukup sampai di sana, dia terus melempar puing-puing dari tempat penonton. Melemparnya ke dalam kolam untuk mengisi, membuat air keluar sedikit demi sedikit.
BANG!
Beberapa tentakel gurita muncul dari dalam air sambil melilit kursi dan beberapa puing. Langsung melemparnya keluar dari kolam. Namun banyak sekali puing-puing yang dilemparkan ke dalam kolam bahkan sebelum gurita tersebut selesai membuangnya.
Bang! Bang! Bang!
Ark terus menendang banyak hal masuk ke kolam. Dia terus menendang dengan kecepatan luar biasa. Sama sekali tidak membidik secara khusus, hanya menendangnya ke kolam yang luas.
Tentakel gurita ditarik kembali ke dalam kolam. Setelah beberapa saat, banyak gelembung muncul ke permukaan kolam. Semakin lama, jumlahnya semakin banyak seolah-olah kolam itu mendidih.
Ark sama sekali tidak panik. Sebaliknya, dia merasa cukup senang karena gurita itu sudah marah. Itu berarti, gurita itu telah menganggapnya sebagai musuh yang tidak boleh tinggal di areanya. Sosok yang harus di habisi.
Saat itu juga, ekspresi Ark tiba-tiba berubah menjadi buruk ketika melihat sebuah lubang yang muncul di kolam. Lebih tepatnya, sebuah mulut besar berbentuk lingkaran yang dipenuhi dengan gigi-gigi tajam tak terhitung jumlahnya.
Mulut yang lebih mirip mangkuk pengorbanan itu mengarah ke langit. Saat itu juga ... semburan asap ungu langsung melesat ke langit.
Dalam beberapa saat, asap itu turun dan mulai menyebar di sekitar. Membuat area sekitar menjadi berkabut. Cukup untuk menutupi seluruh area pertunjukan lumba-lumba tempat mereka berada.
Melihat kabut di sekitarnya, Ark langsung merobek bajunya lalu menjadikannya masker darurat. Meski dirinya memiliki resistensi racun cukup tinggi, pemuda itu tidak cukup bodoh untuk terus menghirupnya secara membabi-buta.
__ADS_1
Kabut ungu menjadi lebih tebal. Suara guyuran air terdengar di telinga, membuat Ark langsung menoleh dan melihat sosok hitam yang keluar dari kolam.
"Membuat area yang menguntungkan dirinya, tetapi merugikan lawannya. Untuk seekor gurita ... ini memang cukup cerdas."
Swoosh!
Sebuah tentakel setebal ember menembus kabut ungu, langsung membidik ke arah Ark berdiri. Bukannya menebas tentakel tersebut, dia malah melompat mundur.
Beberapa tentakel kembali muncul dan membidiknya dari berbagai arah. Sebagai tanggapan, pemuda itu kembali menghindar. Namun tidak hanya menghindar, dia juga fokus pada kedua pedang di tangannya.
Cahaya di pedangnya semakin lama semakin terang. Suara angin berembus dan bergesekan juga semakin keras. Sambil menghindari serangan, pemuda itu menghitung.
"Dua, tiga, empat ..."
Ark kemudian berlari ke arah kiri. Beberapa tentakel menyusulnya, langsung membidik ke arah kaki dan kepalanya. Berusaha menghentikan gerakannya.
"Lima, enam, tujuh, delapan ..."
Setelah menghindar ke arah kiri, Ark kembali bergegas ke arah kanan, tempat dirinya sebelumnya berada. Sekali lagi, beberapa tentakel bergegas ke arahnya.
"Sembilan, sepuluh, sebelas ..."
Swoosh!
"Dua belas!"
Mendengus dingin, sosok Ark menghilang dari tempatnya. Dia langsung melesat ke depan dengan cepat.
"Shadow Styx Stream!!!"
Puluhan bilah biru seperti bulan sabit langsung menari bersama dengan gerakan Ark, langsung mencabik-cabik dua belas tentakel yang berada di sekitarnya. Tidak berhenti di sana, pemuda itu terus bergegas ke depan seperti aliran sungai yang tidak terhentikan.
Belum sempat gurita cincin biru menarik dua belas tentakelnya, pemuda itu langsung memotongnya dengan tebasan rapi dan indah. Dalam sekejam, sosok Ark muncul di depan kepala gurita cincin biru dengan sepasang mata menatap tak acuh.
SLASH!!!
Ark langsung membuat tebasan menyilang. Langsung memotong bagian luar tubuh gurita itu. Darah hitam keunguan memercik ke tubuh pemuda itu. Suara mendesis terdengar, kulit dan daging yang terkena darah langsung meleleh.
Lengan kiri, dada, kaki, pipi, jari-jari tangan ... meski luka mengerikan memenuhi tubuhnya, Ark sama sekali tidak mundur.
Pemuda itu sama sekali tidak memikirkan cara indah untuk menang. Cukup satu serangan yang menentukan, apakah dia akan menjadi pemenang atau pecundang.
__ADS_1
Melihat organ dalam makhluk itu, ekspresi Ark menjadi lebih ganas. Jika dia mengizinkan gurita cincin biru bergerak untuk memakan kembali bagian tubuhnya dan mulai beregenerasi, pemuda itu yang akan mati.
Luka di tubuh makhluk itu mulai tertutup dengan kecepatan yang terlihat oleh mata. Namun sosok Ark sama sekali tidak diam.
"MEMANGNYA AKU AKAN MEMBIARKANMU BEGITU SAJA!!!"
SLASH!!!
Ark kembali membuat potongan silang, memperlebar luka yang hendak menutup. Tanpa sedikitpun keraguan, dia langsung masuk dan menikam otak serta jantung makhluk tersebut. Namun saat itu, suara teriakan melengking terdengar.
Ark merasa otaknya sedikit terguncang. Dia melihat tubuh gurita itu mengembang seperti ikan buntal. Namun bukan hanya tubuh, tetapi durinya juga membesar. Membuat penampilannya seperti landak laut.
Jleb! Jleb! Jleb!
Ark yang masuk langsung tertusuk oleh duri-duri tajam. Tidak hanya beberapa luka tebasan di sekujur tubuhnya. Namun, tiga duri menusuk perut dan satu menusuk dadanya.
"MATI!!!"
Tanpa memedulikan penampilannya yang lebih mirip dengan zombie, Ark langsung menikam jantung makhluk tersebut.
Tubuh gurita cincin biru langsung berkedut ketika inti yang merupakan kelemahannya ditikam. Benar-benar tidak menyangka makhluk kecil itu begitu licik. Membiarkannya menyerang dengan dua belas kakinya hanya untuk dipotong dan sedikit memperlambat regenerasi.
Sebelum mati, gurita cincin biru tersebut menatap ke arah Ark dengan ekspresi tidak percaya. Benar-benar bertindak begitu nekat hanya untuk membunuhnya.
Setelah tubuh gurita cincin biru berhenti berkedut, tubuhnya kembali mengempis. Matanya menjadi kusam, benar-benar kehilangan nyawanya.
BRUK!
Sosok Ark terpental mundur dan jatuh ke tanah. Pemuda itu memaksakan diri untuk bangkit. Dia langsung menarik keluar empat duri panjang seperti pedang yang menusuk tubuhnya. Membuangnya ke samping, dia kemudian berjalan mendekati gurita cincin biru sambil terhuyung.
Baru berjalan kurang dari lima langkah, tubuh Ark gemetar ketika dia berhenti berjalan.
BLERRGHHH!!!
Darah hitam menyembur keluar dari mulutnya. Meski kabut ungu telah menghilang, pandangannya malah menjadi semakin redup. Sekilas, Ark melihat tubuh besar gurita cincin biru beberapa meter di depannya.
'Sedikit lagi ... hanya sedikit lagi ...'
Ark merasa tubuhnya tidak bisa bertahan dan akhirnya runtuh. Namun bukannya jatuh ke tanah, dia malah merasa kalau tubuhnya ditahan.
Sebelum kesadarannya benar-benar menghilang, Ark mendengar suara yang sedikit tidak jelas berbisik kepadanya.
__ADS_1
"Kerja bagus, Kawan."
>> Bersambung.