Apocalypse Regression

Apocalypse Regression
Lebih Baik Patuh


__ADS_3

Keesokan harinya, tampak banyak orang berkumpul di satu tempat untuk melihat sebuah pemandangan yang tidak akan mereka lupakan.


Di depan gedung markas sementara Sword of Sufferings, tampak sosok Tyler yang diikat pada tiang besi. Ekspresi pria itu tampak suram. Kedua tangannya berwarna hitam, terkelupas, dan terkorosi oleh racun yang sangat berbahaya.


Tyler tidak tahu kapan Ark dan anggota Sword of Sufferings lainnya kembali. Ketika membuka mata, dia sudah diikat pada tiang besi di malam hari dan berkelanjutan sampai saat ini. Meski panas mentari tidak seterik pada musim panas, tetapi merasakan dinginnya malam lalu dijemur hampir setengah hari membuat tubuhnya terasa tidak nyaman.


Belum lagi, tangannya terasa sangat menyakitkan. Organ dalamnya juga terasa sangat sakit. Tyler tahu dirinya keracunan, dan itu cukup parah.


‘Tidak langsung membunuh, tetapi terasa menyakitkan dan menyiksa. Sungguh ... Hades memang orang yang kejam.’


Pada saat ini, Tyler sadar kalau dirinya serakah. Namun dia juga tahu, nasi telah menjadi bubur. Tidak ada lagi jalan untuk kembali. Pemuda itu merasa, Hades dengan sengaja mengujinya, dan ya ...


Pada akhirnya dia gagal.


Pada saat itu, Tyler melihat banyak orang yang memandanginya dengan ekspresi penasaran. Sebagian dari mereka tampak bingung. Sedangkan yang paham, mereka menatap ke arahnya dengan wajah penuh ejekan. Bukan hanya tidak merasa kasihan, orang-orang itu jelas merasa bahagia atas apa yang terjadi pada dirinya.


‘Mungkin, ini yang pantas aku dapatkan? Ini yang terjadi jika aku terlalu serakah?’


Berbagai pemikiran muncul dalam benak Tyler.


Saat itu, dia melihat tim tiga orang yang sedang berjalan untuk menukarkan poin. Mereka adalah ayah, saudari, dan mantan pacarnya. Ketiga orang itu menoleh ke arahnya. Ekspresi mereka langsung berubah menjadi rumit. Hannah ingin mengatakan sesuatu, tetapi dihentikan oleh ayahnya.


Melihat mereka pergi, rasa marah membakar dalam dada Tyler. Entah kenapa, dia merasa kecewa. Pemuda itu berpikir kalau mereka seharusnya membantunya. Namun, pada akhirnya ... ternyata hubungan itu benar-benar rapuh seperti kaca. Sekali retak, sulit untuk dipulihkan.


“Hey! Bukankah orang ini benar-benar menjijikkan? Lihat tatapannya itu. Tampaknya dia sangat membenci keluarganya, berpikir kalau mereka tidak mau menyelamatkannya.”


“Hahahaha! Itu benar-benar lucu. Bukankah semua orang tahu, lelaki tua itu bersujud di depan tangga satu malam penuh sampai hampir tumbang, berharap Tuan Hades mau meringankan beban putranya. Siapa sangka, putranya sebusuk itu?”


“Benarkah? Kenapa aku tidak mendengarnya? Jika aku adalah lelaki tua itu, aku tidak akan sudi memohon demi anak tidak berbakti seperti itu. Mungkin, aku malah yang akan memukulinya sendiri karena begitu kurang ajar dan tidak patuh.”


“Hahahaha! Kamu benar. Membuang-buang kesempatan dengan cara seperti itu. Benar-benar menyedihkan!”


“...”


Mendengar tawa kasar dari mulut orang-orang yang mengejeknya, Tyler mulai berkeringat deras. Ekspresi lesu muncul di wajahnya. Pemuda itu tampak depresi, sama sekali tidak menyangka kalau semuanya akan menjadi seperti itu.

__ADS_1


Tyler hanya bisa menatap kosong. Wajahnya mulai menjadi mati rasa, perlahan-lahan kehilangan ekspresinya. Hanya tersisa kekosongan.


Beberapa jam berlalu. Pada sore hari, orang-orang pun berkumpul karena akhirnya Ark, Lisa, dan anggota Sword of Sufferings lainnya berjalan menuju ke halaman depan.


Sampai di halaman depan, Ark melihat ke arah Tyler yang diikat. Tidak ada perubahan ekspresi di balik topengnya. Pemuda itu masih tampak tenang, seolah semua memang sesuai dengan perkiraannya.


“Kamu menyia-nyiakan kesempatan, Tyler.”


Ark berkata dengan nada monoton. Pemuda itu kemudian berjalan mendekat. Melihat ekspresi putus asa di wajah Tyler, dia sama sekali tidak peduli. Ark malah mengalihkan pandangannya kepada para penonton.


“Di sini, aku ingin mengumumkan sesuatu yang penting.


Setelah kalian mampu menukar tiga potion khusus dan memiliki kesempatan mendaftar, aku harap kalian memikirkan semuanya baik-baik.


Resiko bergabung dengan Sword of Suffering sama sekali tidak kecil. Tidak ada yang namanya hukuman ringan dalam kelompok ini. Sekali melakukan kesalahan, konsekuensinya sangat besar.


Mungkin kalian berkata seolah bertahan itu mudah. Namun, hanya orang-orang yang memiliki rasionalitas yang bisa bertahan di kelompok ini. Patuh, adalah satu-satunya pilihan.


Jika kamu memiliki sedikit pemikiran buruk, pemikiran itu bisa membesar dengan mudah dalam kelompok ini karena banyak hal yang akan menggiurkan kalian.


Melihat banyak orang memasang ekspresi serius, Ark mengangguk ringan. Dia kemudian melanjutkan.


“Kesalahan Tyler cukup banyak.


Pertama, dia melanggar perintah dan masih naik ke lantai dua atau di atasnya padahal sudah dilarang. Jangan main-main dengan aturan sederhana, karena jika melanggar, hasilnya adalah dipotong salah satu kakinya.


Ke dua, dia melakukan korupsi, mengubah poin dan mengambil apa yang bukan menjadi haknya. Kebongonan dan pencurian seperti itu seharusnya dipotong salah satu tangannya.


Ke tiga, dia masuk ke dalam ruang kantor dan tempat penyimpanan khusus. Bahkan jika tidak mencuri sesuatu, dia akan mendapatkan hukuman memotong salah satu tangannya.


Terakhir, dia mencoba melakukan pengkhianatan, dan hukumannya adalah dipenggal.


Itu berarti, salah satu kakinya harus dipotong, dua tangannya harus dipotong. Setelah itu, tutup lukanya sehingga tidak mati karena kehabisan darah. Setelah menderita beberapa hari, barulah dia akan dibawa ke depan umum untuk dipenggal.


Seharusnya seperti itu. Namun, aku melihat lelaki tua yang membuang harga dirinya, bersjud demi orang ini sampai tubuhnya sendiri tumbang. Jadi, aku tidak akan melakukan hal-hal yang aku bicarakan tadi.

__ADS_1


Meski begitu, hukum tetaplah hukum. Aku meringankan bebannya, tetapi tidak mengampuninya. Jadi aku telah membuat keputusan untuk langsung memenggalnya di depan semua orang. Meringankan hukuman dengan tidak menyiksanya sebelum dieksekusi.”


Semua orang tercengang. Bagi mereka, hukuman itu sangat berat. Bahkan setelah diringankan, orang itu tetap akan mati. Bedanya, dia akan mati lebih cepat dan tidak menanggung rasa sakit serta putus asa yang berlebihan.


“Turunkan dia.”


Mengikuti instruksi Ark, Tyler akhirnya diturunkan. Pemuda itu lalu dijatuhkan dan diinjak sehingga tidak bisa bergerak.


Saat itu, Ark membuka penutup mulut Tyler sambil memberi perintah.


“Ucapkan kata-kata terakhirmu.”


Mendengar perintah itu, Tyler menarik napas dalam-dalam. Menatap ke arah tempat dia tinggal bersama keluarga dengan wajah berlinang air mata, pemuda itu berteriak sekuat yang dia bisa.


“MAAF!!!”


SLASH!


Ketika Tyler menutup mulutnya, pedang di tangan Ark langsung menebas secepat kilat. Detik kemudian, kepala pemuda itu jatuh lalu menggelinding di tanah.


Di kamar tempat Russell, pria paruh baya itu memeluk putrinya yang menggigil sambil terus menangis. Ekspresi di wajah Russell tampak berat. Sebagai seorang ayah, dia juga merasa bersalah karena tidak bisa menunjukkan jalan yang benar kepada putranya, sehingga pemuda itu akhirnya tersesat.


Pada saat yang sama, Lexie telah membawa barang bawaannya dan pindah dari tempat itu. Mendengar teriakan maaf dari Tyler, ekspresinya berubah menjadi semakin dingin.


Di depan semua orang yang terkejut, Ark menyarungkan kembali pedangnya. Melirik orang-orang yang gugup, dia berkata.


“Aku memiliki saran jika kalian memang ingin bergabung dan menikmati kemuliaan Sword of Sufferings.”


Mata Ark berkilat dingin, membuat semua orang gemetar.


“Jangan terlalu banyak berpikir, dan lakukan saja tugasmu. Jika ingin hidup nyaman ...”


“Lebih baik kalian semua patuh.”


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2