
Sementara di dua sarang zombie, pertarungan berjalan sangat lancar dan kurang ketegangan, hal berbeda terjadi di pusat pemerintahan baru berada.
“Bukankah jumlahnya itu lebih dari seribu? Menyerang secara bersamaan?”
Melihat di kejauhan, ekspresi Julian menjadi lebih serius. Pada awalnya, dia pikir kalau zombie akan datang berurutan. Puluhan zombie per gelombang seperti biasanya. Namun siapa sangka, mereka benar-benar bergegas dengan banyak tenaga. Tampaknya langsung menggunakan seluruh kekuatan untuk segera menghancurkan markas mereka.
“Benar-benar menyebalkan.”
Julian menggertakkan gigi. Menarik napas dalam-dalam, pria itu akhirnya menenangkan diri. Setelah itu, barulah dia memberi perintah dengan tegas.
“Semua orang, bersiap di posisi kalian! Para pemanah, bidik! Tidak perlu menargetkan zombie level 1 atau level 2. Tembak yang paling mudah tepat di kepala dan jatuhkan yang mana saja!”
Mendengar ucapan Julian, para pemanah langsung membidik. Setelah itu, ratusan anak panah langsung melesat di udara seperti hujan. Satu per satu kepala zombie mulai tertembak, tak jarang ada dua atau tiga anak panah menancap pada satu kepala zombie.
Terkena racun yang ganas, para zombie pun berjatuhan. Kejatuhan banyak zombie secara tiba-tiba jelas memperlambat zombie yang ada di belakang mereka. Melihat itu, ekspresi penuh harap muncul di mata banyak orang.
Sepertinya, meski berat ... masih ada kesempatan bagi mereka untuk bertahan!
Melihat para zombie semakin mendekat, orang-orang tampak lebih gugup dibandingkan sebelumnya. Napas mereka terasa berat, tetapi mata mereka menunjukkan tekad yang tidak tergoyahkan.
“BUNUH!”
Mengikuti perintah Julian, orang-orang langsung menebas leher zombie yang melewati celah antar dinding pembatas yang memang sudah disiapkan.
Pada saat zombie melewati celah, orang yang berjaga di kanan dan kiri mulai memenggal secara bergantian. Dikarenakan kebanyakan adalah zombie level 1, semuanya pun berjalan begitu lancar.
Ketika zombie mulai melambat, Julian meminta para pemanah untuk mulai membidik dan fokus pada zombie level 2.
***
Sementara itu, di tempat Jay berada.
“Ugh! Melihat banyak zombie yang berkumpul di satu sempat dengan wajah busuk dan penampilan berantakan benar-benar membuat mataku sakit.”
Jay berkata dengan nada kesal. Masuk ke dalam stadion, dia melihat sangat banyak zombie di lapangan dan juga kursi penonton. Zombie-zombie tersebut saling mendorong satu sama lain sambil melolong dengan suara aneh. Entah kenapa, dia merasa kalau ide langsung menerobos itu salah. Jadi akhirnya dia masih berdiri di lorong, tidak maju atau mundur.
Melihat zombie dengan jumlah berlebihan, Jay pikir dirinya akan ditenggelamkan jika masuk ke dalamnya. Saat itu, suara Lisa terdengar dari belakang.
“Jumlahnya terlalu banyak. Perlu orang dengan kemampuan penghancur skala besar agar bisa menghabisi mereka dengan mudah. Apakah kamu bisa melakukannya, Paman?”
__ADS_1
“Itu menyebalkan.” Jay memutar matanya. “Jika kamu bisa menjadi penjaga depan dan menahan para zombie yang datang dengan baik, aku memiliki cara.”
“Kalau begitu mari kita lakukan.”
Setelah mengatakan itu, Lisa langsung berjalan melewati lorong. Saat itu juga, para zombie langsung tertarik dengan kehadirannya. Para zombie pun langsung berlari, bergegas ke arahnya dengan gila.
Memegang pedang raksasa dengan kedua tangan, Lisa benar-benar tampak tenang.
Ketika banyak zombie mendekat, dia akan memotong mereka dengan cepat. Begitu tegas dan ganas, dengan mudah membelah mereka menjadi dua seperti sabit memotong rumput.
Pada saat puluhan zombie terpotong di tempat, raungan aneh langsung terdengar dari kejauhan. Saat itu juga, beberapa zombie spesial level 2 dengan kulit merah bergegas ke arah gadis itu.
“GANTI!”
Mendengar teriakan Jay, Lisa langsung menghindar ke samping lalu melompat mundur. Saat itu juga, Jay langsung maju. Melihat banyak sekali zombie termasuk jenis spesial level 2 mendekat, pria itu langsung mengayunkan tinjunya dengan sekuat tenaga.
BLARRR!!!
Bersama dengan suara ledakan, lebih dari dua puluh zombie langsung hancur menjadi potongan daging tak terhitung jumlahnya, termasuk beberapa zombie spesial yang terkena serangan Jay secara langsung.
Melihat gerakan semacam itu, Lisa terkejut. Saat itu, dia melihat kedua tangan Jay yang terbungkus exo-skeleton seperti gauntlet. Lengannya tampak kokoh, dan dari celah-celah exo-skeleton, tampak uap panas yang terus mengepul.
“Aku memfokuskan kekuatan miracle root pertama dan ke-3 di kedua tangan, membuat tinju yang lebih cepat daripada peluru memiliki tambahan kekuatan yang luar biasa. Bukankah itu keren? Aku menamakannya ...
Tinju Bara Super Penghancur!”
Melihat ekspresi percaya diri Jay, sudut bibir Lisa berkedut. Dia tidak bisa tidak mengeluh dalam hatinya.
‘Cara penamaan yang payah!’
***
Sementara itu, di tempat Saito berada.
“Mengendalikan puluhan zombie untuk mengepungku? Zombie level rendah?”
Di dalam mall, Saito melihat puluhan zombie yang mengelilinginya dengan ekspresi datar. Emosinya sama sekali tidak bergejolak. Menarik pedangnya, pemuda itu berkata.
“Mencoba membunuhku dengan cara seperti ini dan tempat yang seperti ini ... benar-benar pilihan yang salah.”
__ADS_1
Mengatakan itu, sosok Saito perlahan memudar dalam mall yang remang-remang. Pada saat itu juga, suara embusan angin yang mengalir terdengar.
Dalam sekejap, puluhan tubuh zombie dipotong rapi.
Pada saat Saito muncul, dia menyarungkan kembali pedangnya sambil bergumam.
“Mengendalikan efek kecepatan saja agak sulit, belum lagi jika menggunakan keterampilan itu.”
Sambil bergumam sendiri, pemuda itu lanjut masuk ke dalam mall.
Di sisi lain, Draco dan Leon yang telah menyelesaikan misi pemusnahan zombie di luar mall langsung masuk ke dalam mall, memimpin puluhan orang level 2 untuk menyerang dari depan.
BLARR!!
Bagian pintu depan langsung ditembus oleh Leon yang tubuhnya membengkak seperti raksasa. Dia langsung bergegas menuju para zombie dengan ganas. Menghancurkan mereka satu per satu. Ada yang langsung diledakkan kepalanya dengan pukulan, ada juga yang dibanting sampai tubuhnya rusak, bahkan ada yang diinjak-injak menjadi pasta daging.
ROOARR!!
Leon meraung dengan ganas, benar-benar mirip binatang buas yang memburu mangsanya. Melihat itu, Draco menghela napas panjang. Pria itu tidak bisa tidak menggelengkan kepala sambil mengeluh.
“Tempramen burukmu itu benar-benar tidak berubah, Leon.”
***
Sementara itu, di depan rumah sakit yang menjadi sarang zombie.
Puluhan zombie terus mengalir dari dalam bangunan, keluar menuju ke arah pusat pemerintahan berada. Pada saat ratusan zombie terus mengalir, tidak ada masalah. Ribuan zombie telah keluar dari sana, terus bergegas dengan ekspresi gila dan haus darah di wajah mereka.
Pada saat itu, beberapa zombie level 3 pun mulai keluar. Satu, dua, tiga ... ketika tujuh zombie lewat, tidak ada sesuatu yang terjadi. Namun, ketika zombie level 3 ke delapan hendak bergegas, sebuah cahaya merah darah berbentuk seperti bulan sabit tiba-tiba muncul dan memenggal kepalanya. Sebuah celah besar muncul di jalan depan rumah sakit.
Sosok berjubah hitam melayang perlahan dan jatuh di belakang garis retakan dengan ekspresi tak acuh di wajahnya. Dia memegang pedang di tangan kanannya. Pemuda itu kemudian membuang sedikit sisa rokoh di tangan kirinya.
Ark mengembuskan kepulan asap perlahan. Sambil menginjak puntung rokok, pemuda itu berkata.
“Jalan diblokir. Jangan ganggu orang-orang yang sedang bersemangat di sana. Jika ingin bertarung dan saling membunuh ...”
Ark menatap rumah sakit dengan mata merahnya.
“Biarkan aku yang melayani kalian.”
__ADS_1
>> Bersambung.