Apocalypse Regression

Apocalypse Regression
Menaklukkan Dunia Bawah?


__ADS_3

Sekitar setengah jam kemudian, seluruh ruangan menjadi sunyi.


Sosok Ark yang seluruh tubuhnya berlumuran darah keluar dari dalam sel penjara. Melihat penampilannya, semua orang langsung diam. Sama sekali tidak ada yang berani berbicara. Sepertinya takut kalau iblis itu marah dan mendatangi mereka.


“Apakah ada dari kalian yang ingin melarikan diri?”


Mendengar pertanyaan Ark, sama sekali tidak ada yang berani membalas. Mereka benar-benar takut karena apa yang terjadi sebelumnya masih membekas di benak mereka.


Melihat itu, Ark menggelengkan kepalanya. Dia hendak pergi, tetapi terhenti di depan sel penjara anak-anak. Melihat mereka semua menggigil di sudut, tangan pemuda itu mengepal erat. Dia menarik napas dalam-dalam, dan menjadi lebih tenang beberapa saat kemudian.


Klang!


Ark menebas gembok lalu membuka pintu sel penjara anak-anak. Pada saat dia masuk, mereka semua langsung memegangi telinga sambil memejamkan mata. Mereka jelas menangis, tetapi sama sekali tidak ada yang berani mengeluarkan suara.


Melihat pemandangan seperti itu, Ark langsung melihat tangannya sendiri yang penuh dengan darah.


‘Pahlawan yang menyelamatkan orang ... benar-benar tidak cocok untukku.’


Memiliki ekspresi kosong di balik topengnya, Ark menggelengkan kepala. Dia tidak lagi mencoba menghibur anak-anak. Sebaliknya, pemuda itu malah keluar dari sel penjara sambil berkata dengan nada dingin.


“Keluar dari tempat ini. Setelah naik ke atas, segera pergi ke barat, di sana pertempuran paling sedikit terjadi. Usahakan berlari sejauh mungkin dari pusat markas Crux of Shadow jika kalian tidak ingin mati.


Kehidupan dan kematian ada di tangan kalian sendiri.”


Mendengar ucapannya, banyak anak-anak merasa bingung. Melihat punggung Ark yang semakin menjauh, salah satu bocah lelaki berdiri dan memberanikan diri untuk keluar dari sel penjara. Setelah itu, sama sekali tidak ada yang terjadi.


Satu per satu anak mencoba keluar. Setelah sama sekali tidak ada yang terjadi, mereka tampak kebingungan. Mereka awalnya terus menatap tangga yang mengarah ke atas di kejauhan tetapi tidak berani mencoba melarikan diri.


Bocah yang pertama berdiri dan tampaknya adalah pemimpin anak-anak itu tiba-tiba berlutut ke arah Ark sambil berteriak dengan nada kekanak-kanakan.


“Terima kasih atas anugerah penyelamatan ini, Tuan Hades!”


Melihat bocah itu berlutut, anak-anak lain juga mengikutinya.


“Terima kasih, Tuan Hades!”


Setelah itu, mereka semua berdiri lalu melarikan diri dengan langkah kecil.

__ADS_1


Ark yang berjalan menuju ke sel penjara para gadis tertegun sejenak. Saat itu, tanpa sepengetahuan seorang pun, pemuda itu tersenyum lembut di balik topengnya. Dia kemudian langsung memotong pintu sel penjara para gadis lalu berkata.


“Kalian juga bisa lari. Ingat untuk pergi ke barat. Waktu kalian dua jam. Sebagai orang yang lebih dewasa, jika kalian memang memiliki tanggung jawab, cobalah untuk membantu anak-anak itu.”


Mendengar ucapan Ark, para gadis saling memandang. Mereka semua kemudian berlutut dan berterima kasih. Kemudian, para gadis itu segera melarikan diri menyusul anak-anak yang pergi terlebih dahulu.


Ark kemudian memotong pintu sel penjara terakhir. Berbeda dengan sebelumnya, para lansia sama sekali tidak bergerak dari tempat mereka. Melihat pemandangan seperti itu, pemuda itu tidak bisa tidak bertanya.


“Kalian tidak ingin keluar?”


“Seperti yang kamu katakan, Anak muda. Bahkan jika kami keluar, kami akan mati. Kalaupun bisa bertahan, kehidupan pasti lebih sulit. Hanya menunda kematian bagi para orang tua seperti kami.”


Salah satu lelaki tua berkata dengan nada tulus. Mendengar itu, Ark menghela napas panjang. Dia kemudian bertanya kepada mereka.


“Apakah kalian memiliki permintaan terakhir?”


Melihat banyak dari mereka menggelengkan kepala, sekali lagi Ark menghela napas panjang. Pada saat itu, lelaki tua tadi kembali membuka mulutnya.


“Jika boleh, maukah kamu mendengarkan permintaan egois lelaki tua ini, Anak muda?”


“Jika tidak keberatan. Bisakah kamu memberi kami kematian singkat dan lebih nyaman, Anak muda? Meski tidak keberatan untuk mati, tetapi digigit oleh monster dan dicabik-cabik sampai mati masih agak menakutkan. Jadi ...


Bisakah kamu mengakhiri kami dengan cepat?”


Melihat tatapan memohon dari para lansia itu, Ark tertegun. Pemuda itu itu kemudian berkata.


“Kalian benar-benar egois, Pak Tua.”


Mengatakan itu, Ark mengeluarkan pedangnya. Melihat ke arah para lansia yang menatapnya dengan ekspresi berterima kasih dan minta maaf, pemuda itu menghela napas panjang.


Beberapa saat kemudian, Ark keluar dari sel penjara tersebut. Dia kemudian duduk di tanah tepat di depan sebuah pintu kayu besar.


“Benar-benar menyebalkan.”


Meski Ark sering kali membunuh orang, membunuh para lansia seperti sebelumnya masih membuatnya merasakan beberapa beban pikiran. Itulah kenapa dia berkata kalau mereka terlalu egois karena suka memberi beban pikiran kepada orang lain.


Duduk di depan pintu kayu besar, pemuda itu berkata.

__ADS_1


“Mari tunggu satu setengah jam untuk beristirahat dan memulihkan energi.”


Melirik ke arah anak tangga yang mengarah ke atas di kejauhan, sekali lagi pemuda itu bergumam.


“Semoga saja mereka bisa berhasil melarikan diri.”


***


Satu setengah jam kemudian.


Ark berjalan menuju ke arah sel penjara para pemberontak. Di sana, tampak lebih dari dua puluh orang yang masih hidup. Hanya saja, mereka semua kehilangan dua kaki dan dua tangan. Melihat kedatangannya, mereka semua langsung menggigil dan melolong sedih.


Mengabaikan teriakan sedih mereka semua, Ark langsung menggunakan telekinesis untuk mengangkat tubuh mereka semua. Pemuda itu kemudian membawa mereka semua keluar dari sel penjara para pemberontak. Setelah itu, barulah mereka pergi menuju ke depan pintu kayu raksasa.


Menendang pintu kayu sampai terbuka, Ark langsung disambut dengan lorong yang cukup panjang. Tanpa sedikit pun keraguan, dia langsung berjalan masuk. Setelah berjalan beberapa waktu, pemuda itu akhirnya sampai di ujung tempat itu.


Sekarang Ark merasa sedang berdiri di atas sebuah tebing. Sedangkan di bawahnya, ada sebuah danau luas di bawah tanah. Tempat itu benar-benar sangat luas sehingga tidak mungkin seorang pun berpikir akan ada tempat semacam itu di bawah kota. Masalahnya, danau hitam beberapa meter di bawahnya bukanlahlah danau nyata.


Jika diperhatikan baik-baik, benda yang tampak seperti air itu adalah ribuan, bahkan puluhan ribu makhluk yang berkumpul bersamaan. Mereka memiliki tubuh hitam dan dipenuhi dengan cairan aneh. Ada beberapa garis warna yang menjadi tidak begitu terlihat karena proses evolusi mereka. Makhluk-makhluk itu memiliki kepala seperti martil, dan ya ...


Apa yang Ark maksud sebagai ‘danau’ itu sebenarnya adalah puluhan ribu cacing kepala martil yang terus bertarung dan mencoba melahap satu sama lain. Paling kecil berukuran setebal kaki pria dewasa, tetapi banyak dari mereka yang memiliki ukuran seperti tong, atau bahkan lebih besar.


Melihat pemandangan yang menggelitik otak tersebut, Ark langsung melemparkan lebih dari dua puluh orang yang ketakutan tersebut tepat ke tengah ‘danau’ hitam tersebut. Banyak cacing kepala martil mengerubungi mereka. Namun saat itu, danau tersebut mulai bergejolak dan beberapa makhluk yang berbeda dengan cacing kepala martil muncul ke permukaan.


Beberapa makhluk itu memiliki satu tubuh, tetapi memiliki lebih dari satu kepala. Dua di antaranya memiliki tiga kepala, dan satu yang paling besar memiliki enam kepala. Dengan leher panjang, kepala mengerikan yang memiliki mulut penuh dengan gigi tajam ...


Ketiga makhluk itu sedikit mirip, tetapi lebih menjijikkan dibandingkan dengan Hydra dalam legenda.


Melihat dua belas kepala dengan leher berdiameter lebih dari satu meter berebut mangsa, keringat dingin membasahi dahi dan punggung Ark. Mencabut dua pedangnya, pemuda itu bergumam.


“Mungkin ini yang orang-orang bayangkan tentang Sungai Styx di dunia bawah tempat Hydra itu berada dalam legenda, bukan? Sungguh ...”


Ark membuka dan membuang topeng lalu menyeka keringat di dahinya. Memiliki seringai dingin di wajahnya, pemuda itu kembali berkata.


“Rasanya aku benar-benar melakukan perjalanan untuk menaklukkan dunia bawah.”


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2