
“Pikirkan sesuatu dengan kepalamu, Draco!”
Leon tiba-tiba berteriak. Dia mengakui kalau dirinya tidak pintar, jadi langsung melemparkan beban membuat strategi ke rekannya. Pria itu sama sekali tidak munafik, atau berpura-pura bisa melakukan sesuatu padahal tidak bisa.
Meski kasar, jahat, liar, dan agak bodoh ... Leon adalah tipe pria jujur!
“Cih! Seperti biasa, jika dari samping dan atas tidak bisa ...” Mata Draco berkilat dingin. “Maka serang dari bawah!”
Mendengar itu, pupil Leon langsung menyusut. Tubuhnya langsung diselimuti uap panas dan ekspresinya menjadi lebih ganas.
Swoosh!
Sosok Leon langsung melesar dengan kecepatan luar biasa. Sebagai tanggapan, makhluk bermutasi itu langsung mengayunkan ekornya dengan kecepatan luar biasa.
Saat itu, Draco yang juga menggunakan seluruh miracle root miliknya kembali muncul. Dengan ekspresi dingin di wajahnya, pria itu membanting tombaknya.
KLANG!
Suara dentang keras terdengar. Berbeda dengan sebelumnya, pria itu hanya mundur beberapa langkah.
Leon menggunakan kesempatan tersebut, langsung meluncur cepat di bawah tubuh monitor lizard bermutasi. Memotong bagian bawah tubuhnya dengan cakarnya.
Berbeda dengan sebelumnya. Sisik bagian bawah berhasil dipotong dengan rapi, membentuk garis lurus dari depan sampai belakang.
SLASH!
Muncul di belakang makhluk bermutasi tersebut, Leon langsung berguling ke samping untuk menghindari ayunan ekor lawan. Pada saat menghindar ke jarak aman, pria itu menatap ke arah lawannya dengan ekspresi rumit.
“CIH! Benar-benar tidak berhasil?”
Melihat ke arah tangan berlumuran darah lalu ke arah monitor lizard bermutasi yang membuat suara mendesis karena marah, ekspresi Leon tampak buruk. Jelas, dia bisa memotong sisik bagian perut lawan.
Masalahnya, serangan Leon kurang dalam dan tidak bisa membuat luka fatal pada tubuh lawan.
Biasanya Leon melawan musuh dengan ukuran kurang besar sehingga serangannya efektif. Bahkan jika lawannya besar, dia bisa memukul atau menghancurkannya dengan pukulan keras yang berdampak pada lawan.
__ADS_1
Sedangkan saat ini, serangan cakar sulit memberi luka fatal. Sedangkan serangan pukulan benar-benar diredam oleh sisik-sisik aneh makhluk itu. Bisa dibilang, musuhnya saat ini adalah lawan buruk dari kemampuannya sendiri.
Swoosh! BRUAK!
Ekor monitor lizard bermutasi langsung berayun mengenai Leon, lalu menghempaskannya.
Pada saat bangkit, Leon langsung menampar dirinya sendiri karena tidak fokus. Melihat bekas luka di tubuh makhluk itu mulai sembut dengan kecepatan yang bisa dilihat oleh mata dan Draco yang melawan dengan keras membuat pria itu menjadi lebih marah.
Leon sekali lagi menyerang, dan terus menyerang. Pukul, potong, dan incar kelemahan lawan sesuai dengan arahan Draco. Namun, sama saja.
Pria itu tidak bisa membuat luka serius pada lawannya.
Pertahanan aneh dan regenerasi tingkat tinggi tersebut seolah-olah mematikan semua kemampuannya. Saat hendak masuk dalam mode berserk yang lebih dalam, mengorbankan kewarasan untuk menaikkan kekuatannya, suara tak acuh terdengar.
“Apakah kalian sudah mengerti?”
Entah sejak kapan, sosok Ark sudah berdiri tidak tidak di atap tidak jauh dari tempat keduanya bertarung.
“Meski kamu kuat dan ingin bertarung hanya dengan satu tangan, tetapi terkadang kamu akan menemukan batasan, Draco. Selain itu, kamu juga terlalu mengandalkan trik, dan kekuatan kurang.
Mungkin kamu kuat dan bisa bertarung dengan insting, tetapi sekarang seharusnya kamu mengerti betapa pentingnya senjata, Leon. Selain itu, kamu terlalu bergantung pada insting dan perintah orang lain. Jika terus seperti itu, cepat atau lambat kamu akan menabrak dinding.”
Swoosh!
Ark langsung menghindar dengan lincah. Cahaya merah yang menyelimuti tubuh lawan juga menghilang.
Pada saat mendarat, Ark melihat ke arah monitor lizard bermutasi yang menggelengkan kepalanya sambil mendesis marah.
‘Sepertinya aku terlalu tamak,’ pikir pemuda itu.
Pada awalnya, Ark berencana untuk menghentikan gerakan monitor lizard bermutasi dengan telekinesis. Namun, seperti dugaannya, mustahil untuk menghentikan gerakan makhluk hidup di level itu.
Normalnya, telekinesis level 5 yang kuat hanya bisa menghentikan gerakan makhluk level 2. Paling banyak, menghentikan salah satu bagian tubuh makhluk level 3.
Ark sendiri tahu bakatnya. Ditambah telah menyerap miracle root dari zombie Anya dan Raja Semut, dia yakin kekuatan telekinesis miliknya naik ke level yang sangat tinggi. Belum lago, efek positif yang dibawa oleh ramuan khusus.
__ADS_1
Pemuda itu telah menguji kekuatannya ke makhluk level 3. Jika itu zombie atau binatang bermutasi biasa level 3, dia bisa langsung mematahkan leher mereka dengan lambaian tangan. Jika itu makhluk khusus level 3, telekinesis miliknya masih bisa menghentikan gerakan mereka. Jika tidak, masih bisa memperlambatnya sampai titik ekstrem.
Sedangkan sekarang, Ark mencoba untuk menggunakannya ke makhluk khusus level 4.
Seperti dugaannya, menghentikan makhluk itu tidak mungkin. Itulah kenapa Ark berpikir kalau dirinya masih terlalu tamak. Tidak puas dengan kekuatannya yang sudah sangat kuat.
Swoosh!
Melihat cambuk ekor lain melesat ke arahnya, Ark langsung mengangkat tangan kirinya untuk menahan cambukan ekor. Dalam sekejam, lengan kirinya langsung dilapisi gauntlet berwarna hitam dengan kilau dingin.
BANG!
Suara ledakan keras terdengar, tetapi Ark masih berdiri di tempatnya. Sama sekali tidak ada retakan pada gauntlet. Namun lantai di bawah kakinya langsung dipenuhi dengan retakan, dan debu di sekitarnya langsung beterbangan.
Mata Ark berkilat dingin. Dia langsung menarik pedang yang dilapisi energi merah. Pemuda itu langsung maju, menebas pangkal ekor lawan.
BRUK!
Sisik yang sulit dipotong langsung terpotong dengan mudah. Jika diperhatikan, Ark tidak hanya menebas secara asal, tetapi menebas sekuat tenaga tepat di bagian celah tipis antar sisik yang tersusun rapi dan terlihat rapat.
Melihat ekor terpotong yang terus bergerak dan mendengar suara marah makhluk bermutasi tersebut, Leon dan Draco langsung terkejut. Saat itu juga, sesuatu yang lebih mengejutkan terlihat di depan mata mereka.
Bagian ekor makhluk bermutasi yang seharusnya terpotong itu tiba-tiba kembali tumbuh dengan kecepatan luar biasa.
Bukannya mencoba menghentikan proses regenerasi, Ark malah menatap makhluk itu dengan tenang. Rasanya, memang sengaja menunggu lawan untuk bersiap.
“Kalian berdua mundur.”
Setelah mengatakan itu, Ark langsung mengeluarkan pedang lain. Kemudian, lengan lain juga ditutupi oleh gauntlet hitam. Pemuda itu tidak menggunakan armor yang menutupi seluruh tubuh, tetapi hanya kedua tangan.
Baginya, itu sudah lebih dari cukup.
Melihat makhluk yang menatapnya dengan ekspresi ganas dan penuh dengan niat membunuh, ekspresi Ark masih sama. Berbeda dengan momen sebelumnya dimana dirinya merasakan krisis, sekarang dia tidak merasakan apa-apa ketika melihat lawan di depannya.
Pada saat makhluk itu bergegas ke arahnya dengan gila, Ark hanya bergumam.
__ADS_1
“Majulah. Biarkan aku memeriksa sesuatu.”
>> Bersambung.