Apocalypse Regression

Apocalypse Regression
Keluar Dari Sarang


__ADS_3

Setelah menyelesaikan rapat antar anggota Sword of Sufferings, Ark duduk di atas atap bersama dengan Jay.


"Apa yang ingin kamu bicarakan, Ark? Kamu tampak begitu serius."


Jay bertanya dengan nada setengah bercanda.


"Aku ingin melakukan dua hal. Namun aku sedikit ragu apakah harus segera memulainya atau tidak."


"Hm?"


Melihat ke arah Ark yang agak ragu, Jay mengangkat alisnya. Dia benar-benar jarang melihat sahabatnya begitu kebingungan.


"Ada apa?" tanya Jay.


"Aku bingung apakah harus memberi orang-orang itu Miracle Root. Meski mereka sudah merasakan evolusi, tetapi aku masih takut mereka akan terlena.


Seperti yang kamu ketahui, kemampuan yang kita dapatkan ini bukan hanya kuat, tetapi juga berbahaya. Jika mereka memilih untuk membelot, aku merasa ...


Sangat disayangkan jika harus membunuh mereka."


Kalimat terakhir yang Ark ucapkan membuat Jay tertegun. Dia melihat sosok sahabatnya dengan tatapan aneh.


"Itu agak gelap, Kawan. Maksudku, kamu berbicara tentang membunuh orang seolah hal tersebut semudah memotong rumput di halaman belakang. Terlebih lagi, mereka adalah rekan kita sendiri.


Selain itu, aku rasa kamu benar-benar terlalu paranoid. Mereka tidak akan membunuhmu karena hal semacam itu, kan?"


"Kamu meremehkan keserakahan manusia, Jay." Ark berbicara dengan ekspresi serius. "Tidak semua manusia berpikiran sederhana dan dangkal seperti kamu."


"Tetap saja, kamu tidak perlu begitu khawatir. Lagipula, kamu memiliki kekuatan untuk membereskan semuanya jika ada masalah yang muncul. Tunggu!


Apa maksudmu berpikiran sederhana dan dangkal? Kamu benar-benar menganggapku bodoh?"


"Tentu saja tidak. Lebih penting dari itu, aku telah menemukan resep yang tampaknya bisa dijadikan sebagai ramuan evolusi tingkat dua, tetapi kita kekurangan bahan terakhir."


"Tidak bisakah kamu berhenti mengalihkan pembicaraan?"


Jay berkata dengan ekspresi heran. Dia benar-benar merasa sedang dibodohi dan dipermainkan oleh sahabatnya. Namun karena penasaran, dia masih bertanya.


"Lalu, bahan apa yang kita perlukan?"

__ADS_1


"Daging zombie level 2."


"En? Zombie level 2? Apakah jenis zombie spesial atau semacamnya?"


"Bukan. Setelah gelombang binatang buas dan zombie yang terjadi sebelumnya, aku yakin bukan hanya ada perubahan dalam lingkungan.


Aku rasa, pasti ada juga makhluk yang berevolusi ke tahap berikutnya. Sama ketika perubahan dunia terjadi untuk pertama kalinya."


Ark berbicara dengan ekspresi serius sambil menyebutkan beberapa teori. Namun dia sendiri sebenarnya tahu kalau hal tersebut memang telah terjadi. Selain itu, pemuda tersebut sebenarnya memiliki kekurangan dua bahan, bukan satu.


Hanya saja, karena tidak ingin membuat Jay semakin curiga, dia hanya menyebutkan daging zombie level dua. Bukan bahan lainnya.


"Itu masuk akal. Akan tetapi, kenapa kita belum menemukannya? Maksudku, kita sering memburu zombie setiap hari, kan?"


"Hanya ada dua teori untuk menjawabnya. Pertama, lokasi tempat kita berada termasuk cukup sepi. Terakhir, zombie-zombie di tempat ini sebelumnya belum cukup makan. Jadi tidak bisa berevolusi.


Kemungkinan besar ada beberapa zombie yang sudah berevolusi di kota. Khususnya di lokasi padat penduduk. Jadi jika kita ingin mendapatkan bahan, kita harus pergi keluar dari sarang.


Meninggalkan markas dan memulai perburuan di luar wilayah."


Jay yang mendengarkan penjelasan Ark terus mengangguk. Setelah sahabatnya itu berhenti bicara, dia akhirnya membuka mulutnya untuk bertanya.


"Maaf?" ucap Ark yang merasa salah dengar.


"Maksudku, kita memiliki cadangan daging kering dan telah mengembangkan lahan. Bukankah kita tidak lagi perlu pergi. Cukup tinggal di tempat ini?"


"Itu tidak mungkin, Jay." Ark berkata tegas.


"Kenapa mustahil?"


"Jangan terjebak di zona nyaman dan berakhir dengan penyesalan ketika bencana menghampiri kita.


Bahkan jika saat ini kita bisa dibilang kuat, dunia terus berubah. Kita tidak tahu sampai kapan kita bisa bertahan. Jadi lebih baik terus mempersiapkan diri. Memperbaiki agar kita bisa menghadapi apa yang akan datang.


Sebuah pisau tajam ketika diasah, tetapi akan tumpul atau bahkan berkarat jika dibiarkan begitu saja."


Melihat ekspresi dingin di wajah sahabatnya, Jay mengangkat bahu. Dia membalas dengan senyum santai.


"Seperti itulah seharusnya."

__ADS_1


"Maksudmu?"


"Lakukan saja apa yang kamu percayai, Ark. Lagipula kamu adalah ketuanya. Jika kamu percaya pada anggota lain, kamu bisa membantu mereka mendapatkan Miracle Root. Jika tidak, maka tidak perlu dilakukan.


Aku tahu kamu ragu karena tidak ingin dikhianati. Selain itu, aku tahu kamu bermulut keras, tetapi berhati lembut. Sebenarnya, kamu sudah menganggap mereka sebagai rekan


Itulah sebabnya kamu tidak ingin menghancurkan semuanya, kan?"


Jay menepuk bahu Ark sambil tersenyum hangat.


"Tenang saja. Jika mereka berusaha membelot dan kamu tidak tega untuk menghabisi mereka.


Aku yang akan membunuh mereka semua untukmu."


PLAK!


Ark langsung menampar Jay sampai jatuh ke lantai.


Jay tercengang. Dia bangkit sambil memegangi pipinya dengan ekspresi kesakitan.


"Apa yang kamu pikirkan, Ark? Apakah kamu sudah gila?"


Mengabaikan Jay, Ark menunduk untuk menatap telapak tangannya sendiri. Pemuda itu kemudian bergumam dengan ekspresi datar.


"Ini agak menyakitkan. Berarti ini bukan mimpi."


"BUKANKAH SUDAH JELAS INI BUKAN MIMPI!!"


Jay berteriak marah dengan ekspresi penuh emosi.


Ark mengangkat wajahnya, langsung menatap wajah Jay. Pemuda itu kemudian tersenyum hangat sembari berkata.


"Maaf, aku pikir ini mimpi karena sangat jarang kamu mengatakan hal-hal berguna."


Nada bicara Ark sehangat musim semi, berbeda dengan nada dingin biasanya. Namun ...


Hal tersebut membuat Jay benar-benar terdiam di tempatnya.


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2