Apocalypse Regression

Apocalypse Regression
Lembaran Baru


__ADS_3

Waktu berlalu dengan tenang. Pada awal pertengahan bulan ke tiga, akhirnya project pembangunan dinding lapisan ke dua dimulai.


“Apakah kita benar-benar harus melakukan pembangunan semacam ini, Kak?”


Melihat rencana jangka panjang dimana mereka akan membuat dinding besar dengan cara menumpuk berbagai kendaraan yang tidak terpakai di antara gedung-gedung di luar perumahan elit. Membuat jenis beteng raksasa yang biasanya mustahil untuk dibuat oleh ratusan orang saja.


Hanya saja, anggota Sword of Sufferings bukanlah orang-orang biasa. Bahkan, sekarang para pekerja juga telah mendapatkan jatah ramuan evolusi. Itu berarti, setidaknya orang-orang telah ada di level satu. Ya … meski para pekerja belum menyerap miracle root, tetapi sudah cukup bagus karena sebanding dengan anggota yang dianggap elit di kelompok lainnya.


“Cepat atau lambar kita akan melakukannya, jadi lebih baik memulainya dengan segera, bukan? Terlebih lagi, saat ini kita tidak lagi kekurangan makanan untuk mempekerjakan orang.”


Ark berkata dengan nada santai. Sebagian anggota inti juga setuju karena semakin kuat pertahanan mereka, akan semakin aman pula mereka ke depannya. Dengan dinding semacam itu, kecuali makhluk tingkat bencana, mereka pasti bisa bertahan cukup lama.


“Bagaimana dengan project pembangunan shelter, Ark? Bukankah kamu sempat bilang ingin membangun markas bawah tanah yang lebih aman?”


“Bahan belum terkumpul dan lebih sulit untuk membangunnya, Old Franky. Selama waktu pembangunan ini, kita bisa mengumpulkan bahan-bahan terlebih dahulu. Tahun depan mungkin kita bisa mulai membangnnya.”


Mendengar pertannyaan Old Franky, Ark membalas dengan santai. Jika bisa, dia memang ingin membangun markas bawah tanah terlebih dahulu. Hanya saja, mereka tidak bisa melakukannya. Jadi mereka membangun project besar yang bisa mereka bangun.


“Berapa lama great wall akan terselesaikan, Ark?” tanya Jay.


“Jika anggota semakin bertambah dan kita bisa meningkatkap kekuatan mereka, kira-kira, akhir tahun dinding tersebut bisa diselesaikan.”


“Apakah begitu lama?”


Mendenga pertanyaan Jay, semua orang terdiam. ALih-alih lama, waktu itu sudah mereka anggap besar. Belum lagi, jumlah orang terbatas dan mereka mengerjakannya secara manual. Tanpa alat bantu modern seperti pada masa sebelum apocalypse.


Selesai mengatur semuanya, Ark akhirnya membubarkan orang-orang. Sesaat setelah orang-orang pergi, dia duduk berjalan ke dekat jendela untuk melihat langit biru yang tampak jelas di luar sana. Menyadari hal-hal penting dan berbahaya di kota telah terselesaikan, tinggal beberapa hal yang bisa diurus bersama dengan berjalannya waktu, pemuda itu akhirnya membuat keputusan.


“Tampaknya sudah waktunya untuk mengunjungi kota lain.”


“Waktunya untuk membuka lembaran baru.”

__ADS_1


***


Di kota lain, dalam ruang bawah tanah gelap dan suram.


Sosok pemuda digantung pada dinding. Dua tepak tangannya dipaku dengan besi berkarat. Bekas luka mengerikan tampak di sekujur tubuhnya, tetapi tidak mengurangi ketampanannya. Pemuda itu memiliki rambut dan mata hitam. Rambutnya sangat berantakan karena telah lama tidak dibersihkan. Mata hitam tampak begitu dalam.


Jika orang-orang di Sword of Sufferings melihat pemuda itu, mereka akan langsung bisa menebak kalau dia adalah saudara orang yang paling mereka hormati, Ark. Meski dalam segi ketampanan dan tempramen sedikit kalah dibandingkan dengan kakaknya, pemuda itu lebih tinggi.


Tuk! Tuk! Tuk!


Suara sepatu yang menginjak lantai kayu terdengar. Beberapa saat kemudian, sosok lelaki berusia pertengahan dua puluhan dengan rambut pirang panjang, kulit putih pucat, dan mata biru gelap tampak suram tiba dalam ruangan tersebut. Pria itu menatap sosok pemuda yang digantung pada dinding edengan ekspresi muram. Memengang erat cambuk hitam di tangan kanannya, dia bertanya dengan suara dingin.


“Jika kamu terus tidak menjawab, kamu akan mati, Evans. Katakan … dimana para tikus-tikus itu bersembunyi?!”


“Jika kamu mencari tikus, sebaiknya kamu melompat ke got.”


Evans berkata dengan senyum di wajahnya. Namun detik kemudian, cambuk hitam langsung melukai kulitnya. Meski merasakan sakit, pemuda itu masih menggertakkan gigi sambil menahannya.


Kami menyelamatkan banyak orang dan meluruskan jalan mereka yang bengkok. Kami adalah orang-orang yang dipilih oleh Dewi Kegelapan untuk bertahan di dunia yang gelap dan suram ini!”


“Dewi Kegelapan? Jangan bercanda denganku. Ketua kalian hanyalah monster yang mencuci otak orang-orang dengan ajarannya. Kalian hanyalah kumpulan orang gila yang fanatik!”


“SUNGGUH BERANI!”


Suara cambukan keras terdengar beberapa kali dalam ruangan itu. Setelah belasan menit, barulah suara cambukan berhenti.


“Hentikan, Anthony. Jika dia sampai mati, Tuan akan marah.”


Suara dingin terdengar. Beberapa saat kemudian, sosok wanita masuk ke dalam ruangan. Dibandingkan dengan penampilan Anthony yang suram, penampilan wanita tersebut bahkan lebih mencolok karena … dia menderita albinisme.


Kulit, rambut, bahkan bulu mata wanita itu berwarna putih. Matanya berwarna perak kebiruan. Ekspresinya tampak sangat dingin. Bahkan karena kehadirannya, Anthony yang sebelumnya tampak gila langsung diam dan tutup mulut.

__ADS_1


“Kamu keluar terlebih dahulu.”


“Tapi, Silvia-“


“Keluar!”


“B-Baik!”


Setelah Anthony pergi, wanita bernama Silvia mendekati Evans. Berdiri dalam jarak kurang dari dua meter, wanita itu membuka mulutnya.


“Lama tidak berjumpa, Evans. Apakah kamu tidak berniat untuk menyerah? Ya … aku tidak peduli dengan hal itu.”


Silvia mengangkat bahu dengan ekspresi tak acuh. Dia tampaknya tidak begitu peduli dengan hubungan Crux of Shadow dengan kelompok di belakang Evans. Sebaliknya, matanya menunjukkan keinginan tertentu untuk hal lain.


“Bahkan jika kamu menyangkal, wajahmu sama sekali tidak bisa menipu, Evans. Katakan, dimana orang itu tinggal? Apakah dia bersembunyi di kota ini? Dimana? Kenapa dia tidak menampakkan diri?”


“Sudah aku bilang kalau aku tidak mengenalmu dan kakakku juga tidak mungkin mengenalmu! Dia tinggal di kota lain dan bekerja sebagai pegawai kantor! Aku bahkan tidak tahu apakah dia masih hidup atau tidak!”


Evans berkata dengan ekspresi jengkel. Wanita cantik sekaligus aneh itu benar-benar datang untuk mencari kakaknya. Namun apa yang disebutkan oleh wanita itu jelas tidak cocok dengan kakaknya yang selalu memasang ekspresi datar, pekerja kantoran yang jarang pulang dan hidup dengan datar.


Alih-alih mempercayai Evans yang tidak tahu apa-apa, Silvia tiba-tiba menikam bahu pemuda itu. Melihat Evans menggertakkan gigi, wanita itu sama sekali tidak peduli.


“Dia tidak pernah datang ke organisasi dan hanya menerima misi setelah wanita gila itu ditangkap. Dia benar-benar menyebalkan. Dia tampan dan menarik, tetapi benar-benar menyebalkan.”


Melihat Silvia terus mengulang kalimat yang sama, Evans berkeringat dingin. Wanita itu jelas tidak normal. Bahkan jika mengetahui keberadaan kakaknya, dia bersumpah tidak akan memberitahu wanita gila itu karena pasti akan membuat masalah bagi kakaknya.


Hanya saja, Evans tidak tahu kalau Silvia benar-benar mengenal Ark. Juga, Ark sendiri mengenal wanita itu, bahkan cukup akrab karena …


Mereka sama-sama berasal dari Reign of Shadow!


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2