
Sekitar satu minggu kemudian.
“Latihan hari ini cukup!”
Mendengar seruan Evans, banyak orang yang sedang berlatih menghela napas panjang. Mereka tampak lega. Meski lelah, ekspresi mereka juga sudah banyak berubah. Dibandingkan dengan satu minggu yang lalu, mereka tampak lebih cerah.
Mereka mungkin dipaksa untuk bekerja dan berlatih setiap hari, tetapi mereka tidak ketakutan atau kelaparan seperti sebelumnya. Apa yang mereka lakukan mungkin melelahkan, tetapi mereka tidak merasakan beberapa ketakutan seperti sebelumnya. Jika sebelumnya mereka takut mati kelaparan, karena penyakit, atau serangan binatang buas ... sekarang mereka hidup lebih ‘normal’.
Mereka telah melihat bagaimana anggota Sword of Sufferings membunuh binatang buas dengan mata mereka sendiri. Meski orang-orang berjubah dan bertopeng itu membuat mereka ketakutan, tetapi mereka juga membawa rasa aman. Rasanya ada sedikit kontradiksi, tetapi para pengungsi sama sekali tidak terlalu memikirkannya.
Dalam waktu ini, Evans dan Natalia memiliki peran paling banyak. Mereka berdua telah membagi para pengungsi sesuai dengan peran masing-masing. Peran itu sendiri tergantung pada bagaimana pekerjaan dan apa yang telah mereka lakukan selama satu tahun lebih ini.
Profesi sebelum apocalyse penting, tetapi pengalaman yang mereka lewati juga sangat penting. Lagipula, pengalaman yang dibawa saat hidup aman dan selalu dikejar bahaya sangat berbeda, khususnya bagi mereka yang terburu-buru.
Dalam masa apocalypse, mereka semua dipaksa untuk terus menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan baru. Gaya hidup sehari-hari mereka berubah total. Bisa dibilang, mereka harus bisa beradaptasi dalam segala kondisi agar bisa hidup sampai saat ini.
Ya. Baik di dunia yang dulu atau sekarang, hidup tetap saja tidak mudah.
Di saat semua orang kembali untuk beristirahat, sosok gadis berjalan ke arah Evans. Gadis itu memiliki ekspresi tegas di wajahnya. Melihat ke arah pemuda itu, dia bertanya.
“Apakah kamu tahu apa yang lakukan sekarang, Evans? Apakah kamu akan terus memanjakan mereka?”
Melihat ke arah Natalia, sudut bibir Evans berkedut. Pemuda itu menghela napas panjang sebelum menjelaskan.
“Bukankah mereka semua sudah bekerja keras? Maksudku, mereka sudah berlatih dan berkembang setiap hari, kan?”
“Tetap saja, mereka semua belum memenuhi target latihan harian.”
__ADS_1
“Bukankah itu karena target latihan terlalu berlebihan dan mereka kekurangan nutrisi?”
“Mereka hanya malas! Kamu tidak bisa memanjakan mereka. Ingat, Evans ... waktu tidak menunggu siapapun! Jika kamu terus memanjakan mereka dan akhirnya mereka mati, kamu sendiri yang akan mengalami banyak kerugian.
Apakah kamu ingin mengulangi hal yang sama pada Spirit of Fire?”
“Tentu saja tidak. Namun, mereka sudah bekerja, kan? Tidak ada orang yang hanya mengambil keuntungan seperti pada kelompok sebelumnya.”
“....”
Melihat keduanya mulai berdebat, banyak orang menggelengkan kepala mereka. Dalam tujuh hari ini, mereka berdua sering berdebat dan orang-orang sudah terbiasa. Mereka menghela napas panjang, karena mereka tahu .... latihan besok pasti akan lebih berat.
Lagipula, Evans hampir tidak pernah memenangkan berdebatan melawan Natalia!
Sedangkan Hades dan Sword of Sufferings? Selain melindungi pada saat yang diperlukan, mereka sama sekali tidak ikut campur dengan urusan kelompok baru itu.
“Apakah mereka sudah mulai lagi?”
“Bukankah kamu sudah terbiasa?” ucap Draco dengan nada hambar.
“Ya ... itu juga tidak salah.” Leon mengangkat bahu.
Di gua paling dalam, tampak beberapa obor menyala. Selain itu, ada juga beberapa loker sederhana yang terbuat dari kayu. Jumlahnya tepat 22, khusus untuk Leon, Draco, dan 20 orang lainnya. Tempat itu digunakan untuk menyimpan pakaian dan peralatan mereka. Ada juga beberapa kotak penyimpanan untuk menyimpan persediaan makanan dan air.
Sedangkan Ark memilih untuk berada di ruang sendiri. Ruangnya berada di kiri ruang paling dalam. Alasan dia tidak memilih ruang paling dalam sederhana, karena ruang itu yang sangat luas dan lebih cocok untuk banyak orang. Ruangannya sendiri sudah sangat luas, ada beberapa loker untuk pakaian dan peralatan.
Selain itu, Ark juga memiliki beberapa kotak di kamarnya. Isinya adalah persediaan makanan, air, ditambah dengan obat-obatan dan beberapa bahan yang tidak terlalu besar tetapi berguna. Dia juga menggali dinding membentuk balok untuk tidur, menggunakan kulit binatang buas kering sebagai alasnya. Bisa dibilang, jika dalam dunia primitif, ruangan Ark itu sudah sangat mewah.
__ADS_1
Dua ruangan baik milik Ark atau ruangan campuran memiliki tirai yang menutupinya sehingga tidak terlihat dari luar. Lagipula, identitas mereka di kota ini harus tetap disembunyikan untuk mencegah hal-hal tidak perlu.
Sedangkan, meski Evans juga tinggal sendiri, ruangannya cukup terbuka. Walau ada loker dan kotak penyimpanan, pemuda itu tidak memiliki banyak barang. Bahkan ruangannya terlalu sederhana, tetapi masih bersih dan tertata rapi.
Dalam ruangannya, Ark sedang sibuk membuat anak panah. Lebih tepatnya, menyelesaikan tahap akhir. Bagian kayu telah disiapkan dari luar. Pemuda itu hanya merakitnya di dalam. Setelah selesai, merendamnya dalam sebuah pot penuh cairan ungu.
Selain racun untuk anak panah, Ark juga telah membuat banyak penawar. Tak lupa, dia juga membuat beberapa obat-obatan sederhana.
Jadi, jika ada seseorang yang masuk ke dalam ruangannya, indera penciuman mereka akan langsung diserang oleh bau berbagai herbat yang untungnya menyegarkan. Bahkan, karena mereka tinggal di gua, aroma herbal menyebar di beberapa ruang sekitar milik Ark.
Mengabaikan Evans dan Natasha yang berdebat, Ark terus membuat anak panah. Setelah selesai membuat dan merendamnya, pemuda itu ingin mengolah beberapa bahan mentah. Dia ingin menggunakan waktu untuk mempersiapkan berbagai senjata yang mungkin cukup berguna.
Setelah Evans dan Natalia berhenti berdebat, Evans langsung pergi menemuinya. Hal tersebut selalu dilakukan setiap hari. Rasanya seperti adik kecil yang mengadu setelah pulang ke rumah dan ingin temannya dimarahi, tetapi Ark tidak peduli dengan itu. Hanya saja, kali ini berbeda karena Evans datang membawa sebuah gulungan kulit.
“Apakah dari Huginn dan Muninn?” tanya Ark.
“Ya.” Evans mengangguk.
“Kamu boleh pergi.”
Mendengar ucapan kakaknya, Evans hendak menolak, tetapi pada akhirnya memilih untuk pergi.
Setelah melihat adiknya pergi, Ark membuka surat yang disegel dengan rapi. Surat tersebut dikirim oleh Saito karena dia menugaskan pria itu untuk melakukan sesuatu yang cukup berbahaya, yaitu menyelidiki markas Crux of Shadow. Membaca isi informasi, Ark jelas sangat terkejut.
Dalam informasi, dikatakan kalau Crux of Shadow telah merekrut lebih banyak orang. Selain itu, Silvia yang merupakan salah satu dari jenderal memilih keluar dari kelompok lalu pergi dengan beberapa orangnya. Sedangkan berita terakhir ... mata Ark langsung menyipit ketika membacanya.
Setelah berpikir cukup lama, pemuda itu menarik napas dalam-dalam lalu bergumam.
__ADS_1
“Tampaknya aku benar-benar membutuhkan bala bantuan.”
>> Bersambung.