
Sementara itu, di kota lain.
Dalam sebuah ruang sempit dan gelap, tampak sosok lelaki penuh darah yang digantung pada dinding. Dia adalah Evans, satu-satunya adik yang memiliki hubungan darah dengan Ark. Berbeda dengan ekspresi penuh tekad sebelumnya, ekspresi di wajahnya tampak begitu tumpul setelah penyiksaan yang begitu lama dilakukan.
“Tampaknya dia sudah tidak berguna lagi. Dia jelas terlalu keras kepala. Jenis yang tidak akan membuka mulutnya bahkan jika disiksa sampai mati. Padahal dia sendiri jelas tahu kalau orang-orang dari kelompok itu tidak akan menyelamatkannya, bahkan menganggapnya telah mati.”
Anthony menatap ke arah Evans dengan ekspresi tidak puas. Jelas, di antara semua orang yang dia tangkap dan siksa, sama sekali tidak ada yang begitu keras kepala seperti pemuda di depannya. Gara-gara pemuda tersebut, pria itu beberapa kali dimarahi dan dianggap tidak kompeten oleh ketua Crux of Shadow.
“Karena sudah tidak gunanya, aku akan mengirim kamu ke jalan dengan tenang. Anggap saja ini hadiah karena telah bertahan begitu lama, Bocah!”
Mengatakan itu, Anthony menarik keluar sebuah belati.
“Kamu bisa pergi, Anthony. Aku akan mengurus sisanya.”
Pada saat itu, suara wanita datang untuk menyela. Ketika Anthony menoleh, dia mendapati Silvia yang berjalan ke depan lalu melewatinya. Wanita tersebut kemudian mencabut dua besi yang memaku tangan Evans ke dinding. Tubuh pemuda itu langsung jatuh ke lantai dengan keras.
“Aku sudah mendapatkan izin dari ketua.”
“Tapi-“
“Ketua memanggilmu. Lebih baik kamu segera pergi.”
Melihat ekspresi dingin di wajah Silvia, Anthony akhirnya mengangguk dengan ekspresi berat. Dia jelas ingin mengakhiri nyawa Evans dengan tangannya sendiri, tetapi sama sekali tidak berani melanggar perintah. Pada akhirnya, pria itu hanya bisa pergi dengan enggan.
“Kalau begitu kamu yang akan mengurus sisanya,” ucap Anthony sebelum pergi.
Silvia menatap ke arah Evans dengan ekspresi tak acuh. Setelah mengetahui kalau Anthony telah pergi, dia akhirnya membuka mulutnya.
“Seperti yang kamu lihat, tidak ada yang datang untuk menyelamatkanmu. Aku tidak tahu kenapa kamu membuat keputusan bodoh semacam itu. Aku juga tidak mempedulikannya. Namun, sebelum mengirimmu pergi …
__ADS_1
Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu.”
“Jika kamu menanyakan tentang Kak Archie, tidak ada yang bisa aku katakan padamu.”
Mendengar itu, Silvia sama sekali tidak marah. Sebaliknya, dia malah membalas dengan tenang.
“Tampaknya tidak memotong lidahmu adalah pilihan tepat. Ternyata kamu masih bisa bicara.”
Setelah mengatakan itu, Silvia langsung menjambak rambut Evans. Dia kemudian mengeluarkan sesuatu dari sakunya, lebih tepatnya, dua buah anggur bulat dengan warna putih bersih seperti susu. Wanita itu kemudian menjejalkan kedua buah tersebut ke mulut Evans.
Beberapa saat setelah dipaksa Silvia menelan buah itu, Evans sangat terkejut melihat luka-luka di kulitnya menutup. Meski tidak sembuh total, tetapi luka bekas cambukan dan sayatan benar-benar mengering. Pemuda itu kemudian menatap sosok Silvia dengan ekspresi bingung.
“Aku sudah menerima informasi yang aku perlukan darimu selama ini. Juga, aku yakin kalau orang itu adalah kakakmu. Aku tidak percaya orang sepertimu yang dianggap pintar benar-benar begitu polos dan dengan mudah dibodohi olehnya.
Dengan begini, aku sudah tidak memiliki hutang budi kepadanya. Juga, mulai sekarang …
Evans telah mati.”
“Irene, buang mayat ke tempat pembuangan seperti biasa.”
“Dimengerti, Nona.”
Beberapa saat kemudian, sosok wanita seusia dengan Silvia dengan rambut merah alami yang tampak langka masuk ke dalam ruangan. Sosok wanita itu tampak cantik, hanya sedikit leboh buruk dari Silvia. Dia memiliki ekspresi lembut di wajahnya, sama sekali tidak cocok dengan tempramen orang-orang gila di kelompok Crux of Shadow.
Irene membawa sebuah karung besar. Melihat ke arah Evans yang bingung, dia tidak mengatakan apa-apa dan hanya memasang senyum.
Wanita itu kemudian memasukkan Evans yang masih lemah ke dalam karung lalu menyeretnya pergi dari ruangan sempit dan gelap tersebut.
Beberapa jam kemudian, Evans yang sebelumnya diikat dalam karung kembali melihat cahaya. Melihat sekeliling, dia menemukan bahwa dirinya sekarang berada di tempat pembuangan. Banyak sampah, perabot tidak berguna, bahkan banyak mayat busuk di sana.
__ADS_1
Saat itu, Evans memandang ke arah Irene dengan ekspresi bingung.
“Kenapa?” tanya Evans dengan suara serak. “Kenapa kalian melepaskanku?”
Mendengar pertanyaan itu, Irene sama sekali tidak menjawabnya. Dia hanya memandang ke arah Evans seolah sedang melihat mayat. Setelah beberapa saat, wanita itu berbalik pergi. Benar-benar meninggalkan Evans yang tampak kebingunan di sana.
Melihat Irene pergi, Evans tidak bisa tidak mengingat Silvia. Dia merasa sangat bingung. Namun setelah beberapa saat menenangkan diri, pemuda itu mulai berpikir jernih.
‘Menurut wanita itu, Kak Archie sama sekali bukan pekerja kantoran biasa, tetapi pembunuh dari organisasi Reign of Shadow?’
Memikirkan itu, Evans merasa sangat bingung. Pada awalnya, dia curiga, tetapi sama sekali tidak bisa menghubungkan semuanya.
Sejak kecil ketika mereka tidak memiliki apa-apa, Evans tahu kalau Ark yang menafkahi mereka. Namun hal tersebut juga bukan sesuatu yang dia anggap mustahil. Pada saat masih ana-anak, Ark bekerja menjual koran setiap harinya. Sedikit lebih besar, dia bekerja di pasar sebagai kuli panggul. Saat itu juga, ada bibi yang menawarinya untuk menjadi penjaga toko.
Di mata Evans, Ark sendiri benar-benar luar biasa. Tidak hanya memiliki fisik yang baik, dia juga sangat cerdas. Bisa menghitung dengan baik dan mempelajari segala sesuatu dengan mudah. Dengan bantuan banyak orang di pasar tradisional, Ark bisa masuk ke sekolah dengan beasiswa. Tidak hanya mendapatkan beasiswa penuh, dia juga sekolah sambil bekerja.
Sebagai seorang kakak, Ark juga membuat kehidupan adiknya lebih baik. Menyekolahkan adiknya, memberi makanan yang lebih baik, dan melakukan banyak hal untuknya.
Meski Evans sendiri juga mendapatkan beasiswa, menjadi murid unggulan, dan masuk universitas top. Namun pemuda itu masih merasa inferior di depan kakaknya yang luar biasa. Lagipula, dibandingkan dengan kakaknya yang memulai segalanya dari nol, dia sendiri telah diberi pondasi dan garis start yang lebih baik.
Kakaknya lulus dari universitas yang baik, bekerja di kantor sebuah perusahaan dengan skala internasional. Evans mengerti, di dunia kerja, orang-orang tanpa latar belakang seperti mereka tidak bisa naik lebih tinggi dengan mudah. Namun dia masih dikejutkan dengan kinerja kakaknya. Meski sering lembur, jarang bertemu dengannya, bahkan dikirim ke luar negeri, kakaknya jelas cukup diandalkan oleh perusahaan. Jadi, walau posisinya tidak begitu tinggi, tetapi juga tidak rendah.
Dari kecil sampai dewasa, Ark jelas tampak transparan di mata Evans. Sama sekali tidak ada yang ditutup-tutupi!
Sambil terhuyung-huyung, Evans memutuskan untuk segera pergi dari tempat itu. Pada saat memikirkan kakaknya yang selalu tampak tak acuh tetapi sebenarnya baik kepadanya, pemuda itu tidak bisa tidak bergumam.
“Kak Archie sangat kuat dan pintar. Seharusnya dia bisa bertahan.”
Sementara pergi seperti kucing jalanan yang mencoba menyembuhkan lukanya, Evans memikirkan kakaknya. Hanya saja, dia sama sekali tidak akan pernah menyangka kalau kakaknya tidak hanya selamat. Bahkan orang itu membuat kelompok besar yang sangat ditakuti dan disegani. Bisa dibilang, kehidupan mereka sekarang …
__ADS_1
Benar-benar bagaikan langit dan bumi!
>> Bersambung.